Tak Sesuai Harapan
MALAM MIMGGU di akhir bulan. Dengan berpakaian yang sedikit rapi Monas memberanikan dirinya untuk datang ke rumah Kasih. Jam delapan malam dia sudah di depan rumah Kasih. Dia memencet bel yang ada di dekat pintu sambil berucap salam. Tak berapa lama pintu pun terbuka. Ternyata Kasih sendiri yang membukakan pintu itu dengan berpenampilan yang sedikit berbeda dari biasanya. Dia sudah tahu kalau Monas akan datang.
“Lho sepertinya sepi, Kasih? Pada ke mana orangtuamu?”
“Lagi pergi ke undangan, Mas. Bentar lagi bapak sama ibu juga dateng kok. Yuk kita di ruang tamu aja!”
“Em iya.”
“Mas, santai aja ya? Mau minum apa? Kasih yang bikinin.”
“Apa ajalah, asal kamu yang bikin pasti enak kok.” Monas tersenyum.
“Ah bisa aja Mas Monas.” Kasih tersipu. “Bentar ya Mas, Kasih ke belakang dulu.”
Monas hanya mengangguk saat Kasih beranjak ke belakang. Dia memandang kekasihnya itu terlihat sangat cantik. Serasi dan sopan dengan pakaian batik yang dikenakannya. Tak berapa lama kemudian Kasih kembali ke ruang tamu dengan membawa minuman.
“Em, maaf lama yo Mas yo?” ucap Kasih sambil meletakkannya di depan Monas duduk. Kasih kemudian duduk di sebelah Monas. “Eh Mas, ayo itu sambil dimakan yang ada di meja itu! Anggep di rumah sendiri ya?”
“Ah kamu bisa wae becandanya. Masa suruh anggep rumah sendiri, kan mahal bikin rumah kayak gini.”
“Tuh kan, mulai deh.” Kasih tersenyum kecil. “Em Mas, boleh endak aku nanya?”
“Nanya apa lagi Kasih? Kan, Mas sudah datang ke rumah sekarang.”
“Bukan itu Mas. Ini hal lain.”
“Hal lain apa ya?”
“Gini Mas, waktu itu aku lihat mas boncengin seorang cewek. Cantik sih, terus sepertinya mesra banget. Em dia siapa Mas?”
“Em, aku boncengin cewek? Terus mesra katamu.” Kasih mengangguk. “Em tunggu ...!” Monas terdiam sejenak. Dia berusaha mengingat-ingatnya. “Oh iya aku inget sekarang. Hari senin ya?”
“Iya Mas, hari senin.”
“Oh dia itu Eni. Dia memang cantik. Tapi dia itu adiknya Agung. Dia memang sangat akrab denganku dari dulu. Tapi aku nggak ada apa-apa dengannya kok. Malah dia kuanggap seperti adikku sendiri.” Monas menatap Kasih sambil tersenyum. “Kamu cemburu ya?”
Kasih membalas senyuman Monas. “Egh ya endak Mas. Kan, aku udah tahu kamu, Mas. Mas endak akan seperti itu sama Kasih kan?”
“Makasih.” Tangan Monas memegang tangan Kasih. Mata mereka saling bertatapan. “Kasih, percayalah sama aku. Aku nggak akan seperti itu. Aku hanya menyayangimu.”
“Aku percaya kok Mas.”
Bersamaan dengan itu terdengar suara mobil berhenti di luar rumah.
“Nah Mas, itu bapak sama ibu pulang. Bentar ya, aku ke depan dulu?” Kasih berjalan ke depan dan membuka pintu. Dan benar bapak sama ibunya sudah datang.
“Oh lagi ada tamu to? Lho, Mas Monas yang bertamu?” ucap bu Harto yang mendekati Monas.
“Inggih Pak, Bu. Maaf, saya main ke sini.” Monas menyalami keduanya.
“Oya ada perlu apa? Kok sampai Mas Monas ke sini, kadingaren lho,” ucap pak Harto sambil kemudian duduk di hadapan Monas.
“Egh, endak ada perlu kok Pak. Hanya main aja.”
“Lho, masa hanya main tok. Endak ada yang lain gitu?”
“Em begini Bapak sama Ibu, Mas Monas ke sini udah dari tadi nunggu Bapak sama Ibu,” sahut Kasih. “Em Mas Monas pingin ngomong sesuatu sama Bapak, Ibu.”
“Pingin ngomong apa Mas Monas? Sudah, ayo ngomong aja langsung.” Monas tersenyum. “Oya sambil dirahapi makanannya itu yang ada di meja! Ayo to ndak usah malu-malu!”
“Inggih Pak, tadi udah kok.”
“Terus ada perlu apa, Mas?
Monas diam sejenak. Dia menoleh dan menatap Kasih. Kasih pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Monas kemudian menatap kedua orangtua Kasih. “Em baiklah, kalau gitu saya pingin matur[1] sama Bapak Harto sekalian Ibu sekarang. Egh ... gini, em gimana ya?”
“Udah ngomong saja. Masa sama kita malu yo Bu yo?”
Bu Harto tersenyum. “Iyo Mas, ada perlu apa to kok ibu jadi penasaran juga.”
Monas pun mengumpulkan keberaniannya. “Em baik Pak, Bu, ini … tentang saya sama Kasih. Saya sebenarnya sudah lama pingin matur, tapi mungkin baru kali ini saya bisa dan berani. Em begini Pak, Bu, sebenarnya saya dan Kasih sudah lama kenal dan sebenarnya kami ini saling menyukai.” Monas menatap Kasih sejenak. “Jadi kedatangan saya ini, saya minta diijinkan untuk berpacaran dengan Kasih, putri Bapak dan Ibu. Em begitu maksud kedatangan saya.”
Setelah mendengar maksud Monas, pak Harto dan bu Harto sontak kaget. Kedua orangtua itu tak menyangka Monas berani meminta ijin untuk bisa memacari anaknya. Suasana menjadi hening. Kedua orangtua Kasih saling bertatapan sejenak.
Pak Harto tersenyum. Kemudian dia mulai membuka pembicaraan lagi. “Ehm, begini Mas Monas. Bapak menghargai niat Mas itu. Tapi bapak berpikir, kalian ini apa benar sudah saling mencintai? Em apa modal Mas Monas nantinya untuk bisa menghidupi anak bapak? Dan … kalian berdua ini kan masih muda, kuliah saja belum beres.” Pak Harto menatap tajam Monas. “Mas Monas, maaf lho ini. Boleh bapak nanya ke Mas Monas?”
“Iya Pak. Silakan!”
“Gini, sebenarnya bapak endak pingin hidupnya putri bapak nanti sengsara, Mas. Bapak rasa hampir semua orangtua seperti itu. Bener kan Mas Monas?” Monas terdiam. “Terus kalau Mas sendiri, sudah cukupkah niat Mas yang ingin berpacaran dengan anak bapak? Malah bisa-bisa nanti dia kecewa dan sakit hati.” Monas tetap terdiam. “Bagaimana? Mas paham kan ke mana arah omongan saya?” ucap pak Harto dengan pelan dan halus.
Monas mengangguk. “Em iya paham Pak, sangat paham.”
“Berarti Mas Monas tahu jawaban Bapak kan? Bukannya endak boleh Mas, tapi untuk saat ini mending kalian lulus kuliah dulu, lalu bekerja. Nah, kalau sudah mapan ya silakan! Kalau kalian berpacaran, nanti malah bisa mengganggu dan merusak masa depan itu sendiri. Bener kan Bu? Kamu juga setuju kan?”
“Bener, ibu setuju sama jawaban Bapak.”
“Bapak, Ibu, kenapa kami endak dibolehkan? Padahal Kasih juga sayang sama Mas Monas lho Bu, Pak,” sahut Kasih. Dia sedih. Genangan airmata mulai terlihat di pelupuk matanya. Kemudian genangan itu perlahan jatuh menetes sambil menatap Monas. Dia tahu, walau jawaban orangtuanya seperti itu, sebenarnya adalah tak membolehkan keduanya untuk berpacaran. Sementara Monas tetap terbungkus dalam diam.
“Em gimana Mas Monas? Jadi menurut bapak, lebih baik Mas tunjukkan dan buktikan dulu seperti ucapan bapak tadi. Setelah cita-cita tercapai, silakan Mas ke sini dan membahagiakan anak bapak!” ucapnya sambil tersenyum.
“Inggih Pak Harto. Saya ngerti semua pembicaraan ini. Insyaallah, Pak.” Akhirnya Monas pun bisa berkata setelah semua ucapan orang tua Kasih yang dirasakan menindih dan membenamkannya dalam lumpur ketidakberdayaan.
“Nah masih ada perlu lagi Mas Monas?”
“Egh udah endak ada kok Pak.” Monas tersenyum kecil. “Makasih sebelumnya, dan kalau boleh sekarang saya mohon pamit Pak. Saya masih ada keperluan yang lain.”
“Oh silakan Mas Monas! Maaf ya Mas Monas?”
Monas melihat Kasih sebentar yang di sampingnya duduk sambil terus meneteskan air mata setelah mendengarkan jawaban orangtuanya. Kasih tak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya dan Monas. Namun apa dikata, jawaban orangtuanya yang halus itu malah menyakitinya dan menyakiti hati Monas. Padahal dialah yang meminta Monas untuk datang dan berbicara secara sopan.
Monas pun berdiri. “Assalamu’alaikum ....”
“Wa’allaikumsalam ....” ucap kedua orangtua Kasih berbarengan. Sementara Kasih hanya menjawabnya pelan.
Monas menyalami kedua orangtua Kasih dan kemudian berjalan keluar rumah itu. Hatinya sedih. Awalnya tadi begitu senang saat dia datang ke rumah Kasih, namun saat keluar dia malah membawa kesedihan. Dia pun menstarter motornya dan meninggalkan rumah kekasih hatinya. Sementara Kasih masih duduk dan terus meneteskan air mata.
“Bapak, Ibu, tega sama Mas Monas. Padahal Mas Monas orangnya baik. Dan Kasih juga sayang sama dia.”
“Ini demi kebaikan kamu, Kasih. Jawaban bapak itu bukan endak boleh. Cuma bukan sekarang. Apa itu salah?” ucap pak Harto.
“Bukan.” Kasih menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jawaban Bapak itu terlalu berat buat mas Monas. Dan malah menyakiti perasaannya. Mas Monas tahu, kalau dia endak mungkin bisa untuk mewujudkannya. Mas Monas sadar, kalau dia endak mungkin bisa untuk mencapai kemapanan materi. Dan mas Monas juga cukup tahu diri, kalau nantinya itu endak mungkin bisa mewujudkan keinginan Bapak sama Ibu meski semua itu demi Kasih. Karena baginya, kemungkinan itu sangat kecil.” Pak Harto dan bu Harto hanya terdiam. “Bapak dan Ibu sungguh tega. Tapi, biar bagaimanapun hati Kasih akan tetap ada Mas Monas karena Kasih menyayanginya dan ingin hidup dengannya.”
Kasih berlari ke kamar. Dia merebah di kasurnya. Dia terus menangis. Bulir-bulir air mata itu terus membasahi pipi. Deras mengalir melewati kedua pipinya dan jatuh ke bantal berulang-ulang. Perasaan bahagia yang seharusnya ada, berubah kesedihan dalam sekejap. Tak seperti yang ia kira, kalau orangtuanya sendiri berbicara seperti itu. Tak seperti yang ia kira, kebahagiaan hatinya harus terhalang oleh ucapan keluarganya sendiri.
Bu Harto pun mengikuti kasih. Dia masuk kamar dan membelai rambut anaknya yang sedang menangis. “Kasih, bukan maksud bapakmu itu mau menyakiti perasaanmu. Tapi ini demi kebaikanmu nanti.”
