Menyatukan hati
MINGGU PAGI sinar matahari perlahan mulai meninggi. Semburat merahnya berubah menjadi
kuning keputihan. Burung-burung
kecil liar terdengar saling lantang berkicau. Beradu merdu. Namun Monas belum bangun juga. Padahal jam dinding sudah menunjuk pukul 07:00 lewat. Dirinya masih terbuai
oleh kasurnya yang empuk.
Toktoktok!
Terdengar suara ketukan di pintu.
“Nas, sudah
pagi. Cepet bangun! Terus sarapan ….” Suara mbah Putri membangunkannya dari luar. Namun belum ada suara balasan yang terdengar dari dalam kamar. “Nas …, sudah pagi. Ayo cepet
bangun! Mbah mau pergi ke pasar
dulu yo?”
Nenek itu mencoba membangunkan lagi.
“Ehg … ehg … nggih Mbah …,” jawab Monas. Kemudian sang nenek pun berlalu.
Sementara Monas masih enggan bangkit
dari kasurnya. Ingin rasanya dia memejamkan mata lagi. Namun tiba-tiba dia teringat
sesuatu. “Aduh gawat !!!” Dia terperanjat. Dia teringat pagi itu ada janji dengan Kasih. “Jam berapa
ini?” sambil melihat ke
dinding kamar. Menatap tajam. “Sudah jam tujuh lewat sepuluh. Ah gawat, kalau aku kesiangan, Kasih pasti bisa ngambek,” ucapnya.
Monas langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi. Dia nampak terburu-buru sekali. Sekembalinya
ke kamar, dia melihat sudah ada satu pesan masuk dari kasih di hp-nya.
“Mas, jangan lupa ya? Aku
tunggu.”
Demi bertemu si
pujaan hati dengan cepat dia merapihkan diri. Mengganti pakaian dan mematutkan
diri sejenak di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang gondrong, tak lupa
sedikit parfum disemprotkan ke tubuhnya. Dengan menaiki motor dia bergegas
menemui kekasihnya. Sudah cukup lama keduanya tak bertemu. Kalaupun
bisa bertemu, itu pun hanya dengan
cara sembunyi-sembunyi. Semua
itu bisa terjadi karena cinta. Cinta
yang sedang membuncah. Cinta nan indah yang terjalin oleh dua insan muda-mudi yang baru membara.
Selama dalam
perjalanan, dia menyadari betapa
bahagianya karena Kasih mau mencintainya dengan segala kekurangan yang ada pada dirinya. Dan di dalam hatinya selalu mengharap agar Kasih menjadi
jodohnya untuk selamanya. Namun dia agak sedikit khawatir jika
nanti Kasih marah karena
keterlambatannya.
Di pinggir jalan
dekat pasar Sukoharjo, seorang
gadis memakai baju lengan panjang warna merah bermotif dari kain tenun tradisional dengan bawahan celana jeans
sedang berdiri sendirian. Rambutnya
panjang lurus dan berponi. Ikatan
warna putih di rambutnya semakin menambah cantik makhluk ciptaan Tuhan itu.
Setiap pria yang melintas pun
tak mau melewatkan begitu saja untuk sekedar manatapnya. Penampilan Kasih
hari itu tampak begitu dewasa,
meski sebenarnya dia masih seorang
pelajar SMA. Tak berapa lama
seorang pemuda dengan menunggangi
motor datang menghampiri dan
berhenti di depannya.
“Hai Kasih, Maafin ya, aku telat?” ucap Monas sambil
membuka helm.
Kasih tersenyum.
“Ndak apa-apa, Mas.”
“Beneran aku
minta maaf banget. Kamu belum lama kan nunggunya?” Monas merasa bersalah karena keterlambatannya.
“Iya, Kasih
maafin kok Mas. Cuma sepuluh menit nunggunya.”
“Syukurlah baru
bentar, heu.” Monas merasa lega. “Ayo naik!” Kasih memakai helmnya. Ketika Kasih hendak naik di belakang. “Eit … tunggu
dulu!” Monas memegang tangan Kasih.
Kasih sedikit kaget. “Ada apa Mas?”
“Em, nggak kok. Sini!” Monas meraih helm yang dipakai Kasih
dan mengunci pengaman helm itu. “Makai helmnya yang bener.”
“Em kirain apa? Makasih Mas,” sambil
tersenyum.
