Monas menerima tawaran
JUM’AT PAGI seperti biasa Monas berangkat kuliah. Saat melaju di jalan, dia teringat dengan janjinya. Janji bersama untuk menemui bos
Baron dan minggu paginya jalan
dengan Kasih. Terlihat cuaca sangat bersahabat. Ada awan tipis menggantung di langit. Cahaya matahari yang tembus hanya serasa hangat.
Saat melintasi jembatan Banmati, Monas sejenak melambat dan menoleh. Dia melihat air sungai Bengawan Solo sedikit dangkal. Namun airnya masih mengalir dengan derasnya.
Di depan PT. Sritex, Monas mengurangi laju
motornya. Dia melihat banyak
karyawan yang akan masuk dan pulang kerja. Berseragam dan berjalan beriringan. Monas salut dan kagum dengan mereka yang menjemput rizki di tempat itu, untuk menjalani kehidupan demi mewujudkan harapan dan demi mimpi-mimpi mereka. Walau tenaga harus terkuras, walau perih harus ditahan, walau keringat harus
diteteskan. Monas merasa
kalah jauh dibandingkan
dengan mereka. Sambil terus
melaju pelan, ada sebuah bahagia yang dia lihat dalam diri para
pekerja itu. Monas membandingkan
dengan kebahagian yang ada di dirinya. Oh, mungkin bahagia itu
hanyalah sebatas pandangan dan anggapan semata.
Aku melihat dan beranggapan orang lain seperti telah
bahagia. Begitupun sebaliknya, orang lain pun yang melihatku
pasti beranggapan aku ini orang yang bahagia juga. Padahal
yang sesungguhnya hanya diri sendirilah
yang merasakannya. Dan, tinggal tiap diri masing-masing mau
menerimanya atau pun tidak, batinnya.
Sesampainya di kampus, dia
melaju melewati gerbang. Dilihatnya beberapa mahasiswa masih pada duduk dan berkumpul. Tak seperti
biasanya. Cukup banyak yang berada di tempat itu.
“Hai Nas,
berhenti! Kesini bentar!” Salah seorang memanggil dan melambaikan tangannya. “Aku ada perlu bentar.”
Monas pun berhenti dan kemudian mendekat. “Eh Ton,
ada apa? Kok rame-rame pada di sini?” sambil membuka
helm.
“Em gini, Nas, entar sore ada anak kampus sebelah mau ke sini, mau
main volly. Biasa … persahabatan.
Tolong ingetin Ian sama Raffi lagi! Udah aku kirimi pesan sih, cuma aku takut
mereka lupa nanti ya?”
“Em, oke Ton. Nanti aku kasih tahu ke mereka.”
“O iya, kamu jangan
langsung pulang! Nanti ikut
nonton ya?”
“Iya, nanti aku nonton. Tenang aja.”
“Oke, thank’s Bro.”
Monas kembali menarik
gas motor dan menuju ke kelasnya. Dalam
hal voly yang jago adalah kedua sahabatnya, Ian dan
Raffi. Sedang Monas sendiri hanya menjadi
supporter saja. Saat sampai di kelas dia melihat ada yang
berbeda juga. Tampak ramai. Ternyata
mereka sudah tahu dan antusias ingin
menyaksikan volly nanti sore. Bahkan ada yang memasang taruhan meski
permainannya hanya sekedar persahabatan. Dan Ianlah orang yang memberi tahu
semuanya..
Dan saat jam
istirahat Monas dan Ian
ke kantin menemui Raffi yang sudah
ada di meja tempat mereka
berkumpul.
“Eh Bro, jangan lupa nanti sore disuruh main volly!
Tadi aku ketemu Anton. Aku
disuruh ngingetin, jangan pergi ke mana-mana! Oke?”
