Kamis, 20 November 2014

Edelweiss Merah Putih


Edelweiss Merah Putih

 

 

 

 

Penulis :

 S Dewandaru

 

 

 

 

 

 

 

Bila Sinta dan bapakku bertanya, aku selalu berbohong pada mereka kalau aku sudah mendapat pekerjaan yang enak. Walau sebenarnya gajiku hanya pas-pasan. Bahkan mungkin bisa dibilang kurang, karena aku masih harus berhutang untuk hidup.  Kusembunyikan semua itu agar mereka tak bersedih dengan kenyataan yang sebenarnya. Tubuhku sampai kurang terawat. Namun, itu semua membuatku menjadi pria yang kuat dan tegar dengan semua siksaan hidup di ibukota.

Oh... kenapa tubuhku tak bisa bergerak? Jangankan terbangun, untuk membuka mulut pun aku tak bisa. Hanya mataku saja yang terbuka. Aku tak bisa  menoleh. Hanya mampu untuk melirik. Aku mencoba melirik ke kanan. Aku kaget sekali. Kulihat seperti ada seseorang yang memakai jubah putih, seperti memakai surban. Dia berada tepat duduk di samping kepalaku sebelah kanan, seperti duduk menungguiku. Dia bercahaya dan berwibawa dalam penglihatanku yang sedikit. Namun, putihnya kulihat seperti kabut atau asap. Hatiku pun bertanya-tanya. Ingin rasanya membuka mulutku untuk bertanya siapakah dia. Namun, walau sekeras usahaku untuk mencoba bertanya, tetap saja aku tak mampu untuk membuka mulutku. Kemudian dengan hatiku kumulai bertanya.

Ada perasaan yang berbeda dengan Dinda. Hatiku seperti bergetar bila berdua dengannya. Dulu, aku seperti cuek dan terkesan selengekan saat dengannya. Namun, berbeda sekarang. Aku sedikit sungkan, minder, dan bingung. Perasaan itu sama seperti saat dengan Sinta dulu. Perasaan suka terhadap wanita. Dan aku kini menyadarinya. Ternyata aku menyukai Dinda. Namun, ada perasaanku yang lain mengatakan tak pantas bila diri ini untuk mencintainya. Karena Dinda adalah gadis yang begitu baik, bahkan sering menolongku.  Aku langsung teringat  ucapan sang motivator, bahwa gadis yang baik adalah untuk pria yang baik. Aku jadi ragu. Entah aku sendiri adalah pria yang baik atau bukan, yang pasti aku harus tahu diri. Meski aku mengagumi dan meyukainya, mungkin sebaiknya hanya sebatas itulah perasaanku padanya. Tak boleh lebih. Tak boleh aku mencintainya atau berharap memilikinya.

 

 

 

 

Ucapan terima kasihku untuk :

 

 

Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberiku hidup di dunia ini dengan segala nikmat, rahmat dan semuanya.

Orang tua dan saudara yang telah mendukungku dalam hal menulis.

Fikri R, Rahma, Firman, Wia, Agusnadi T dan CCS Team. Hehe, maaf mungkin aku telah banyak merepotkan.

Sahabat-sahabatku baik yang deket maupun yang jauh, sahabat blogger dan juga untuk sahabat facebook semuanya. Terimakasih karena telah memberikan inspirasi dalam cerita ini.  Serta memberikan saran dan kritikannya.

Bapak dan Ibu Ibrahim basalmah, seorang pelukis dan seniman Bogor. Terimakasih atas saran, kritik serta bimbingannya hingga cerita ini pun menjadi lebih menarik. Terimakasih banyak pak, maaf  yang telah mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan saya hingga menyita waktunya.