“Nah sekarang udah siap. Ayo naik!” Kasih pun naik,
tangannya langsung berpegangan
ke pinggang, tubuhnya merapat ke badan Monas. “Kasih, kamu mau ajak jalan aku ke mana nih?”
“Em kita ke gunung aja ya, Mas. Pemandangannya indah di sana, sambil lihat candi. Terus siangnya kita
makan ikan bakar.”
“Oke, tapi candi apa? Kan, candi di sini banyak.”
“Kita ke candi Cetho aja Mas. Katanya indah di sana, ada kebun tehnya, terus ada air
terjunnya juga nggak jauh
dari situ. Eh Mas udah pernah ke sana belum? Kalau aku sih belum.”
“Udah. Memang indah kok di sana, nanti kamu nggak akan bosan Kasih. Pasti lain waktu kamu pingin ke sana
lagi.”
Kasih tersenyum
senang. “Bener, Mas? Ya udah kita ke sana.” Namun
kemudian wajahnya tiba-tiba berubah murung. “Tapi ada tanaman strawberry endak di sana? Mas, aku pingin punya tanaman strawberry. Aku pingin ngerawat tanaman itu biar bisa buahan.”
“Nanti kita cari di sana,” ucap Monas.
“Cariin lho, ya?”
“Iya, demi kamu pokoknya.”
Monas tersenyum ke samping kiri, dekat dengan wajah Kasih. Kasih juga membalas senyuman pria tampan di depan yang menjadi kekasihnya. Kemudian motor itu melaju pelan. Terus
melaju ke timur lalu berbelok ke kiri. Mereka terlihat sangat serasi. Sepanjang perjalanan ke gunung lawu, banyak orang yang menatap iri bila melihat kemesraan keduanya.
Saat di lampu merah di kota Karanganyar, Monas melihat anak kecil lusuh sedang meminta-minta. Terlihat memprihatinkan. Anak
kecil itu membuat hati Monas jadi
miris dan iba. Menurutnya, belum waktunya bagi si bocah mencari uang untuk hidup. Dan seharusnya bocah itu masih berada di sekolah untuk
belajar. Monas pun
menyadari kemungkinan karena orangtuanya tak mampu
menghidupinya.
“Kasih, tolong kamu berikan uang ke anak
itu ya? Kalau dia kemari. Ambil
di kantong jacketku!”
“Iya Mas, nanti aku yang berikan.”
Saat anak kecil itu
di depan mereka. Kasih menyodorkan tangannya. Dia memberikan dua lembar uang kertas ke anak jalanan itu. “Ini Dik, buat
kamu.”
“Terimakasih banyak Mbak cakep.”
“Iya. Uangnya semoga bermanfaat ya, Dik?”
“Iya, makasih Mbak cakep.”
Anak kecil itu pun pergi, beralih ke pengendara yang lain. Seiring lampu berganti
hijau, keduanya pun melanjutkan
perjalanan. Monas berkendara
tak seperti biasanya. Pagi itu dia tampak sedikit lebih pelan menarik
gas motor, sebab dia tak mau
terjadi hal-hal yang tak diinginkan kepada gadis yang diboncengnya. Seorang gadis yang sangat disayanginya.
“Mas, kasihan ya anak tadi?”
“Iya, Kasih. Kita lebih beruntung dibanding
dia. Sudah selayaknya kita meringankan beban buatnya.”
“Em tapi Mas, bukannya
sekarang ini mengemis itu
menjadi suatu pekerjaan? Karena uang yang didapat banyak,
cepat, endak pakai capek lagi.”
“Kalau benar seperti itu,
biarlah Allah yang menilainya, ya? Kita hanya membantu semampunya kita saja, dan harus
ikhlas.”
Kasih tersenyum
manis. “Iya Mas.”
“Oh iya, kamu tadi beralasan apa ke orangtuamu?
Kok, kita bisa jalan.”
“Aku bilang mau main ke temenku, Mas. Pulangnya sore gitu, habis bosen di rumah. Mas tahu kan orangtuaku gimana?”
“Bisaan kamu, tapi kamu itu bohong
lho?”
“Iya sih Mas. Mudah-mudahan orangtuaku maafin aku nantinya. Masa anaknya sendiri endak
dimaafin, Hehehe ....” ucap kasih sambil nyengir.
Sementara Monas ikut tersenyum. Sepanjang
perjalanan mereka berdua terlihat begitu bahagia. Saling berbagi senyum,
tawa, dan canda.
Sesampai di daerah Karangpandan, Monas
mengambil arah kiri. Tak berapa lama jalan mulai naik turun dan
berkelok. Monas bersyukur karena jalan yang dilewatinya bersama Kasih hari itu
sudah diperbaiki. Tak seperti
tahun yang lalu saat dia ke tempat
itu masih dalam kondisi jalann
yang rusak.
“Eh Mas, sudah
deket ya candinya?”
“Bentar lagi Kasih, lewat kebun tehnya dulu. Candinya ada di atasnya. Eh pegangan yang kuat sebab
tanjakan sama turunannya
serem.”
“Iya.” Kasih memperhatikan kanan kiri
jalan. Ada sesuatu yang menarik baginya.
“Eh Mas, situ ada yang jualan
macem-macem bunga. Bunganya
cakep-cakep, ya?”
“Iya cakep-cakep.”
Jalanan semakin menanjak kala memasuki kaki
gunung Lawu. Udara semakin dingin.
Kasih tetap melingkarkan lengannya di pinggang Monas. Memeluk erat sambil
menyandarkan wajahnya.
Tak berapa lama mereka memasuki kebun teh yang cukup luas.
Indah. Terlihat hijau seperti karpet terbentang menghampar dan bergelombang. Ya, kata yang tepat
untuk mengagumi tempat itu.
“Wah, Mas … indah banget. Sejuk lagi,” ucap
Kasih yang senang bukan kepalang.
“Bener kan, kamu nggak bakalan kecewa?”
“Bener, Mas. Eh kita berhenti bentar, ya? Aku
mau metik daun tehnya yang di
pinggir jalan Mas, sambil istirahat bentar.”
Monas mengikuti keinginan Kasih, berhenti di pinggir jalan. Kasih lalu
berjalan menyusuri kebun sambil
memetik beberapa lembar daun teh. Dia
menikmati indahnya pemandangan alam sekitar. Sejenak dia berhenti dan berdiri. Ikatan rambutnya dilepas. Matanya dipejamkan. Kedua tangannya direntangkan. Wajahnya sedikit
ditengadahkan. Dan dia mulai menghirup udara dalam-dalam dan membuangnya hingga berulangkali. Terasa segar dirasakan saat menyentuh dan memenuhi paru-parunya. Kasih tersenyum gembira. Kemudian dia membuka kameranya. Dia mulai merekam pemandangan indah di
sekitarnya itu. Monas hanya
diam sambil tersenyum kecil melihat apa yang dilakukan Kasih.
“Mas Monas, ke sini!” Kasih melambaikan
tangannya. Monas pun mendekati gadis cantik itu. “Aku pingin rekam kamu, Mas. Ayo
senyum ya?”
“Udah nggak usah, aku jelek di kamera, Kasih. Aku nggak biasa!” Monas berusaha mengelak.
“Endak apa-apa Mas, buat kenangan kita sekali-kali. Mas endak jelek kok, malah
ganteng banget.” Kasih
mengambil gambar dari segala arah di dekat Monas berdiri. “Bener, kan? Apalagi sambil senyum.” Kasih
terus mengambil gambar pria kekasihnya itu dari berbagai arah. Sementara Monas
hanya tersenyum dan membiarkannya.
“Udah Kasih, sekarang gantian. Kamu
kan pingin jadi reporter atau
presenter. Ayo! coba aku yang ambil gambarmu sekarang.”
“Ya udah,
nih Mas.” Kasih memberikan kamera itu.
“Nah sekarang kamu pura-pura jadi reporter
atau presenter tv, ya? Terus kamu kabarkan
semua hal di sini menurut kamu, ya?”
“Gimana Mas? Aku kan endak bisa ngomongnya?”
“Terserah kamu. Tapi santai aja, kita kan cuma pura-pura
ini.” Monas mulai mengarahkan kamera ke gadis di depannya. Oke ... Action!”
“Hai pemirsa yang ada di rumah ..., selamat pagi. Sekarang kita berada di suatu tempat pariwisata di kaki gunung lawu. Di perkebunan teh
yang sangaaat luas. Alangkah
indahnya alam di daerah sini pemirsa. Udaranya sejuk banget. Tak ayal, kalau sekarang kawasan ini semakin hari semakin ramai. Oh iya, tak hanya kebun teh aja lho. Tapi
juga ada beberapa candi di sini.