“Kebaikan yang mana Bu? Hati Kasih sekarang bersedih Bu. Niat baik seseorang itu belum tentu bagus buat orang lain. Seperti niat baiknya Ibu untuk Kasih,” ucap Kasih sambil terisak-isak.
“Ini semua buatmu, Nak. Dan kamu juga masih terlalu kecil untuk tahu tentang cinta. Ibu endak mau kamu kelewat batas karena alasan cinta saja. Kasih, butuh hal-hal lain yang membutuhkan pengorbanan untuk suatu kebahagiaan,” ucap bu Harto dengan sabar.
“Kasih sudah tahu itu Bu. Kasih sudah paham. Dan Kasih endak akan kelewat batas. Tapi, kenapa Ibu sama bapak harus menghalangi kami?”
“Intinya, ibu belum pingin kamu punya pacar dulu untuk saat ini, Kasih. Kuliahmu nanti terlantar karena cinta.”
“Sudahlah Bu, Kasih mau sendiri di kamar. Kasih sudah ngerti semua intinya. Kasih ingin sendiri.” Kasih semakin terisak-isak dalam kepedihan hatinya.
Bu Harto kemudian meninggalkan anaknya yang ingin sendiri. Dia menyadari situasinya. Tak mungkin berbicara yang enak kalau kondisi Kasih sangat terpukul dengan omongan bapaknya. Dia kembali ke ruang tamu dan menemani suaminya. Mereka tahu anak semata wayangnya bersedih. Mereka tahu anak tunggalnya itu terluka. Keduanya terdiam di ruang tamu itu.
Sementara Monas yang sudah berada di kamarnya hanya duduk termenung. Dia terdiam seribu kata. Begitu lemas rasa tubuhnya mengingat ucapan orangtua Kasih. Ucapan itu membuat hatinya sedih dan meruntuhkan harapan kebahagiannya. Ucapan yang halus dan sopan itu, namun terasa sangatlah berat untuk mencapai dan mewujudkannya. Bagaikan jalan yang menanjak dan berbatu. Begitu tinggi untuk didaki dan terlalu samar untuk dilihat ujungnya. Hanya mengharap keajaiban saja untuk bisa meraihnnya. Berat bagi orang seperti dirinya.
“Oh Kasih, kenapa ini harus terjadi pada kita? Kenapa jalan ini tak seperti yang kita ingini? Kenapa? Kenapa harus terucap oleh orangtuamu? Orangtua dari gadis yang aku sayangi. Tapi, aku akan selalu menyayangimu, Kasih. Mungkin suatu hari nanti aku bisa mewujudkannya untuk cinta kita. Semoga aku mendapatkan keajaiban dari Tuhan. Semoga kamu juga demikian Kasih,” ucapnya lirih.
Tak berapa lama Monas larut dalam diamnya, hp-nya berdering. Dia mengangkatnya.
“Ya Kasih, ada apa?”
“Mas, maafin ucapan orangtuaku tadi ya? Bila itu menyakiti hati, Mas. Yang pasti Kasih akan selalu sayang sama Mas. Kuharap Mas juga endak berubah tentang cinta kita?”
“Iya Kasih. Aku nggak apa-apa kok. Aku juga akan selalu sayang sama kamu. Percayalah.”
“Makasih Mas. Kasih tetap percaya sama Mas. Kasih ingin kita selalu bisa ketemu tapi kita diam-diam saja lagi ya?” ucap Kasih dengan lirih.
“Iya Kasih, terserah kamu saja.”
“Makasih ya, Mas. Kasih tetap sayang Mas Monas”
“Aku juga sayang kamu.”
Suara telepon itu pun kemudian berhenti. Monas kembali merenung dan terdiam. Meski kekasihnya masih setia kepadanya, namun kisah cintanya tak berjalan mulus. Sebagai seorang pria, dia sadar tak boleh terlalu berlama-lama larut dalam kesedihan. Hidup masih panjang dan harus terus dijalani. [ ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar