Kamis, 28 Agustus 2014

Menyatukan Hati



Menyatukan hati




MINGGU PAGI sinar matahari perlahan mulai meninggi. Semburat merahnya berubah menjadi kuning keputihan. Burung-burung kecil liar terdengar saling lantang berkicau. Beradu merdu. Namun Monas belum bangun juga. Padahal jam dinding sudah menunjuk pukul 07:00 lewat. Dirinya masih terbuai oleh kasurnya yang empuk.  
Toktoktok!
Terdengar suara ketukan di pintu.
“Nas, sudah pagi. Cepet bangun! Terus sarapan ….Suara mbah Putri membangunkannya dari luar. Namun belum ada suara balasan yang terdengar dari dalam kamar. “Nas …, sudah pagi. Ayo cepet bangun! Mbah mau pergi ke pasar dulu yo?”
Nenek itu mencoba membangunkan lagi.
Ehg … ehg … nggih Mbah …,” jawab Monas. Kemudian sang nenek pun berlalu. Sementara Monas masih enggan bangkit dari kasurnya. Ingin rasanya dia memejamkan mata lagi. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu. Aduh gawat !!!” Dia terperanjat. Dia teringat pagi itu ada janji dengan Kasih. “Jam berapa ini?” sambil melihat ke dinding kamar. Menatap tajam. “Sudah jam tujuh lewat sepuluh. Ah gawat, kalau aku kesiangan, Kasih pasti bisa ngambek,ucapnya.
Monas langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi. Dia nampak terburu-buru sekali. Sekembalinya ke kamar, dia melihat  sudah ada satu pesan masuk dari kasih di hp-nya.
Mas, jangan lupa ya? Aku tunggu.”
Demi bertemu si pujaan hati dengan cepat dia merapihkan diri. Mengganti pakaian dan mematutkan diri sejenak di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang gondrong, tak lupa sedikit parfum disemprotkan ke tubuhnya. Dengan menaiki motor dia bergegas menemui kekasihnya. Sudah cukup lama keduanya tak bertemu. Kalaupun bisa bertemu, itu pun hanya dengan cara sembunyi-sembunyi. Semua itu bisa terjadi karena cinta. Cinta yang sedang membuncah. Cinta nan indah yang terjalin oleh dua insan muda-mudi yang baru membara.
Selama dalam perjalanan, dia menyadari betapa bahagianya karena Kasih mau mencintainya dengan segala kekurangan yang ada pada dirinya. Dan di dalam hatinya selalu mengharap agar Kasih menjadi jodohnya untuk selamanya. Namun dia agak sedikit khawatir jika nanti Kasih marah karena keterlambatannya.  
Di pinggir jalan dekat pasar Sukoharjo, seorang gadis memakai baju lengan panjang warna merah bermotif dari kain tenun tradisional dengan bawahan celana jeans sedang berdiri sendirian. Rambutnya panjang lurus dan berponi. Ikatan warna putih di rambutnya semakin menambah cantik makhluk ciptaan Tuhan itu. Setiap pria yang melintas pun tak mau melewatkan begitu saja untuk sekedar manatapnya. Penampilan Kasih hari itu tampak begitu dewasa, meski sebenarnya dia masih seorang pelajar SMA. Tak berapa lama seorang pemuda dengan menunggangi motor datang menghampiri dan berhenti di depannya.
“Hai Kasih, Maafin ya, aku telat?” ucap Monas sambil membuka helm.
Kasih tersenyum. “Ndak apa-apa, Mas.” 
“Beneran aku minta maaf banget. Kamu belum lama kan nunggunya?” Monas merasa bersalah karena keterlambatannya.
“Iya, Kasih maafin kok Mas. Cuma sepuluh menit nunggunya.”
“Syukurlah baru bentar, heu.” Monas merasa lega. “Ayo naik!” Kasih memakai helmnya. Ketika Kasih hendak naik di belakang. “Eit … tunggu dulu!” Monas memegang tangan Kasih.
Kasih sedikit kaget. “Ada apa Mas?
Em, nggak kok. Sini!” Monas meraih helm yang dipakai Kasih dan mengunci pengaman helm itu. “Makai helmnya yang bener.”
Em kirain apa? Makasih Mas,” sambil tersenyum.