Salah satunya nanti kita menuju ke atas sana karena candi itu berada di atas
bukit. Kita akan lihat salah satu
warisan leluhur kita dulu. Nah, baiklah para pemirsa, kita langsung saja menuju ke sana sekarang. Bersama saya, Kasih Setiana Ramadhani, dalam acara
jalan-jalan liburan.” Kasih
tersenyum sambil merapihkan rambutnya yang terkena hembusan angin. “Gimana Mas,
bagus endak?”
“Iya bagus. Kasih, kamu berbakat. Kamu juga nggak canggung. Sini lihat rekamannya!”
Kasih kemudian melihat rekaman itu sambil
senyum-senyum sendiri. Ia melihat rambutnya sedikit mengganggu wajahnya karena tertiup angin. Sehingga sesekali jemari tangannya harus mengusap helaian rambutnya.
“Em masa kayak gini bagus, Mas?”
“Bener, sudah bagus kok. Kamu juga terlihat cantik.”
Monas memuji pacarnya itu hingga Kasih tersipu
dan mencubit pinggang Monas.
“Ah bisa aja kamu, Mas. Ayo ke candi
sekarang Mas!”
Monas Tersenyum. Sejenak dia memandangi wajah Kasih. Gadis di hadapannya itu ternyata
memang cantik sekali.
Kemudian mereka
melanjutkan berkendara ke atas bukit, menuju candi Cetho.
Saat mendekati candi, Monas lebih
berhati-hati. Jalan yang menanjak mulai
berbeda dari sebelumnya. Kasih berpegangan erat dan merapatkan tubuhnya. Di tanjakan
terakhir kira-kira tiga ratus meter ada beberapa motor bebek yang
ikut ke atas. Namun motor itu seperti
tidak punya tenaga lagi untuk menanjak. Mereka pelan sekali sampai-sampai harus berkelak-kelok
untuk sampai ke atas. Bahkan
ada beberapa yang terpaksa berhenti kemudian mendorongnya.
Di gapura candi Cetho, Kasih membuka
kamera. Dia mulai merekam kawasan candi.
“Gimana Kasih, cakep kan?”
“Iya Mas, cakep banget,” jawabnya. “Kalau lihat gapuranya ini, kok seperti di Bali,
ya? Malah ada tiga gapura lagi.”
“Iya, memang
mirip di Bali. Banyak orang yang nggak tahu lho. Padahal di
Solo juga ada tempat yang
seindah ini. Oh iya, nanti jangan berkata kotor, ya? Nah, kamera aku yang bawa aja. Sambil nanti aku ambil gambar kamu.”
“Ya udah,
nih Mas,” ucap Kasih sambil memberikan kameranya.
Keduanya mengelilingi candi yang tak terlalu luas itu. Keduanya
bergandengan tangan. Sesekali Monas merekam Kasih. Senyum kebahagian terlihat
jelas dari wajah gadis cantik itu. Kemudian
keduanya berjalan menuju
ke atas lagi dan melewati patung Dewi Saraswati. Keduanya
berjalan mengikuti jalan setapak
yang menanjak. Monas terus menggandeng
tangan Kasih. Sejenak Monas menoleh. Dia menatap
wajah Kasih yang sudah terlihat kelelahan.
“Kasih, kita duduk di pohon yang roboh itu,
ya?”
“Iya Mas. Capek ya nanjak terus?” ucapnya sambil terengah-engah.
Monas tersenyum.
“Tapi nggak rugi kan setelah sampai di sini?”
“Iya Mas, endak rugi. Indah banget.”
Keduanya duduk menghadap ke barat. Keduanya meneguk air softdrink yang mereka
beli di tempat parkir tadi. “Oh iya
Mas, kapan pernah ke sini?”
“Aku sudah lama ke sininya. Aku lupa bulan sama tanggalnya. Waktu itu aku ke sini dari siang sampai sore. Aku lihat
matahari terbenam dari sini. Warna
sunsetnya indah banget karena ada
gunung Merapi dan Merbabu di sebelah barat sana. Itu yang bikin aku suka
dengan candi ini.”
“Wah, Mas berarti beruntung ya?” Monas tersenyum dan mengangguk. Kasih
mengeluarkan buah stawberry dari tas, yang dibelinya di
pasar Sukoharjo
sebelum berangkat. Dia
mengambil satu dan memakannya. “Mas,
nih strawbery.”
“Pasti deh kamu bawa buah ini.” Monas pun mengambil
satu buah berwarna merah itu. “Kamu cinta banget sama buah ini, ya?” Monas
memakannya.
“Iya, cinta banget, Mas. Makanya aku pingin
tanam pohonnya. Nanti kita cari ya?”
“Iya, nanti kita cari.” Monas
sejenak diam dan memandangi wajah gadis cantik di sampingya itu. “Kasih, aku boleh nanya nggak?”
Kasih menoleh. “Tanya apa Mas?” Kasih menatap pria
disampingnya. “Kok sepertinya wajah Mas Monas jadi serius gini.”
“Em Kenapa kamu menyukai aku,
Kasih?”
“Em, kenapa Mas nanya seperti
ini? Mas endak percaya ya, sama
Kasih?”
“Bukan itu maksudku, aku hanya pingin tahu alasan kamu mencintaiku.” Monas memegang
tangan Kasih. “Bukankah kamu tahu perbedaan kita sangatlah jauh.”
Kasih sejenak
terdiam. Dia memandang lekat-lekat pria di hadapannya. “Mas, aku mencintaimu ya … karena cinta.
Itu saja. Dengan cinta, aku berharap ingin menjalani hidup di dunia ini dengan
kamu. Aku pingin kita selamanya bersama, tanpa dipengaruhi harta atau sesuatu
yang lain, yang bisa merusak cinta itu
sendiri. Aku percaya sama kamu, Mas. Aku percaya ketulusan dan kesetiaanmu. Sungguh
aku juga akan tulis dan setia denganmu, Mas. Dan, soal status ekonomi orangtuaku,
tolong jangan kamu jadikan penghalang cinta
ini. Aku bahagia sama kamu, Mas.”
Monas menatap
dalam Kasih. Seakan dia tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan maklhuk
cantik di depannya. Sebuah ucapan ketulusan cinta kepadanya. Dan, ucapan
kesetiaan sepenuh sungguh untuk dirinya. “Oh Kasih, aku berterimakasih
sekali. Aku juga percaya denganmu. Aku
nggak nyangka jawabanmu sedewasa ini. Aku akan menjaga cinta ini untukmu.
Aku akan berusaha menjaga
kepercayaanmu kepadaku. Aku juga
sangat menyayangimu. Dan semoga cinta ini abadi. Aku hanya ingin mengatakan ini padamu, Kasih. Mungkin hanya ini yang bisa aku ucapkan
padamu karena aku tak berani
memberikan suatu janji padamu. Hanya sebait puisi untukmu.” Monas menggenggam jemari tangan Kasih.
“Kasih...
Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang
tak sempat diucapkan
kayu kepada
api yang menjadikannya
abu.
Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana;
dengan
isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada
hujan yang menjadikannya
tiada.[1]”
Segurat senyum terlihat dari wajah Kasih. “Makasih Mas. Aku
sangat senang banget dengan puisi itu. Aku juga ingin kita bisa selalu bersama.”
Lega rasanya Monas bisa mengungkapkan rasa cintanya. Serta mendengar ketulusan cinta Kasih kepadanya. Yang tadinya dia pikir selama ini hanya sekedar main-main. Ternyata Kasih adalah
seorang gadis remaja yang telah
memiliki pemikiran yang dewasa.
Kasih menatap dalam-dalam mata Monas. Dan entah
siapa yang memulai lebih dulu, mereka pun berciuman.
“Mas, seandainya saja Mas nanti sakit atau mengalami hal yang tidak diinginkan ataupun
yang lainnya, aku
akan mendampingi Mas selalu. Tapi tolong jangan pernah menyakitiku, Mas!”
“Hei, jangan ngomong seperti itu! Aku akan menyayangimu selalu.”
“Bener ya, Mas?”
“Iya Kasih. Mas akan
menjaga cinta ini, Kasih.”
Wajah Monas kemudian mendekat lagi ke wajah Kasih. Dia pun mencium kening gadis itu. Sementara Kasih memejamkan matanya kemudian memeluk
Monas erat, seakan-akan tak ingin untuk berpisah.
“Kasih, mulai hari
ini aku akan lebih menyayangimu.”
“Makasih Mas.”
“Aku akan menjalani cinta ini dengan dewasa
dan baik denganmu, Kasih.”
Sejenak mereka
terdiam dan kemudian saling tersenyum bahagia. Tiba-tiba…
“Mas, kenapa kamu suka banget sama ikan? Sedangkan aku sukanya sama strawberry.”
“Ya, nggak tahu ya. Em kenapa kok kamu nanyanya aneh
gitu?”
“Ikan itu kan tempat hidupnya
di air, sedang strawberry di tanah. Bisa endak ya, kalau strawberry bisa tumbuh di air dan satu aliran dengan ikan? Jadi bisa
deket seperti kita gitu.” Kasih tersenyum. “Bisa endak ya?”
“Ah, yang bener aja strawberry tumbuh di air. Kalau pun bisa pasti nggak mudah Kasih. Terus biayanya juga nggak murah untuk itu. Kamu ada-ada aja.”
“Yee, itu kan kalau bisa.”
“Kalau cuma biar bisa deket, ya tinggal
dideketin aja keduanya. Gampang kan?” jawab Monas tak mau mengalah.
“Hemmm.” Kasih
tersenyum. “Coba Mas yang bisa melakukan itu, aku akan bangga banget sama Mas.”
“Waduh, berat
amat Kasih. Kamu bangga sama aku aja harus seperti itu.” Monas memegang jemari Kasih. “Em,
tapi baiklah demi kamu, aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Kalau ada kemampuanku untuk itu aku
akan lakukan. Di dunia ini semua
bisa jadi terwujud asal kita mau berusaha. Iya, nggak?”
“Hehehe, becanda Mas,
becanda ….” Kasih tersenyum. Keduanya pun kembali memakan buah berwarna merah
itu. Kasih menyuapi Monas dengan buah itu. Rasa bahagia menghinggapi mereka. “Oh iya, ayo Mas sudah siang, kita pulang yuk! Tapi nanti nyari strawberry dulu ya? Terus makan ikan bakar kesukaan Mas.”
“Yuk sayangku. Aku akan menemanimu. Tapi
kita ke kolam patung dewi Saraswati
dulu, berputar sama lempar koin ya? Tapi jangan lupa buka alas kaki dulu
ya!”
“Baik Mas, semoga hubungan kita ini bisa langgeng.”
Keduanya berjalan bergandengan tangan. Setelah
melempar koin dan memakai kembali alas kaki, mereka berjalan turun dan keluar dari kawasan candi itu.
Rasa bahagia pun menyelimuti karena mereka sama-sama menemukan kecocokan. Dan yakin akan tujuan mereka, menjalin sebuah hubungan untuk menjalani hidup bersama kelak dengan didasari cinta dan
kasih sayang. Walaupun hidup
tak semudah yang dibayangkan, namun mereka berkomitmen atas hubungan mereka di hari itu.
Kembali keduanya
berkendara menuruni bukit dengan
jalan yang curam. Kembali
melewati jalan yang sama saat datang. Terlihat
para warga sekitar tempat wisata
turut berpartisipasi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka mengatur
naik turunnya kendaraan yang
datang silih berganti.
Monas dan Kasih mengambil arah kiri setelah
sampai di pertigaan. Mereka terus menuju ke atas. Sampai di daerah Kalisoro
keduanya berhenti. Mereka sampai di kebun strawberry yang luas. Kasih yang
melihat tanaman kesukaaanya itu langsung gembira bukan main. Dia turun dari
motor dan bergegas masuk. Di sekelilingnya banyak strawberry yang merah dan ranum. Dia
memetik dan memakannya. Monas hanya tersenyum melihat kekasihnya tampak
bahagia. Kasih pun tak lupa mengeluarkan kameranya lagi dan mengambil gambar di
kebun itu. Setelah puas di kebun strawberry mereka pulang.
“Lho, kok ambil dua pot. Buat siapa?”
“Yang satu buat kamu, Mas. Mas juga harus merawat tanaman
strawberry ini.”
“Oo ... gitu ya. Tapi nanti kalau mati gimana?”
“Pokoknya endak boleh mati!”
sahut Kasih.
Monas tersenyum saat melihat wajah Kasih yang berubah cemberut. Kemudian dia berusaha untuk membuat
kekasihnya itu bisa tersenyum lagi. “Iya, insyaallah nggak mati deeh. Kasih, kita mau makan di mana?”
“Di rumah makan depan
aja Mas, yang kita lewati tadi ya?”
“Oke, tapi aku sudah laper banget ini.”
“Ya ditahanlah Mas.”
“Iya iya, aku tahan.” Monas tersenyum dan
menarik hidung Kasih. “Kalau nggak
ditahan emang mau diapain?” Kasih terlihat
meringis. Dia pun segera membalas perlakuan Monas dengan mencubit pinggang pria
itu.
Mereka kembali menuruni jalan untuk pulang. Keduanya menuruni jalan yang
berkelok itu terlihat sangat
mesra. Pegangan erat tangan Kasih
seolah benar-benar tak ingin lepas dari
Monas. Tak berapa lama, mereka pun sampai
di rumah makan dan menghentikan
motornya. Keduanya masuk ke sebuah rumah makan. Dari dalam seorang wanita muda mendatangi sambil tersenyum dan menyapa dengan ramah.
“Selamat datang
di rumah makan kami. Mas yang ganteng dan Mbak yang cakep, mau pesan apa?”
“Terimakasih
Mbak. Kami pesan dua porsi ikan gurame bakarnya ya,
Mbak?”
“Terus minumnya apa, Mas?”
“Em kamu minumnya apa, Kasih?”
“Aku, teh
botol sama jus strawberry.”
“Minumnya
dua teh botol dan jus strawberry,
Mbak?” jawab Monas.
Wanita itu
mencatat pesanan Monas dan Kasih. “Nggih
Mas, mohon ditunggu ya?”
Saat menunggu,
tiba-tiba hp Monas berbunyi. Ada pesan yang masuk ke hp-nya.
Monas membaca pesan singkat itu.
“Bro, ntar jam 3 ke basecam ya? kita start hari ini, oke?”
“Dari siapa Mas?” tanya Kasih penasaran. “Dari
cewek ya?”
“Bukan, ini dari Agung. Nih, baca
sendiri!” sambil memberikan hp-nya.
“Oo … kirain dari cewek di kampus, Mas.”
“Kamu cemburu ya? Kalau aku deket sama cewek lain.”
“Pokoknya awas kalau punya cewek lain!” ucap Kasih sambil cemberut.
“Ya enggaklah. Kalaupun ada cewek lain yang deket sama aku, aku akan berteman aja kok. Kamu tenang aja,
percaya sama aku! Kan, aku sudah punya kamu. Kasihku yang
cakep, pengertian dan baik hati.”
Kasih akhirnya tersenyum kembali. Setelah beberapa
saat menunggu dua orang wanita datang membawa pesenan mereka.
“Ini Mas, Mbak,
pesanannya. Maaf kalau agak lama, nggih.”
“Oh makasih Mbak. Ini nggak lama kok, makasih .…”
“Monggo, silakan Mas, Mbak …!” Wanita muda tadi mempersilakan dengan ramah setelah
menata pesanan di meja Monas dan Kasih.
“Nggih Mbak ….” Dua orang pelayan yang
membawa pesanan tadi kemudian
ke belakang. “Kasih, ayo dimakan! Nggak
usah malu-malu sama aku, ya?
Makan yang banyak ya biar nggak kurus?” ucap Monas sambil memberikan senyumnya
ke Kasih saat meminum jusnya.
“Hmm mulai lagi
deh.” Kasih menaruh gelas jus strawberrynya. “Aku endak malu kok, wekk.” Kasih langsung mencuci tangan dengan air yang ada di mangkuk
depannya. Dia pun mengambil nasi yang banyak di piring dan menaruh ikan bakar
diatasnya. Sambal dan lalapannya pun tak ketinggalan.
Monas hanya
bengong tak percaya dengan apa yang dilakukan Kasih. Namun kemudian…
“Nih Mas,
dihabisin ya?” Kasih dengan tersenyum memberikan sepiring penuh makanan tadi ke
depan Monas. Dia kemudian tertawa puas telah menjahili kekasihnya.
Sontak Monas pun
ikut tertawa. Dia kira makanan itu akan dimakan Kasih, tapi ternyata diberikan
untuknya. Beberapa saat kemudian Monas menatap wajah Kasih. Dia memasang wajah
serius dan tajam ke gadis cantik di depannya. “Kamu jaaahat.”
Keduanya pun akhirnya
tersenyum dan tertawa bersama, lalu mulai menikmati makanan yang mereka pesan. Ikan
bakar yang lezat dengan bumbu pedas manis yang khas, menjadikan masakan itu bertambah nikmat. Meski suasana
yang sedikit panas, namun mereda saat hembusan angin dari bukit datang.
Keduanya menyandarkan
badan di dinding seusai makan.
“Sayang, em makasih ya, atas semua ini dan
kepercayaan kamu kepadaku. Semoga
kita menjalani ini indah selalu.”
“Iya Mas, mudah-mudahan.”
“Ayo kita pulang! Aku nanti ke Solo lagi. Ada perlu.”
“Iya Mas, ayo pulang. Nanti bapak sama ibuku curiga kalau mainnya lama-lama.”
“Yuk, sayang!”
Keduanya beranjak pulang setelah membayar makanan mereka. Harga yang
sangat murah untuk sebuah makanan di tempat itu. Tak semahal harga
makanan di mall.
Mereka kembali berkendara ke arah barat terus ke selatan menuju
kota kabupaten Sukoharjo. Monas mengantarkan Kasih kembali ke depan pasar tempat mereka janjian tadi
pagi. Hampir sampai Monas memelankan laju motornya.
“Mas, depan
parkiran itu ya?”
Monas menuruti
permintaan Kasih lalu berhenti. “Di
sini?”
“Iya, dah di sini. Aku parkir motorku di sini. Mas langsung ke Solo sekarang?”
“Iya, aku langsung. Emang ada apa lagi?”
“Endak ada, hati-hati
ya, Mas? Em makasih ya, udah
nganter aku jalan-jalan
sambil beli tanaman strawberry.”
“Aku yang makasih banget, atas semuanya tadi Kasih. Kamu juga hati-hati ya? Oya tanaman strawberrynya kamu bawa dulu aja. Nanti diambil lain waktu.”
“Ya sudah, hati-hati
Mas. Aku sayang Mas.”
“Iya. Aku juga sayang. Aku duluan ya?”
“Iya.”
Monas pun meninggalkan
Kasih di tempat parkir. Sementara Kasih
masih saja memandangi pria tampan itu sampai menghilang
dari pandangan. Dia melihat jam tangannya.
“Aduh! sudah jam dua, aku harus cepat-cepat sampai rumah. Mudah-mudahan bapak sama ibu endak curiga kalau
aku sudah jalan sama mas
Monas,” ucapnya.
Kasih menuju
motornya yang diparkir. Setelah menunjukkan tanda parkirnya dia menstarter
motor maticnya dan menjalankannya menuju ke arah selatan. Dengan sedikit tergesa-gesa bercampur rasa bahagia
dia terus melaju. Saat sampai, ibunya terlihat sudah ada
di depan rumah dan sedang
menunggunya.
“Kasih, kamu
pergi ke mana kok baru pulang? Katanya mainnya cuma sebentar?”
“Em anu Ibu, abis dari gunung Lawu. Beli strawberry bareng temen,
jadi agak lama perginya.”
“Kamu beli strawberry, mana?”
“Niki[1]Bu.”
Kasih menunjukkannya sebungkus buah strawberry dan dua pot pohonnya.
“Oo yowis,
ditaruh di taman belakang rumah sana aja! Kamu beli dua pot?”
“Inggih Bu. Em bapak mana, Bu?”
“Bapakmu masih
di toko, belum pulang. Paling bentar lagi. Ibu kira kamu main sama wong
lanang[2]?”
“Mboten[3] Bu.”
“Kasih, kalau kamu jalan sama wong
lanang, nanti bapakmu
marah-marah lho. Inget kamu
masih sekolah, masih anak SMA. Kamu belum kuliah dan belum kerja. Ngerti!”
“Nggih Bu.” Kasih menundukkan pandangannya. “Em,
Kasih mau langsung naruh strawberrynya dulu ke belakang nggih, Bu?”
“Yowis, bawa ke
sana.”
Kasih
berjalan tanaman itu ke
ruangan samping, terus menuju
taman belakang rumah dan menaruhnya.
Lantas dia masuk ke kamar. Duduk sebentar sambil
menaruh tas. Dia merebahkan tubuhnya di kasur. Dia tersenyum. Kejadian indah yang baru saja dialaminya saat di candi
Cetho masih membayang. Teringat akan sebuah ciuman pertamanya.
“Oh senangnya aku hari ini. Bisa jalan sama mas Monas. Dia menanyakan padaku, kenapa aku begitu
menyukainya. Dan mas Monas juga ternyata benar-benar menyayangiku. Dengan
kejujurannya serta kesetiannya kapadaku.” Kasih memegang bibirnya. “Dia juga menciumku.” Sejenak dia memejamkan mata. Kemudian
dia tersenyum. “Alangkah indahnya hari ini. Makasih ya mas, kamu akan menjaga
cinta ini selamanya. Walau kita sekarang masih sembunyi-sembunyi. Makasih
sayangku. Aku sayang kamu mas Monas,” ucapnya pelan. [ ]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar