Sabtu, 26 Januari 2013

Blue Strawberry










Blue Strawberry


(fiksi)


Penulis : S Dewandaru






SINOPSIS : 




Monas adalah seorang pemuda tampan dan pintar. Dia salah satu mahasiswa Geografi yang bercita-cita menjadi pembalap nasional. Untuk membiayai kuliah, dia menjadi joki balapan liar. Dia mempunyai pacar yang bernama Kasih, seorang gadis SMA nan cantik yang sangat menyukai segala hal tentang strawberry.

Sewaktu Monas dan Kasih menyatukan hati di candi Cetho, Kasih berharap tanaman strawberry itu dapat tumbuh di air dan satu aliran dengan ikan yang menjadi kesukaan Monas juga.

Namun orang tua Kasih tak menyetujui hubungan mereka. Orang tua Kasih lebih memilih menjodohkan anak semata wayangnya dengan Raffi, putra dari orang berpengaruh dan juga sahabat Monas.

Demi cita-cita dan cintanya kepada Kasih, Monas berusaha mewujudkan harapan itu dan berkorban untuknya. Di sisi lain, seorang gadis cantik nan baik hati bernama Aira, putri dari salah satu orang terkaya di negeri ini yang juga teman sekampus, diam-diam menaruh hati pada Monas.

Hingga suatu hari terjadi peristiwa yang tak diharapkan menimpa Monas. Semua telah dikorbankan untuk Kasih, cinta sejatinya. Aira pun harus bersedih karena pria yang sangat dicintainya itu, adalah yang mematahkan hatinya pula. Aira dan  Kasih akhirnya bersahabat.








                      



di buku ini aku terangkan
suatu kesalahan kita yang indah
di buku ini jua aku terangkan
impianmu yang dulu tlah aku wujudkan

tertulis abadi dalam sebuah kisah
dari torehan penaku
yang harus terjadi......
terjadilah.....
karena aku tak bisa merubahnya

janji hati ini boleh berakhir
namun,
untuk mencintaimu
tak mengenal batasan waktu bagiku













Kota Kecil di Sisi Selatan





SIANG ITU di Tawangsari, kota kecamatan di sisi selatan Solo seakan terpanggang. Sang surya dengan sombongnya berpijar sangat terik. Awan pun ciut nyali untuk menghalangi sinarnya.  Tarian gila debu jalanan dari hempasan roda kendaraan semakin menambah panas suhu udara. Dedaunan kering di ranting pun tak berdaya dan menyerah jatuh ke tanah satu persatu.   
Di salah satu rumah jawa, seorang pemuda tampan berambut agak panjang masih enggan bangun dari tidurnya.  Belaian lembut hembusan kipas angin menambahnya semakin lelap. Bunyi detak jam dinding kamar yang pelan seolah tak berani mengusik. Beberapa poster pembalap Valentino Rossi yang tertempel juga hanya diam membisu. Dan meski cahaya matahari menerobos genting kaca memasuki kamar dan menjamah tubuhnya, masih saja membuatnya enggan untuk membuka mata. Hingga sebuah suara perlahan mendekat dan semakin keras terdengar.
Rhung … rhung … rhuuuung ...!
Suara berisik knalpot motor yang cukup memekakkan telinga, menderu keras terdengar dari depan rumah.
Aduh sialan … pasti si Ian ..., gumam pemuda gondrong itu sambil menggeliat dengan matanya yang masih terpejam. Namun, perlahan dia pun akhirnya membuka mata. Bangun dan duduk sejenak. Dia menguap. Ditatapnya jam di dinding kamar. Tak begitu jelas, hanya samar terlihat oleh matanya yang masih rapat. Kemudian dia melangkah membuka jendela kamar. Saat terbuka, cahaya terang dari luar yang berebut masuk ke ruangan, sontak membuatnya langsung membuang muka dan memejamkan mata. Silau.
Toktoktok!
Terdengar suara ketokan dari depan rumah. Pemuda gondrong itu membuka pintu kamar dan melangkah gontai menuju ke bagian depan.
Assalamuallaikum … kulonuwuuun ...,[1] sapa seorang pemuda berjacket hitam dari balik pintu.
Wa allaikum salam ….” ucapnya sambil membuka pintu rumah.monggo .[2]
Wahwahwah …, wong bagus  jam segini baru bangun. Ini hampir jam dua belas lho, udah siang Bro.
“Hmm … masih ngantuk, Ian.  Ada apa ke sini?
“Monas, aku minjem motormu, yo? Tukeran. Aku ada perlu mau nganter pacarku hajatan saudaranya, yo?”
 “Iyo, pakai aja.” Monas menguap. “Emang motormu kenapa, Bro?”
Motorku rasanya kurang enak. Enak motormu, hehehe.”
“Halah, paling belum diservice.” Ian nyengir.
Keduanya berjalan masuk.
Nas, ini minggu legi lho. Pasarnya ruame banget.  Tadi aku mampir ke pasar, lihat-lihat burung. Ada lomba burung kicau disana. Burung kicaunya bagus-bagus. Kamu ndak mau lihat?” Monas menguap lagi. Dia menggelengkan kepalanya. “Oh yo wislah kalau gitu,” sahut Ian. “Eh aku pulang sore lho ya. Mana kunci kontaknya, Bro?”
“Ada di meja pendek kamar dekat komputerku. Ambil sendiri sana! Aku mau mandi, oke?”
“Nas, kunci kontakku, aku taruh di mejamu yo?” teriak Ian dari dalam kamar.
Yo,” jawab Monas yang berjalan ke belakang meninggalkan Ian.
Ian mengambil kunci dan membawa motor Monas yang ada di teras. Sementara Monas masuk ke kamar mandi. Diambilnya sikat dan pasta gigi. Sedikit pasta gigi dikeluarkan dan menaruhnya di atas permukaan bulu-bulu halus sikat gigi itu. Monas berkumur-kumur dengan air dan mengeluarkannya, kemudian memulai menggosokannya ke dalam mulut hingga berbusa. Berkumur lagi. Dan mengulang sampai beberapa kali. Beberapa saat kemudian dia membuka seluruh pakaiannya. Dan…
Byurr … byurr …!
Segarnya air bak mandi seolah langsung menepuk mukanya hingga mampu mengusir kantuk. Guyuran demi guyuran air yang menyentuh tubuhnya memberi sebuah energi baru yang mampu mengusir rasa malasnya tadi. Setelah beberapa menit dia keluar dan kembali ke kamar, mengganti pakaiannya dengan yang ada di lemari. Celana jeans dan kaos menjadi pilihan.
Monas … Monas … tangi! Sudah siang lho ....
Tiba-tiba terdengar suara seorang nenek memanggil-manggil dirinya dari sebalik pintu kamar.
Inggih  Mbah, kulo sampun tangi.”[3].
Monas pun membuka pintu kamar.
“Sudah siang lho, Nas. Ayo maem dulu!” ucap wanita tua itu yang ternyata adalah neneknya.
Inggih Mbah. Monggo dahar sesarengan ….[4]
Ayo Nas! Mbah yo wis ngelih.”[5]
Monggo Mbah .…”
Keduanya berjalan ke sebuah meja yang cukup panjang dari kayu jati dengan empat kursinya yang saling berhadapan. Tempat dimana mereka selalu makan bersama. Terlihat beberapa makanan sudah ada di tengah meja itu. Keduanya duduk berhadapan.
Ayo Nas, cepet diambil nasi sama lauknya ini!”
“Sampéyan rumiyin,[6]Mbah.”
“Halah, kowe ini lho seperti ada di mana wae. Lha wong ada di rumahnya sendiri juga kok,” ucap nenek tua itu dengan tersenyum.
Sambil membalas senyum Monas berucap, “Hehe, ingkang sepuh riyin.[7] Monas mengangsurkan wadah nasi ke neneknya. Setelah neneknya mengambil, gantian dia yang mengambil makanan dan menaruh di piringnya. “Mbah Putri tadi dari mana? Kok pulangnya siang banget?’
“Tadi pagi aku dari pasar, terus ke sawah lihat padi. Ee … padinya sudah mau panen. Paling dua minggu lagi, Nas”
“Oo … aku kira Mbah pergi ke mana? Mau dijual apa dipanen aja, Mbah?”
Lha, kalau menurutmu gimana?”
Dijual aja Mbah, nggak ribet. Nggih to?”
“Yo wis, terserah kamu wae Nas. Mbah nurut wae. Lha bayaran kuliahmu sudah cukup belum?”
Sambil mengunyah Monas menjawab, “Aku enggak usah, masih cukup Mbah. Nanti uangnya buat bayaran tandur[8] sama ditabung aja.”
“Yo wis nanti ditabung.” Mbah putri menyendok lagi makanannya. Dia mengunyahnya cukup lama, lalu menelannya.  Kowe nanti keluar lagi endak?”
“Em nggak tahu Mbah. Motorku dipakai Ian kok, kalau keluar paling sorean. Mbah, nanti setelah makan, jangan ngapa-ngapain dulu! Langsung istirahat aja, nggih? Siang ini lumayan panas.
“Iyo, Nas. Mbah juga pingin istirahat. Panas tenan tadi di jalan,” keluh mbah Putri.
Selesai makan Monas membawa piring-piring yang kotor ke dapur dan langsung mencucinya. Sementara neneknya beristirahat membaringkan tubuhnya di kamar. Beres mencuci Monas melangkah ke ruang tamu. Segelas air minum yang dibawa diletakkannya di meja. Duduk sejenak. Tak berapa lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang. Matanya langsung menatap jam dinding.
“Oh, ternyata sudah tengah hari lewat. Perasaan tidurku baru sebentar tadi,” ucapnya.
Dia pun beranjak ke kamar mandi, berwudhu dan kembali masuk ke kamar untuk sholat. Dalam do’anya, dia memohon ampunan tiap perbuatan dosa yang telah dilakukannya, terutama karena dia menjadi seorang joki balapan. Dia menyadari semua yang dilakukannya selama ini adalah sisi gelap dalam hidupnya, serta menjadi rahasianya yang harus dijaga. Dia pun berharap kelak dirinya bisa menjadi pembalap hebat seperti  idolanya Valentino Rossi, meski  itu disadarinya hanya seperti mimpi. Suatu mimpi yang mustahil karena tak cukup biaya dan kesempatan untuk menggapainya.
Di dalam kamar Monas duduk bersandar, lalu tangannya meraih sebuah buku. Buku bertulis geografi. Mata kuliah yang diambilnya sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Solo. Tiap kali membaca buku yang bertuliskan geografi itu selalu membuatnya tersenyum. Dia selalu teringat dengan pertanyaan teman-teman SMA-nya dulu. Banyak dari mereka yang heran kenapa dirinya kuliah mengambil jurusan itu, dan tidak mengambil jurusan yang  lain. Pertanyaan itu yang sering didengarnya karena menurut penilaian mereka jurusan itu kurang pas dengan pilihan Monas. Namun bagi Monas sendiri, geografi juga bukanlah mata kuliah yang mudah karena  tiap mata kuliah punya kelebihan dan  kekurangannya masing-masing. Dan meskipun banyak temannya yang mengambil jurusan; matematika, fisika, kimia, kedokteran, tehnik, komputer, perbankan atau yang lain karena mereka anggap itu keren, hebat, menantang, atau mungkin juga punya masa depan yang lebih menjanjikan, tapi pria berambut gondrong itu lebih memilih geografi.