“Oh iya, hampir lupa Bro,” ucap
Raffi sambil menepuk jidatnya. “Tadinya aku mau pergi nanti, untung kamu ingetin Nas. Matur nuwun yo?” Raffi meneguk kopi hangatnya. Matanya menatap ke
Aira yang juga duduk jauh dari mereka. “Em tapi pujaan hatiku nonton endak, yo?”
“Pujaan hati siapa, Fi?” tanya Ian penasaran.
“Kaé lho Ian yang lagi makan kaé, yang cakep kaé.” Wajah Raffi memberi tanda ke arah Aira.
“Hmm, pantes … ada si Aira.”
“Semoga aja
nonton Fi,” tambah Agung. Sementara
Monas hanya senyum dan geleng-geleng
kepala.
Tiba-tiba Raffi
berdiri. “Eh Kucrut,
ayo kita ajak Aira agar nonton volly
nanti! Kalau dia endak nonton, aku endak semangat. Ayo!”
Tangannya menarik Ian.
“Ah wong edan[1]kowe, aku lagi minum ini lho,” ucap Ian yang sedang menyeruput
kopinya hingga tumpah sedikit.
“Halah, diteruskan lagi
nanti, urusan ini lebih
penting,” jawab Raffi yang terus memegang erat lengan Ian. Meski sedikit kesal Ian pun menuruti
keinginan Raffi.
Raffi ingin sekali
mengajak Aira. Dia ingin sekali gadis cantik itu mau menonton pertandingan volly nanti sore. Raffi dan Ian langsung duduk di
depan Aira.
“Hai, Ra. Gabung
bentar, ya?” ucap Raffi.
“Em boleh, silakan Fi!” jawab Aira.
“Ehm ehm, ada apa nih? Ada yang pingin ngajak jalan
kayaknya,” celetuk Hesti.
“Em, bukan jalan kok Hes. Tapi, cuma pingin nanti sore kalian semua nonton kita tanding volly, sama ngedukung kita biar
menang dan tambah rame. Nonton ya, Ra?” ucap Raffi.
“Emang mau lawan mana?”
“Anak kampus sebelah, Ra. Nonton ya?” ucap Raffi penuh harap.
“Bener, Ra. Biar tambah rame dan semangat
gitu,” sahut Ian.
“Gimana Hes, Wi? Mau nonton nggak?”
“Boleh, nanti sore ini. Aku juga suka volly,” jawab Hesti.
“Alhamdulillah, nah gitu. Dukung kita supaya
endak kalah. Oke?” ucap Raffi.
“Iya iya. Tapi kalau menang nanti traktirannya yo?” celetuk Dewi.
“Tenang aja Wi,
nanti aku traktir semua,”
jawab Raffi yang semangatnya langsung melonjak mendengar Aira mau menonton.
Sejenak, Aira
menatap Monas yang sedang asik berbincang dengan Agung. Apa Monas juga nanti
nonton ya? Atau apa dia ikut main
juga? Ah, aku jadi pingin lihat nanti. Dia ada atau enggak, ya? Soalnya
dia jarang ada kalau temen-temennya
pada ngumpul. Kalau Raffi sama Ian, aku sudah
sering denger kalau mereka jago main volly. Ah, nanti
aku lihat aja mereka. Dan mumpung aku juga enggak
ada kegiatan hari ini, batinnya.
Waktu tepat
menunjuk pukul 16.00 di Gedung Olah Raga. Semua sudah berkumpul. Banyak mahasiswa maupun
mahasiswi, serta beberapa
dosen yang menonton dan
memberikan dukungannya. Tak ketinggalan pemain tamu yang sudah datang setengah jam sebelumnya.
Aira dan kedua temannya juga sudah ada di
pinggir lapangan. Raffi nampak paling
bersemangat dengan kehadiran Aira.
Namun, mata Aira justru sesekali
melihat dan tersenyum ke arah Monas yang tak jauh darinya di pinggir lapangan bersama Agung.
Saat pertandingan
berjalan pun suasana semakin bertambah
seru. Kejar mengejar skor pun terjadi. Sangat sengit dan berimbang. Riuh
teriakan dan tepuk tangan penonton terus mengiringi. Jual beli spike keras pun
terjadi antar kedua team. Hingga akhir pertandingan, team tuan rumah berhasil memenangkan dua set
langsung dengan hasil skor akhir yang tak begitu jauh. Tak sia-sia mereka mendukung dan menyemangati teamnya.
Setelah selesai
para pemain pun bersalaman.
“Hai Gus, makasih ya atas pertandingan ini.”
“Sama-sama Fi, kalian memang team yang hebat. Kapan main di kampusku? Gantian gitu.”
“Nanti aja fren. Kalau waktunya udah longgar,
pasti kita main di tempatmu kok. Oke?”
“Oke, aku tunggu pokoknya, Fi. Yang
penting kabari dulu.”
“Siiiplah.”
Mereka terus
meninggalkan lapangan. Sebagian lagi ada yang masih berkumpul dan ingin merayakan kemenangan hari itu.
Raffi lalu menemui
Aira. “Hei, makasih ya? Semua sudah pada nonton, jadi kita bisa menang,”
ucap Raffi sambil mengusap keringat dengan handuk kecilnya.
“Ah, cuma nonton ini. Biasa aja, endak usah bilang makasih ya, Ra?” ucap Hesti.
Aira hanya
tersenyum dan mengangguk.
“Oya, mau ikutan
makan-makan dulu nggak? Tenang,
aku traktir di depan kampus bareng anak-anak yang lain, gimana?”
“Em gimana Ra, diajak makan lagi nih?”
Aira menoleh ke
samping. “Em gimana, Wi?”
“Kok nanya ke aku, kalau aku ya ikut ajalah.”
Saat ketiganya
bersedia, Raffi semakin senang. “Oke, kalau gitu tunggu di rumah makan depan. Em, kalian
duluan atau bareng kita?”
“Kita duluan aja,” ucap Hesti.
“Oke.”
Saat di rumah
makan, ada yang aneh dan istimewa sebab Aira ada di antara mereka. Biasanya gadis cantik itu tak pernah ikut kumpul-kumpul, apalagi bareng
mereka. Raffi sengaja duduk
di samping Aira. Sementara
masih di meja yang sama, Monas
duduk di dekat Dewi. Keduanya terlihat akrab. Aira
sesekali melihat ke arah Monas dan Dewi, di sela-sela obrolannya
dengan Raffi. Saat Dewi meminta nomer hp-Monas, ada rasa cemburu hinggap di
diri Aira. Dia seperti tak membolehkan hal itu terjadi.
Setelah acara makan-makan, sesampainya di rumah, Monas langsung memberi makan ikan yang ada di aquarium. Sebagai bukti akan tanggung jawabnya. Sesekali
dia memainkan jarinya di air. Monas pun tersenyum geli saat ikan kecil-kecil
itu menggigitnya. Dia menatap ikan-ikan di dalam aquarium. Dia terlihat bahagia
melihat polah tingkah ikan-ikannya yang lucu kesana kemari.
Malam menjelang,
Monas menemani mbah Putrinya
makan malam. Meski terlihat
kurang nafsu makan karena tadi sore dia sudah makan bersama teman-teman yang lain, namun dia tetap menghargai masakan mbah Putri, walau hanya makan sedikit. Sebab sang nenek
sudah menyiapkan masakan untuknya. Monas merasa, siapa
lagi yang akan makan kalau bukan dirinya. Baginya yang penting adalah
kebersamaan. Itulah yang
terindah dalam hidupnya. Apalagi waktu hidup seseorang itu berbeda satu orang
dengan orang lainnya. Waktu
tak akan pernah kembali. Dia sadar antara nenek dengan cucu mungkin hanya menyisakan
waktu yang sangat singkat. Dan disetiap ada waktu luang, dia selalu ingin menemani neneknya. Menemani di usianya yang sudah senja.