Nah sekarang udah siap. Ayo naik!” Kasih pun naik, tangannya langsung berpegangan ke pinggang, tubuhnya merapat ke badan Monas. “Kasih, kamu mau ajak jalan aku ke mana nih?
Em kita ke gunung aja ya, Mas. Pemandangannya indah di sana, sambil lihat candi. Terus siangnya kita makan ikan bakar.”
Oke, tapi candi apa? Kan, candi di sini banyak.”
Kita ke candi Cetho aja Mas. Katanya indah di sana, ada kebun tehnya, terus ada air terjunnya juga nggak jauh dari situ. Eh Mas udah pernah ke sana belum? Kalau aku sih belum.”
Udah. Memang indah kok di sana, nanti kamu nggak akan bosan Kasih. Pasti lain waktu kamu pingin ke sana lagi.”
Kasih tersenyum senang. Bener, Mas? Ya udah kita ke sana.” Namun kemudian wajahnya tiba-tiba berubah murung. “Tapi ada tanaman strawberry endak di sana? Mas, aku pingin punya tanaman strawberry. Aku pingin ngerawat tanaman itu biar bisa buahan.”
“Nanti kita cari di sana, ucap Monas.
Cariin lho, ya?”
“Iya, demi kamu pokoknya.”
Monas tersenyum ke samping kiri, dekat dengan wajah Kasih. Kasih juga membalas senyuman pria tampan di depan yang menjadi kekasihnya. Kemudian motor itu melaju pelan. Terus melaju ke timur lalu berbelok ke kiri. Mereka terlihat sangat serasi.  Sepanjang perjalanan ke gunung lawu, banyak orang yang menatap iri bila melihat kemesraan keduanya.
Saat di lampu merah di kota Karanganyar, Monas melihat anak kecil lusuh sedang meminta-minta. Terlihat memprihatinkan. Anak kecil itu membuat hati Monas jadi miris dan iba. Menurutnya, belum waktunya bagi si bocah mencari uang untuk hidup. Dan seharusnya bocah itu masih berada di sekolah untuk belajar. Monas pun menyadari kemungkinan karena orangtuanya tak mampu menghidupinya.
Kasih, tolong kamu berikan uang ke anak itu ya? Kalau dia kemari. Ambil di kantong jacketku!”
Iya Mas, nanti aku yang berikan.”
Saat anak kecil itu di depan mereka. Kasih menyodorkan tangannya. Dia memberikan dua lembar uang kertas ke anak jalanan itu. “Ini Dik, buat kamu.”
“Terimakasih banyak Mbak cakep.
“Iya. Uangnya semoga bermanfaat ya, Dik?”
“Iya, makasih Mbak cakep.”
Anak kecil itu pun pergi, beralih ke pengendara yang lain. Seiring lampu berganti hijau, keduanya pun melanjutkan perjalanan. Monas berkendara tak seperti biasanya. Pagi itu dia tampak sedikit lebih pelan menarik gas motor, sebab dia tak mau terjadi hal-hal yang tak diinginkan kepada gadis yang diboncengnya. Seorang gadis yang sangat disayanginya.
“Mas, kasihan ya anak tadi?”
“Iya, Kasih. Kita lebih beruntung dibanding dia. Sudah selayaknya kita meringankan beban buatnya.”
“Em tapi Mas, bukannya sekarang ini mengemis itu menjadi suatu pekerjaan? Karena uang yang didapat banyak, cepat, endak pakai capek lagi.”
Kalau benar seperti itu, biarlah Allah yang menilainya, ya? Kita hanya membantu semampunya kita saja, dan harus ikhlas.”
Kasih tersenyum manis. “Iya Mas.”
“Oh iya, kamu tadi beralasan apa ke orangtuamu? Kok, kita bisa jalan.
“Aku bilang mau main ke temenku, Mas. Pulangnya sore gitu, habis bosen di rumah. Mas tahu kan orangtuaku gimana?
“Bisaan kamu, tapi kamu itu bohong lho?”
“Iya sih Mas. Mudah-mudahan orangtuaku  maafin aku nantinya. Masa anaknya sendiri endak dimaafin, Hehehe ....” ucap kasih sambil nyengir. Sementara Monas ikut tersenyum. Sepanjang perjalanan mereka berdua terlihat begitu bahagia. Saling berbagi senyum, tawa, dan canda.
