Solo Batik
Carnival
MASA LIBURAN sekolah, di bulan juni kota Solo
memiliki agenda besar yang digelar. Solo Batik
Carnival. Pagelaran
seni budaya yang sangat megah serta meriah. Sajian kreatifitas
anak bangsa dalam hal seni batik. Digelar
di sepanjang jl. Slamet Riyadi, batik
yang sudah dari zaman dulu dikenal, dihadirkan kembali yang lebih modis, lebih menarik, dan lebih modern.
Para penonton terlihat sangat antusias. Tumpah ruah berdiri di sepanjang jalan ingin melihat kemeriahan dan keindahan pagelaran
tersebut. Keindahan berbusana batik yang diperagakan oleh para model membuat penonton takjub. Terlihat tak hanya orang
tua dan kaum muda, bahkan anak-anak kecil
juga hadir. Monas dan Kasih pun ada diantaranya.
“Mas, lihat yang itu!” Kasih menunjuk ke salah satu model. “Busana
batik itu indah sekali. Bentuknya
seperti burung merak, sangat kreatif. Oh hebat …, keren.” Kasih terus merekam model yang
berjalan di depannya.
“Em iya benar. Busana batiknya terinspirasi oleh
burung merak dan sangat indah sekali. Serasi
dengan model yang mengenakannya,” ucap Monas.
“Iya, luar biasa semuanya.” Kasih
tersenyum. Kemudian dia mengarahkan kameranya ke model yang lain. “Eh
itu ada anak kecil. Sungguh
lucu sekali dia, Mas.
Banyak penonton bertepuk tangan untuk anak kecil itu.”
“Yang mana, Kasih?”
“Itu, yang di pinggir sana!”
Kasih menunjuk
ke barisan model anak kecil. “Gadis kecil seperti kupu-kupu itu. Batiknya bagus. Anaknya juga imut. Senyum terus lagi. Dia endak minder
dilihat banyak orang begini. Ah
nanti aku mau foto sama dia ah. Nanti
Mas ambil gambarku ya sama dia?”
Monas akhirnya melihat gadis kecil yang dimaksud
Kasih. “Em
iya, Kasih. Gadis kecil itu imut banget.” Monas kemudian memandangi wajah Kasih yang terlihat sangat bahagia. Dia
tersenyum. Oh Kasih, kamu hari ini bahagia sekali kelihatannya. Aku ikut senang. Liburan ini memang menyenangkan bagi banyak orang di sini. Aku sebenarnya tak biasa dengan
banyak orang begini. Namun demi
kamu, aku rela, batinnya
Saat Kasih menoleh, dia melihat pria yang di dekatnya
hanya berdiri dan diam. “Em, Mas Monas kok diam
aja dari tadi, kenapa?” tanya Kasih sambil memegang tangan Monas.
“Ah nggak apa-apa kok. Aku cuma enggak biasa aja dengan acara-acara seperti ini. Terlalu ramai,” jawab Monas.
“Oh
ya udah, kalau gitu Mas tunggu di sini aja ya? Aku mau ambil gambar anak imut tadi sama merekam yang lain sebentar.”
“Iya. Aku nunggu kamu di sini saja ya? Di motorku.”
“Iya. Bentar aku ke sana ya, Mas?”
“Iya.”
Kasih lalu berjalan penuh
semangat ke para
model SBC itu sambil membawa kameranya. Dia
mencari-cari gadis kecil yang lucu seperti kupu-kupu yang sudah lewat. Sementara Monas berdiri di
samping motor, memandang
para peserta SBC yang berjalan beriringan. Di antara ratusan peserta, akhirnya
Kasih mendekati anak kecil itu saat berhenti.
“Hai Adik kecil, kamu namanya siapa?” sapa Kasih.
“Hai juga Kak. Aku
Sinta, Kak,” jawabnya sambil
tersenyum manis.
“Bagus banget batiknya, boleh endak
kakak foto bareng sama kamu?” Kasih
tersenyum.
“Boleh aja Kak. Kakak namanya siapa?”
“Nama kakak Kasih, Sinta. Ini
yang bikin siapa? Busana batik ini bagus banget.”
“Ini yang bikin mama, Kak. Aku
suka yang model kupu-kupu. Jadi
mamaku bikin ini. Lucu
nggak Kak Kasih?”
Kasih tersenyum lebar. “Iya lucu, wajah kamu juga imut. Cocok kamu dengan busana ini.”
“Makasih, Kak.”
“Makasih juga ya Dik Sinta. Kakak
boleh minta foto bareng tadi. Oya
kakak mau merekam yang lain lagi ya? Salam
buat mamanya Sinta ya?”
“Iya Kak Kasih.”
Kasih lantas pergi meninggalkan si kecil Sinta yang sedang
berhenti. Kasih masih terus merekam dengan kameranya. Sebagian peserta SBC itu pun di dekatinya satu persatu.
“Wah … keren-keren banget. Bahkan ada yang rumit banget kostumnya. Ada juga yang berat agar bisa menjadi hasil
yang diinginkan. Seperti
yang mirip burung tadi, kostumnya butuh bahan penyangga untuk kedua sayapnya. Make up mereka pun sangat modern. Pokoknya aku endak rugi walau
hanya nonton aja. Ah sudah ah, aku mau balik lagi
ke mas Monas. Kasihan
dia nunggu di motornya dari tadi,” ucapnya.
Kasih bergegas melangkah kembali
ke tempat Monas yang menunggunya.
“Kasih, gimana? Kamu udah merekam semua?” ucap Monas saat Kasih mendekatinya.
“Udah Mas. Aku udah
merekam sebagian. Tapi
bener terlalu rame. Jadi ya cuma sebagian yang bisa kuambil gambarnya. Oya aku tadi ketemu sama anak kecil tadi, yang seperti kupu-kupu itu, Mas.” Kasih tersenyum.
“Hmm, terus?”
“Terus aku foto sama merekam dia. Tapi maaf, tadi agak lama soalnya sambil ngobrol bentar.” Kasih nyengir. “Mas
kalau mau lihat nih ada di kamera ini! Namanya Sinta. Busananya yang bikin mamanya, Mas. Pokokya tadi aku seneng banget. Dan anak itu lucu banget
sama imut.”
“Iya nanti aku lihat di kameramu
itu. Sekarang kita mau ke mana? Mau di sini terus atau ke mana? Apa langsung pulang?”
Kasih terdiam sebentar. “Em kita muter-muter di Kraton bentar. Kan masih ada acara lain di dalam Kraton. Baru, kita pulang.”
“Ya udah, ayo kita ke Kraton! Lihat
-lihat yang lainnya.”
“Ayo Mas!”
Kasih memasukkan kameranya ke dalam
tas. Mereka menaiki motor dan meluncur menuju
Kraton. Hari
itu tak hanya Solo Batik Carnival saja yang digelar. Namun masih banyak acara yang
diadakan di dalam Kraton. Monas dan Kasih
berkeliling Kraton dan sesekali berhenti mengambil gambar serta merekamnya. Di dalam museum Kraton, keduanya takjub
akan warisan yang masih bisa dilihat dan dinikmati sampai sekarang.
Setelah cukup puas berkeliling keduanya meluncur ke arah
selatan untuk pulang.
“Gimana? Kamu senang hari ini Kasih?” ucap Monas dia atas motor.
“Senang banget Mas. Aku
senang bisa lihat lagi Solo Batik Carnival. Dan tambah senang karena Mas
Monas bisa
menemaniku.” Kasih tersenyum manja.
“Aku juga senang Kasih, bisa
melihatmu ceria terus hari ini.”
“Ah, Mas
bisa aja,” sambil mecubit pinggang Monas.
Monas mengaduh pelan sambil tersenyum. “Pegangan ya? Aku mau lebih kencang lagi.”
“Iya tapi jangan kencang-kencang!
Kasih takut.”
Kasih langsung memeluk tubuh Monas
dan menyandarkannya. Kedua
insan itu meluncur di tengah jalan yang ramai. Menuju Solo baru dan terus ke selatan. Dan hari itu adalah satu hari yang sangat membahagiakan
bagi Kasih. [ ]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar