Kesempatan Besar
DI BALIK STUPA yang terkena sinar matahari, aku dan Sinta berdiri bergandengan. Berdua menatap tumpukan-tumpukan batu berhias relief nan indah. Tumpukan yang tersusun memanjang mencatat sejarah. Tertata rapi seakan memberi arti untuk dimengerti bagi yang melihatnya. Meski lapuk termakan oleh waktu, namun masih jelas guratan-guratan indah kisahnya di masa lalu. Aku masih terkesima. Tiba-tiba…
“Mas Rangga, oya aku ada informasi kalau bulan depan akan ada lowongan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten. Mas, coba ya! Ikut aja, siapa tahu Mas bisa masuk menjadi pegawai negeri!”
Ucapan Sinta mengagetkanku. “Yang bener Sin? Sinta mengangguk. “Tapi, kan pendidikanku cuma sampai SMK, bukan sarjana?” Aku ragu tapi juga sangat penasaran.
“Enggak, Masku. Yang pendidikan SMK juga dibutuhkan, tergantung jurusannya. Kemarin aku baca informasi di dinas. Lulusan SMK juga bisa. Bahkan yang jurusan perawat juga banyak dibutuhkan lho, yang nanti akan ditempatkan di rumah sakit pemerintah daerah sebagai pegawainya gitu. Mas harus coba, ya?” Sinta tersenyum padaku.
Mendengar itu aku bagaikan mendapat setetes air surga yang menyejukkan hati ini. Suatu kesempatan yang sangat besar di saat aku bingung dalam pengangguranku. Aku sangat senang.
“Oke, aku akan ikut seleksi itu. Siapa tahu aku bisa masuk dan menjadi pegawai negeri. Wah, bakal enak nanti hidup kita, ya, nggak?” sambil kukedipkan salah satu mataku.
“Semoga ya, Mas Ranggaku yang kusayang. Tapi, Mas harus siap-siap melengkapi syaratnya. Mumpung masih panjang waktunya dari sekarang.”
“Beres, mas Ranggamu ini akan menyiapkan semuanya, Sin. Eh, ayo kita pulang! udah sore, dan makasih atas semua informasinya, ya?”
“Iya Mas, sama-sama. Kalau diterima, entar traktir ya?” Sinta tersenyum.
“Jangankan cuma traktir, semua akan aku kasih ke kamu.”
Aku menuruni tempat wisata candi borobudur sambil bercanda dan berandai-andai yang indah dengan Sinta. Kugandeng tangannya. Erat dan hangat. Aku merasa beruntung karena hari-hariku seperti masih ada matahari yang indah di dekatku. Sinta adalah matahariku. Ia yang memberikan sinaran semangat hidup bagiku.
Setelah kudengar dari Sinta, dan meski sudah kubaca informasi di internet, hari berikutnya aku datang ke Kabupaten. Aku ingin tahu informasi lebih banyak lagi. Namun yang membuatku heran adalah yang datang di hari itu untuk melihat informasi ternyata banyak sekali dan berjubel. Semua terlihat sangat ingin tahu dan ingin mencoba kesempatan langka yang diberikan oleh pemerintah daerah. Aku memaklumi itu semua, jadi wajar bila orang datang sampai membeludak. Sebab untuk mendapatkan suatu pekerjaan sangatlah susah sekali. Dan peluang untuk dapat diterima juga sangatlah kecil. Akhirnya kudapatkan juga informasinya. Kubaca jelas semua informasi untuk lulusan SMK. Dan untuk lulusan SMU dan sederajat juga masih dibutuhkan sama persis dengan ucapan Sinta kemarin.
Agar tak menyia-nyiakan waktu, aku langsung ajak motor tuaku untuk menemani dalam melengkapi berkas persyaratan yang dibutuhkan, baik phas foto, foto copy ktp, serta ijazah dan yang lainnya. Tapi, ternyata untuk mendaftar dan melengkapi persyaratannya butuh perjuangan. Di setiap instansi pemerintah yang kudatangi dengan kedua sahabatku, banyak pula selain kami yang ingin melengkapi persyaratan juga. Bahkan aku sampai antre berjam-jam, mengular sampai keluar gedung. Panas. Keringatku sudah banyak mengucur. Rasa lapar juga sudah aku tahan dari pagi agar aku tak kehilangan nomer antreanku.
Di hari perjuanganku berikutnya di tempat lain pun sama. Antre dan antre yang ada. Hingga akhirnya setelah beberapa hari berpanas-panas ria dengan kedua sahabatku, semua persyaratan telah selesai dan kami masukkan.
Setelah menunggu beberapa waktu yg cukup lama dan dengan harapan yang melambung, akhirnya hari yang aku dan kebanyakan orang menunggu pun datang juga. Hari yang luar biasa. Hari dimana diadakannya test seleksi. Aku sendiri kebagian test seleksi di tempat Sinta bersekolah.
Pagi-pagi aku sudah bersiap dan bersemangat sekali. Dengan si jagur motor tuaku, kupaksa untuk mengantarku ke tempat test. Kugeber tali gas motor agar cepat sampai. Meski jalanan sebagian rusak dan bergelombang, kupaksa motorku untuk berlari. Dan aku tak lupa berdoa agar si jagur tak mogok di jalan. Beruntung pagi itu aku selamat dan tak mengalami kendala dalam perjalanan dengan si jagur. Padahal biasanya dia sedikit batuk-batuk lalu berhenti seenaknya.
Aku kemudian masuk mencari dimana nomer bangkuku untuk mengerjakan test. Aku berkeliling dari satu kelas ke kelas lain. Kulihat banyak orang yang lain pun sama. Mereka juga mencari tempat duduk masing-masing. Setelah beberapa saat berkeliling akhirnya aku menemukan kelas untuk test seleksi buatku. Aku pun masuk dan mencocokkan nomer pendaftaranku. Dapat. Aku kebagian tempat duduk di kursi barisan belakang. Aku merasa beruntung bisa dapat di barisan belakang jadi tak terlalu tegang nanti saat mengerjakan testnya. Aku duduk. Kemudian ada seorang gadis mendekat. Dia tersenyum padaku sambil mencocokkan nomer testnya. Aku membalas senyumnya itu. Lantas dia duduk di depanku. Tak berapa lama seorang pria mendekat dan duduk di samping kananku. Seorang pria yang aku rasa jauh lebih tua dari umurku. Terlihat dari rambut dan kumisnya yang tumbuh di wajahnya.
“Dapat kursi di situ, Mas?”
“Egh iya. Disini.”
Sambil menunggu test aku berbincang dengannya dan gadis di depanku. Dan ternyata keduanya yang duduk disampingku adalah seorang sarjana dari perguruan tinggi favorit. Sontak nyaliku mulai ciut. Sainganku sungguh sangat berat. Aku kemudian terdiam sambil tersenyum sendiri. Sepertinya diam dan sedikit tersenyum adalah cara yang paling tepat bagiku di dalam kelas agar bisa menutupi segala kekuranganku. Sejenak kupandangi nomer ujianku lagi. Ada lima digit angka di kertas. Berarti yang akan ikut test banyak sekali, sampai ribuan. Padahal nanti yang lolos hanyalah beberapa gelintir orang saja. Tak seimbang. Sangat kecil sekali peluang lolosnya.
Perlahan kursi di ruangan mulai penuh terisi. Kusapu pandangan ke kanan dan ke kiri. Sungguh aku tak percaya, semua yang ada di dekatku wajahnya terlihat serius. Sepertinya semua ingin berlomba untuk lolos seleksi. Jika dibandingkan dengan masuk PTN, bagiku ini adalah lebih berat. Kalau masuk PTN yang diterima jauh lebih banyak dan kesempatannya lebih besar, sedang yang ini hanya beberapa saja.
Lembar ujian mulai dibagikan. Satu persatu mendapatkan lembar ujiannya dengan posisi terbalik. Tak terkecuali diriku. Setelah menerima arahan dan petunjuk yang diberikan petugas yang ada di ruangan, test pun dimulai. Aku mulai membuka dan membaca satu lembar ujian. Aku kembali terkejut. Ternyata soal-soal yang ada di lembar ujian sangatlah susah sekali bagiku. Banyak pertanyaan yang tak kumengerti. Sungguh sangat jauh dari perkiraanku. Seketika aku langsung pesimis untuk bisa lolos. Dan sekali lagi, diam dan sedikit tersenyum bagiku adalah sebaik baik tindakan.
Aku hanya membolak-balikkan lembar ujian. Mencari soal yang mudah untuk aku kerjakan lebih dulu. Namun tetap saja hanya sebagian kecil yang bisa aku kerjakan dengan kepercayaan diriku. Sisanya aku mencoba mengerjakannya dengan sebuah keraguan. Entah itu benar ataupun salah. Rasa pesimis pun hinggap dan mendekapku erat. Membuat percaya diriku menjadi tak berdaya. Aku berpikir bagaimana mungkin aku bisa lolos, karena untuk menjawab benar semua soal saja aku tak mampu. Apalagi ditambah yang mengikuti seleksi jumlahnya pun ribuan. Dan, dari satu daerah yang bisa diterima hanyalah segelintir saja. Aku kembali hanya mampu terdiam dan tersenyum saja di kursiku.
Selama mengikuti test dalam hatiku terus saja hanya bilang nol besar. Saat lembar test hendak dikumpulkan tiba-tiba terlintas dipikiranku. Sebuah keraguan besar hadir tentang bagaimana penilaiannya nanti. Dan entah kenapa aku jadi sangat ingin tahu bagaimana cara penilaian test ini nantinya.
Aku berjalan keluar. Sesekali aku tersenyum saat yang lain juga mengeluh dengan soal yang sangat susah. Sebenarnya sama karena aku pun merasa demikian. Aku melangkah ke tempat si jagur yang setia menungguku di parkiran. Ternyata kedua temanku sudah ada di sana dan menunggguku. Aku menghampiri keduanya.
“Eh, bagaimana kalau bulan agustus nanti kita naik gunung? Setuju nggak? Yach buat ngisi kegiatan ...,” ucap Ardi.
“Boleh Di, kan kita juga nganggur ini. Kalau kamu gimana Ngga?”
Aku diam sejenak sambil berpikir. “Boleh, tapi naik gunung mana?” ucapku.
“Kita ke gunung Bromo. Denger-denger ada jambore di sana. Katanya semua pecinta alam berkumpul di sana, oke?” ucap Ardi yang bersemangat sekali.
“Wah, boleh tuh. Aku setuju Di, setuju banget,” ucap Agus menambahkan. “Lho kok kamu diam terus, Ngga? Biasanya kamu kalau ada acara naik gunung kan semangat banget.”
“Iya, tapi kalau ke sana kan butuh biaya nggak sedikit. Sedang aku nggak ada dananya.”
“Lho, kita kan biasanya modal gembel, Ngga. Kita bisa nebeng kendaraan ke sana. Itu juga biasa kita lakukan. Iya nggak?” ucap Agus.
“Iya, tapi buat makannya? Aku sudah nggak punya dana lagi, fren.”
“Hehehe, tenang Rangga. Ini kan tadi ideku, jadi aku yang tanggung jawab. Aku masih ada dana kok, cukup buat kita bertiga di sana. Fren, aku nggak akan melewatkan moment ini. Ini moment setahun sekali. Dan belum tentu kita nanti masih bisa berkumpul seperti ini lagi. Ngga, kita ke sana ya?”
“Wah, aku nggak enak, Di. Kamu kan selalu bantu aku terus selama ini urusan pendanaan.”
“Udah, kita ini kan sahabat. Bener nggak, Gus?”
“Bener banget, Di. Sahabat bagaikan kepompong, hahaha …, jadi, Ngga?”
“Hahaha, okelah kalau gitu.” Aku pun tersenyum dengan candaan mereka.
Akhirnya aku menyetujui rencana naik ke gunung Bromo. Rencana yang diputuskan di tempat parkir. Ada sebuah kebahagian dengan rencana naik gunung di hatiku. Sebagai penawar kecewaku yang kesekian kalinya. Dan hanya temanlah yang mampu memberikan kebahagiaan itu. Tak lupa aku memberitahukan rencana kami ke Sinta. Walau ia sedikit tidak rela, namun akhirnya mengijinkanku juga. Dia pun memberiku pesan untuk berhati-hati selama perjalanan. [ ]