Sesampai di daerah Karangpandan, Monas mengambil arah kiri. Tak berapa lama jalan mulai naik turun dan berkelok. Monas bersyukur karena jalan yang dilewatinya bersama Kasih hari itu sudah diperbaiki. Tak seperti tahun yang lalu saat dia ke tempat itu masih dalam kondisi jalann yang rusak.
 “Eh Mas, sudah deket ya candinya?
“Bentar lagi Kasih, lewat kebun tehnya dulu. Candinya ada di atasnya. Eh pegangan yang kuat sebab tanjakan sama turunannya serem.
“Iya.” Kasih memperhatikan kanan kiri jalan.  Ada sesuatu yang menarik baginya. “Eh Mas, situ ada yang jualan macem-macem bunga. Bunganya cakep-cakep, ya?”
“Iya cakep-cakep.”
Jalanan semakin menanjak kala memasuki kaki gunung Lawu. Udara semakin dingin. Kasih tetap melingkarkan lengannya di pinggang Monas. Memeluk erat sambil menyandarkan wajahnya.
Tak berapa lama mereka memasuki kebun teh yang cukup luas. Indah. Terlihat hijau seperti karpet terbentang menghampar dan bergelombang. Ya, kata yang tepat untuk mengagumi tempat itu.
“Wah, Mas … indah banget. Sejuk lagi,” ucap Kasih yang senang bukan kepalang.
Bener kan, kamu nggak bakalan kecewa?”
“Bener, Mas. Eh kita berhenti bentar, ya? Aku mau metik daun tehnya yang di pinggir jalan Mas, sambil istirahat bentar.”
Monas mengikuti keinginan Kasih, berhenti di pinggir jalan. Kasih lalu berjalan menyusuri kebun sambil memetik beberapa lembar daun teh. Dia menikmati indahnya pemandangan alam sekitar. Sejenak dia berhenti dan berdiri. Ikatan rambutnya dilepas. Matanya dipejamkan. Kedua tangannya direntangkan. Wajahnya sedikit ditengadahkan. Dan dia mulai menghirup udara dalam-dalam dan membuangnya hingga berulangkali. Terasa segar dirasakan saat menyentuh dan memenuhi paru-parunya. Kasih tersenyum gembira. Kemudian dia membuka kameranya. Dia mulai merekam pemandangan indah di sekitarnya itu. Monas hanya diam sambil tersenyum kecil melihat apa yang dilakukan Kasih.
“Mas Monas, ke sini!” Kasih melambaikan tangannya. Monas pun mendekati gadis cantik itu. “Aku pingin rekam kamu, Mas. Ayo senyum ya?”
Udah nggak usah, aku jelek di kamera, Kasih. Aku nggak biasa!”  Monas berusaha mengelak.
“Endak apa-apa Mas, buat kenangan kita sekali-kali. Mas endak jelek kok, malah ganteng banget.” Kasih mengambil gambar dari segala arah di dekat Monas berdiri. “Bener, kan? Apalagi sambil senyum.” Kasih terus mengambil gambar pria kekasihnya itu dari berbagai arah. Sementara Monas hanya tersenyum dan membiarkannya.
“Udah Kasih, sekarang gantian. Kamu kan pingin jadi reporter atau presenter. Ayo! coba aku yang ambil gambarmu sekarang.
“Ya udah, nih Mas.” Kasih memberikan kamera itu.
“Nah sekarang kamu pura-pura jadi reporter atau presenter tv, ya? Terus kamu kabarkan semua hal di sini menurut kamu, ya?”
“Gimana Mas? Aku kan endak bisa ngomongnya?”
“Terserah kamu. Tapi santai aja, kita kan cuma pura-pura ini.” Monas mulai mengarahkan kamera ke gadis di depannya. Oke ...  Action!
“Hai pemirsa yang ada di rumah ..., selamat pagi. Sekarang kita berada di suatu tempat pariwisata di kaki gunung lawu. Di perkebunan teh yang sangaaat luas. Alangkah indahnya alam di daerah sini pemirsa. Udaranya sejuk banget. Tak ayal, kalau sekarang  kawasan ini semakin hari semakin ramai. Oh iya, tak hanya kebun teh aja lho. Tapi juga ada beberapa candi di sini. Salah satunya nanti kita menuju ke atas sana karena candi itu berada di atas bukit. Kita akan lihat salah satu warisan leluhur kita dulu. Nah, baiklah para pemirsa, kita langsung saja menuju ke sana sekarang. Bersama saya, Kasih Setiana Ramadhani, dalam acara jalan-jalan liburan.” Kasih tersenyum sambil merapihkan rambutnya yang terkena hembusan angin. “Gimana Mas, bagus endak?”
“Iya bagus. Kasih, kamu berbakat. Kamu juga nggak canggung. Sini lihat rekamannya!
Kasih kemudian melihat rekaman itu sambil senyum-senyum sendiri. Ia melihat rambutnya  sedikit mengganggu wajahnya karena tertiup angin. Sehingga sesekali jemari tangannya harus mengusap helaian rambutnya.
Em masa kayak gini bagus, Mas?
“Bener, sudah bagus kok. Kamu juga terlihat cantik.”
Monas memuji pacarnya itu hingga Kasih tersipu dan mencubit pinggang Monas.
“Ah bisa aja kamu, Mas. Ayo ke candi sekarang Mas!
Monas  Tersenyum. Sejenak dia memandangi wajah Kasih. Gadis di hadapannya itu ternyata memang cantik sekali.
Kemudian mereka melanjutkan berkendara ke atas bukit, menuju candi Cetho. Saat mendekati candi, Monas lebih berhati-hati. Jalan yang menanjak mulai berbeda dari sebelumnya. Kasih berpegangan erat dan merapatkan tubuhnya. Di tanjakan terakhir kira-kira tiga ratus meter ada beberapa motor bebek yang ikut ke atas. Namun motor itu seperti tidak punya tenaga lagi untuk menanjak. Mereka pelan sekali sampai-sampai harus berkelak-kelok untuk sampai ke atas. Bahkan ada beberapa yang terpaksa berhenti kemudian mendorongnya.
Di gapura candi Cetho, Kasih membuka kamera. Dia mulai  merekam kawasan candi.
“Gimana Kasih, cakep kan?”
“Iya Mas, cakep banget,” jawabnya. “Kalau lihat gapuranya ini, kok seperti di Bali, ya? Malah ada tiga gapura lagi.”
“Iya, memang mirip di Bali. Banyak orang yang nggak tahu lho. Padahal di Solo juga ada tempat yang seindah ini. Oh iya, nanti jangan berkata kotor, ya?  Nah, kamera aku yang bawa aja. Sambil nanti aku ambil gambar kamu.”
“Ya udah, nih Mas,” ucap Kasih sambil memberikan kameranya.
Keduanya mengelilingi candi yang tak terlalu luas itu. Keduanya bergandengan tangan. Sesekali Monas merekam Kasih. Senyum kebahagian terlihat jelas dari wajah gadis cantik itu. Kemudian keduanya berjalan menuju ke atas lagi dan melewati patung Dewi Saraswati. Keduanya berjalan mengikuti jalan setapak yang menanjak. Monas terus menggandeng tangan Kasih.  Sejenak Monas menoleh. Dia menatap wajah Kasih yang sudah terlihat kelelahan.
Kasih, kita duduk di pohon yang roboh itu, ya?”      
“Iya Mas. Capek ya nanjak terus?” ucapnya sambil terengah-engah.
Monas tersenyum. “Tapi nggak rugi kan setelah sampai di sini?”
“Iya Mas, endak rugi. Indah banget.” Keduanya duduk menghadap ke barat. Keduanya meneguk air softdrink yang mereka beli di tempat parkir tadi. “Oh iya Mas, kapan pernah ke  sini?”
“Aku sudah lama ke sininya. Aku lupa bulan sama tanggalnya. Waktu itu aku ke sini dari siang sampai sore. Aku lihat matahari terbenam dari sini. Warna sunsetnya indah banget karena ada gunung Merapi dan Merbabu di sebelah barat sana. Itu yang bikin aku suka dengan candi ini.”
“Wah, Mas berarti beruntung ya?” Monas tersenyum dan mengangguk. Kasih mengeluarkan buah stawberry dari tas, yang dibelinya di pasar Sukoharjo sebelum berangkat. Dia mengambil satu dan memakannya. “Mas, nih strawbery.”
“Pasti deh kamu bawa buah ini.” Monas pun mengambil satu buah berwarna merah itu. “Kamu cinta banget sama buah ini, ya?” Monas memakannya.
“Iya, cinta banget, Mas. Makanya aku pingin tanam pohonnya. Nanti kita cari ya?”
“Iya, nanti kita cari.” Monas sejenak diam dan memandangi wajah gadis cantik di sampingya itu. “Kasih, aku boleh nanya nggak?”
Kasih menoleh. “Tanya apa Mas?” Kasih menatap pria disampingnya. “Kok sepertinya wajah Mas Monas jadi serius gini.”
Em Kenapa kamu menyukai aku, Kasih?
“Em, kenapa Mas nanya seperti ini? Mas endak percaya ya, sama Kasih?”
“Bukan itu maksudku, aku hanya pingin tahu alasan kamu mencintaiku.” Monas memegang tangan Kasih. “Bukankah kamu tahu perbedaan kita sangatlah jauh.”
Kasih sejenak terdiam. Dia memandang lekat-lekat pria di hadapannya. “Mas, aku mencintaimu ya … karena cinta. Itu saja. Dengan cinta, aku berharap ingin menjalani hidup di dunia ini dengan kamu. Aku pingin kita selamanya bersama, tanpa dipengaruhi harta atau sesuatu yang lain, yang bisa merusak cinta itu sendiri. Aku percaya sama kamu, Mas. Aku percaya ketulusan dan kesetiaanmu. Sungguh aku juga akan tulis dan setia denganmu, Mas. Dan, soal status ekonomi orangtuaku, tolong jangan kamu jadikan penghalang cinta ini. Aku bahagia sama kamu, Mas.
Monas menatap dalam Kasih. Seakan dia tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan maklhuk cantik di depannya. Sebuah ucapan ketulusan cinta kepadanya. Dan, ucapan kesetiaan sepenuh sungguh untuk dirinya. “Oh Kasih, aku berterimakasih sekali. Aku juga percaya denganmu. Aku nggak nyangka jawabanmu sedewasa ini. Aku akan menjaga cinta ini untukmu. Aku akan berusaha menjaga kepercayaanmu kepadaku. Aku juga sangat menyayangimu. Dan semoga cinta ini abadi. Aku hanya ingin mengatakan ini padamu, Kasih. Mungkin hanya ini yang bisa aku ucapkan padamu karena aku tak berani memberikan suatu janji padamu. Hanya sebait puisi untukmu.” Monas menggenggam jemari tangan Kasih.

Kasih...
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.[1]


[1]Kutipan Puisi “aku ingin” karya dari bpk Sapardi Djoko Damono.



Segurat senyum terlihat dari wajah Kasih. Makasih Mas. Aku sangat senang banget dengan puisi itu. Aku juga ingin kita bisa selalu bersama.”
Lega rasanya Monas bisa mengungkapkan rasa cintanya. Serta mendengar ketulusan cinta Kasih kepadanya. Yang tadinya dia pikir selama ini hanya sekedar main-main. Ternyata Kasih adalah seorang gadis remaja yang telah memiliki pemikiran yang dewasa.
Kasih menatap dalam-dalam mata Monas. Dan entah siapa yang memulai lebih dulu, mereka pun berciuman.
“Mas, seandainya saja Mas nanti sakit atau mengalami hal yang tidak diinginkan ataupun yang lainnya,  aku akan mendampingi Mas selalu. Tapi tolong jangan pernah menyakitiku, Mas!”
“Hei, jangan ngomong seperti itu! Aku akan menyayangimu selalu.”
Bener ya, Mas?
Iya Kasih. Mas akan menjaga cinta ini, Kasih.
Wajah Monas kemudian mendekat lagi ke wajah Kasih. Dia pun mencium kening gadis itu. Sementara Kasih memejamkan matanya kemudian memeluk Monas erat, seakan-akan tak ingin untuk berpisah.
Kasih, mulai hari ini aku akan lebih menyayangimu.”
Makasih Mas.”
Aku akan menjalani cinta ini dengan dewasa dan baik denganmu, Kasih.”
Sejenak mereka terdiam dan kemudian saling tersenyum bahagia. Tiba-tiba…
“Mas, kenapa kamu suka banget sama ikan? Sedangkan aku sukanya sama strawberry.”
Ya, nggak tahu ya. Em kenapa kok kamu nanyanya aneh gitu?”