***
Malam minggu
Monas duduk sendiri di ruang tamu. Tinggal setengah jam lagi dia berangkat ke tempat ketemuan dengan bos Baron. Dia memakai jacket hitam
kesayangan. Jacket yang bertulis
jocker di sakunya. Dia mengambil hp di
meja dan memasukkannya ke saku jacket. Saat hendak melangkah tiba-tiba hp-nya berdering. Monas mengambil dan mengangkatnya.
“Em iya, ada apa Ra?”
“Em nggak ada apa-apa, cuma pingin ngobrol bentar boleh, kan?”
“Boleh. Ngobrol apaan, Ra …?”
“Kenapa kamu kemarin waktu
makan bareng kok cuek banget sama
aku, Nas?”
“Aku nggak cuek, Ra. Kan kamu lagi asik ngobrol sama
Raffi, masa aku ganggu. Terus, aku juga ngobrol sama temenmu, Dewi, masa dia, aku
cuekin Ra.” Sesaat hening. “Emang kenapa sih, Ra?”
“Em nggak kenapa-kenapa
Nas,” tepis Aira. “Kamu kemarin sama
Dewi ngobrolin apa kok asik banget sepertinya?”
“Em cuma ngobrol biasa aja, nggak ada yang penting. Sama
seperti kamu kemarin. Dewi nanya aku, kenapa aku kelihatannya cuek nggak seperti
yang lain? Begitu, Ra.”
“Oo ... kirain
apa, Nas?” Aira lega dengan penjelasan Monas. “Eh Nas malam ini kamu ada acara apa?”
“Kenapa Ra? Kamu mau ngajak aku?”
“Ehg, enggak Nas” Aira kaget dan jadi salah tingkah. Dia tak menyangka
akan ditanya seperti itu. “Em aku cuma nanya aja kok.” Sejenak Aira terdiam.
“Kamu mau keluar ya sekarang?”
“Iya. Aku mau keluar
ke tempat Agung, ada perlu. Kamu
mau ikut?”
“Enggak ah, mending di rumah.”
“Iya lah, kamu mending di rumah
aja. Bentar lagi juga ada yang ngapelin kamu. Iya, kan Ra?”
“Siapa lagi, yang ngapel ke sini?”
“Ah, nggak usah pura-pura. Gadis seperti kamu pasti banyak cowok yang berharap.”
“Ah enggak ada. Buktinya nggak ada yang pernah ke sini.”
“Lho emang Iwan
permana, Raffi atau yang lainnya
nggak pernah ke situ?”
“Yang ke sini paling ya kedua temenku itu, Nas.”
“O gitu ya.”
Sejenak Aira terdiam.
Dia ingin mengungkapkan sesuatu namun ragu.
Monas melangkah
ke depan rumah.
“Nas, kalau aku pingin ketemu sama kamu dan pingin ngobrol, mau nggak kamu nemenin aku?”
Langkah Monas
seketika terhenti. “Lho, kok malah aku, Ra? Kenapa
nggak orang lain aja?”
“Em, nggak tahu Nas. Tapi kamu mau kan nemenin aku?”
Sejenak Monas terdiam.
Dia menjadi bingung dengan permintaan Aira. “Gimana ya, Ra?”
Keduanya
terdiam.
“Em kalau kamu nggak mau, aku juga nggak maksa kok Nas,” ucap Aira kecewa.
Monas menghela
nafas. “Ya udah gimana nanti aja ya, Ra. Maaf aku mau cabut dulu. Aku
mau ke tempat Agung sekarang. Maaf banget,
lain waktu nyambung lagi ya? Tapi kalau kamu memang mau ketemu sama aku dan mau ngobrol, boleh boleh aja kok. Oke Ra, aku tutup ya? Met malem
Ra, assalamualaikum .…”
“Makasih banget Nas, wa alaikum salam.”
Hati Aira nampak lega dan bahagia karena Monas akhirnya bersedia. Dia memang ingin sekali mengenal lebih jauh tentang Monas. Bisa bergaul dan berteman seperti yang lain. Sebab selama ini dirinya susah
untuk keluar jalan-jalan. Apalagi jalan dengan seorang pria. Dan kali ini sepertinya
yang dia harapkan mungkin
akan bisa berjalan baik.
Sementara, Monas
kemudian menaiki motornya dan meluncur ke tempat Agung. Hanya butuh waktu setengah jam untuk tiba sampai di rumah Agung. Ketiga temannya sudah ada di teras
saat Monas datang.
“Hai Bro, maaf yo aku baru nyampe,” sapa
Monas.
“Udah biasa Nas, kowe paling belakang datengnya,” jawab Raffi.
“Iya, aku emang paling belakang terus. Em
langsung cabut atau gimana
Gung?”
“Ya sudah langsung wae kalau sudah ngumpul. Yuk!”
“Oke.” jawab Ian.
Mereka pun langsung meluncur ke tempat bos Baron. Sepanjang perjalanan
saling beriringan. Keempatnya meliuk indah bagaikan ular saat melewati pengguna jalan lain. Dan layaknya lomba balapan, setiap
lampu merah mereka jadikan awalan untuk start. Saliing kejar mengejar pun terjadi. Sebagai perwujudan darah muda yang mengalir di dalam
diri mereka, yang sepertinya ingin menunjukkan jati diri
serta sebuah kehebatan yang dimiliki.
Setelah sampai di
tempat ketemuan, mereka langsung menemui keberadaan bos
Baron kepada salah satu security.
“Em maaf Pak, bisa kita bertemu dengan bos Baron
sekarang?” tanya Agung.
“Maaf, apa kalian sudah ada janji?”
“Udah Pak. Silakan konfirmasi dengannya.”
“Mas namanya
siapa?”
“Agung, Pak.”
“Oke, bentar ya. Tunggu!”
Security itu
memberitahukan ke wanita
cantik yang ada di meja reservasi. Kemudian si wanita cantik itu menghubungi
seseorang dengan telepon. Sementara Agung dan yang lain berdiri menunggu. Tak
lama kemudian security tadi menghampiri mereka.
“Mari silakan masuk! Bos sudah nunggu kalian.”
“Baik Pak. Makasih,” jawab Agung.
Mereka melangkah masuk mengikuti security di belakangnya. Ramai sekali. Tempat itu penuh wanita
cantik dan pria yang sedang menikmati hiburan malam. Musiknya menghentak-hentak membakar semangat jiwa semua pengunjung untuk
menggoyangkan badan. Lampu warna warni semakin menambah indah suasana tempat
hiburan bagi kalangan muda. Tempat hiburan yang menawarkan keindahan, keceriaan, dan kesenangan nikmat
dunia.
Setelah sampai
di lantai ke tiga, security itu berhenti.
“Silakan masuk!” sambil membukakan pintu.
“Makasih Pak,”
ucap Agung.
“Hai, ayo masuk! Maaf, securityku nggak tahu. Jadi,
kalian harus nunggu di depan dulu tadi,” ucap seorang pria besar sambil
menghampiri.
“Enggak apa-apa
kok Bos,” jawab Agung sambil
tersenyum. Agung menyalami pria besar itu, lalu diikuti ketiga temannya.
“Ayo pada duduk! Santai aja.” Bos Baron
tersenyum. “Oya mau minum apa?”
“Makasih Bos, apa aja juga boleh,” jawab Agung.
Kelimanya duduk
di sofa yang empuk.
“Oke kita langsung saja, ya. Aku Baron, yang kebetulan sekarang adalah
pemilik tempat ini. Mungkin cuma
Agung yang sudah kenal aku. Dan, aku ngasih
tawaran buat dia, minggu kemarin pas lagi balapan. Tapi aku belum kenal yang
lain, boleh aku tahu nama
kalian?”
“Boleh Bos,” ucap
mereka kompak.
“Aku Raffi, Bos.”
“Ian.”
“Monas.”
“Raffi, Ian,
Monas,” ucap bos Baron sambil menunjuk satu persatu. “Jadi beneran namamu,
Monas seperti kata Agung?”
“Iya Bos. Emang itu namaku.”
Bos baron
mengangguk-angguk. “Jadi gimana Gung, kalian setuju masuk ke teamku?”
“Oke Bos Baron. Kami
mau masuk ke team Bos. Monas juga sudah mau.”
“Bener, kamu mau Nas?”
“Em, iya Bos.”
“Baguslah kalau begitu.” Pria besar itu terlihat
senang. “Gini Nas, aku butuh seorang joki buat balapan, terutama kamu, Nas. Dan aku sudah lihat skill kamu dari beberapa balapan yang kamu ikuti.”
“Tapi,
sebelumnya aku boleh nanya nggak, Bos?”
“Kamu mau nanya apa? Silakan!”
“Kata Agung, aku akan megang motor dengan cc
besar. Aku belum bisa adaptasi dengan motor-motor itu.”
Bos Baron
tersenyum. “Aku ngerti kok, nanti
kamu latihan dulu. Aku sudah
siapin motornya, tenang aja.”
“Terus kita ini
masih kuliah. Mungkin waktuku juga terbatas Bos. Gimana?”
“Nanti aku yang atur, tenang aja. Ada lagi?”
“Sama boleh nggak aku minta Agung yang
setting motorku? Dia yang jadi mekanikku.”
“Em itu udah pasti. Tapi aku juga punya teman mekanik motor yang handal. Jadi kalau kalian bisa kerjasama, mungkin akan
lebih baik. Oke Gung ?”
Agung
mengangguk. “Oke, Bos.”
“Ya sudah, kalau gitu sekarang kita ke basecamp. Aku akan kenalin
sama brother yang lain.”
“Baik Bos,” ucap mereka kompak.
Mereka kemudian
turun ke lantai bawah dan keluar kafe. Bos Baron langsung mendekati motor besar
yang parkir di depan kafe itu.
Dia langsung menaikinya.
“Busyet Ian, itu motor yang kita lihat tadi. Tahunya
punya bos Baron,” celetuk Raffi yang hanya bisa bengong karena dari awal dia datang
sudah mengagumi motor itu.
Ian pun sama.
Dia menelan ludahnya “Iya Fi,
muantep banget motornya,”
Rhung … Rhung …!
Suara knalpot motor
bos Baron terdengar keluar
dengan lantangnya. Untuk
kedua kalinya Raffi dan Ian terkesima.
“Ayo ikuti aku!”
Mereka berlima
meluncur ke arah barat. Melewati keramain di jalanan kota Solo. Jalanan yang lebar dan cukup terang dengan lampu di sisi-sisinya.
Nampak kendaraan cukup banyak berlalu
lalang memenuhi jalan untuk bermalam
mingguan.
Setelah dua puluh menit mereka sampai pada
satu tempat yang cukup lega dan besar. Bangunan besar itu memiliki jalan tembus ke
belakang. Beberapa pria dan wanita berjacket
terlihat sedang duduk berkumpul.
Bos Baron melangkah
ke dalam, sementara Agung dan temannya turut mengikuti dari belakang. “Aku akan
kenalkan sama kalian, anggota yang sudah hadir di sini. Ini Bram, mekanik yang selalu membantuku. Sebelahnya
ada Beng-beng, si Black, Clara, Dea, dan sahabatku, Takahasi. Mereka akan
membantu dalam balapan.” Agung dan yang lain kemudian menyalami satu persatu. “Oya
tak hanya mereka saja, masih banyak yang belum datang ke sini. Mungkin sebentar
lagi.”
Kemudian bos
Baron mengajak mereka berempat masuk ke dalam lagi. Monas, Ian dan Raffi nampak
langsung tertegun melihat apa yang ada disitu.
Banyak motor besar dan motor klasik berbagai merek berjejer rapi, dari Ducati, Kawasaki, Honda, Yamaha, Suzuki,
Harley Davidson, serta motor
modifikasi lainnya. Hampir semua
ber-cc besar yang
berada di situ. Ada juga
mobil-mobil sport berharga selangit. Tak hanya itu, stiker-stiker
pembalap kelas dunia jiga terpajang
di dinding ruangan. Semua mata nampak takjub saat masuk dan melihat motor
kepunyaan bos Baron.
“Uedan tenan Kunyang.
Ini dealer apa showroom? Banyak amat,” ucap Raffi yang terkagum-kagum.
“Iyo yo Kucrut. Ini pameran kali, ckckck ... cakep
tenan,” ucap Ian ambil mengusap-usap
salah satu motor.
“Ini punya Bos Baron semua?” tanya Monas.
“Em enggak semua
Nas, tapi ada juga punya para
brother lain.”
“Em, kenapa Bos Baron milih aku jadi joki ini? Kenapa nggak yang lain?”
Bos baron
tersenyum. “Aku suka karakter
dan skill kamu. Kamu beda
dengan yang lain. Aku juga sudah
banyak lihat yang lainnya. Jadi aku bisa nilai itu semua.
Dan aku percaya sama kamu. Aku milih kamu agar ada anak Solo yang enggak diremehkan soal balapan. Aku yakin itu ada pada dirimu.”
“Em makasih Bos
atas penilaian dan kepercayaannya.” Monas merasa tersanjung.
“Iya Nas. Kalau kamu beruntung, nantinya kamu bisa jadi pembalap hebat. Tapi selain itu aku sangat ingin ada yang menunggangi motorku. Itu jadi kebanggaan tersendiri bagiku. Sebab
nyaliku sudah kurang untuk bermain dengan kecepatan, Nas.” Bos Baron menepuk
pundak Monas. “Oya tapi nama kamu enaknya apa ya? Kamu harus ganti nama kalau jadi joki. Biar jati dirimu
tidak banyak yang tahu.”
“Iya bos. Aku sebenarnya pingin ngomongin yang itu juga. Sebab menurutku nggak enak juga dikenal jadi joki.”
“Oke kamu, aku ganti jadi em ….” Bos Baron terdiam, berpikir sejenak.
Kemudian dia melihat tulisan kecil di jaket Monas. “Jocker aja gimana? Nama di jacketmu
itu.”
“Em, jocker ….” Monas menunduk. Matanya
menatap ke sakunya. “Boleh juga Bos.
Aku mau itu jadi panggilanku.”
“Baguslah kalau gitu. Oya, aku butuh nomer hp-mu, ya?”
“Baik Bos.”
“Bos, kalau kami sering ke sini boleh endak?” sahut Ian.
“Ya bolehlah,
sekarang ini jadi basecamp kalian
juga.”
“Oh iya Bos, kita boleh sering-sering ke tempat yang banyak cewek
cakep-cakep tadi juga kan? Buat senang-senang. Bener, endak Kucrut?” ucap Raffi sambil menaik-turunkan
alisnya.
“Ah kowe ini cuma seneng-seneng wae. Pasti cewek-ceweknya to,” jawab Ian. Raffi
tersenyum dan mengedipkan satu matanya.
“Boleh, kalian nanti aku
kasih member cartnya. Dan Soal
balapan kalah menang itu biasa, tapi usahakan kasih aku kemenangan. Ngerti ya?”
“Tenang aja Bos, Monas akan bikin kita hebat,” ucap Ian
dengan pede.
Semua terlihat senang dan semakin riuh suasana di tempat itu karena
semakin banyak anggota yang lain berdatangan. Dan akhirnya mereka menghabiskan
malam yang panjang bersama. Namun, bagi Monas ada perasaan berbeda. Dia merasa tanggung jawabnya kini menjadi besar karena dia harus
memberikan kemenangan untuk semua.
[ ]


.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar