Selasa, 04 November 2014

Pertemuan

Pertemuan

 

 

 


 

 

 

HARI yang baru untuk Kasih. Dia sudah masuk kuliah. Terlihat begitu dewasa dan  bertambah cantik. Seragam putih abu-abu sudah tak membalut tubuhnya lagi. Dan meski baru masuk kuliah namun aura kecantikannya sanggup membius para mahasiswa yang lain. Hingga banyak yang tergerak ingin mendapatkan hatinya.

Di depan gerbang kampus nampak duduk seorang pria di atas motor besarnya. Pria itu tak lain adalah Monas. Dia menunggu kepulangan Kasih. Dari dalam kampus pun terlihat para mahasiswa dan mahasiswi yang  keluar gerbang. Di antaranya terlihat Kasih,  berjalan mendekati Monas.

Kasih tersenyum. “Mas, sudah lama nunggu Kasih, ya?”

“Yach, lumayan. Kita mau ke mana sekarang?” ucap Monas sambil membalas senyum.

“Em kita jalan aja ya sekarang? Mas udah selesai urusan kegiatan kampusnya?”

“Aku udah beres dari tadi. Kamu sudah laper?”

Belum sih Mas.” Kasih menatap ke leher Monas. “Mas, kalungnya bagus banget, beli di mana?”

“Egh ini?” Monas nampak kaget saat Kasih menanyakan kalung pemberian Aira yang dipakainya.Ini dikasih temen. Kalung ini belinya di candi Prambanan. Kamu mau kalung seperti ini Kasih?”

 “Iya, mau Mas. Kalung itu sederhana tapi bagus. Kasih pingin juga memakai kalung seperti itu.”

“Em ya udah gini aja, kita sekarang ke candi Prambanan nyari kalung. Terus kita makan di rawa Jombor sebelum pulang. Gimana?”

“Ayo Mas kalau gitu!” sahutnya bersemangat. “Tapi menunya ikan bakar dan jus strawberry tentunya ya?

“Ya iyalah Kasih. Itu kan menu kita berdua. Ayo kita ke sana, keburu sore nanti!

Yuk!”

Kasih langsung naik di jok belakang motor Monas. Meski sedikit mendung keduanya kemudian meluncur ke arah Jogja. Keduanya meninggalkan dan melupakan sejenak penatnya pikiran di kampus.  

Setelah berkeliling candi Prambanan dan membeli kalung yang diinginkan Kasih, keduanya kembali meluncur ke arah rawa Jombor. Tempat itu agak masuk ke dalam pedesaan dan jauh dari jalan raya. Rawa itu  menjadi semakin ramai setelah dirubah menjadi tempat wisata pemancingan dan tempat makan.  

Di sebuah karamba di atas rawa yang dikelilingi bukit-bukit kecil, Kasih dan Monas nampak menunggu pesanannya. Berdua duduk sambil bersandar pada bambu yang menyekat antar ruang satu dengan yang lain.

“Mas tempat ini bagus juga ya? Endak beda jauh seperti di waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Tapi, panas juga sih cuacanya di sini.”

“Iya Kasih. Tiap tempat itu punya kelebihan dan kekurangan tersendiri. Semua itu juga tergantung yang mengelolanya. Semua harus berpatokan dengan ramah lingkungan. Jangan terlalu mengejar faktor bisnis saja karena bisa merusak lingkungan dan merugikan masyarakatnya sendiri.”

“Iya tahu, Mas ini memang orang yang pikirannya hebat. Pinter lagi.” Kasih tersenyum. Oya aku matur nuwun dah dibeliin kalung ini ya Mas? Bagus banget Mas.” Monas hanya tersenyum dan mengangguk. Eh bentar lagi Mas ujian  ya?”

“Iya Kasih bentar lagi aku ujian. Do’akan ya biar dapet nilai bagus?

“Ah Mas Monas pasti dapet nilai baguslah. Orang udah pinter ini. Kasih yakin itu.”

“Ah ya nggak gitu, semua itu pinter karena belajar. Kalau nggak belajar ya nggak bisa. Eh udah sekarang waktunya makan. Tuh pesenan kita dah dateng. Terus kita pulang yo?

Kasih mengangguk. Mereka menghentikan sejenak obrolan keduanya saat dua orang pelayan mengantar pesanan dan menaruh di depan mereka. Setelah kedua pelayan pergi Kasih dan Monas menikmati menu yang tersaji di hadapan mereka.  Ikan bakar lengkap dengan lalapannya. Tak lupa jus strawberry sebagai minumannya.  Tiap jalan berdua, Monas dan Kasih selalu memesan menu makanan tersebut. Menu itu menjadi makanan favorit keduanya walaupun tempatnya berbeda.

Hari makin sore dan matahari pun kian ke barat. Makin remang tertutup oleh bukit.