Ikan itu kan tempat hidupnya di air, sedang strawberry di tanah. Bisa endak ya, kalau strawberry bisa tumbuh di air dan satu aliran dengan ikan? Jadi bisa deket seperti kita gitu.” Kasih tersenyum. “Bisa endak ya?”
Ah, yang bener aja strawberry tumbuh di air. Kalau pun bisa pasti nggak mudah Kasih. Terus biayanya juga nggak murah untuk itu. Kamu ada-ada aja.”
Yee, itu kan kalau bisa.”
 “Kalau cuma biar bisa deket, ya tinggal dideketin aja keduanya. Gampang kan?” jawab Monas tak mau mengalah.
“Hemmm.” Kasih tersenyum. “Coba Mas yang bisa melakukan itu, aku akan bangga banget sama Mas.”
Waduh, berat amat Kasih. Kamu bangga sama aku aja harus seperti itu.” Monas memegang jemari Kasih. “Em, tapi baiklah demi kamu, aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Kalau ada kemampuanku untuk itu aku akan lakukan. Di dunia ini semua bisa jadi terwujud asal kita mau berusaha. Iya, nggak?
Hehehe, becanda Mas, becanda ….” Kasih tersenyum. Keduanya pun kembali memakan buah berwarna merah itu. Kasih menyuapi Monas dengan buah itu. Rasa bahagia menghinggapi mereka. “Oh iya, ayo Mas sudah siang, kita pulang yuk! Tapi nanti nyari strawberry dulu ya? Terus makan ikan bakar kesukaan Mas.”
Yuk sayangku. Aku akan menemanimu. Tapi kita ke kolam patung dewi Saraswati dulu, berputar sama lempar koin ya? Tapi jangan lupa buka alas kaki dulu ya!”
Baik Mas, semoga hubungan kita ini bisa langgeng.”
Keduanya berjalan bergandengan tangan. Setelah melempar koin dan memakai kembali alas kaki, mereka berjalan turun dan keluar dari kawasan candi itu. Rasa bahagia pun menyelimuti karena mereka sama-sama menemukan kecocokan. Dan yakin akan tujuan mereka, menjalin sebuah hubungan untuk menjalani hidup bersama kelak dengan didasari cinta dan kasih sayang. Walaupun hidup tak semudah yang dibayangkan, namun mereka berkomitmen atas hubungan mereka di hari itu.
Kembali keduanya berkendara menuruni bukit dengan jalan yang curam. Kembali melewati jalan yang sama saat datang. Terlihat para warga sekitar tempat wisata turut berpartisipasi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka mengatur naik turunnya kendaraan yang datang silih berganti.
Monas dan Kasih mengambil arah kiri setelah sampai di pertigaan. Mereka terus menuju ke atas. Sampai di daerah Kalisoro keduanya berhenti. Mereka sampai di kebun strawberry yang luas. Kasih yang melihat tanaman kesukaaanya itu langsung gembira bukan main. Dia turun dari motor dan bergegas masuk. Di sekelilingnya banyak strawberry yang merah dan ranum. Dia memetik dan memakannya. Monas hanya tersenyum melihat kekasihnya tampak bahagia. Kasih pun tak lupa mengeluarkan kameranya lagi dan mengambil gambar di kebun itu. Setelah puas di kebun strawberry mereka pulang.
Lho, kok ambil dua pot. Buat siapa?”
Yang satu buat kamu, Mas. Mas juga harus merawat tanaman strawberry ini.”
Oo ... gitu ya. Tapi nanti kalau mati gimana?
Pokoknya endak boleh mati!” sahut Kasih.
Monas tersenyum saat melihat wajah Kasih yang berubah cemberut. Kemudian dia berusaha untuk membuat kekasihnya itu bisa tersenyum lagi.Iya, insyaallah nggak mati deeh.  Kasih, kita mau makan di mana?
Di rumah makan depan aja Mas, yang kita lewati tadi ya?”
Oke, tapi aku sudah laper banget ini.”
Ya ditahanlah Mas.
Iya iya, aku tahan.” Monas tersenyum dan menarik hidung Kasih. “Kalau nggak ditahan emang mau diapain?”  Kasih terlihat meringis. Dia pun segera membalas perlakuan Monas dengan mencubit pinggang pria itu.
