Blue Strawberry
(fiksi)
Penulis : S Dewandaru
Penulis : S Dewandaru
SINOPSIS :
Monas adalah seorang pemuda tampan dan
pintar. Dia salah satu mahasiswa Geografi yang bercita-cita menjadi pembalap
nasional. Untuk membiayai kuliah, dia menjadi joki balapan liar. Dia mempunyai pacar yang bernama Kasih, seorang gadis SMA nan cantik yang sangat
menyukai segala hal tentang strawberry.
Sewaktu Monas
dan Kasih menyatukan hati di candi Cetho, Kasih berharap tanaman strawberry itu
dapat tumbuh di air dan satu aliran dengan ikan yang menjadi kesukaan Monas
juga.
Namun orang tua Kasih tak menyetujui
hubungan mereka. Orang tua Kasih lebih memilih menjodohkan anak semata
wayangnya dengan Raffi, putra dari orang berpengaruh dan juga sahabat Monas.
Demi cita-cita dan cintanya kepada
Kasih, Monas berusaha mewujudkan harapan itu dan berkorban untuknya. Di sisi
lain, seorang gadis cantik nan baik hati bernama Aira, putri dari salah satu
orang terkaya di negeri ini yang juga teman sekampus, diam-diam menaruh hati
pada Monas.
Hingga suatu hari terjadi peristiwa yang
tak diharapkan menimpa Monas. Semua telah dikorbankan untuk Kasih, cinta sejatinya.
Aira pun harus bersedih karena pria yang sangat dicintainya itu, adalah yang
mematahkan hatinya pula. Aira dan Kasih
akhirnya bersahabat.
di buku ini aku terangkan
suatu kesalahan kita yang
indah
di buku ini jua aku terangkan
impianmu yang dulu tlah
aku wujudkan
tertulis abadi dalam
sebuah kisah
dari torehan
penaku
yang harus terjadi......
terjadilah.....
karena aku tak bisa
merubahnya
janji hati ini boleh berakhir
namun,
untuk mencintaimu
tak mengenal batasan waktu
bagiku
Kota Kecil di Sisi Selatan
SIANG ITU di Tawangsari, kota kecamatan di sisi selatan Solo seakan
terpanggang. Sang surya dengan sombongnya berpijar sangat terik. Awan pun ciut nyali
untuk menghalangi sinarnya. Tarian gila
debu jalanan dari hempasan roda kendaraan semakin menambah panas suhu udara. Dedaunan
kering di ranting pun tak berdaya dan menyerah jatuh ke tanah satu persatu.
Di salah satu
rumah jawa, seorang pemuda tampan
berambut agak panjang masih enggan
bangun dari tidurnya. Belaian lembut hembusan kipas angin menambahnya semakin lelap. Bunyi detak jam
dinding kamar yang pelan seolah tak berani mengusik. Beberapa poster pembalap
Valentino Rossi yang tertempel juga hanya diam membisu. Dan meski cahaya matahari menerobos genting kaca
memasuki kamar dan menjamah tubuhnya, masih saja membuatnya enggan untuk membuka mata. Hingga sebuah suara perlahan mendekat dan semakin keras terdengar.
Rhung … rhung …
rhuuuung ...!
Suara berisik knalpot
motor yang cukup memekakkan telinga, menderu keras terdengar dari depan rumah.
“Aduh sialan … pasti si Ian ...,” gumam pemuda gondrong itu sambil menggeliat dengan matanya yang
masih terpejam. Namun, perlahan dia pun akhirnya membuka mata. Bangun dan duduk
sejenak. Dia menguap. Ditatapnya jam di dinding kamar. Tak begitu jelas, hanya
samar terlihat oleh matanya yang masih rapat. Kemudian dia melangkah membuka
jendela kamar. Saat terbuka, cahaya terang dari luar yang berebut masuk ke
ruangan, sontak membuatnya langsung membuang muka dan memejamkan mata. Silau.
Toktoktok!
Terdengar suara
ketokan dari depan rumah. Pemuda gondrong itu membuka pintu kamar dan melangkah
gontai menuju ke bagian depan.
“Wahwahwah …, wong bagus jam segini baru bangun. Ini hampir jam dua
belas lho, udah siang Bro.”
“Hmm … masih
ngantuk, Ian. Ada apa ke sini?”
“Monas, aku
minjem motormu, yo? Tukeran. Aku ada perlu mau nganter pacarku hajatan
saudaranya, yo?”
“Iyo, pakai aja.” Monas menguap. “Emang
motormu kenapa, Bro?”
“Motorku rasanya kurang enak. Enak motormu, hehehe.”
“Halah, paling belum
diservice.” Ian nyengir.
Keduanya
berjalan masuk.
“Nas, ini minggu legi lho. Pasarnya ruame
banget. Tadi aku mampir ke pasar,
lihat-lihat burung. Ada lomba burung kicau disana. Burung kicaunya bagus-bagus.
Kamu ndak mau lihat?” Monas menguap lagi. Dia menggelengkan kepalanya. “Oh yo
wislah kalau gitu,” sahut Ian. “Eh aku pulang sore lho ya. Mana kunci kontaknya, Bro?”
“Ada di meja pendek
kamar dekat komputerku. Ambil sendiri sana! Aku mau mandi, oke?”
“Nas, kunci kontakku, aku taruh di mejamu
yo?” teriak Ian dari dalam kamar.
“Yo,” jawab Monas yang
berjalan ke belakang meninggalkan Ian.
Ian mengambil
kunci dan membawa
motor Monas yang ada di teras. Sementara Monas masuk ke kamar mandi. Diambilnya sikat
dan pasta gigi. Sedikit pasta gigi dikeluarkan dan menaruhnya di atas permukaan
bulu-bulu halus sikat gigi itu. Monas berkumur-kumur dengan air dan mengeluarkannya,
kemudian memulai menggosokannya ke dalam mulut hingga berbusa. Berkumur lagi.
Dan mengulang sampai beberapa kali. Beberapa saat kemudian dia membuka seluruh
pakaiannya. Dan…
Byurr … byurr …!
Segarnya air bak
mandi seolah langsung menepuk mukanya hingga mampu mengusir kantuk. Guyuran
demi guyuran air yang menyentuh tubuhnya memberi sebuah energi baru yang mampu
mengusir rasa malasnya tadi. Setelah beberapa menit dia keluar dan kembali ke kamar, mengganti
pakaiannya dengan yang ada di lemari. Celana jeans dan kaos menjadi pilihan.
“Monas … Monas … tangi! Sudah siang lho ....”
Tiba-tiba terdengar
suara seorang nenek memanggil-manggil
dirinya dari sebalik pintu kamar.
Monas pun membuka pintu kamar.
“Sudah siang lho,
Nas. Ayo maem dulu!” ucap
wanita tua itu yang ternyata adalah neneknya.
“Monggo Mbah .…”
Keduanya berjalan ke sebuah meja yang cukup
panjang dari kayu jati dengan empat kursinya yang saling berhadapan. Tempat dimana mereka selalu makan bersama. Terlihat beberapa makanan sudah ada di tengah meja itu. Keduanya
duduk berhadapan.
“Ayo Nas, cepet diambil nasi sama lauknya
ini!”
“Sampéyan
rumiyin,[6]Mbah.”
“Halah, kowe ini lho seperti ada di mana wae. Lha wong
ada di rumahnya sendiri juga kok,” ucap nenek tua itu dengan tersenyum.
Sambil membalas senyum
Monas berucap, “Hehe, ingkang sepuh riyin.”[7] Monas mengangsurkan
wadah nasi ke neneknya. Setelah neneknya mengambil, gantian dia yang mengambil makanan dan
menaruh di piringnya. “Mbah Putri
tadi dari mana? Kok pulangnya siang banget?’
“Tadi pagi aku dari
pasar, terus ke sawah lihat padi. Ee … padinya sudah mau panen. Paling dua minggu lagi, Nas”
“Oo … aku kira Mbah
pergi ke mana? Mau dijual apa dipanen
aja, Mbah?”
“Lha, kalau menurutmu gimana?”
“Dijual aja Mbah, nggak ribet. Nggih to?”
“Yo wis,
terserah kamu wae Nas. Mbah
nurut wae. Lha bayaran kuliahmu sudah cukup belum?”
Sambil mengunyah
Monas menjawab, “Aku enggak usah, masih cukup Mbah. Nanti uangnya buat bayaran tandur[8]
sama ditabung aja.”
“Yo wis nanti
ditabung.” Mbah putri menyendok lagi makanannya. Dia mengunyahnya cukup lama,
lalu menelannya. Kowe nanti keluar lagi endak?”
“Em nggak tahu Mbah.
Motorku dipakai Ian kok, kalau
keluar paling sorean. Mbah, nanti setelah makan, jangan ngapa-ngapain dulu! Langsung istirahat
aja, nggih? Siang ini lumayan
panas.”
“Iyo, Nas. Mbah juga pingin istirahat.
Panas tenan tadi di jalan,” keluh mbah Putri.
Selesai makan Monas membawa piring-piring
yang kotor ke dapur dan langsung mencucinya. Sementara neneknya beristirahat membaringkan tubuhnya di kamar. Beres mencuci
Monas melangkah ke ruang
tamu. Segelas air minum yang dibawa diletakkannya di
meja. Duduk
sejenak. Tak berapa lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang. Matanya langsung menatap jam
dinding.
“Oh, ternyata
sudah tengah hari lewat. Perasaan tidurku baru sebentar tadi,” ucapnya.
Dia pun beranjak ke kamar mandi, berwudhu
dan kembali masuk ke kamar untuk sholat. Dalam do’anya, dia memohon ampunan tiap perbuatan dosa yang telah dilakukannya, terutama karena dia menjadi seorang joki balapan. Dia menyadari semua yang dilakukannya selama ini adalah sisi gelap dalam hidupnya, serta menjadi rahasianya yang harus dijaga. Dia pun berharap kelak dirinya
bisa menjadi pembalap hebat seperti idolanya Valentino Rossi, meski itu disadarinya hanya seperti mimpi. Suatu
mimpi yang mustahil karena tak
cukup biaya dan kesempatan untuk menggapainya.
Di dalam kamar Monas duduk bersandar, lalu tangannya meraih sebuah buku. Buku bertulis geografi. Mata kuliah yang diambilnya sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Solo. Tiap kali membaca buku yang bertuliskan geografi itu selalu
membuatnya tersenyum. Dia selalu teringat dengan pertanyaan teman-teman SMA-nya dulu. Banyak dari mereka yang heran kenapa dirinya kuliah mengambil jurusan itu, dan tidak mengambil jurusan yang lain. Pertanyaan itu yang sering didengarnya karena menurut
penilaian mereka jurusan itu kurang pas dengan pilihan Monas. Namun bagi Monas
sendiri, geografi juga bukanlah mata kuliah yang mudah karena tiap mata kuliah punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan meskipun
banyak temannya yang mengambil jurusan; matematika, fisika, kimia,
kedokteran, tehnik, komputer, perbankan atau yang lain karena mereka anggap itu keren, hebat, menantang, atau mungkin juga
punya masa depan yang lebih
menjanjikan, tapi pria berambut gondrong itu lebih memilih geografi.
Jauh sebelumnya Monas sudah berniat ingin kuliah
di Jogja, tempat yang lebih
dikenal dengan sebutan kota pelajar. Baginya, bisa kuliah di tempat itu adalah
menjadi harapan besarnya sejak lama. Apalagi ditambah dengan nilai yang
didapatkannya dalam ijazah sangat layak untuk masuk di salah satu universitas
ternama di sana. Namun, karena pertimbangan jarak yang jauh dan rasa kasihan dengan mbah Putrinya yang usianya sudah lanjut, dia urungkan niatnya itu.
Tak terasa sudah cukup lama dia berada di kamarnya. Tiba-tiba
hp-nya berdering. Dia mengambil dan membukanya. Ada satu pesan
yang masuk.
“Bro, ntar mlm habis jam 7 ke basecamp ya? Ada yg pingin aku omongin.
Oke?”
“Oke Bro, ntar aku merapat,” balas Monas.
Monas sudah tahu kalau dirinya disuruh sekalian
mengambil bayarannya. Bayaran
atas kemenangan
balapan semalam. Namun, dia tak tahu apa yang ingin dibincangkan
kepadanya nanti malam.
“Agung mau
ngomongin apa ya sama aku? Ah sudahlah, mending aku jalan-jalan aja sebentar,
terus liat-liat persawahan. Apalagi kata mbah Putri udah mau panen. Pasti udah
menguning padinya,” gumamnya.
Monas meraih kunci motor Ian dan beranjak dari
kamar ke teras. Sejenak dia melihat
ke langit. Dilihatnya ada beberapa potong awan yang bernyali tinggi menghadang
sinar mentari. Kemudian dia menunggangi kuda besi milik Ian, menstarter dan langsung
menjalankannya. Gumpalan debu jalanan langsung menyambutnya. Bau aspal yang
menguap sangat jelas tercium. Dia berkendara pelan, berbelok melewati tugu di
perempatan dan terus melewati pasar. Dilihatnya masih cukup ramai di pasar
burung. Dia kemudian masuk dan melihat-lihat. Ternyata benar apa yang dikatakan
Ian, banyak burung kicau yang bagus-bagus dilombakan di situ. Monas lalu
berjalan dan menikmati sebentar ramainya suasana pasar meski cuaca masih cukup
panas. Puas berkeliling lalu dia kembali ke motornya. Dia melanjutkan lagi
jalan-jalannya. Dia berbelok ke kanan mengambil jalan yang lebih kecil lalu
terus melaju sampai ke batas perkampungan. Dia kembali berbelok ke jalan lurus
dan panjang yang membelah area persawahan. Ada banyak pohon trembesi dan mahoni
berjejer di kanan-kiri jalan. Dan sampai di sebuah pohon trembesi yang cukup
besar dia pun berhenti.
Sepanjang arah matanya menjelajah, padi telah menguning tanda siap untuk dipanen. Menguning rata memenuhi
petak sawah para petani. Dilihatnya
ada beberapa petak sawah yang sudah mulai dipanen. Serombongan petani sedang memangkas padi dan memisahkan bulir dari jeraminya, dengan menggunakan bantuan mesin agar cepat
selesai. Bulir-bulir padi itu pun dimasukkan ke dalam karung, kemudian satu persatu dibawa ke mobil bak terbuka, ditumpuk hingga meninggi dan rapi. Ada pula beberapa orang yang mengambil
jeraminya untuk dijadikan pakan ternak, dengan masih menggunakan sepeda ontel. Ikatan jeraminya terlihat sangat banyak dan berat, namun mampu dibawa walau hanya dengan
sepeda zaman dulu itu. Monas mencium hawa
kebahagiaan telah datang. Terpancar dari senyum
sumringah wajah-wajah mereka.
Kemudian Monas
melanjutkan berkendaranya ke area persawahan yang lain. Dia berkeliling ke tiap
area persawahan hingga tak terasa ternyata cukup jauh dia berkendara. Dia berhenti sejenak. Dilihatnya
matahari kian condong ke barat. Cahayanya makin meredup. Panasnya makin
berkurang. Dan burung pipit yang dilihatnya bergerombol kesana kemari mencari makan semakin berkurang. Dia pun lantas berbalik arah, kembali pulang.
Saat Monas sampai
rumah, Ian sedang duduk di teras.
“Eh Monas, dari mana kowe? Aku dah nunggu lama.”
“Sorry Bro, aku habis
jalan-jalan lihat persawahan. Di-sms Agung, nggak?”
“Iya, suruh ke basecamp jam tujuh.
Katanya penting, apa yo?”
“Udah, yang penting ke sana entar, oke?”
“Yo wislah nanti
kita ke sana, Bro. Aku pulang dulu, mau mandi. Makasih motornya.”
“Sama-sama.”
Ian pun langsung bergegas
pulang.
***
Setelah sholat
isya, Monas menemani mbah Putrinya menonton acara tv. Nenek renta itu selalu beristirahat sambil menghadap tv. Itu adalah menjadi salah satu kesibukan penghibur hatinya,
sekaligus teman di usianya yang sudah senja. Sebab sudah tak ada lagi teman seusianya yang masih
hidup. Monas tersenyum bahagia bila melihat neneknya
itu tertawa tiap melihat hal-hal yang lucu di tv. Dia senang dengan
kebersamaannya itu.
Tak berapa lama,
dari luar rumah terdengar suara deru
knalpot mendekat. Ian datang menghampiri. Dia tak
masuk ke dalam namun hanya duduk
dengan gagahnya diatas motor.
Mendengar deru knalpot tadi, Monas pun langsung mengambil kunci kontak di meja.
“Inggih Mbah ....”
Monas menghampiri Ian.
“Oke Ian, kita langsung cabut ke basecamp.”
“Yuk!”
Keduanya
langsung meluncur ke tempat
Agung. Mereka berkendara beriringan. Sesekali meliuk indah menghindari aspal
yang berlobang. Sesekali pula menarik gas untuk mendahului kendaraan lain.
Keduanya sedikit menarik gas pelan saat melewati sebuah jembatan
yang melintang di atas sungai Bengawan Solo. Sungai yang cukup lebar dan
dalam. Sungai yang terlihat begitu
tenang namun menghanyutkan.
Setelah melewati
PT. Srytex dan beberapa perempatan jalan mereka pun sampai di sebuah rumah besar yang menjadi basecamp mereka. Keduanya melihat ada dua
motor yang terparkir.
Monas dan Ian
membuka helm lalu melangkah ke pintu. “Kulo nuwuuuun,” sapa keduanya
kompak.
“Monggo Mas ….”
Terdengar suara sangat lembut dari balik pintu
yang langsung menyahut sapaan Monas.
“Eh, Eni ... pantes kok suaranya lembut banget,” ucap Ian saat melihat seorang
gadis manis yang membukakan pintu.
Eni tersenyum. “Eh Mas Ian sama Mas Monas, udah ditunggu mas Agung sama mas
Raffi di ruang tamu tuh,” balasnya. “Mas Monas kok kadingaren baru
kelihatan, ke mana aja?”
“Nggak ke mana-mana En, di rumah wae.”
“Males ya, main ke sini?”
“Ya enggaklah En, cuma lagi nggak pingin
kemana-mana.”
Monas melangkah ke ruang tamu yang cukup besar ditemani Eni disampingnya. Seorang gadis manis
bernama lengkap Retna Fitri Anggraeni. Adik dari sahabatnya yang masih pelajar
SMA kelas tiga itu terlihat sangat bahagia saat Monas datang. Monas dan Ian pun
duduk, sedang Eni ke samping ruang tamu. Dia sengaja duduk disana agar bisa
berlama-lama memandangi wajah ganteng Monas, teman kakaknya itu. Dia
berpura-pura membaca sebuah buku.
“Mbok Yamti, tolong
ambilin minum dua lagi, nggih!”
“Inggih Mas Agung,” ucap mbok Yamti
yang kemudian ke dapur.
“Eh Bro, ayo duduk! Ada yang pingin aku omongin,” ucap Agung pelan.
“Kok seperti ada yang penting banget?” ucap Monas penasaran.
“Gini Bro, waktu
balapan semalem kita kan
menang. Nah, di sana aku ketemu sama bos Baron.”
Ian pun
penasaran. “Siapa bos Baron, Gung?” sahutnya.
“Em bos Baron itu dulu adalah pimpinan suatu
kelompok motor. Dulu juga sering ikut taruhan balapan liar,
tapi dia sekarang udah nggak pernah balapan lagi.”
“Terus maksudnya sama kita apa, Gung?” sahut
Ian lagi.
“Gini Bro, ternyata
bos Baron selama ini mantau
kita. Nah, kemarin dia nemuin aku dan pingin ngajak kita masuk jadi anggotanya. Dia itu tertarik sama Monas. Dia pingin
Monas jadi joki tiap ada balapan. Gimana?”
“Wah, keren itu. Aku sih oke-oke wae masuk anggotannya,” ucap Ian.
“Aku yo setuju Gung. Bener,
kerén. Kelompok motor yang
lain pasti pada segen nantinya,” tambah Raffi.
“Lha kowe gimana Nas? Masalahnya
kowe jokinya.”
Mereka terdiam
sejenak saat mbok Yamti datang dan menaruh dua gelas minuman di meja.
“Aduh gimana yo? Pasti ini nggak
main-main, lawannya pasti berat banget, sama bahayanya pasti nambah.”
“Iyo pasti Nas. Endak hanya bayarannya yang gede, tapi juga jadi
joki motorsport ber-cc gede
lho. Dan yang pasti jelas munggah kelas,”
ucap Agung.
“Setuju aja Nas,” ucap Ian sambil mengangguk.
“Bener, setuju
wae Nas. Wah kalau aku itu langsung aku
terima,” tambah Raffi.
Monas terdiam
sesaat. “Aku pikir-pikir dulu lah Bro, yo?”
“Tenang wae Bro, kita bakal bantu n support dalam segala hal.
Hmm,” ucap Ian mantap.
“Aku pikir-pikir
dulu.”
“Yo wis
aku tunggu jawabanmu sampai jum’at,” jawab Agung. “Bos Baron pingin ketemuan malam minggu di kafe. Oke Nas?”
“Oke Bro.”
“Éh
lali, ayo diombé minumané![11]
Kita bersulang buat kelompok motor kita. Biar kita selalu menang.”
Agung mengangkat
gelasnya.
“Tosss,” ucap
ketiga pemuda lainnya sambil membenturkan gelas minuman mereka.
Mereka adalah empat mahasiswa berwajah ganteng yang menyukai dunia balap motor. Keempatnya satu perguruan tinggi di Solo. Mereka pun sama-sama mahasiswa semester empat,
meski berbeda jurusan. Mereka adalah: Pertama,
Agung Budi Santoso mahasiswa tekhnik
mesin. Hobinya senang ngoprek mesin mobil maupun motor. Kedua orang tuanya bekerja di luar negeri. Yang kedua, Raffi Maulana atau sering dipanggil si Kunyang. Mahasiswa kedokteran, berambut pendek, playboy, dan jago
bermain bola voli. Orangtuanya seorang
pejabat berpengaruh, sekaligus
pengusaha yang mempunyai banyak bisnis. Yang ketiga adalah Ian Arzuna atau si Kucrut. Mahasiswa geografi. Sedikit
temperament namun rasa kesetiakawanannya
sangat tinggi. Beladiri
dan Voli adalah hobinya. Orangtuanya pun memiliki banyak bisnis. Yang
keempat, Monas Dewantoro. Mahasiswa geografi sekelas dengan Ian.
Kalem, sedikit cuek, dan apa adanya. Soal materi, hanya dia yang paling
tak berpunya dibanding ketiga temannya.
Malam itu mereka terlihat sangat senang, tapi hanya Monas yang berpikir lain. Dia menyembunyikan perasaannya itu. Dia merasa akan ada banyak masalah dan kesulitan nantinya.
“Bro, dah malam. Kita balik dulu ya? Besok kan
kuliah?” ucap Monas setelah melihat jam dinding.
Agung melihat
jam tangannya. “Ya udah kita ketemu
lagi besok di kampus yo?” ucap Agung.
Setelah
menghabiskan minuman, mereka bertiga
berdiri dari tempat duduk dan berpamitan
dengan Agung.
“Pulang dulu ya, Eni yang cakeep,” ucap Ian
sedikit keras kepada gadis yang sedang duduk sambil membaca buku di ruang
sebelahnya.
Mendengar
namanya disebut, Eni menoleh. Dia tersenyum sambil menjawab, “Iya, Mas Ian sing baguus.”[12]
Eni pun berdiri dan melangkah mendekati mereka.
“Emm, pulang ya, En?” ucap Raffi.
“Iya, Mas Raffi,” jawab Eni.
“Aku juga pulang,
ya En?”
Eni tersenyum. “Iya Mas Monas. Hati-hati di jalan!” Dia ikut berjalan ke luar rumah.
Ketiga pria itu menaiki motor mereka masing masing. Deru knalpot sontak langsung menggema
memecah keheningan saat masing-masing menstarter dan menarik gas motor. Eni tersenyum
dan melambaikan tangannya untuk Monas. Sesaat kemudian kembali hening setelah
ketiga motor tadi meninggalkan tempat itu. Agung dan adiknya masuk kembali ke
dalam rumah.
