Minggu, 26 Oktober 2014

Solo Batik Carnival

Solo Batik Carnival







MASA LIBURAN sekolah, di bulan juni kota Solo memiliki agenda besar yang digelar. Solo Batik Carnival. Pagelaran seni budaya yang sangat megah serta meriah. Sajian kreatifitas anak bangsa dalam hal seni batik. Digelar di sepanjang jl. Slamet Riyadi, batik yang sudah dari zaman dulu dikenal, dihadirkan kembali yang lebih modis, lebih menarik, dan lebih modern.
Para penonton terlihat sangat antusias. Tumpah ruah berdiri di sepanjang jalan ingin melihat kemeriahan dan keindahan pagelaran tersebut. Keindahan berbusana batik yang diperagakan oleh para model membuat penonton takjub. Terlihat tak hanya orang tua dan kaum muda, bahkan anak-anak kecil juga hadir. Monas dan Kasih pun ada diantaranya.
“Mas, lihat yang itu!” Kasih menunjuk ke salah satu model. “Busana batik itu indah sekali. Bentuknya seperti burung merak, sangat kreatif. Oh hebat …, keren.” Kasih terus merekam model yang berjalan di depannya.
“Em iya benar. Busana batiknya terinspirasi oleh burung merak dan sangat indah sekali. Serasi dengan model yang mengenakannya,” ucap Monas.
Iya, luar biasa semuanya.” Kasih tersenyum. Kemudian dia mengarahkan kameranya ke model yang lain. “Eh itu ada anak kecil. Sungguh lucu sekali dia, Mas. Banyak penonton bertepuk tangan untuk anak kecil itu.”
“Yang mana, Kasih?”
“Itu, yang di pinggir sana!” Kasih  menunjuk ke barisan model anak kecil. “Gadis kecil seperti kupu-kupu itu. Batiknya bagus. Anaknya juga imut. Senyum terus lagi. Dia endak minder dilihat banyak orang begini. Ah nanti aku mau foto sama dia ah. Nanti Mas ambil gambarku ya sama dia?
Monas akhirnya melihat gadis kecil yang dimaksud Kasih. “Em iya, Kasih. Gadis kecil itu imut banget.” Monas kemudian memandangi wajah Kasih yang terlihat sangat bahagia. Dia tersenyum. Oh Kasih, kamu hari ini bahagia sekali kelihatannya. Aku ikut senang. Liburan ini memang menyenangkan bagi banyak orang di sini. Aku sebenarnya tak biasa dengan banyak orang begini. Namun demi kamu, aku rela, batinnya
Saat Kasih menoleh, dia melihat pria yang di dekatnya hanya berdiri dan diam.  Em, Mas Monas kok diam aja dari tadi, kenapa?” tanya Kasih sambil memegang tangan Monas.
“Ah nggak apa-apa kok. Aku cuma enggak biasa aja dengan acara-acara seperti ini. Terlalu ramai,” jawab Monas.
Oh ya udah, kalau gitu Mas tunggu di sini aja ya? Aku mau ambil gambar anak imut tadi sama merekam yang lain sebentar.
“Iya. Aku nunggu kamu di sini saja ya? Di motorku.”
“Iya. Bentar aku ke sana ya, Mas?
“Iya.”
Kasih lalu berjalan penuh semangat ke para model SBC itu sambil membawa kameranya. Dia mencari-cari gadis kecil yang lucu seperti kupu-kupu yang sudah lewat. Sementara Monas berdiri di samping motor, memandang para peserta SBC yang berjalan beriringan. Di antara ratusan peserta, akhirnya Kasih mendekati anak kecil itu saat berhenti.
“Hai Adik kecil, kamu namanya siapa?” sapa Kasih.
“Hai juga Kak. Aku Sinta, Kak, jawabnya sambil tersenyum manis.
“Bagus banget batiknya, boleh endak kakak foto bareng sama kamu?” Kasih tersenyum.
“Boleh aja Kak. Kakak namanya siapa?”