Mereka kembali menuruni jalan untuk pulang. Keduanya menuruni jalan yang berkelok itu terlihat sangat mesra. Pegangan erat tangan Kasih seolah  benar-benar tak ingin lepas dari Monas. Tak berapa lama, mereka pun sampai di rumah makan dan menghentikan motornya. Keduanya  masuk ke sebuah rumah makan. Dari dalam seorang wanita muda mendatangi sambil tersenyum dan menyapa dengan ramah.
“Selamat datang di rumah makan kami. Mas yang ganteng dan Mbak yang cakep, mau pesan apa?
“Terimakasih Mbak. Kami pesan dua porsi ikan gurame bakarnya ya, Mbak?”
Terus minumnya apa, Mas?”
Em kamu minumnya apa, Kasih?”
Aku, teh botol sama jus strawberry.”
 Minumnya dua teh botol dan jus strawberry, Mbak?” jawab Monas.
Wanita itu mencatat pesanan Monas dan Kasih. “Nggih Mas, mohon ditunggu ya?”
Saat menunggu, tiba-tiba hp Monas berbunyi. Ada pesan yang masuk ke hp-nya. Monas membaca pesan singkat itu.
Bro, ntar jam 3 ke basecam ya? kita start hari ini, oke?
Dari siapa Mas?” tanya Kasih penasaran. “Dari cewek ya?
Bukan, ini  dari Agung. Nih, baca sendiri!” sambil memberikan hp-nya.
Oo … kirain dari cewek di kampus, Mas.”
Kamu cemburu ya? Kalau aku deket sama cewek lain.”
Pokoknya awas kalau punya cewek lain!” ucap Kasih sambil cemberut.
Ya enggaklah. Kalaupun ada cewek lain yang deket sama aku, aku akan berteman aja kok. Kamu tenang aja, percaya sama aku! Kan, aku sudah punya kamu. Kasihku yang cakep, pengertian dan baik hati.”  
Kasih akhirnya tersenyum kembali. Setelah beberapa saat menunggu dua orang wanita datang membawa pesenan mereka.
Ini Mas, Mbak, pesanannya. Maaf kalau agak lama, nggih.”
Oh makasih Mbak. Ini nggak lama kok, makasih .…”
Monggo, silakan Mas, Mbak …!” Wanita muda tadi mempersilakan dengan ramah setelah menata pesanan di meja Monas dan Kasih.
Nggih Mbak ….” Dua orang pelayan yang membawa pesanan tadi kemudian ke belakang. “Kasih, ayo dimakan! Nggak usah malu-malu sama aku, ya? Makan yang banyak ya biar nggak kurus?” ucap Monas sambil memberikan senyumnya ke Kasih saat meminum jusnya.
“Hmm mulai lagi deh.” Kasih menaruh gelas jus strawberrynya. “Aku endak malu kok, wekk.” Kasih langsung  mencuci tangan dengan air yang ada di mangkuk depannya. Dia pun mengambil nasi yang banyak di piring dan menaruh ikan bakar diatasnya. Sambal dan lalapannya pun tak ketinggalan.
Monas hanya bengong tak percaya dengan apa yang dilakukan Kasih. Namun kemudian…
“Nih Mas, dihabisin ya?” Kasih dengan tersenyum memberikan sepiring penuh makanan tadi ke depan Monas. Dia kemudian tertawa puas telah menjahili kekasihnya.
Sontak Monas pun ikut tertawa. Dia kira makanan itu akan dimakan Kasih, tapi ternyata diberikan untuknya. Beberapa saat kemudian Monas menatap wajah Kasih. Dia memasang wajah serius dan tajam ke gadis cantik di depannya. “Kamu jaaahat.”
Keduanya pun akhirnya tersenyum dan tertawa bersama, lalu mulai menikmati makanan yang mereka pesan. Ikan bakar yang lezat dengan bumbu pedas manis yang khas, menjadikan masakan itu bertambah nikmat. Meski suasana yang sedikit panas, namun mereda saat hembusan angin dari bukit datang.
Keduanya menyandarkan badan di dinding seusai makan.
Sayang, em makasih ya, atas semua ini dan kepercayaan kamu kepadaku. Semoga kita menjalani ini indah selalu.
Iya Mas, mudah-mudahan.”
Ayo kita pulang! Aku nanti ke Solo lagi. Ada perlu.”
Iya Mas, ayo pulang. Nanti bapak sama ibuku curiga kalau mainnya lama-lama.”