Jauh sebelumnya Monas sudah berniat ingin kuliah di Jogja, tempat yang lebih dikenal dengan sebutan kota pelajar. Baginya, bisa kuliah di tempat itu adalah menjadi harapan besarnya sejak lama. Apalagi ditambah dengan nilai yang didapatkannya dalam ijazah sangat layak untuk masuk di salah satu universitas ternama di sana. Namun,  karena pertimbangan jarak yang jauh dan rasa kasihan dengan mbah Putrinya yang usianya sudah lanjut, dia urungkan niatnya itu.
Tak terasa  sudah cukup lama dia berada di kamarnya. Tiba-tiba hp-nya berdering. Dia mengambil dan membukanya. Ada satu pesan yang masuk.
Bro, ntar mlm habis jam 7 ke basecamp ya? Ada yg pingin aku omongin.
Oke?
Oke Bro, ntar aku merapat,” balas Monas.
Monas sudah tahu  kalau dirinya disuruh sekalian mengambil bayarannya. Bayaran atas  kemenangan  balapan semalam. Namun, dia tak tahu apa yang ingin  dibincangkan kepadanya nanti malam.
“Agung mau ngomongin apa ya sama aku? Ah sudahlah, mending aku jalan-jalan aja sebentar, terus liat-liat persawahan. Apalagi kata mbah Putri udah mau panen. Pasti udah menguning padinya,” gumamnya.
Monas meraih kunci motor Ian dan beranjak dari kamar ke teras. Sejenak dia melihat ke langit. Dilihatnya ada beberapa potong awan yang bernyali tinggi menghadang sinar mentari. Kemudian dia menunggangi kuda besi milik Ian, menstarter dan langsung menjalankannya. Gumpalan debu jalanan langsung menyambutnya. Bau aspal yang menguap sangat jelas tercium. Dia berkendara pelan, berbelok melewati tugu di perempatan dan terus melewati pasar. Dilihatnya masih cukup ramai di pasar burung. Dia kemudian masuk dan melihat-lihat. Ternyata benar apa yang dikatakan Ian, banyak burung kicau yang bagus-bagus dilombakan di situ. Monas lalu berjalan dan menikmati sebentar ramainya suasana pasar meski cuaca masih cukup panas. Puas berkeliling lalu dia kembali ke motornya. Dia melanjutkan lagi jalan-jalannya. Dia berbelok ke kanan mengambil jalan yang lebih kecil lalu terus melaju sampai ke batas perkampungan. Dia kembali berbelok ke jalan lurus dan panjang yang membelah area persawahan. Ada banyak pohon trembesi dan mahoni berjejer di kanan-kiri jalan. Dan sampai di sebuah pohon trembesi yang cukup besar dia pun berhenti.
Sepanjang arah matanya menjelajah, padi telah menguning tanda siap untuk dipanen. Menguning rata memenuhi petak sawah para petani. Dilihatnya ada beberapa petak sawah yang sudah mulai dipanen. Serombongan petani sedang memangkas padi dan memisahkan bulir dari jeraminya, dengan menggunakan bantuan mesin agar cepat selesai. Bulir-bulir padi itu pun dimasukkan ke dalam karung, kemudian satu persatu dibawa ke mobil bak terbuka, ditumpuk hingga meninggi dan rapi. Ada pula beberapa orang yang mengambil jeraminya untuk dijadikan pakan ternak, dengan masih menggunakan sepeda ontel. Ikatan jeraminya terlihat sangat banyak dan berat, namun mampu dibawa walau hanya  dengan sepeda zaman dulu itu. Monas mencium hawa kebahagiaan telah datang.  Terpancar dari senyum sumringah wajah-wajah mereka.
Kemudian Monas melanjutkan berkendaranya ke area persawahan yang lain. Dia berkeliling ke tiap area persawahan hingga tak terasa ternyata cukup jauh dia berkendara. Dia berhenti sejenak. Dilihatnya matahari kian condong ke barat. Cahayanya makin meredup. Panasnya makin berkurang. Dan burung pipit yang dilihatnya bergerombol kesana kemari mencari makan semakin berkurang. Dia pun lantas berbalik arah, kembali pulang.
Saat Monas sampai rumah, Ian sedang duduk di teras.
Eh Monas, dari mana kowe? Aku dah nunggu lama.”
Sorry Bro, aku habis jalan-jalan lihat persawahan. Di-sms Agung, nggak?”
Iya, suruh ke basecamp jam tujuh. Katanya penting, apa yo?
“Udah, yang penting ke sana entar, oke?”
Yo wislah nanti kita ke sana, Bro. Aku pulang dulu, mau mandi. Makasih motornya.”
“Sama-sama.
Ian pun langsung bergegas pulang.

***

Setelah sholat isya, Monas menemani mbah Putrinya menonton acara tv. Nenek renta itu selalu beristirahat sambil menghadap tv. Itu adalah menjadi salah satu kesibukan penghibur hatinya, sekaligus teman di usianya yang sudah senja. Sebab sudah tak ada lagi teman seusianya yang masih hidup.  Monas tersenyum bahagia bila melihat neneknya itu tertawa tiap melihat hal-hal yang lucu di tv. Dia senang dengan kebersamaannya itu.
Tak berapa lama, dari luar rumah terdengar suara deru knalpot mendekat. Ian datang menghampiri. Dia tak masuk ke dalam namun hanya duduk dengan gagahnya diatas motor. Mendengar deru knalpot tadi, Monas pun langsung mengambil kunci kontak di meja.
Mbah, kulo medal riyin,[9] ucap Monas berpamitan.
Iyo Nas. Ojo wengi-wengi mantuké!”[10]
Inggih Mbah ....
Monas menghampiri Ian.
Oke Ian, kita langsung cabut ke basecamp.”
Yuk!”
Keduanya langsung meluncur ke tempat Agung. Mereka berkendara beriringan. Sesekali meliuk indah menghindari aspal yang berlobang. Sesekali pula menarik gas untuk mendahului kendaraan lain. Keduanya sedikit menarik gas pelan saat melewati sebuah jembatan yang melintang di atas sungai Bengawan Solo. Sungai yang cukup lebar dan dalam. Sungai yang terlihat begitu tenang namun menghanyutkan.
Setelah melewati PT. Srytex dan beberapa perempatan jalan mereka pun sampai di sebuah rumah besar yang menjadi basecamp mereka.   Keduanya melihat ada dua motor yang terparkir.
Monas dan Ian membuka helm lalu melangkah ke pintu. “Kulo nuwuuuun,” sapa keduanya kompak.
Monggo Mas .”
Terdengar suara sangat lembut dari balik pintu yang langsung menyahut sapaan Monas.
Eh, Eni ... pantes kok suaranya lembut banget,” ucap Ian saat melihat seorang gadis manis yang membukakan pintu.
Eni tersenyum. “Eh Mas Ian sama Mas Monas, udah ditunggu mas Agung sama mas Raffi di ruang tamu tuh,” balasnya. “Mas Monas kok kadingaren baru kelihatan, ke mana aja?
“Nggak ke mana-mana En, di rumah wae.”
Males ya, main ke sini?
Ya enggaklah En, cuma lagi nggak pingin kemana-mana.
Monas melangkah ke ruang tamu yang cukup besar ditemani Eni disampingnya. Seorang gadis manis bernama lengkap Retna Fitri Anggraeni. Adik dari sahabatnya yang masih pelajar SMA kelas tiga itu terlihat sangat bahagia saat Monas datang. Monas dan Ian pun duduk, sedang Eni ke samping ruang tamu. Dia sengaja duduk disana agar bisa berlama-lama memandangi wajah ganteng Monas, teman kakaknya itu. Dia berpura-pura membaca sebuah buku.
“Mbok Yamti, tolong ambilin minum dua lagi, nggih!
Inggih Mas Agung,” ucap mbok Yamti yang kemudian ke dapur.
Eh Bro, ayo duduk! Ada yang pingin aku omongin,” ucap Agung pelan.
Kok seperti ada yang penting banget? ucap Monas penasaran.
“Gini Bro, waktu balapan semalem kita kan menang. Nah, di sana aku ketemu sama bos Baron.”
Ian pun penasaran. “Siapa bos Baron, Gung?” sahutnya.
“Em bos Baron itu dulu adalah pimpinan suatu kelompok motor. Dulu juga sering ikut taruhan balapan liar, tapi dia sekarang udah nggak pernah balapan lagi.”
Terus maksudnya sama kita apa, Gung?” sahut Ian lagi.
“Gini Bro, ternyata bos Baron selama ini mantau kita. Nah, kemarin dia nemuin aku dan pingin ngajak kita masuk jadi anggotanya. Dia itu tertarik sama Monas. Dia pingin Monas jadi joki tiap ada balapan. Gimana?
Wah, keren  itu. Aku sih oke-oke wae masuk anggotannya,” ucap Ian.
Aku yo setuju Gung. Bener, kerén. Kelompok motor yang lain pasti pada segen nantinya,” tambah Raffi.
Lha kowe gimana Nas? Masalahnya kowe jokinya.”
Mereka terdiam sejenak saat mbok Yamti datang dan menaruh dua gelas minuman di meja.
Aduh gimana yo? Pasti ini nggak main-main, lawannya pasti berat banget, sama bahayanya pasti nambah.
Iyo pasti Nas. Endak hanya bayarannya yang gede, tapi juga jadi joki motorsport ber-cc gede lho. Dan yang pasti jelas munggah kelas,” ucap Agung.
Setuju aja Nas,” ucap Ian sambil mengangguk.
“Bener, setuju wae Nas. Wah kalau aku itu langsung aku terima,” tambah Raffi.
Monas terdiam sesaat. “Aku pikir-pikir dulu lah Bro, yo?
Tenang wae Bro, kita bakal bantu n support dalam segala hal. Hmm, ucap Ian mantap.
“Aku pikir-pikir dulu.”
Yo wis aku tunggu jawabanmu sampai jum’at,” jawab Agung. “Bos Baron pingin ketemuan malam minggu di kafe. Oke Nas?”
Oke Bro.”
Éh lali, ayo diombé minumané![11] Kita bersulang buat kelompok motor kita. Biar kita selalu menang.”
Agung mengangkat gelasnya.
“Tosss,” ucap ketiga pemuda lainnya sambil membenturkan gelas minuman mereka.
Mereka adalah empat mahasiswa berwajah ganteng yang menyukai dunia balap motor. Keempatnya satu perguruan tinggi di Solo. Mereka pun sama-sama mahasiswa semester empat, meski berbeda jurusan. Mereka adalah: Pertama, Agung Budi Santoso mahasiswa tekhnik mesin. Hobinya senang ngoprek mesin mobil maupun motor. Kedua orang tuanya bekerja di luar negeri. Yang kedua, Raffi Maulana atau sering dipanggil si Kunyang. Mahasiswa kedokteran, berambut pendek, playboy, dan jago bermain bola voli. Orangtuanya seorang pejabat berpengaruh, sekaligus  pengusaha yang mempunyai banyak bisnis. Yang ketiga adalah Ian Arzuna atau si Kucrut. Mahasiswa geografi.   Sedikit temperament namun rasa kesetiakawanannya sangat tinggi. Beladiri dan Voli adalah hobinya.  Orangtuanya pun memiliki banyak bisnis.  Yang keempat, Monas Dewantoro. Mahasiswa geografi sekelas dengan Ian. Kalem, sedikit cuek, dan apa adanya. Soal materi, hanya dia yang paling tak berpunya dibanding ketiga temannya.
Malam itu mereka terlihat sangat senang, tapi hanya Monas yang berpikir lain. Dia menyembunyikan perasaannya itu. Dia merasa akan ada banyak masalah dan kesulitan nantinya.
“Bro, dah malam. Kita balik dulu ya? Besok kan  kuliah?” ucap Monas setelah melihat jam dinding.
Agung melihat jam tangannya. “Ya udah kita ketemu lagi besok di kampus yo? ucap Agung.
Setelah menghabiskan minuman, mereka bertiga berdiri dari tempat duduk dan berpamitan dengan  Agung.
Pulang dulu ya, Eni yang cakeep,”  ucap Ian sedikit keras kepada gadis yang sedang duduk sambil membaca buku di ruang sebelahnya.
Mendengar namanya disebut, Eni menoleh. Dia tersenyum sambil menjawab, “Iya, Mas Ian sing baguus.[12] Eni pun berdiri dan melangkah mendekati mereka.
Emm, pulang ya, En?” ucap Raffi.  
Iya, Mas Raffi, jawab Eni.
Aku juga pulang, ya En?”
Eni tersenyum. “Iya Mas Monas. Hati-hati di jalan!”  Dia ikut berjalan ke luar rumah.
Ketiga pria itu menaiki motor mereka masing masing. Deru knalpot sontak langsung menggema memecah keheningan saat masing-masing menstarter dan menarik gas motor. Eni tersenyum dan melambaikan tangannya untuk Monas. Sesaat kemudian kembali hening setelah ketiga motor tadi meninggalkan tempat itu. Agung dan adiknya masuk kembali ke dalam rumah.
Sesampainya dirumah, Monas langsung masuk ke kamar, melepas jacket dan menggantungnya. Duduk sejenak di karpet lalu menyalakan komputernya. Perlahan alunan musik terdengar pelan. Dia rebahkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit kamar. Dirinya kembali memikirkan tawaran tadi. Tawaran menjadi seorang joki motor ber-cc besar.
Jujur, aku memang suka balapan, apalagi motor balap yang punya cc gede. Pingin sekali rasanya aku bisa terjun ke balapan besar di sirkuit Sentul atau sirkuit lainnya. Tapi, apalah dayaku, kemampuanku yang ada tak mendukung. Aku hanya punya nyali dan sedikit skill dalam mengendalikan kencangnya kuda besi saja. Ah, pusing.”  Monas memegang keningnya. “Aku terima enggak ya, tawaran ini? Dan lagi balapan resmi juga jarang ada. Hatiku jadi serba salah. Huff ... tapi aku masih ada waktu lima hari ini untuk memikirkan lagi, ucapnya.
Monas terdiam sejenak. Tapi tiba-tiba saja hp-nya berdering. Saat tahu yang meneleponnya, dia tersenyum. Dia segera mengangkatnya.
Assalamualaikum Mas, ganggu endak?” Terdengar suara seorang gadis pelan.
Wa alaikum salam Kasih, nggak ganggu kok. Ada apa? Kangen ya?
Ah Mas bisa wae. Em iya sih, tapi dikiiit.”
“Kok cuma dikit Kasih, yang banyak kenapa kalau kangen.”
“Emm kalau pingin banyak, nanti kalau sudah halal, hehe.”
Monas tersenyum. “Ya sudah dikit juga nggak apa-apa kok, aku juga senang. Ada perlu apa? Emang bapak sama ibumu nggak tahu kamu nelepon ini?”
Bapak sama ibu endak tahu, Mas. Mereka udah tidur. Eh Mas, hari minggu depan kita jalan, ya?”
Boleh. Tapi, mau ke mana Kasih?”
“Nanti aku kasih tahu Mas. Yang penting minggu jam delapan, Mas tunggu di dekat pasar Sukoharjo, ya?”
Ya sudah, nanti aku tunggu.
Sudah ya Mas, sudah malam. Met mimpi indah. Aku sayang kamu, Mas.”
“Aku juga sayang kamu, Kasih. Met mimpi indah juga.
Ternyata yang menelepon Monas adalah Kasih, pacarnya. Gadis cantik dengan nama lengkap Kasih Setiana Ramadhani. Seorang pelajar SMA yang masih duduk di kelas tiga. Sosok Kasih adalah gadis idaman bagi Monas. Selain sopan, dia pun ramah, baik hati, dan menyenangkan. Sangat sempurna di mata Monas. Namun perbedaan Monas dan Kasih terlalu jauh. Monas hanya dari keluarga biasa saja. Sedangkan Kasih adalah anak tunggal dari keluarga yang bisa dibilang sangat kaya. Meski ada jurang perbedaan yang sangat dalam, keduanya tetap saling mencintai. Dan keduanya terpaksa menjalani kisah cinta mereka dengan jalan sembunyi-sembunyi.   
Saat Monas hendak memejamkan mata, hp-nya menjerit lagi. Dia membaca satu pesan yang masuk.
Met bobok ya Mas. Mimpiin Eni ya …!”
Monas hanya senyum-senyum sendiri sebab Eni memang seringkali mengirim pesan untuknya. Namun, Monas memilih tak membalas  pesan itu dan meletakkan kembali hp-nya, lalu mulai memejamkan mata. [ ] 




[1]Permisi.
[2][2]silahkan
[3]Iya nek, aku sudah bangun..
[4] mari makan bareng-bareng.
[5] nenek juga sudah lapar.
[6] Anda dulu.
[7]kan yang tua duluan..
[8] tanam
[9]Nek,  aku keluar dulu..
[10]Iyo Nas. jangan malam-malam pulangnya!
[11]Eh lali, ayo diminum minumanya!
[12] Yang ganteng.