“Nama kakak Kasih, Sinta. Ini yang bikin siapa? Busana batik ini bagus banget.”
“Ini yang bikin mama, Kak. Aku suka yang model kupu-kupu. Jadi mamaku bikin ini. Lucu nggak Kak Kasih?”
Kasih tersenyum lebar. “Iya lucu, wajah kamu juga imut. Cocok kamu dengan busana ini.”
“Makasih, Kak.”
“Makasih juga ya Dik Sinta. Kakak boleh minta foto bareng tadi. Oya kakak mau merekam yang lain lagi ya? Salam buat mamanya Sinta ya?
“Iya Kak Kasih.”
Kasih lantas pergi meninggalkan si kecil Sinta yang sedang berhenti. Kasih masih terus merekam dengan kameranya. Sebagian peserta SBC itu pun di dekatinya satu persatu.
Wah keren-keren banget. Bahkan ada yang rumit banget kostumnya. Ada juga yang berat agar bisa menjadi hasil yang diinginkan. Seperti yang mirip burung tadi, kostumnya butuh bahan penyangga  untuk kedua sayapnya. Make up mereka pun sangat modern. Pokoknya aku endak rugi walau hanya nonton aja. Ah sudah ah, aku mau balik lagi ke mas Monas. Kasihan dia nunggu di motornya dari tadi,” ucapnya.
Kasih bergegas melangkah kembali ke tempat Monas yang menunggunya.
“Kasih, gimana? Kamu udah merekam semua?” ucap Monas saat Kasih mendekatinya.
“Udah Mas. Aku udah merekam sebagian. Tapi bener terlalu rame. Jadi ya cuma sebagian yang bisa kuambil gambarnya. Oya aku tadi ketemu sama anak kecil tadi, yang seperti kupu-kupu itu, Mas.” Kasih tersenyum.
“Hmm, terus?
“Terus aku foto sama merekam dia. Tapi maaf, tadi agak lama soalnya sambil ngobrol bentar. Kasih nyengir. Mas kalau mau lihat nih ada di kamera ini! Namanya Sinta. Busananya  yang bikin mamanya, Mas. Pokokya tadi aku seneng banget. Dan anak itu lucu banget sama imut.”
“Iya nanti aku lihat di kameramu itu. Sekarang kita mau ke mana? Mau di sini terus atau ke mana? Apa langsung pulang?”
Kasih terdiam sebentar. “Em kita muter-muter di Kraton bentar. Kan masih ada acara lain di dalam Kraton. Baru, kita pulang.”
“Ya udah, ayo kita ke Kraton! Lihat -lihat yang lainnya.”
“Ayo Mas!
Kasih memasukkan kameranya ke dalam tas. Mereka menaiki motor dan meluncur menuju Kraton. Hari itu tak hanya Solo Batik Carnival saja yang digelar. Namun masih banyak acara yang diadakan di dalam Kraton. Monas dan Kasih berkeliling Kraton dan sesekali berhenti mengambil gambar serta merekamnya. Di dalam museum Kraton, keduanya takjub akan warisan yang masih bisa dilihat dan dinikmati sampai sekarang.
Setelah cukup puas berkeliling keduanya meluncur ke arah selatan untuk pulang.
“Gimana? Kamu senang hari ini Kasih?” ucap Monas dia atas motor.
“Senang banget Mas. Aku senang bisa lihat lagi Solo Batik Carnival. Dan tambah senang karena Mas Monas bisa menemaniku. Kasih tersenyum manja.
“Aku juga senang Kasih, bisa melihatmu ceria terus hari ini.”
“Ah, Mas bisa aja,” sambil mecubit pinggang Monas.
Monas mengaduh pelan sambil tersenyum. “Pegangan ya? Aku mau lebih kencang lagi.”
“Iya tapi jangan kencang-kencang! Kasih takut.”
Kasih langsung memeluk tubuh Monas dan menyandarkannya. Kedua insan itu meluncur di tengah jalan yang ramai. Menuju Solo baru dan terus ke selatan. Dan hari itu adalah satu hari yang sangat membahagiakan bagi Kasih. [ ]