Yuk, sayang!”
Keduanya beranjak pulang setelah membayar makanan mereka. Harga yang sangat murah untuk sebuah makanan di tempat itu. Tak semahal harga makanan di mall.
Mereka kembali  berkendara ke arah barat terus ke selatan menuju kota kabupaten Sukoharjo. Monas mengantarkan Kasih kembali ke depan pasar tempat mereka janjian tadi pagi. Hampir sampai Monas memelankan laju motornya.
“Mas, depan parkiran itu ya?”
Monas menuruti permintaan Kasih lalu berhenti. “Di sini?”
Iya, dah di sini. Aku parkir motorku di sini. Mas langsung ke Solo sekarang?”
Iya, aku langsung. Emang ada apa lagi?
“Endak ada, hati-hati ya, Mas? Em makasih ya, udah nganter aku jalan-jalan sambil beli tanaman strawberry.”
Aku yang makasih banget, atas semuanya tadi Kasih. Kamu juga hati-hati ya? Oya tanaman strawberrynya kamu bawa dulu aja. Nanti diambil lain waktu.”
Ya sudah, hati-hati Mas. Aku sayang  Mas.”
Iya. Aku juga sayang. Aku duluan ya?”
Iya.”
Monas pun meninggalkan Kasih di tempat parkir. Sementara Kasih masih saja memandangi pria tampan itu sampai menghilang dari pandangan.  Dia melihat jam tangannya.
“Aduh! sudah jam dua, aku harus cepat-cepat sampai rumah. Mudah-mudahan bapak sama ibu endak curiga kalau aku sudah jalan sama mas Monas,” ucapnya.
Kasih menuju motornya yang diparkir. Setelah menunjukkan tanda parkirnya dia menstarter motor maticnya dan menjalankannya menuju ke arah selatan. Dengan sedikit tergesa-gesa bercampur rasa bahagia dia terus melaju. Saat sampai, ibunya terlihat sudah ada di depan rumah dan sedang menunggunya.
“Kasih, kamu pergi ke mana kok baru pulang? Katanya mainnya cuma sebentar?”
Em anu Ibu, abis dari gunung Lawu. Beli strawberry bareng temen, jadi agak lama perginya.”
Kamu beli strawberry, mana?
Niki[1]Bu.” Kasih menunjukkannya sebungkus buah strawberry dan dua pot pohonnya.
“Oo yowis, ditaruh di taman belakang rumah sana aja! Kamu beli dua pot?”
Inggih Bu. Em bapak mana, Bu?”
“Bapakmu masih di toko, belum pulang. Paling bentar lagi. Ibu kira kamu main sama wong lanang[2]?
Mboten[3] Bu.”
Kasih, kalau kamu jalan sama wong lanang, nanti bapakmu marah-marah lho. Inget kamu masih sekolah, masih anak SMA. Kamu belum kuliah dan belum kerja. Ngerti!
Nggih Bu.” Kasih menundukkan pandangannya. “Em, Kasih mau langsung naruh strawberrynya dulu ke belakang nggih, Bu?”
“Yowis, bawa ke sana.”
 Kasih berjalan tanaman itu ke ruangan samping, terus menuju taman belakang rumah dan menaruhnya.  Lantas dia masuk ke kamar. Duduk sebentar sambil menaruh tas. Dia merebahkan tubuhnya di kasur. Dia tersenyum. Kejadian indah yang baru saja dialaminya saat di candi Cetho masih membayang. Teringat akan sebuah ciuman pertamanya.
Oh senangnya aku hari ini. Bisa jalan sama mas Monas. Dia menanyakan padaku, kenapa aku begitu menyukainya. Dan mas Monas juga ternyata benar-benar menyayangiku. Dengan kejujurannya serta kesetiannya kapadaku.” Kasih memegang bibirnya.  “Dia juga menciumku.” Sejenak dia memejamkan mata. Kemudian dia tersenyum. “Alangkah indahnya hari ini. Makasih ya mas, kamu akan menjaga cinta ini selamanya. Walau kita sekarang masih sembunyi-sembunyi. Makasih sayangku. Aku sayang kamu mas Monas,” ucapnya pelan.  [ ]


[1] ini
[2]Orang laki-laki
[3] tidak




Tidak ada komentar:

Posting Komentar