Sesampainya dirumah, Monas langsung masuk
ke kamar, melepas jacket dan menggantungnya. Duduk sejenak di karpet lalu menyalakan
komputernya. Perlahan alunan musik
terdengar pelan. Dia rebahkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit
kamar. Dirinya kembali memikirkan tawaran tadi. Tawaran
menjadi seorang joki motor ber-cc besar.
“Jujur, aku memang suka balapan, apalagi motor balap yang
punya cc gede. Pingin sekali rasanya aku bisa terjun ke balapan besar di sirkuit Sentul atau
sirkuit lainnya. Tapi, apalah dayaku, kemampuanku yang ada tak mendukung. Aku
hanya punya nyali dan sedikit
skill dalam mengendalikan kencangnya kuda besi saja.
Ah, pusing.” Monas memegang keningnya. “Aku
terima enggak ya, tawaran ini? Dan lagi balapan resmi juga jarang ada. Hatiku jadi serba salah. Huff ... tapi aku masih ada waktu lima hari ini untuk memikirkan lagi,” ucapnya.
Monas terdiam
sejenak. Tapi tiba-tiba saja hp-nya
berdering. Saat tahu yang meneleponnya, dia tersenyum. Dia segera mengangkatnya.
“Assalamualaikum Mas, ganggu endak?” Terdengar
suara seorang gadis pelan.
“Wa alaikum salam Kasih, nggak ganggu kok. Ada apa? Kangen ya?”
“Ah Mas bisa wae. Em iya sih, tapi dikiiit.”
“Kok cuma dikit Kasih, yang banyak
kenapa kalau kangen.”
“Emm kalau
pingin banyak, nanti kalau sudah
halal, hehe.”
Monas tersenyum.
“Ya sudah dikit juga nggak apa-apa kok, aku juga senang. Ada perlu apa?
Emang bapak sama ibumu nggak
tahu kamu nelepon ini?”
“Bapak sama ibu endak tahu, Mas. Mereka
udah tidur. Eh Mas, hari minggu depan kita jalan, ya?”
“Boleh. Tapi, mau ke mana Kasih?”
“Nanti aku kasih
tahu Mas. Yang penting minggu jam delapan, Mas tunggu di dekat pasar Sukoharjo, ya?”
“Ya sudah, nanti aku tunggu.”
“Sudah ya Mas, sudah malam. Met mimpi indah. Aku sayang kamu, Mas.”
“Aku juga sayang kamu, Kasih. Met mimpi indah juga.”
Ternyata yang
menelepon Monas adalah Kasih,
pacarnya. Gadis cantik dengan nama
lengkap Kasih Setiana Ramadhani. Seorang
pelajar SMA yang masih duduk di kelas tiga. Sosok Kasih adalah gadis idaman bagi Monas. Selain sopan, dia
pun ramah, baik hati, dan menyenangkan. Sangat sempurna di mata Monas. Namun perbedaan Monas dan Kasih terlalu jauh. Monas hanya dari keluarga
biasa saja. Sedangkan Kasih adalah anak tunggal dari keluarga yang bisa
dibilang sangat kaya. Meski
ada jurang perbedaan yang sangat dalam, keduanya tetap saling mencintai. Dan keduanya terpaksa menjalani kisah
cinta mereka dengan jalan sembunyi-sembunyi.
Saat Monas hendak
memejamkan mata, hp-nya menjerit lagi. Dia membaca satu pesan yang masuk.
“Met bobok ya Mas. Mimpiin Eni ya …!”
Monas hanya senyum-senyum sendiri sebab Eni memang seringkali mengirim pesan untuknya. Namun,
Monas memilih tak membalas
pesan itu dan
meletakkan kembali hp-nya, lalu mulai memejamkan mata. [ ]
[1]Permisi.
[3]Iya nek, aku sudah
bangun..
[5] nenek juga sudah lapar.
[6] Anda dulu.
[7]kan yang tua duluan..
[8] tanam
[12] Yang ganteng.



