Kamis, 28 Agustus 2014

Monas menerima tawaran



Monas menerima tawaran





JUM’AT PAGI seperti biasa Monas berangkat kuliah. Saat melaju di jalan, dia teringat dengan janjinya. Janji bersama untuk menemui bos Baron dan  minggu paginya jalan dengan Kasih. Terlihat cuaca sangat bersahabat. Ada awan tipis menggantung di langit. Cahaya matahari yang tembus hanya serasa hangat. Saat melintasi jembatan Banmati, Monas sejenak melambat dan menoleh. Dia melihat air sungai Bengawan Solo sedikit dangkal. Namun airnya masih mengalir dengan derasnya.
Di depan PT. Sritex, Monas mengurangi laju motornya. Dia melihat banyak karyawan yang akan masuk dan pulang kerja. Berseragam dan berjalan beriringan. Monas salut dan kagum dengan mereka yang menjemput rizki di tempat itu, untuk menjalani kehidupan demi mewujudkan harapan dan demi mimpi-mimpi mereka. Walau tenaga harus terkuras, walau perih harus ditahan, walau keringat harus diteteskan. Monas merasa kalah jauh dibandingkan dengan mereka. Sambil terus melaju pelan, ada sebuah bahagia yang dia lihat dalam diri para pekerja itu. Monas membandingkan dengan kebahagian yang ada di dirinya. Oh, mungkin bahagia itu hanyalah sebatas pandangan dan anggapan semata. Aku melihat dan beranggapan orang lain seperti telah bahagia. Begitupun sebaliknya, orang lain pun yang melihatku pasti beranggapan aku ini orang yang bahagia juga. Padahal yang sesungguhnya hanya diri sendirilah yang merasakannya. Dan, tinggal tiap diri masing-masing mau menerimanya  atau pun tidak, batinnya.
Sesampainya di kampus, dia melaju melewati gerbang. Dilihatnya beberapa mahasiswa masih pada duduk dan berkumpul. Tak seperti biasanya. Cukup banyak yang berada di tempat itu.
“Hai Nas, berhenti! Kesini bentar!” Salah seorang memanggil dan melambaikan tangannya. “Aku ada perlu bentar.”
Monas pun berhenti dan kemudian mendekat. “Eh Ton, ada apa? Kok rame-rame pada di sini?” sambil membuka helm.
Em gini, Nas, entar sore ada anak kampus sebelah mau ke sini, mau main volly. Biasa … persahabatan. Tolong ingetin Ian sama Raffi lagi! Udah aku kirimi pesan sih, cuma aku takut mereka lupa nanti ya?”
Em, oke Ton. Nanti aku kasih tahu ke mereka.”
O iya, kamu jangan langsung pulang! Nanti ikut nonton ya?”
“Iya, nanti aku nonton. Tenang aja.”
Oke, thank’s Bro.”
Monas kembali menarik gas motor dan menuju ke kelasnya.  Dalam hal voly yang jago adalah  kedua sahabatnya, Ian dan Raffi. Sedang Monas sendiri hanya menjadi supporter saja. Saat  sampai di kelas dia melihat ada yang berbeda juga. Tampak ramai. Ternyata mereka sudah tahu dan antusias ingin menyaksikan volly nanti sore. Bahkan ada yang memasang taruhan meski permainannya hanya sekedar persahabatan. Dan Ianlah orang yang memberi tahu semuanya..
Dan saat jam istirahat Monas dan Ian ke kantin menemui Raffi yang sudah ada di meja tempat mereka berkumpul.
Eh Bro, jangan lupa nanti sore disuruh main volly! Tadi aku ketemu Anton. Aku disuruh ngingetin, jangan pergi ke mana-mana! Oke?”
Oh iya, hampir lupa Bro,” ucap Raffi sambil menepuk jidatnya. “Tadinya aku mau pergi nanti, untung kamu ingetin Nas. Matur nuwun yo?” Raffi meneguk kopi hangatnya. Matanya menatap ke Aira yang juga duduk jauh dari mereka. “Em tapi pujaan hatiku nonton endak, yo?”
Pujaan hati siapa, Fi?” tanya Ian penasaran.
Kaé lho Ian yang lagi makan kaé, yang cakep kaé.”  Wajah Raffi memberi tanda ke arah Aira.
Hmm, pantes … ada si Aira.”
“Semoga aja nonton Fi,” tambah Agung. Sementara Monas hanya senyum dan geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba Raffi berdiri. “Eh Kucrut, ayo kita ajak Aira agar nonton volly nanti! Kalau dia endak nonton, aku endak semangat. Ayo!” Tangannya menarik Ian.
“Ah wong  edan[1]kowe, aku lagi minum ini lho,” ucap Ian yang sedang menyeruput kopinya hingga tumpah sedikit.
“Halah,  diteruskan lagi nanti, urusan ini lebih penting,” jawab Raffi yang terus memegang erat lengan Ian. Meski sedikit kesal Ian pun menuruti keinginan Raffi.
Raffi ingin sekali mengajak Aira. Dia ingin sekali gadis cantik itu mau menonton pertandingan volly nanti sore. Raffi dan Ian langsung duduk di depan Aira.
“Hai, Ra. Gabung bentar, ya?” ucap Raffi.
Em boleh, silakan Fi!” jawab Aira.
Ehm ehm, ada apa nih? Ada yang pingin ngajak jalan kayaknya,” celetuk Hesti.
Em, bukan jalan kok Hes. Tapi, cuma pingin nanti sore kalian semua nonton kita tanding volly, sama ngedukung kita biar menang dan tambah rame. Nonton ya, Ra?” ucap Raffi.
Emang mau lawan mana?”
Anak kampus sebelah, Ra. Nonton ya?” ucap Raffi penuh harap.
Bener, Ra. Biar tambah rame dan semangat gitu,” sahut Ian.
Gimana Hes, Wi? Mau nonton nggak?”
Boleh, nanti sore ini. Aku juga suka volly,” jawab Hesti.
Alhamdulillah, nah gitu. Dukung kita supaya endak kalah. Oke?” ucap Raffi.
Iya iya. Tapi kalau menang nanti traktirannya yo?” celetuk Dewi.
“Tenang aja Wi, nanti aku traktir semua,” jawab Raffi yang  semangatnya langsung melonjak mendengar Aira mau menonton.
Sejenak, Aira menatap Monas yang sedang asik berbincang dengan Agung. Apa Monas juga nanti nonton ya? Atau apa dia ikut main juga? Ah, aku jadi pingin lihat nanti. Dia ada atau enggak, ya? Soalnya dia jarang ada kalau temen-temennya pada ngumpul. Kalau Raffi sama Ian, aku sudah sering denger kalau mereka jago main volly. Ah, nanti aku lihat aja mereka. Dan mumpung aku juga enggak ada kegiatan hari ini, batinnya.

Waktu tepat menunjuk pukul 16.00 di Gedung Olah Raga. Semua sudah berkumpul. Banyak mahasiswa maupun mahasiswi, serta beberapa dosen yang menonton dan memberikan dukungannya. Tak ketinggalan pemain tamu yang sudah datang setengah jam sebelumnya. Aira dan kedua temannya juga sudah ada di pinggir lapangan. Raffi nampak paling bersemangat dengan kehadiran Aira. Namun, mata Aira justru sesekali melihat dan tersenyum ke arah Monas yang tak jauh darinya di pinggir lapangan bersama Agung.
Saat pertandingan  berjalan pun suasana semakin bertambah seru. Kejar mengejar skor pun terjadi. Sangat sengit dan berimbang. Riuh teriakan dan tepuk tangan penonton terus mengiringi. Jual beli spike keras pun terjadi antar kedua team.  Hingga akhir pertandingan, team tuan rumah berhasil memenangkan dua set langsung dengan hasil skor akhir yang tak begitu jauh. Tak sia-sia mereka mendukung dan menyemangati teamnya.
Setelah selesai para pemain pun bersalaman.
Hai Gus, makasih ya atas pertandingan ini.”
Sama-sama Fi, kalian memang team yang hebat. Kapan main di kampusku? Gantian gitu.”
“Nanti aja fren. Kalau waktunya udah longgar, pasti kita main di tempatmu kok. Oke?”
“Oke, aku tunggu pokoknya, Fi. Yang penting kabari dulu.”
Siiiplah.
Mereka terus meninggalkan lapangan. Sebagian lagi ada yang  masih berkumpul dan ingin merayakan kemenangan hari itu.
Raffi lalu menemui Aira. “Hei,  makasih ya? Semua sudah pada nonton, jadi kita bisa menang,” ucap Raffi sambil mengusap keringat dengan handuk kecilnya.
Ah, cuma nonton ini. Biasa aja, endak usah bilang makasih ya, Ra?” ucap Hesti.
Aira hanya tersenyum dan mengangguk.
“Oya, mau ikutan makan-makan dulu nggak? Tenang, aku traktir di depan kampus bareng anak-anak yang lain, gimana?
Em gimana Ra, diajak makan lagi nih?
Aira menoleh ke samping. “Em gimana, Wi?”
Kok nanya ke aku, kalau aku ya ikut ajalah.”
Saat ketiganya bersedia, Raffi semakin senang. “Oke, kalau gitu  tunggu di rumah makan depan. Em, kalian duluan atau bareng kita?”
Kita duluan aja,” ucap Hesti.
“Oke.
Saat di rumah makan, ada yang aneh dan istimewa sebab Aira ada di antara mereka. Biasanya gadis cantik itu tak pernah ikut kumpul-kumpul, apalagi bareng mereka. Raffi sengaja duduk di samping Aira. Sementara masih di meja yang sama, Monas duduk di dekat Dewi. Keduanya terlihat akrab. Aira sesekali melihat ke arah Monas dan Dewi, di sela-sela obrolannya dengan Raffi. Saat Dewi meminta nomer hp-Monas, ada rasa cemburu hinggap di diri Aira. Dia seperti tak membolehkan hal itu terjadi.  
Setelah acara makan-makan, sesampainya di rumah, Monas langsung memberi makan ikan yang ada di aquarium. Sebagai bukti akan tanggung jawabnya. Sesekali dia memainkan jarinya di air. Monas pun tersenyum geli saat ikan kecil-kecil itu menggigitnya. Dia menatap ikan-ikan di dalam aquarium. Dia terlihat bahagia melihat polah tingkah ikan-ikannya yang lucu kesana kemari.
Malam menjelang, Monas menemani mbah Putrinya makan malam. Meski terlihat kurang nafsu makan karena tadi sore dia sudah makan bersama teman-teman yang lain, namun dia tetap menghargai masakan mbah Putri, walau hanya makan sedikit. Sebab sang nenek sudah menyiapkan masakan untuknya. Monas merasa, siapa lagi yang akan makan kalau bukan dirinya. Baginya yang penting adalah kebersamaan. Itulah yang terindah dalam hidupnya. Apalagi waktu hidup seseorang itu berbeda satu orang dengan orang lainnya. Waktu tak akan pernah kembali. Dia sadar antara nenek dengan cucu mungkin hanya menyisakan waktu yang sangat singkat. Dan disetiap ada waktu luang, dia selalu ingin menemani neneknya. Menemani di usianya yang sudah senja.   

***


Malam minggu Monas duduk sendiri di ruang tamu. Tinggal setengah jam lagi dia berangkat ke tempat ketemuan dengan bos Baron. Dia memakai jacket hitam kesayangan. Jacket yang bertulis jocker di sakunya. Dia mengambil hp di meja dan memasukkannya ke saku jacket. Saat hendak melangkah tiba-tiba hp-nya berdering. Monas mengambil dan mengangkatnya.
Em iya, ada apa Ra?
Em nggak ada apa-apa, cuma pingin ngobrol bentar boleh, kan?
Boleh. Ngobrol apaan, Ra …?”
Kenapa kamu kemarin waktu makan bareng kok cuek banget sama aku, Nas?”
Aku nggak cuek, Ra. Kan kamu lagi asik ngobrol sama Raffi,  masa aku ganggu. Terus, aku juga ngobrol sama temenmu, Dewi, masa dia, aku cuekin Ra.” Sesaat hening. “Emang kenapa sih, Ra?”
Em nggak kenapa-kenapa Nas,” tepis Aira. “Kamu kemarin sama Dewi ngobrolin apa kok asik banget sepertinya?”
Em cuma ngobrol biasa aja, nggak ada yang penting. Sama seperti kamu kemarin. Dewi nanya aku, kenapa aku kelihatannya cuek nggak seperti yang lain? Begitu, Ra.”
“Oo ... kirain apa, Nas?” Aira lega dengan penjelasan Monas. “Eh Nas malam ini kamu ada acara apa?”
Kenapa Ra? Kamu mau ngajak aku?
Ehg, enggak Nas” Aira kaget dan jadi salah tingkah. Dia tak menyangka akan ditanya seperti itu. “Em aku cuma nanya aja kok.” Sejenak Aira terdiam. “Kamu mau keluar ya sekarang?”
“Iya. Aku mau keluar ke tempat Agung, ada perlu. Kamu mau ikut?
“Enggak ah, mending di rumah.”
Iya lah, kamu mending di rumah aja. Bentar lagi juga ada yang ngapelin kamu.  Iya, kan Ra?
Siapa lagi, yang ngapel ke sini?
Ah, nggak usah pura-pura. Gadis seperti kamu pasti banyak cowok yang berharap.
Ah enggak ada. Buktinya nggak ada yang pernah ke sini.”
“Lho emang Iwan permana, Raffi atau yang lainnya nggak pernah ke situ?
Yang ke sini paling ya kedua temenku itu, Nas.”
“O gitu ya.”
Sejenak Aira terdiam. Dia ingin mengungkapkan sesuatu namun ragu.
Monas melangkah ke depan rumah.
“Nas, kalau aku pingin ketemu sama kamu dan pingin ngobrol, mau nggak kamu nemenin aku?
Langkah Monas seketika terhenti. “Lho, kok malah aku, Ra? Kenapa nggak orang lain aja?”
“Em, nggak tahu Nas. Tapi kamu mau kan nemenin aku?”
Sejenak Monas terdiam. Dia menjadi bingung dengan permintaan Aira. “Gimana ya, Ra?
Keduanya terdiam.
“Em kalau kamu nggak mau, aku juga nggak maksa kok Nas,” ucap Aira kecewa.
Monas menghela nafas. “Ya udah gimana nanti aja ya, Ra. Maaf aku mau cabut dulu. Aku mau ke tempat Agung sekarang. Maaf banget, lain waktu nyambung lagi ya? Tapi kalau kamu memang mau ketemu sama aku dan mau ngobrol, boleh boleh aja kok. Oke Ra, aku tutup ya?  Met malem Ra, assalamualaikum .…”
Makasih banget Nas, wa alaikum salam.”
Hati Aira nampak lega dan bahagia karena Monas akhirnya bersedia. Dia memang ingin sekali mengenal lebih jauh tentang Monas. Bisa bergaul dan berteman seperti yang lain. Sebab selama ini dirinya susah untuk keluar jalan-jalan. Apalagi jalan dengan seorang pria. Dan kali ini sepertinya yang dia harapkan mungkin akan bisa berjalan baik.   
Sementara, Monas kemudian menaiki motornya dan meluncur ke tempat Agung. Hanya butuh waktu setengah jam untuk tiba sampai di rumah Agung. Ketiga temannya sudah ada di teras saat Monas datang.
Hai Bro, maaf yo aku baru nyampe,” sapa Monas.
“Udah biasa Nas, kowe paling belakang datengnya,” jawab Raffi.
Iya, aku emang paling belakang terus. Em langsung cabut atau gimana Gung?”
Ya sudah langsung wae kalau sudah ngumpul. Yuk!”
“Oke.” jawab Ian.
Mereka pun langsung meluncur ke tempat bos Baron. Sepanjang perjalanan saling beriringan. Keempatnya meliuk indah bagaikan ular saat melewati pengguna jalan lain. Dan layaknya lomba balapan, setiap lampu merah mereka jadikan awalan untuk start. Saliing kejar mengejar pun terjadi. Sebagai perwujudan darah muda yang mengalir di dalam diri mereka, yang sepertinya ingin menunjukkan jati diri serta sebuah kehebatan yang dimiliki.
Setelah sampai di tempat ketemuan, mereka langsung menemui keberadaan bos Baron kepada salah satu security.
Em maaf Pak, bisa kita bertemu dengan bos Baron sekarang?” tanya Agung.
Maaf, apa kalian sudah ada janji?”
Udah Pak. Silakan konfirmasi dengannya.”
“Mas namanya siapa?”
“Agung, Pak.”
Oke, bentar ya. Tunggu!”
Security itu memberitahukan ke wanita cantik yang ada di meja reservasi. Kemudian si wanita cantik itu menghubungi seseorang dengan telepon. Sementara Agung dan yang lain berdiri menunggu. Tak lama kemudian security tadi menghampiri mereka.
Mari silakan masuk! Bos sudah nunggu kalian.”
Baik Pak. Makasih,” jawab Agung.
Mereka melangkah masuk mengikuti security di belakangnya. Ramai sekali. Tempat itu penuh wanita cantik dan pria yang sedang menikmati hiburan malam. Musiknya menghentak-hentak  membakar semangat jiwa semua pengunjung untuk menggoyangkan badan. Lampu warna warni semakin menambah indah suasana tempat hiburan bagi kalangan muda. Tempat hiburan yang menawarkan keindahan, keceriaan, dan kesenangan nikmat dunia.
Setelah sampai di lantai ke tiga, security itu berhenti.
Silakan masuk!” sambil membukakan pintu.
“Makasih Pak,” ucap Agung.
Hai, ayo masuk! Maaf, securityku nggak tahu. Jadi, kalian harus nunggu di depan dulu tadi,” ucap seorang pria besar sambil menghampiri.
“Enggak apa-apa kok Bos,” jawab Agung sambil tersenyum. Agung menyalami pria besar itu, lalu diikuti ketiga temannya.
 “Ayo pada duduk! Santai aja.” Bos Baron tersenyum. “Oya  mau minum apa?”
Makasih Bos, apa aja juga boleh,” jawab Agung.
Kelimanya duduk di sofa yang empuk.
“Oke kita langsung saja, ya. Aku Baron, yang kebetulan sekarang adalah pemilik tempat ini. Mungkin cuma Agung yang sudah kenal aku. Dan, aku ngasih tawaran buat dia, minggu kemarin pas lagi balapan. Tapi aku belum kenal yang lain, boleh aku tahu nama kalian?”
Boleh Bos,” ucap mereka kompak.
Aku Raffi, Bos.”
“Ian.”
“Monas.”
“Raffi, Ian, Monas,” ucap bos Baron sambil menunjuk satu persatu. “Jadi beneran namamu, Monas seperti kata Agung?”
Iya Bos. Emang itu namaku.”
Bos baron mengangguk-angguk. “Jadi gimana Gung, kalian setuju masuk ke teamku?”
Oke Bos Baron. Kami mau masuk ke team Bos. Monas juga sudah mau.”
Bener, kamu mau Nas?”
“Em, iya Bos.”
 “Baguslah kalau begitu.” Pria besar itu terlihat senang. “Gini Nas, aku butuh seorang joki buat balapan, terutama kamu, Nas. Dan aku sudah lihat skill kamu dari beberapa balapan yang kamu ikuti.”
“Tapi, sebelumnya aku boleh nanya nggak, Bos?
Kamu mau nanya apa? Silakan!”
Kata Agung, aku akan megang motor dengan cc besar. Aku belum bisa adaptasi dengan motor-motor itu.”
Bos Baron tersenyum. “Aku ngerti kok, nanti kamu latihan dulu. Aku sudah siapin motornya, tenang aja.”
“Terus kita ini masih kuliah. Mungkin waktuku juga terbatas Bos. Gimana?”
Nanti aku yang atur, tenang aja. Ada lagi?”
“Sama boleh nggak aku minta Agung yang setting motorku? Dia yang jadi mekanikku.”
Em itu udah pasti. Tapi aku juga punya teman mekanik motor yang handal. Jadi kalau kalian bisa kerjasama, mungkin akan lebih baik. Oke Gung ?
Agung mengangguk. “Oke, Bos.”
Ya sudah, kalau gitu sekarang kita ke basecamp. Aku akan kenalin sama brother yang lain.”
Baik Bos,” ucap mereka kompak.
Mereka kemudian turun ke lantai bawah dan keluar kafe. Bos Baron langsung mendekati motor besar yang parkir di depan kafe itu. Dia langsung menaikinya.
Busyet Ian, itu motor yang kita lihat tadi. Tahunya punya bos Baron,” celetuk Raffi yang hanya bisa bengong karena dari awal dia datang sudah mengagumi motor itu.
Ian pun sama. Dia menelan ludahnya “Iya Fi, muantep banget motornya,”
Rhung … Rhung …!
Suara knalpot  motor bos Baron terdengar keluar dengan lantangnya. Untuk kedua kalinya Raffi dan Ian terkesima.
Ayo ikuti aku!”
Mereka berlima meluncur ke arah barat. Melewati keramain di jalanan kota Solo. Jalanan yang lebar dan cukup terang dengan lampu di sisi-sisinya. Nampak kendaraan cukup banyak berlalu lalang memenuhi jalan untuk bermalam mingguan.
Setelah dua puluh menit mereka sampai pada satu tempat yang cukup lega dan besar. Bangunan besar itu memiliki jalan tembus ke belakang. Beberapa pria dan wanita berjacket terlihat sedang duduk berkumpul.
Bos Baron melangkah ke dalam, sementara Agung dan temannya turut mengikuti dari belakang. “Aku akan kenalkan sama kalian, anggota yang sudah hadir di sini. Ini Bram, mekanik yang selalu membantuku. Sebelahnya ada Beng-beng, si Black, Clara, Dea, dan sahabatku, Takahasi. Mereka akan membantu dalam balapan.” Agung dan yang lain kemudian menyalami satu persatu. “Oya tak hanya mereka saja, masih banyak yang belum datang ke sini. Mungkin sebentar lagi.”
Kemudian bos Baron mengajak mereka berempat masuk ke dalam lagi. Monas, Ian dan Raffi nampak langsung tertegun melihat apa yang ada disitu.  Banyak motor besar dan motor klasik berbagai merek berjejer rapi, dari Ducati, Kawasaki, Honda, Yamaha, Suzuki, Harley Davidson, serta motor modifikasi lainnya. Hampir semua ber-cc besar yang berada di situ. Ada juga mobil-mobil sport berharga selangit. Tak hanya itu, stiker-stiker pembalap kelas dunia jiga terpajang di dinding ruangan. Semua mata nampak takjub saat masuk dan melihat motor kepunyaan bos Baron.
“Uedan tenan Kunyang. Ini dealer apa showroom? Banyak amat,” ucap Raffi yang terkagum-kagum.
Iyo yo Kucrut. Ini pameran kali, ckckck ... cakep tenan,” ucap Ian ambil mengusap-usap salah satu motor.
“Ini punya Bos Baron semua?” tanya Monas.
“Em enggak semua Nas, tapi ada juga punya para brother lain.
“Em, kenapa Bos Baron milih aku jadi joki ini? Kenapa nggak yang lain?
Bos baron tersenyum. “Aku suka karakter dan skill kamu. Kamu beda dengan yang lain. Aku juga sudah banyak lihat yang lainnya. Jadi aku bisa nilai itu semua. Dan aku percaya sama kamu. Aku milih kamu agar ada anak Solo yang enggak diremehkan soal balapan. Aku yakin itu ada pada dirimu.”
“Em makasih Bos atas penilaian dan kepercayaannya.” Monas merasa tersanjung.
“Iya Nas. Kalau kamu beruntung, nantinya kamu bisa jadi pembalap hebat. Tapi selain itu aku sangat ingin ada yang menunggangi motorku. Itu jadi kebanggaan tersendiri bagiku. Sebab nyaliku sudah kurang untuk bermain dengan kecepatan, Nas.” Bos Baron menepuk pundak Monas. “Oya tapi nama kamu enaknya apa ya? Kamu harus ganti nama kalau jadi joki. Biar jati dirimu tidak banyak yang tahu.”
Iya bos. Aku sebenarnya pingin ngomongin yang itu juga. Sebab menurutku nggak enak juga dikenal jadi joki.”
Oke kamu, aku ganti jadi em ….” Bos Baron terdiam, berpikir sejenak. Kemudian dia melihat tulisan kecil di jaket Monas. “Jocker aja gimana? Nama di jacketmu itu.”
Em, jocker ….” Monas menunduk. Matanya menatap ke sakunya. “Boleh juga Bos. Aku mau itu jadi panggilanku.”
Baguslah kalau gitu. Oya, aku butuh nomer hp-mu, ya?”
Baik Bos.”
Bos, kalau kami sering ke sini boleh endak?” sahut Ian.
“Ya bolehlah, sekarang ini jadi basecamp kalian juga.”
Oh iya Bos, kita boleh sering-sering ke tempat yang banyak cewek cakep-cakep tadi juga kan? Buat senang-senang. Bener, endak Kucrut?” ucap Raffi sambil menaik-turunkan alisnya.
Ah kowe ini cuma seneng-seneng wae. Pasti cewek-ceweknya to,” jawab Ian. Raffi tersenyum dan mengedipkan satu matanya.
Boleh, kalian nanti aku kasih  member cartnya. Dan Soal balapan kalah menang itu biasa, tapi usahakan  kasih aku kemenangan. Ngerti ya?”
“Tenang aja Bos, Monas akan bikin kita hebat,” ucap Ian dengan pede.
Semua terlihat senang dan semakin riuh suasana di tempat itu karena semakin banyak anggota yang lain berdatangan. Dan akhirnya mereka menghabiskan malam yang panjang bersama. Namun, bagi Monas ada perasaan berbeda. Dia merasa tanggung jawabnya kini menjadi besar karena dia harus memberikan kemenangan untuk semua. [ ]


[1]Orang gila






Tidak ada komentar:

Posting Komentar