Bersambung......

Senin, 20 Oktober 2014

Lulus

Lulus






BULAN MEI. Hari demi hari terus berlalu. Detik, menit, jam, hari, hingga berganti minggu, dan menjadi bulan. Ujian untuk SMA telah selesai dilaksanakan. Kasih yang tengah duduk di dalam kelas nampak sudah siap dengan hasil yang akan diumumkan. Bahkan semua siswa merasa tegang. Mereka sudah tak sabar ingin tahu lulus atau tidaknya.
Seorang guru wali kelas terlihat berjalan masuk. Segepok amplop warna putih ada di genggamannya. Pak guru tersenyum. Dia mengatakan akan membagikan hasil kelulusan kepada tiap siswa lewat amplop putih itu. Sementara semua siswa yang sudah menunggu dari pagi mulai jantungnya sudah berdebar-debar. Ingin segera tahu apakah nama dan nomor ujian mereka lulus atau tidak.
Saat pak guru selesai membagikan amplop putih, tak berapa lama kemudian terdengar suara kebahagiaan siswa putra dan putri di kelas lain. Teriakan ‘lulus’ dan keriuhan kegembiraan terdengar sangat jelas. Tak berapa lama dari pintu kelas yang terbuka Kasih melihat teman kelas lain langsung berhamburan keluar meluapkan kegembiraan mereka. Sementara Kasih dan Putri masih menunggu karena belum membuka amplop di tangan mereka. Semua siswa di kelas Kasih nampak tegang. Dan setelah semua siswa menerima amplop, pak guru mempersilahkan untuk membukanya.
“Kasih, aku lulus. Lihat!” ucap Putri disampingnya. Yes, Alhamdulilah ya allah. Kamu gimana?”
Kasih masih tegang. Perlahan dia membuka amplop itu. Aku juga lulus Put. Lihat! Kita lulus ..., Alhamdulilah kita akhirnya lulus.” Kasih terlihat senang dan haru.
Mereka bersorak sambil berpelukan karena bahagia bukan kepalang. Semua siswa di kelas itu pun bersorak bersama. Dan ada sebagian yang langsung berlari ke luar kelas.
“Kasih, gimana? Kamu mau melanjutkan kuliah ke mana nanti?”
“Aku pingin kuliah di Solo aja. Bapak ibuku berharap masuk kuliah tapi yang endak perlu jauh-jauh Put. Kalau kamu gimana? Pasti nilai kamu bagus Put. Kamu kan anak pinter.”
Putri seketika terlihat murung. Ah endak tahu kalau aku, Kasih. Soalnya biaya kuliah kan mahal. Sedangkan aku, kamu ngerti sendiri dengan keadaan keluargaku.”
Kasih memegang telapak tangan Putri. Ah jangan dipikirin sekarang! Yang penting kita rayain dulu kelulusan ini Put. Ayo kita jalan sama makan-makan bareng temen yang lain ya?
Iya Kasih. Kita seneng-seneng dulu.”
Suasana yang sedari pagi tegang pun berubah menjadi sangat meriah luar biasa. Apalagi semua siswa dinyatakan lulus.  Mereka menerimanya dengan suka cita dengan menumpahkan corat-coret di baju seragam. Dan berbagi tanda tangan di baju untuk kenang-kenangan. Sebagai bentuk luapan kebahagiaan mereka. Hari di mana suatu kebahagiaan yang tak terbendung di dalam tiga tahun menempuh belajar, akhirnya di hari itu mereka pun berhasil lulus.
Sebagian siswa kemudian pergi ke Batu Seribu, suatu tempat untuk merayakan kelulusan. Kasih dan Putri ada di antaranya. Dengan seragam penuh corat-coret  mereka berjalan sambil bersuka ria menuju ke saung di dekat kolam renang. Terlihat banyak siswa dari sekolah lain ikut pula merayakan kelulusan di tempat yang sama. Ramai dan meriah.
Putri berdiri. Ayo! Semuanya pada makan sepuasnya ya? Hari ini kita rayakan kelulusan ini. Hari ini ada yang bayari. Semua ditraktir.  Jangan pada ragu teman-teman! Kasih yang traktir kita!
Sontak suasana menjadi bertambah riuh dari kegembiraan semua yang berada di situ. Teriakan kegirangan dan ucapan terimakasih kepada Kasih terdengar saling bergantian. Terlihat sebagian teman yang lain mengacungkan jempolnya karena hari itu mereka makan gratis.
Kasih tersenyum. Iya. Ayo pokoknya harus dimakan! Harus habis ya?” ucap Kasih yang begitu gembiranya.
Huh, mantap tenan. Ayo kita makan yang banyak hari ini hehehe,” ucap Budi yang terlihat senang bukan kepalang.
Suasana kelulusan itu pun semakin meriah dengan berbagai kelucuan-kelucuan dan tingkah konyol dari mereka. Suatu kebahagiaan yang sempurna bagi para siswa dan siswi itu. Kebahagiaan anak remaja yang mengartikan arti kelulusan dalam pandangan mereka. Dan tak lupa mereka mengabadikan moment itu dengan kamera dan video.
Di sudut lain Kasih menelepon Monas untuk berbagi kebahagian dan memberitahukan bahwa dia lulus, yang pada saat itu ada di kampus. Kasih meminta Monas  menemaninya  saat libur panjang nanti, menemaninya melihat pagelaran Solo Batik Carnival di bulan juni, dan menemaninya saat mendaftar masuk kuliah nanti.
Monas ikut gembira mendengar kelulusan Kasih. Guratan senyum yang lebar terlihat jelas di wajahnya. Dia menutup handphone-nya. Kemudian dia menghadap laptopnya kembali. Dia melanjutkan membuat beberapa gambar bangunan yang diinginkannya. Dia mencoba membuat pengaturan yang baik suatu letak gedung dengan sebuah sircuit balap di dalamnya serta mencoba menuangkan ide itu ke dalam laptopnya. Meski masih banyak kekurangan yang dia sadari namun, dia ingin itu bisa terwujud. Dan meski hasilnya mungkin tak memuaskannya.
Sesekali dia merenung untuk mencari inspirasi yang lain, yang mungkin bisa diterapkan dalam karyanya, yang memiliki seni tersendiri yang bisa dijadikan ciri khas. Dia mulai membuka gambar kota-kota dunia yang mungkin bisa diadopsi untuk bisa menambah kesempurnaan gambarnya.  
“Huft, ternyata nggak mudah aku bikin-bikin sesuatu. Butuh pengetahuan yang luas untuk membuat ini. Ah pusing juga aku. Oh jadi apa ya aku besok nantinya? Ah sudahlah, aku juga nggak tahu besok bisa bangun tidur jam berapa? Yang penting dijalani saja. Selamat ya, Kasih. Kamu sekarang udah lulus. Aku sangat senang. Semoga kamu nanti bisa masuk kampus yang kamu inginkan dan cita-citamu bisa tercapai. Semoga aku juga bisa mendampingimu selalu nantinya,” ucapnya pelan.[ ]