Dan jika dalam cerita ini ada kesalahan atau kekeliruan, mohon dimaafkan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam Pandangan Mata

 


 

 

SEMENJAK masih kecil di Jogja sampai berseragam sekolah biru putih, aku memandang hidup ini seperti mudah untuk dijalani. Hidup ini seperti serba menyenangkan, indah, dan enak dalam pandangan mata dan pikiranku.   Pokoknya semua serba menyenangkan meski kehidupan ekonomi keluargaku biasa-biasa saja. Semua masalah bisa ditepis oleh kerukunan dalam keluargaku. Tak ada pertengkaran yang terjadi karena ada benteng pengertian dan keharmonisan keluarga. Aku mempunyai keluarga yang baik. Dan aku hidup di lingkungan yang baik.

Sampai aku berseragam abu-abu hidupku seakan semakin menyenangkan dengan hadirnya kekasih hati. Seorang gadis nan cantik yang kuanggap seperti turunan bidadari. Ia bernama Sinta Ardia Puspita. Adik kelasku semasa masih SMP. Ia bagaikan bunga edelweiss nan indah yang kuharapkan akan selalu abadi dalam hidupku. Di mataku Sinta adalah gadis yang sangat sempurna. Selain cantik dia adalah anak dari keluarga berada. Bahkan Sinta menjadi  kembang sekolah di SMU-nya. Aku pun tak heran jika banyak yang ingin mendapatkan hatinya.

Kuakui  masa-masa SMU  adalah waktu yang paling indah. Di mana aku mengenal yang namanya cinta dan kasih sayang. Sungguh  bahagia kurasakan saat berdua dengan Sinta. Dimana aku bisa mengalami pergi bersama, makan bersama, tersenyum dan tertawa bersama. Sinta begitu menyukaiku.  Bahkan begitu menyayangiku meski dia tahu dengan segala kekurangan yang ada dalam kehidupanku. 

Dalam hal cinta, di masa-masa SMU aku dan dirinya masih berpikiran sederhana. Tak ada pengaruh materi, derajat, jabatan, status ekonomi atau pun yang lainnya. Intinya aku dan dirinya masih dalam pemikiran dan pemahaman yang masih sama. Dengan kehadiran Sinta duniaku seakan tambah semarak dan penuh warna, meski aku dan dirinya berbeda sekolah karena aku bersekolah di SMK sedangkan dirinya di SMU. Bagiku masa pacaran saat putih abu-abu adalah masa terindah berkat hadirnya cinta dan kasih sayang pertama kali dari seseorang gadis. Namun perlahan semua kebahagian dan kesenangan itu seakan memudar. Ternyata kenyataan hidupku tak seperti yang aku impikan. Setelah aku menyadari kemampuan keluargaku.

Setelah lulus SMK, aku mencoba masuk ke perguruan tinggi negeri dengan dorongan dan semangat dari Sinta. Semua adalah harapannya. Akhirnya aku mencobanya walau sebenarnya aku akan pusing untuk membiayai kuliah bila diterima nantinya. Apalagi aku sudah tahu dengan kemampuan ekonomi keluargaku. Tapi, harapan hanyalah sebatas harapan. Harapan itu pun tak sesuai  kenyataan. Saat mengikuti test untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri, aku kaget dengan pertanyaan-pertanyaanya. Semua pertanyaan itu adalah jauh dari  angan-anganku. Sebagian besar hampir tak kudapatkan materi pelajarannya di sekolah. Berbeda dan sangat jauh sekali. Sewaktu di SMK, aku hanya mendapatkan pelajaran teori hanya sedikit saja. Sedangkan  sebagian besar soal ujian adalah materi pelajaran siswa SMU. Apalagi ditambah aku mengambil jurusan favorit  di kampus. Aku pun langsung merasa pesimis sekali untuk bisa lolos.  Kusadari nilai yang diwajibkan untuk kudapatkan pastilah harus tinggi.  Dan benar saja, saat pengumuman namaku pun tak ada. Sebuah kegagalanku yang pertama kali.

Malam hari saat online.

Mas Rangga, bagaimana? Diterima apa enggak masuk perguruan tingginya, Mas?”

Em enggak, Sin. Maaf, aku nggak lolos! Soalnya susah banget. Beda banget yang diajarkan sekolah. Kebanyakan itu pelajaran yang sekolah di SMU, bukan di SMK, Sin.

Oh, yang sabar ya, Mas? Kan  masih ada kesempatan tahun depan ini.”

Iya, Sin. Makasih kamu ngasih perhatian  sama aku. Kamu akan sayang dan setia sama aku kan, Sin?”

Pasti Mas. Sinta akan sayang dan setia sama Mas Rangga selamanya.”

Aku senang karena dia masih dan selalu memberiku perhatian. Berkat perhatiannya itulah kekecewaanku sedikit terobati.  Aku pun sangat lega dan bahagia dengan jawaban Sinta yang akan selalu sayang dan setia kepadaku. Aku berharap dia adalah benar-benar cinta abadiku.

Kutulis sebuah puisi dan kukirim ke dinding fb-nya sebagai penambah keindahan suasana hati dan bentuk rasa sayangku padanya. Sebuah ungkapan perasaan yang terwakilkan dengan bahasa sastra. Karena kutahu kebanyakan para gadis sangat menyukai suatu keindahan bahasa. Seperti perasaanku kepada Sinta.

Tafsir cinta

Sungging senyuman gadis manis

Dalam tatapan teduh sang pemuda

Sungguh indah tafsir cinta

Di antara jiwa-jiwa suci

 

Cinta ada di al kautsar, ada juga di al ikhlas

Cinta ada di air hayat, ada juga di cahaya muhammad

Sangatlah tinggi derajatnya

Cinta selalu ada di dalam kasih dan sayang

Pendosa yang penuh cinta

Sibuk ke sana kemari dengan jiwanya yang kosong

Tak tahu tafsir cintanya

Hanya hampa semata....

 

Dalam rengkuh aku bersamamu

Sejalan seiringan

Terpisahkan jasad yang mati nanti,

Ingatlah dengan tafsir cintaku ini

 

Setelah Sinta tahu aku gagal,  dia tetap memberiku semangat.  Sesungguhnya dalam hatiku sudah dipenuhi dengan rasa pesimis. Sebab meskipun dicoba lagi di tahun depan, aku merasa tak mungkin lolos lagi. Harusnya kata pesimis itu tak berlaku bagiku. Tapi, tetap saja aku merasa kesempatan untuk memperoleh nilai tinggi itu sangatlah kecil sekali. Sewaktu di SMK, teori lebih sedikit  dibandingkan prakteknya. Lebih fokus pada pelajaran jurusan yang diambil masing-masing siswa. Intinya pelajaran teori yang mengisi memori otakku hanya sedikit. Namun, aku masih beruntung dengan Sinta yang selalu memberikan semangat dan perhatiannya padaku.

Untuk beberapa waktu status pengangguranku pun berlanjut. Menjadi pemuda yang tak memiliki pekerjaan tetap. Menjadi pemuda yang juga tak bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi lagi. Ada sedikit rasa malu karena banyak teman yang  memandangku sebagai anak yang lumayan cerdas  sewaktu masih sekolah,  ternyata tidak dapat melanjutkan kuliah. Bila ada yang bertanya, aku selalu menjawab ‘masih ada kesempatan tahun depan’. Dan entah sudah berapa kali jawaban itu keluar dari mulutku. Namun, Sinta tetap memberi semangat dan dukungan, agar aku selalu berusaha untuk lepas dari status pengangguranku. Akhirnya dengan modal tekad kuat dan rencana yang indah, aku berniat meraih semua mimpi-mimpiku. Mencoba menggapai harapan dan angan-anganku di jaman “wani piro di negeri ini.  Jaman di mana siapa saja yang bisa membayar, maka dia akan mudah mendapatkan apa yang diinginkannya. [ ]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar