Selasa, 23 September 2014

Tantangan Untuk Raffi



Tantangan Untuk Raffi





SIANG HARI di dalam kelas Monas masih diam tak beranjak dari tempat duduknya. Sementara Ian sudah pergi ke kantin. Dia terlihat melamun. Aduh, nanti hari minggu bisa nggak ya aku nganter Aira? Sepertinya dia butuh teman. Dari suaranya, dia jujur seperti tak pernah keluar jalan-jalan sendiri. Mungkin dia selalu pergi dengan ditemani orang-orang terdekat untuk menjaganya dari orang yang bermaksud jahat. Makanya semalem dia ingin sekali jalan dengan orang yang dipercayanya saja, batinnya.
Di saat  masih melamun, dia dikejutkan dengan bunyi handphonenya. Satu pesan diterimanya.
Nas, malam minggu kamu turun lagi ya? Sore ditunggu
di basecamp. Thank’s.”                     
Dia beranjak keluar kelas, menuju ke kantin. Dia  masuk dan melihat Aira duduk dengan temannya, Dewi dan Hesti. Aira juga melihat dan memberikan senyum kecil kepadanya. Monas  lalu berjalan ke ujung kantin, di mana temannya sudah duduk menunggu  dengan ketiga gelas kopi di meja mereka. Kemudian Monas duduk bergabung dan menjelaskan pesan  kepada ketiga temannya. Pandangannya hanya ke depan sambil berbincang dengan Agung. Sementara Raffi melirik ke Aira sambil memberikan senyum. Aira pun membalas senyum itu.  Raffi membatin, oh manis sekali senyummu, Ra. Hingga hatiku selalu teringat kamu terus, dan ingin dekat selalu.
Senyum balasan Aira melambungkan imajinasi Raffi. Melambung tinggi seperti  gumpalan awan hasrat yang siap menghujani asmara dengan derasnya. Siap membasahi dan membanjiri telaga cinta gadis yang cantik itu.

Sore hari setelah selesai kuliah, di saat Monas Ian, Agung dan Raffi mau meninggalkan kampus, mereka dihadang oleh puluhan motor. Salah satu dari mereka mendekati Raffi.
Hai, kamu yang namanya Raffi?” ucap Iwan.
Iya. Ada apa? Ada perlu apa?” tegas Raffi.
Wow, boleh juga suaranya.” Iwan tersenyum sinis. Raffi, denger-denger kamu mau mendekati Aira ya? Aku kasih tahu ya, jangan sekali-kali mendekatinya lagi! Ini peringatan dariku. Ngerti kamu, Raffi?”
Raffi langsung turun dari motor dan berdiri berhadapan dengan Iwan. “Hah, emang kamu siapanya? Dan kamu juga bukan pacarnya kan? Kenapa kamu ngelarang-larang aku? Dia bebas dekat sama siapa saja.”
Wow wow wow, rupanya ada nyalinya juga ya?” ucap Iwan yang menatap tajam Raffi.
Suasana semakin tegang. Beberapa teman Iwan juga turun dari motor dan mendekati Raffi. Namun seketika itu Monas, Agung dan Ian langsung mendekat dan memisahkan kedua orang yang sudah terpancing emosi itu.
Hai sudah, jangan berantem!” ucap Ian.  Ini kampus. Ini tempat untuk  belajar, bukan untuk berantem. Malu kalau ketahuan ribut-ribut. Oya ini urusannya apa, Wan?”
Hai Ian, kasih tahu temen kamu ini jangan dekati Aira, oke? Kalau endak mau urusan sama aku. Ngerti? Mendengar ucapan Iwan, Raffi makin geram.
Sudah, endak usah jadi rame. Kalian seperti anak kecil. Gini saja, kalian bersainglah untuk mendapatkan cewek itu secara sehat dan jantan. Dan biarkanlah nanti si cewek itu yang memilih diantara kalian. Oke? Sekarang biarkan kami lewat! Kami ada urusan lain.” Ian berusaha meredam emosi keduanya.
Iwan justru bertambah geram mendengar ucapan Ian. “Oh jadi mau menantang secara jantan, baik. Hai Raffi, denger-denger kamu suka balapan kan? Gimana kalau kita selesaikan ini dengan balapan saja? Kamu setuju?
Baik, kalau maunya seperti itu. Dan apa taruhannya?sahut Raffi. Dia sudah terbawa emosi. Sementara Ian diam dan menyesalkan itu.
“Yang menang boleh dektin Aira sama nembak dia duluan.  Jantan dan fer kan?”
“Aku setuju. Tapi antara kita tak boleh ada yang saling menjelekkan dan menjatuhkan.”
“Sip, tapi … bukan hanya itu saja Fi.”
“Jadi ada yang lain lagi?”
“Oo … jelas ada.” Iwan terkekeh.
“Apa itu?”                           
“Yang kalah harus cuci motor.” Iwan tertawa dan diikuti temannya yang lain.
“Deal, aku terima tantanganmu, Wan. Kapan kita mulai?”
“Baguus.” Iwan tersenyum. “Malam minggu besok gimana?” tantang Iwan.
Oke, malam minggu aku tunggu kamu.”
Kemudian puluhan motor kelompok Iwan pun pergi meninggalkan kelompok Raffi. Sementara Ian, Agung dan Monas menenangkan Raffi yang emosinya melonjak.
Hah, emang kamu siapa ngelarang-larang, Wan? Aku kalahin kamu nanti. Awas kamu, Wan. Lihat saja nanti kamu bakal cuci motorku!
Hai Raffi, sudah! Tenangin emosi kamu! Kenapa kamu terpancing dengan tantangannya tadi? Bodoh kamu,tegas Ian.
Ya habis dia nantang aku. Ya aku terima tantangannya lah.”
Ah payah. Tapi  sudahlah, kamu sudah terima tantangannya. Berarti kamu harus meladeninya nanti malam minggu. Kamu siap Fi?”
Aku siap. Siapa pun lawanku, aku siap,” jawab Raffi yang masih sewot.
Terserah kamu, Fi,” ucap Ian. Sementara Monas hanya diam menatap temannya.
Raffi yang sudah terbakar emosi karena tantangan Iwan, tak sabar ingin menunjukkan kalau dia bisa mendapatkan hati Aira dengan menang balapan nanti. Saat di atas motor Monas  diam sambil menatap Raffi yang emosinya sudah sangat memuncak. Ternyata banyak anak kampus yang ingin mendapatkan hati Aira. Terutama Raffi dan Iwan. Aku bisa lihat dari cara mereka bersaing. Tapi kasihan Aira. Semoga saja Aira tidak tahu hal ini. Dan semoga yang mendapatkan hati Aira nantinya adalah cowok yang baik, batinnya.
Di basecamp, Monas menemui bos Baron. Di sisi lain, Raffi dan Agung langsung membongkar motornya. Dia meminta motornya disetting agar lebih kencang. Berapa pun biaya yang harus dikeluarkan, dia siap demi balapan malam minggu nanti. Sementara Monas di ruang tersendiri.
Oh ya Jocker, sorry kalau aku ngasih tahunya mendadak ya tadi?
Oh nggak apa-apa Bos. Em oya, siapa lawanku nanti malam minggu, Bos?”
Em Bagas. Dia dari Jogja. Dia denger kalau ada yang ngalahin Adam kemarin. Jadi dia mau nyoba kamu nanti. Dia pingin cc yang lebih besar lagi. Jadi nanti kamu pakai motorku yang itu.
Ha? Motor punya Bos?
Aku sudah percaya sama kamu.” Bos Baron tersenyum. “Oya ini balapan terakhir. Habis ini aku stop dulu, baru sehabis ujian kamu nanti kita lanjutkan lagi. Kamu siap?”
Oke, aku siap Bos”
“Satu lagi, kamu sekarang dikenal menjadi joki misterius di kalangan balapan liar kemarin. Karena nggak ada yang tahu siapa kamu. Nah biarkan ini jadi misterius saja bagi mereka. Aku juga nggak akan kasih tahu siapa kamu, oke?”
Oke Bos.”
“Nanti kamu datang ke arena balapan kalau aku kasih tahu. Kamu datang, kamu balapan, lalu kamu pergi. Jadi siapa pun tidak akan tahu siapa kamu, oke?”
Oke Bos. Aku ngerti.”
“Ya sudah itu saja.” Bos Baron lalu menatap ke depan. “Oya  itu si Raffi kenapa kok motornya dibongkar?”
Oh, dia tadi ditantangin balapan Bos.”
Berapa taruhannya? Gede?”
Egh taruhannya boleh nembak cewek duluan sama yang kalah harus cuci motor, Bos.”
Bos Baron sontak tercengang. Matanya membelalak lalu tertawa. “Em boleh juga, tapi ya sudahlah kita lihat saja hasilnya nanti ya? Oya jangan lupa  malam minggu tunggu konfirmasi dariku!
Baik Bos, aku kembali ke temenku dulu ya?
Ya.”
Monas berjalan ke motor bos Baron. Sejenak dia berdiri di dekat kuda besi dan menatap dalam-dalam. Dia  memegang, mengusap, dan merasakan hawa petarung jalanan di motor itu. Kemudian dia mengayunkan langkahnya menemui Agung, Ian dan Raffi yang sedang membongkar motor.
“Fi, jadi bongkar semua ini motor?”
Iya Nas. Aku mau motor ini kenceng berapa pun biayanya. Gung, besok kamu cariin barang yang diperlukan ya? Pokoknya harus menang. Ini demi Aira dan harga diriku.
“Aku usahain Fi. Tapi kamu harus hati-hati juga. Dulu si Iwan juga sering balapan. Settingan motornya juga bagus lho,” ucap Agung.
Pokoknya aku percaya sama kamu dan Bram.”
“Tapi jika kamu kalah, berarti kamu siap malu lho karena harus cuci motor Iwan.
“Aku siap Gung,” tegas Raffi. Sementara Agung, Ian, Monas geleng-geleng.
Raffi, motormu kan baru dibongkar, kamu pulang pake motorku aja ya?” ucap Monas.
Lho, kamu nanti pakai motor siapa Nas?” tanya Raffi.
Aku pakai motornya Bos. Dia yang suruh aku tadi.”
Wah tambah kenceng kamu, Nas,” celetuk Ian.
Ah cuma sementara. Aku turun pakai motor itu nanti.”
Wah bakal tambah seru nanti.” ucap Raffi takjub. “Kapan-kapan kamu balapan sama aku ya?
Ian langsung tertawa. “Ya jelas kalah kowe Kunyang. Motormu endak ada apa-apanya sama motornya si Bos.”
“Yang penting berani dulu Kucrut.”
Hahaha, wani ning ora ulat-ulat kuwi jenengé.”[1]
Mereka akhirnya tertawa sejenak. Dari suasana tegang yang menyelimuti Raffi tadi. Kini suasana sudah berubah seperti semula dari pertemanan mereka.


[1]Berani tapi tidak lihat-lihat namanya.


***

Malam jam sembilan, di dalam kamar Monas kembali merenung.  Monas membatin sepertinya makin berat lawanku besok balapan. Tapi aku harus tetap menang. Oya, Aira minta aku menemaninya hari minggu besok. Tapi aku juga belum tahu siapa dia sebenarnya? Dan kenapa harus aku yang diajak? Wah gawat! Kalau sampai ketahuan Iwan atau Raffi. Mereka belum jadi pacarnya saja sudah seperti itu. Apalagi  kalau ketahuan aku jalan sama Aira. Bisa ribet urusanya nanti. Ah sudahlah, daripada aku pusing mending nongkrong ajalah di warungnya kang Gareng. Di sana siapa tahu bisa ketawa-ketawa agar kendor saraf ini.
Monas menaiki motornya meluncur ke warung kang Gareng di sisi jalan. Saat sampai dilihatnya sudah banyak yang nongkrong di warung pinggir jalan itu.
Wuih, motornya ganti lagi. Kok motormu gonta-ganti to Nas? tanya cowok berambut keriting sambil mendekati motor Monas.
Biasa Pung, ini minjem kok.”
Wah ini cc-nya gede banget yo? Pasti mahal banget ini. Ckckckck … kayaknya aku endak sanggup beli. Dan Seumpama yang naik aku, pasti klelep ini alias endak kelihatan.
Ah ya masih kelihatan, Pung.
Kang Gareng, mantep yo?”
Iyo Pung. Makanya motormu bebek itu, ganti aja seperti yang dibawa Monas itu.”
Ah, aku masih sayang motorku ini.  Walaupun jelek tapi ada kisah yang tak terlupakan dengan motor ini lho,ucap Ipung sambil menunjuk motor bebeknya.
Monas tersenyum. “Kang, aku pesen wedang jahe susu yo? Monas masuk dan duduk.
Siap Nas,” jawab kang Gareng.
Wah Nas, sekarang semakin banyak  cewek yang seneng sama kowe di kampus, yo?” tanya Ipung lagi yang kembali duduk di sebelah Monas.
Lha yo jelas no Pung. Orangnya aja udah ganteng, motornya gede dan bagus, kurang apa coba? Kalau sampai cewek-cewek kampus endak seneng, berarti buta. Hehehe, iyo endak Kang Gareng?” celetuk Ari.
Betul betul betul …,sahut kang Gareng.
Serentak suasana di warung angkringan kang Gareng jadi meriah oleh gelak tawa seisi warung.
Ah biasa wae kok Ri, ucap Monas.
Yo endak mungkin. Berarti mereka-mereka buta beneran. Masa sama kowe kok endak seneng.” Monas hanya tersenyum sambil mengambil gorengan.
Pung, kowe kapan balik dari Surabaya? Tumben ada di rumah,” tanya Monas.
Aku udah tiga hari, Nas. Aku cuti dulu, pingin ada di rumah. Lha kowe  gimana sekarang? Mana cewekmu? Kenalin ke aku! Dari dulu kok hanya jomblo wae ?”
Monas terkekeh. “Nanti kalau udah waktunya  aku  kenalin kowe, fren.”
Oh iyo harus itu. Aku tunggu yo?
Mereka terus bercanda, tertawa dan menikmati makanan ankringan. Suasan makin bertambah seru dengan celetukan-celetukan khas kang Gareng. [ ]



 


[1]Berani tapi tidak lihat-lihat namanya.