“Kasih, ayo kita pulang! Sudah sore. Nanti orangtua kamu nanyain ke mana lagi?”

Ayo Mas! Eh iya, kapan Mas bisa dateng ke rumah?” Kasih memegang lengan Monas yang akan berdiri. “Agar orangtuaku tahu tentang hubungan ini Mas? Biar kita endak seperti ini terus.” Kasih menatap Monas

“Em, kapan ya?” Monas berpikir sejenak. “Sebenarnya itu terserah kamu aja kok. Em nanti setelah kurasa waktu yang tepat  ya? Aku pasti dateng ke rumah kamu.”

“Bener ya Mas? Pokoknya aku tunggu Mas, biar hubungan kita ini bisa direstui. Biar cinta kita ini endak backstreet terus Mas.”

Monas tersenyum. “Iya Kasih, aku juga ngerti. Aku juga pingin seperti itu kok. Insyaallah ya? Nah sekarang kita pulang. Yuk!

Monas beranjak dari tempat lesehan itu sambil menggandeng tangan Kasih. Langkah keduanya harus terhenti, saat rakit bambu yang diikat dengan tali memanjang belum mendekati mereka. Keduanya menunggu sejenak. Namun tak hanya mereka berdua yang hendak menaiki rakit bambu, ada beberapa pengunjung lain yang juga ingin menepi. Setelah rakit mendekat mereka pun naik satu persatu. Perlahan rakit sederhana yang ditarik oleh dua orang yang berada di sisi yang lain pun bergerak. Ada rasa ketakutan saat Kasih berada di rakit bambu itu. Dia terus memeluk erat tubuh Monas. Sementara Monas hanya tersenyum dengan ketakutan kekasihnya itu.  

Setelah keduanya menepi dan menaiki motor, kemudian meluncur untuk pulang. Berdua melewati jalanan di pinggiran pedesaan, melewati indahnya pemandangan persawahan sekitar. Ada banyak jenis tanaman yang ditanam, dari jagung, kedelai, padi, bahkan sebagian ditanami dengan tembakau.  Semua terlihat subur.

Tangan Kasih nampak memeluk erat tubuh Monas. Seakan-akan tak ingin  pegangannya lepas dari pria yang selama ini disayanginya. Dia rebahkan wajahnya di punggung pria tampan itu sambil tersenyum. Kasih merasakan hatinya begitu bahagia bila berdua. Sementara Monas pun merasakan hal yang sama. Sebuah kebahagiaan yang sempurna tiap kali berjalan dengan Kasih. Kebahagian yang tak akan bisa mudah dilupakan olehnya. Namun, ada perasaan lain yang menggelayut di hatinya. Perasaan ragu dan khawatir. Akankah kebersamaan ini bisa terus Kasih? Akankah kebahagiaan ini bisa langgeng? Akankah iya, bersamamu nantinya? Sungguh aku pria yang beruntung. Semoga Kasih, semoga kamu juga demikian untukku, batinnya.

Jam lima sore, Kasih sudah sampai rumah. Saat hendak masuk dia melihat sebuah mobil sedan parkir di rumahnya.

“Assalamuallaikum ...,sapanya di depan pintu.

“Waalaikum salam. Nah itu dia putri Ibu datang Mas Raffi.”

Raffi  melihat ke arah pintu. Dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik masuk dan mendekat. Raffi terlihat kagum. Dia tertegun dan terus menatap. Dia tak menyangka ternyata anak pak Harto sangatlah cantik. Kasih juga melihat Raffi. Namun dia bersikap biasa saja karena dia tak mengenal pria di depannya.

“Mas Raffi, ini Kasih anak bapak,” ucap pak Harto saat Kasih mendekat dan mencium tangannya. Kasih, ini ada Mas Raffi anaknya pak Hardi teman bapak, sekaligus teman bisnisnya bapak. Ayo kenalan dulu!

Raffi menyodorkan tangan sambil tersenyum. “Raffi.

Kasih juga menyodorkan tangannya. “Kasih,ucapnya sambil tersenyum kecil. Keduanya berjabat tangan sebentar.

“Egh pulang dari kampus ya?”

“Iya Mas.”

“Em kuliah di mana?”

Masih di Solo, Mas Raffi,” sahut pak Harto. “Dulu pinginnya di universitas favorit tapi endak masuk. Jadi kuliah di perguruan tinggi lain saja. Dan biar endak jauh sama orangtuanya.

“Oh, kuliah di mana saja juga endak masalah kok, Om. Yang penting nanti bisa pinter. Terus dapet kerja yang bagus, Om.”

“Iya Mas. Sekarang endak masalah kuliah di mana saja, yang penting berpendidikan. Soalnya nyari kerja sekarang susah lho. Kadang yang sarjana saja belum dapat kerja, apalagi endak kuliah. Bener kan, Mas Raffi?” ujar pak Harto.

“Bener banget Om. Kita harus pinter agar dapat kerja dan penghasilan yang layak. Apalagi bisa punya bisnis yang lain Om.”

“Nah, Kasih dengerin Mas Raffi ini. Dia ini mahasiswa kedokteran. Calon dokter nantinya. Kamu boleh contoh Mas Raffi ini. Dia anak yang baik, dari keluarga yang berada lagi, tambah bu Harto.

“Inggih Bapak, insyaallah. Bapak, Ibu, Kasih pingin ke kamar dulu nggih?”

“Yo wis sana, istirahat!” ucap bu Harto.

“Monggo Mas Raffi, nuwun sewu[1] nggih?

“Em iya, Kasih. Met istirahat.” Raffi masih memandangi terus Kasih melangkah ke kamarnya. Hatinya seakan tak menentu ketika melihat putri dari om Harto. Dia langsung terpikat dan jatuh hati dengan kecantikan Kasih. Dia membatin, oh kenapa endak dari dulu aku main ke sini? Kenapa baru sekarang aku datang ke sini? Padahal Om Harto sudah sering menawariku untuk main. “Em Om, boleh nanya endak?”

“Mau nanya apa Mas Raffi?”

“Apa saya boleh sering-sering main kemari? Maaf lho Om.”

Pak Harto langsung tertawa. Ya boleh ya, Bu?

Ibu Harto tersenyum. Iya Pak. Silakan saja Mas! Malah bagus kok. Nanti malah sekalian bisa ngajari Kasih kalau endak bisa dalam mata kuliahnya. Bener kan Pak?”

“Iyo, bener Bu. Malah bagus, tapi kalau Mas Raffi endak keberatan lho.”

“Oh makasih Om. Malah saya senang banget bisa bantu. Kalau ada kekurangan dengan belajar Kasih.”

Raffi sangat lega dan senang sekali seketika itu. Bagai pucuk dicinta ulam tiba. Karena orangtua Kasih memberikan lampu hijau kepadanya. Tak berapa lama Raffi berbincang kemudian dia berpamitan pulang. Dan untuk kedua kalinya dia menjabat tangan yang lembut dari Kasih. Raffi terlihat bersemangat dengan pertemuannya dengan Kasih hari itu. Kehadiran Kasih seperti mampu menyulut kembang api cintanya lagi, yang telah lama padam dan hilang dari ledakan indahnya. Sedangkan Kasih juga terlihat sangat senang hari itu. Namun senang dengan hatinya yang masih mengingat dapat berduaan dengan Monas.

 

***

 

Selepas siang di kantin empat cowok kembali seperti biasa duduk di pojok. Namun ada yang berbeda dengan wajah Raffi. Dia terlihat lebih ceria dan bersemangat.

“Wehwehweh, ada yang lain nih. Sepertinya Ada yang sudah endak mendung terus, udah semangat lagi.” Ian menatap Raffi sambil tersenyum. “Ehm ehm, kayaknya ada yang kasmaran lagi?

“Iyolah masa harus sedih terus Ian. Pokoknya sekarang aku semangat lagi, Bro.”

“Wah kayaknya udah kecantol anak yang baru masuk yo? Sampai semangat banget,” ucap Monas sambil ikut tersenyum.

Iyo Nas, malah cewek ini dari daerahmu.” Raffi terkekeh. “Nah untuk yang ini aku harus dapet, sebab aku udah ngantongi ijin ortunya. Terus, siapa pun yang menghalangi, aku akan lawan demi dia.”

Daerahku Fi? Siapa?” tanya Monas penasaran.

Pokoknya rahasia. Nanti kalau udah jadian, aku kenalin sama kowe. Tenang wae, ucap Raffi dengan bangga.

Wihh segitunya. Bener ya nanti kenalin sama kita semua?

Siiip, tunggu tanggal mainnya wae,” ucap Raffi sambil memainkan alisnya naik turun. Nah nanti aku mau pendekatan sama cewek ini. Jadi aku endak bisa bareng sama kalian yo?”

 Yo wis terserah kamu wae, yang penting endak mendung terus wajahmu itu.” Ian tersenyum geli. “Oya denger-denger si Aira udah punya cowok yang disukainya lho. Pasti beruntung banget cowok itu yo?

Wah siapa Ian? Anak sini bukan?” tanya Agung.

Egh aku juga endak tahu. Itu baru gosipnya. Sebab Iwan yang kaya seperti itu wae ditolak. Terus ini si Raffi yang bagus dan ngebet juga ditolak.

“Mungkin juga si Aira itu gadis matre, sahut Raffi sinis.

Wah jangan gitu Bro! Kita kan nggak tahu setiap orangnya gimana? Berarti kita juga nggak boleh nilai yang enggak-enggak to?sahut Monas.

Lho kok kowe bela Aira to Nas,” ucap Raffi. “Jangan-jangan kowe suka yo sama dia?” Raffi menatap Monas sesaat.  “Gini Nas, mending aku kasih saran urungkan saja niatmu itu. Aku aja endak diterima, apalagi kowe? Nanti kowe malah sakit hati,

Iya Fi tenang aja. Aku juga dari dulu nggak punya niat kayak gitu sama dia.”

Bagus itu,” ucap Raffi.

Monas terdiam. Dia termenung sesaat setelah ucapan temannya Raffi yang begitu meremehkannya. Dia menatap Raffi dan membatin, memang Fi, jika dibanding kamu dan Iwan, aku ini memang jauh sekali perbedaannya. Kalian memang beruntung untuk tingkatan ekonomi. Tapi untuk hal yang lain, mungkin kalian lebih merugi.

Tiba-tiba dari arah samping datanglah seorang gadis mendekati meja mereka. Gadis itu sudah tak asing di mata mereka. Dia adalah Eni, adik Agung yang ternyata juga masuk kuliah di kampus yang sama.

Hai Mas-masku semua,” sapa Eni. “Wah ternyata belajarnya Mas-masku seperti ini ya? Nongkrong, minum kopi, ngelihatin cewek cakep-cakep, pantes pada betah kuliah.

Wah, ya endaklah En. Kita kan juga udah belajar,” sanggah Ian. “Lho kamu ngapain ke sini?

Eni nyengir kuda. “Aku ada perlu sama Mas Monas.”

Ha? Aku En? Ada perlu apa ya?” sahut Monas heran.

Iya Mas.” Eni langsung menarik tangan Monas yang lagi duduk. “Oya aku pinjem Mas Monas bentar ya?

Udah, temani dulu adiknya si Agung sana! Toh kita juga udah ndak ada mata kuliah lagi,sahut Ian.

“Iya, tolong temani adikku dulu! Mungkin ada perlu dia. Nggak apa-apa kan?”ucap Agung. Eni mengangguk.

Monas pun akhirnya berdiri karena tangannya ditarik Eni. Keduanya ke tempat parkir. Tak berapa lama  Raffi juga kemudian pergi meninggalkan Ian dan Agung.

Ternyata Eni mengajak Monas untuk menemaninya jalan. Mau tak mau dia akhirnya menuruti keinginan Eni. Apalagi semenjak basecamp pindah ke  tempat bos Baron, Monas jarang main ke rumahnya.

Di tempat lain ternyata Raffi pergi ke kampus Kasih. Niatnya dia ingin menjemputnya pulang bersama. Dia menunggu kepulangan Kasih. Saat keluar kampus Raffi segera mendekati Kasih.

“Hai Kasih .…”

“Eh Mas Raffi, kok Mas Raffi ada disini. Tumben ada apa, Mas?”

“Em, aku sengaja kesini pingin ketemu kamu,” ucap Raffi sambil tersenyum.

“Ada perlu apa ya Mas sama Kasih?”

Em Kasih, aku mau jemput kamu. Ayo aku anter kamu pulang! Daripada kamu naik bus.”

Ah endak usah Mas Raffi, nanti malah ngrepotin. Endak usah, Kasih lagi pingin naik bus, Mas. Sama ada perlu bareng temen-temen. Maaf ya Mas? Sekali lagi maaf, jawab Kasih mencoba menolak dengan halus.

Em ya sudah endak apa-apa. Tapi lain waktu aku anter kamu ya?

“Insyaallah, Mas Raffi.”

Em ya udah aku duluan ya? Kamu hati-hati di jalan!”

Iya, mari Mas.”

Dengan sedikit kecewa Raffi pun kemudian meninggalkan Kasih. Sementara Kasih  berjalan ke jalan raya, menunggu di halte bersama dua orang temannya. Tak berapa lama bus pun datang. Mereka langsung naik. Bus kemudian melaju. Saat sampai di perempatan jalan dan lampu lalu lintas berwarna merah, bus berhenti. Jalanan tampak ramai dengan kendaraan yang berjubel. Dari balik jendela bus, Kasih melihat seorang pria naik motor. Dia seperti hafal dengan motor itu. Iya, itu  mas Monas. Terus siapa yang diboncengnya ya? Kok gadis itu mesra sekali dengan mas Monas. Ah paling juga temannya. Tapi, kalau cuma teman kenapa gadis itu mesra? Dan gadis itu juga cantik. Mungkinkah? Oh itu endak mungkin. Aku kenal siapa mas Monas? Dia endak akan seperti itu, pikirnya.

Kasih masih bertanya-tanya dalam dirinya, hingga pandangannya harus terhenti manakala bus yang dinaikinya berbelok. Sementara Monas dan Eni masih lurus. [ ]



[1]Mohon maaf





Tidak ada komentar:

Posting Komentar