Penasaran
KEESOKAN HARINYA, di pagi
yang cukup cerah Aira kembali menjalani rutinitasnya. Dia bersiap masuk kuliah dengan membawa mobil yang kemarin sudah diservice. Setelah berpamitan dan mencium tangan budhenya, Aira
pun keluar halaman dan meluncur ke jalan kota Solo. Kota yang cukup tua,
bersejarah, dan penuh budaya. Kota yang
semakin hari bertambah ramai. Hari
itu di dalam kelas sampai
mata kuliah selesai dirinya sering
melamun dan tersenyum sendiri. Kejadian
semalam masih terus
membayangi. Hatinya sangat
bahagia. Kedua sahabatnya pun heran dengan tingkah Aira yang berubah aneh.
“Eh Ra, kok melamun terus dari tadi, sama cengar-cengir sendiri,” tegur Dewi, “ada apa?”
“Ah nggak ada apa-apa kok, Wi,” sanggah Aira dan langsung memasang wajah
serius untuk menyembunyikan apa yang dipikirkannya.
“Ah nggak percaya,
pasti ada yang aneh nih
semalem. Kamu juga endak online?” sahut Hesti.
“Ah udahlah,
beneran nggak ada apa-apa kok Hes. Yuk kita ke kantin sekarang! Aku laper nih.” Aira cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
Ketiganya
beranjak dari duduk menuju ke kantin. Hesti dan Dewi bertambah heran karena tak biasanya Aira langsung mengajak ke kantin. Setibanya
di kantin terlihat sudah banyak mahasiswa berkumpul. Ketiganya berdiri
memesan makanan. Sementara pandangan Aira seperti mencari-cari sesuatu. Pandangannya berkeliling mengitari meja-meja kantin. Akhirnya pandangannya berhenti di meja ujung, dan melihat Monas ada di sana dengan
ketiga temannya. Dia tersenyum. Hatinya senang karena pria itu ada di kantin. Setelah membayar
ketiganya membawa makanannya dan duduk di bangku yang masih kosong.
“Ra, kok tumben
kamu yang pertama ngajak ke
kantin? Biasanya males kalau ke kantin,” ucap Dewi.
“Ah enggak, aku lapar aja Wi sekarang,” jawab Aira. Akan tetapi
diam-diam matanya memandangi
Monas. Kenapa dia tampak cuek ya sama aku? Apa
dia enggak ngelihat aku di sini?
Padahal baru semalam aku sama dia, batinnya.
Hesti mengamati
tingkah Aira. Dia curiga ada sesuatu dengan sahabatnya itu sebab dari tadi Aira
hanya mengaduk-aduk minumannya dan makananya juga tak segera disentuhnya.
Bahkan pandangan matanya menatap jauh. “Eh Ra, ayo makan! Katanya sudah lapar, kok malah bengong. Kamu merhatiin siapa
sih?”
“Eh iya, ayo dimakan! Enggak merhatiin
siapa-siapa kok,” jawab Aira yang sedikit salah
tingkah.
“Iyo Wi, tapi sing endi[2]yo? Padahal kan udah disamperin cowok
terus,” timpah Dewi sambil tersenyum.
“Oo … aku ngerti paling salah satu cowok yang di meja ujung itu ya, Ra?”
“Ah nggak, Hes. Enggak kok ….”
Aira benar benar salah
tingkah, sampai dia menundukkan
wajahnya. Kedua temannya
terus menggoda, mencoba mengorek info darinya.
Sementara itu di meja Monas, Rafi, Ian dan Agung.
“Oya Nas, gimana tawaran bos Baron? Kowe mau nggak?” tanya Agung.
“Em, gimana ya,
Gung? Pusing aku.”
“Pusing kenapa Nas? Ini hebat lho dan kesempatan besar buat kowe,” ucap Agung kembali.
Sejenak Monas
terdiam. Dia meneguk kopi hangatnya. “Em yo wislah, aku terima. Tapi kowe yang jadi mekaniknya, ya?”
Agung merasa
lega. “Nah,
gitu. Aku pasti bantu kowe kok tenang wae, kalau gitu malem minggu kita temui bos Baron. Oke?”
“Oke,” ucap Monas pelan.
Raffi dan Ian juga ikut senang dengan keputusan
Monas menerima tawaran itu. Namun, diam-diam kedua mata Raffi sedari tadi selalu tertuju ke arah Aira. Dan Ian pun tahu
akan hal itu.
“Eh Fi, tuh gadis itu ngelihat terus ke sini.
Kowe dilihatin wae,” bisik Ian.
“Iyo Ian. Dari awal dia duduk di sana aku yo
ngelihatin dia. Oh, cantiknya dia, Ian,” balas Raffi lirih.
“Yo wis,
samperin wae gimana?”
“Tapi kowe yang nemenin yo?”
“Tenaaang! Aku
kenal kok sama temennya yang berambut agak bergelombang itu.”
“Wah berarti
sip kalo gitu,” ucap Raffi yang
tiba-tiba semangatnya langsung membara. “Eh Nas, Gung, aku tinggal
bentar yo? Ada tugas dosen ini sama Ian,” ucap Raffi.
“Tugas dosen apa?” tanya Agung penasaran.
“Pokoknya tugas berat, Gung.”
“Yo wis
terserah. Em tapi yang penting malam minggu jangan lupa!”
“Siaaap. Gung, Nas, aku
tinggal dulu ya bentar?”
Raffi dan Ian beranjak dari
tempat duduknya. Mereka mengayunkan
langkah menjauhi kedua sahabatnya. Sementara Agung dan Monas masih bingung mengenai tugas apa yang diberikan dosen untuk kedua temannya
itu. Padahal mereka di fakultas yang berbeda. Agung dan Monas terus melihat ke mana dua temannya
itu berjalan.
Namun setelah sampai di meja Aira, langkah kedua
temannya itu berhenti, Agung & Monas pun langsung tersenyum.
“Sialan, kirain tugas dosen apa? Tahunya
cewek, Nas.”
“Iya, Gung. Kirain tugas apaan. Em, dasar Raffi sama Ian,” sambil geleng-geleng.
Sementara Raffi dan Ian yang sudah di meja Aira langsung membuka pembicaraan.
“Hai Hes, boleh
gabung endak?”
“Em boleh Ian,
silakan duduk!” jawab Hesti. Ian dan Raffi pun duduk. “Ada perlu apa nih? Kok tumben banget, ada yang penting yo?”
“Ah endak ada apa-apa Hes, cuma
pingin gabung dan pingin ngobrol di sini. Endak apa-apa kan?”
“Yo ndak apa-apa. Tapi, beneran cuma ngobrol tok?” Hesti tersenyum curiga. “Ehm, ndak ada
maksud lainnya,?”
Sejenak Ian
menatap Raffi sambil terseyum. “Endak juga sih Hes, sebenernya aku cuma
mau nganter temenku ini, Raffi. Dia pingin kenal sama itu yang pendiem di sampingmu.”
Mendengar
perkataan Ian yang seperti tak berdosa, sontak Raffi langsung menjadi salah tingkah. Wajahnya sedikit memerah. Lidahnya serasa kaku. Matanya sedikit melebar
menatap Ian. Kemudian menyunggingkan bibirnya untuk tersenyum walau dengan sangat terpaksa. Sialan si Kucrut langsung to the point. Aku
sampai endak bisa ngomong apa-apa, batinnya.
Sementara dalam
hati Ian juga tertawa melihat sikap Raffi yang gelagapan karena kejahilannya.
Hingga Raffi tak bisa berkutik di tempat itu.
Hesti dan Dewi
pun tersenyum kecil. Keduanya tahu kalau Ian menjahili temannya itu.
“Emm itu to, ya udah kenalan wae sendiri Fi sama orangnya,”
ucap Hesti.
Karena merasa sudah
terlanjur terpojok dan tak berkutik lagi oleh perkataan Ian, Raffi kemudian menyodorkan tangannya ke Aira. “Ehm aku, Raffi Maulana, mahasiswa kedokteran. Kamu
Aira ya?”
“Iya. Aku Aira,” ucap
Aira sambil tersenyum kecil dan menjabat
tangan Raffi.
Hati
Raffi terlonjak saat Aira menjabat tangannya. Raffi tak henti-hentinya memandangi wajah gadis yang sudah lama membuatnya terpesona karena kecantikannya itu. Ian, Hesti dan Dewi
sengaja memberikan ruang untuk Raffi dan Aira berbicara. Namun terkadang Ian kembali
menjahili Raffi yang sedikit kaku di hadapan Aira. Bahkan Hesti dan Dewi juga
membantunya. Sementara bagi Aira hanya berbincang sekedarnya saja dengan Raffi.
Justru sesekali pandangannya malah melihat ke arah Monas.
“Em Ra, nanti sesudah selesai kuliah, kita terusin
ngobrolnya lagi ya?” ajak
Raffi penuh harap, “em sambil makan.”
“Em gimana ya? Aku mau langsung pulang nanti,” jawab Aira pelan. Dia berusaha menolak ajakan
Raffi.
“Bentar aja kok Ra, ya?”
“Ehm ehm, apalagi kalau ngobrolnya sambil
makan-makan di luar kampus sepulang kuliah, pasti tambah enak tenan,”[3] sindir Ian.
“Iyo Ian. Sepertinya enak yo?” ucap
Hesti.
“Eh bener tuh, pokoke
enak tenan Hes, Ian,” tambah Dewi.
“Em yo wis, nanti sore pulang kuliah kita makan-makan dulu ya?”
ucap Raffi.
“Iya Ra, enak lagi. Apalagi ada yang bayarin.” Hesti terkekeh.
“Bareng-bareng ini kok, Ra.”
Sejenak hening.
Pandangan Aira menatap ke arah dimana Monas duduk sesaat. “Em ya udah,
aku terserah aja.” Mendengar Aira brsedia, hati Raffi melonjak kembali. “Tapi
cuma berlima aja?”
“Ya iya Ra, terus siapa lagi?
Kan di sini cuma berlima,” jawab
Raffi.
“Bukannya kalian katanya sering berempat tiap hari?” tanya Aira.
“Oh, si Agung sama Monas, nanti ada perlu. Jadi mereka endak bisa ikut,” jawab Raffi.
“Em gitu ….” Aira agak sedikit kecewa karena ia mengira menerima ajakan Raffi
tadi, Monas juga akan ikut dengan
mereka.
“Em ya udah, kita tinggal dulu ya? Kita gabung dulu ke
temen kita yang di sana,”
ucap Ian, “nanti sepulang kuliah diterusin lagi. Ayo Fi!”
“Eh, yuk! Sampai nanti pulang ya, Ra?” ucap Raffi.
Sementara Aira
hanya mengangguk kecil dan tersenyum
datar. Raffi dan Ian berdiri. Kemudian keduanya ke meja
temannya dan duduk bergabung kembali. Dengan bangga serta perasaan hati yang senang bukan kepalang, Raffi
senyum-senyum karena bisa mengajak Aira makan, walaupun harus
bareng-bareng. Namun bagi
Raffi itu adalah sungguh luar biasa.
“Eh kampret. Katanya tugas
dosen, tahunya nyamperin cewek,” ucap Agung saat
kedua temanya kembali duduk.
Raffi terkekeh.
“Itu juga tugas dosen, suruh
mengenal serta bersosialisasi
Bro.”
“Eh tahu nggak?
Si Kunyang tadi endak berani kenalan sendiri
sama tuh cewek. Sampai-sampai
dia klepek-klepek ndak bisa ngomong tadi. Tadi aku kerjain dia, hahaha ....”
“Emang
sialan kowe tadi. Dasar Kucrut.”
Monas dan Agung
pun langsung ikut tertawa mendengar Raffi yang dijahili Ian.
“Tapi inget makan-makannya, ya?”
“Iya tenang aja, aku traktir nanti.”
“Wah sepertinya nggak ngajak-ngajak nih?” sindir Monas.
“Yach, gimana? Kan nanti sore. Padahal kowe sama
Agung, tadi katanya ada perlu. Bener endak?” ucap Raffi.
“Iya sih aku sama Agung mau cari onderdil motor. Yo wis aku absentlah,” ucap
Monas sambil melihat ke Aira. Monas membatin, ah kulihat dari sorot mata Aira, sepertinya
juga menyukai Raffi Lagian Raffi juga ngebet banget kelihatannya
sama Aira.
Sementara itu di meja Aira.
“Wahwahwah …, kamu ini hebat banget yo, Ra?” ucap Hesti penuh kagum.
“Hebat apanya, Hes?”
“Semua
cowok-cowok di sini pada naksir kamu. Semuanya ngedeketin kamu. Kamu
itu sadar endak? Kemarin mas Iwan, sekarang Raffi, belum yang lainnya nanti.”
“Iya Ra, aku
jadi iri sama cakepnya kamu,” tambah Dewi. “Apa aku sebaiknya operasi plastik
yo?”
Aira pun
terkekeh geli mendengar ucapan Dewi. Hesti pun ikut tertawa. Sesaat kemudian Aira menatap ke arah Monas yang sedang meminum kopinya. Kalau kalian tahu
dalam hatiku, Hes,Wi, sebenarnya aku tertariknya sama Monas, bukan si Raffi, batinnya.
Sepulang kuliah
mereka berlima berkumpul di sekitar Ngarsopuro. Salah satu tempat makan dan tempat nongkrong di Solo. Raffi sangat senang sekali. Dia berusaha mencari perhatian Aira. Sementara
ketiga temannya asik ngobrol sambil melahap makanan yang ada di meja. Sore itu Raffi ingin jauh mengenal Aira. Dia
ingin sekali mendapat nomer hp-nya. Hingga Aira pun memberikan nomernya.
Raffi makin
bersemangat. Dia bertekad
akan terus mengejar untuk mendapatkan hatinya.
***
Suara musik yang mengalun indah memenuhi ruangan
kamar Monas. Dia rebahkan tubuhnya sejenak sambil menikmati alunan lagu Bon
Jovi yang menyentuh gendang telinga, yang membuat hatinya terbuai oleh lirik-lirik indah lagu itu. Tak berapa lama kemudian hp-nya
memekik. Ada pesan masuk. Monas pun bangkit, meraih serta membukanya. Ternyata dari Kasih.
“Mas Monas, jangan lupa ya hari minggu? di tempat biasa.”
“Iya. Aku nggak lupa kok,” balas Monas.
Setelah saling
berkirim pesan Monas menyenderkan tubuhnya. Dia merenung sambil berpikir
sejenak. Satu hari yang cukup
melelahkan dirasakan baginya. Dia teringat saat perjalanan pulang tadi. Teringat oleh aktivitas hidup orang-orang yang
dilewatinya saat pulang. Banyak orang
yang mencari rizki untuk hidup,
dengan kerja keras dan berpanas-panasan sampai keringat bercucuran. Bapak-bapak bekerja untuk keluarganya. Ibu-ibu juga bekerja untuk anak-anaknya. Demi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meraih sebuah kebahagiaan. Ah,
aku nanti jadi apa ya? Masa depanku,
aku belum tahu. Seperti enggak tahunya
aku besuk pagi bisa bangun tidur jam berapa. Ah sudahlah, yang penting aku selalu
berusaha, mencoba, dan beribadah, agar nanti aku bisa meraih masa depan
hidupku, serta masa depan setelah matiku. Dan semoga Tuhan mengampuni
kesalahan-kesalahanku walau imanku masih tipis. Aamiin. Tapi ...
aku sekarang juga sudah merasa beruntung karena menpunyai pacar yang mensupportku.
Dia yang menambah semangat hidupku ini. Dia yang menambah keceriaan jalan hidupku
juga. Aku akan selalu setia kepadanya. Ini niatku. Aku akan berkorban untuknya,
demi sebuah kebahagiaan, batinnya.
Saat Monas sedang merenung, dia dikagetkan oleh Ian yang
tiba-tiba membuka pintu kamar dan langsung masuk. Ian merebahkan tubuhnya di
kasur. Monas hanya diam dan
menatapnya saja.
“Kesel kenapa Ian? Habis dari mana kowe?”
“Habis nganter pacarku beli kado Nas. Sehabis nemenin Raffi makan
sama Aira, Hesti, karo Dewi tadi. Eh Nas, Aira itu ternyata orangnya sempurna banget lho.
Udah cakep, baik, sopan lagi. Pokoknya
empat sehat lima sempurnalah. Pantesan Raffi ngebet banget sama dia.”
“Iya sih Ian,
dia emang sempurna. Terus gimana tanggapan Aira tentang Raffi?”
“Ah endak tahu ya Nas, tadi kelihatannya akrab. Cuma, aku
ragu sama Raffi. Kasihan nanti
si Aira.”
“Udah biarin wae! Itu urusan Raffi, Ian.”
“Iyo lah, bén[5]
jadi urusan dia. Aku kan cuma bantu tok.” Ian kemudian menyenderkan tubuhnya di dinding. “Eh Nas kok kowe endak tertarik sama Aira kenapa? Aku pikir lebih bagus kalau Aira sama kowe.
“Ha?” Monas pun
kaget Ian bertanya seperti itu. Dia pun hanya nyengir. “Enggaklah Ian. Dia terlalu sempurna buatku. Kan aku wong ora duwé[6]
juga. Nanti malah sengsara
sama aku. Terus aku kan sekarang sama
Kasih. Em, aku belajar setia kok Ian.”
“Iya juga Nas, aku salut sama kowe.” Ian mengacungkan jempol
tangannya. “Kowe orangnya biasa wae Nas. Kowe iso[7]
setia. Aku percaya sama kowe.”
“Ian, aku pingin
nanya. Sebenernya sampai detik ini mantanmu itu aslinya udah berapa?”
“Emang kenapa kok kowe nanya kayak gitu.” Ian heran. “Emang aku
boyo apa?”
Monas tersenyum.
“Ah, aku cuma pingin ngerti wae, Ian.”
“Mantanku memang akéh,[8]tapi kan semua udah putus dulu, baru dapet lagi Nas. Sik yo … berapa yo?” Ian berpikir sambil melipat jari tangannya. “Dari
SMA, ada Tini, Yuni, Dwi, sama
Wanti. Nah kalau semenjak
kuliah … Leni mahasiswi perhotelan, Fara mahasiswi sastra, terus Dewi, nah yang
sekarang Atik. Em, delapan,
Nas.”
“Yo endaklah Nas, pinginnya satu aja yang
awet. Mungkin
juga itu resikonya jadi orang ganteng, Nas.” Ian terkekeh bangga.
“Hahaha … resiko
orang ganteng.” Monas terus tertawa geli dengan kepedean Ian.
“Tapi jujur Nas, sebenernya aku iri sama kowe.”
“Lho, iri sama aku maksudnya gimana?” Monas sedikit bingung. “Sama orang nggak
punya kok iri, ngawur
kowe.”
“Aku iri ngelihat kowe dengan
Kasih yang nyantai, rukun, ceria
terus, setia, endak ada ribut-ribut. Salut aku, Nas.”
“Ah, ngawur wae.” Monas nyengir. “Aku kan lagi satu bulan pacaran sama dia. Malah aku backstreet lagi. Itu juga karena kowe yang berperan banget bantu aku bisa
jadian sama Kasih.”
“Iyo Nas, karena aku percaya sama kowe. Aku yakin kowe
bisa ngejaga Kasih, Nas. Aku ngerti karaktermu. Kowe orang yang baik.”
“Insyaallah, Ian. Aamiin.”
Suasana sejenak
hening.
“Eh, ayo keluar! nongkrong di hik[10] kang Gareng
sambil wédangan[11].
Aku laper ini, di sana juga temennya banyak. Ayo!”
“Em ayolah, aku juga ingin wedangan. Dah lama juga kita nggak ke sana.”
Setelah
mematikan musik, keduanya berjalan keluar. Menaiki motor masing-masing dan menuju hik
kang Gareng. Kang Gareng hanyalah nama panggilan pemilik warung angkringan yang kocak dan sering kali ngebanyol, hingga membuat betah siapa pun yang
datang ke tempat itu.
Monas dan Ian menaruh motor di samping warung. Mereka masuk dan langsung duduk. Monas
melihat sudah ada Ari, Eko, Tomo,
dan kang Wahyono, tetangganya yang sedang asik menyantap
makanannya masing-masing. Mereka seperti menjadi pelanggan tetap warung itu.
Hampir tiap Monas datang, pasti salah satu dari mereka sudah ada di situ.
“Wahwahwah … wong bagus-bagus baru
kelihatan. Dari mana aja Mas? Hehehe ...,” sapa
kang Gareng dengan senyumnya yang ramah.
“Biasa Kang, anak muda. Ke sana ke sini kerjaannya,” jawab Ian sambil
mengambil nasi kucing dan terus membukanya.
“Iyo puas-puasin, mumpung masih muda.” Kang
Gareng mendekatkan tempat sendok ke hadapan Ian dan Monas. “Wedangnya apa ini? Dang jahe? Dang susu? Apa dangdutan?”
Ian tertawa. “Jahe
susu, Kang. Dangdutannya besuk wae.”
Monas pun ikut tertawa.
“Lha kowe minumnya apa, Mas Monas?”
“Aku wedang jahe susu juga Kang. Tapi jangan terlalu panas yo, Kang?”
“Oke, diprosesss.”
Monas dan Ian
mulai melahap nasi kucing dan gorengan yang ada di depannya.
“Nas, kok kowe lagi kelihatan sekarang. Sibuk
apa kowe selain kuliah?” tanya Ari di sampingnya.
“Iyo Ri, waktuku enggak longgar minggu-minggu ini.”
“Emang kowe sambil
bisnis apa kok waktumu endak longgar?”
“Justru aku lagi nyari sampingan ini. Lha kowe punya bisnisan nggak?”
Ari menyeruput wedang jahenya. “Anu Nas mending tanya kang Gareng wae, yo? Siapa tahu ada,”
“Ah, pasti
jawabannya nggak beres. Kayak nggak
ngerti kang Gareng wae.”
“Endak apa-apa, siapa
tahu ada ide kreatif gitu. Bener to?” Monas hanya tersenyum.
“Eh kang, si Monas lagi nyari
bisnis anyar ini lho. Kowe ada, endak?”
“Bisnis anyar Ri? Oo ... jelas ada,” jawab
kang Gareng sambil meletakkan dua gelas wedang jahe di hadapan Monas dan Ian. “Pingin ngerti endak? Kalau pingin ngerti, aku kasih ngerti kowe. Gratiss.”
“Wah, boleh Kang. Bisnis apa, Kang?” tanya
Ian. Sementara yang lain pun ikut penasaran. Sejenak mereka
diam dan menunggu ucapan dari kang Gareng.
“Bisnis ini awan, bengi, panas, udan[12] endak
terpengaruh. Pasti untung dan cepet kaya lagi. Gimana? Mau endak?”
“Bisnis apa itu? Emang ada yang kayak gitu?”
tanya kang Wahyono yang makin penasaran.
“Pokoknya kowe yang pertama Ri, Ian, sama yang ada di sini. Mau aku kasih tahu?”
Ari yang pertama
kali bertanya, dia semakin penasaran. Sedangkan Monas malah terlihat
biasa saja karena paling ujung-ujungya ucapan kang Gareng hanyalah becanda. “Iyo,
bisnis apa itu?”
“Bisnis rental.”
“Rental? Rental mobil apa rental yang lain,
Kang?” tanya Ian sambil berhenti makan sejenak. Sementara yang lain juga pasang
kuping. Terlihat serius ingin mendengarkan ide dari kang Gareng.
Dengan wajah
seriusnya kng Gareng pun menjawab, “Rental Buto ijo
sama rental Tuyul.” Sementara di dalam hatinya, dia menahan tawa.
“Rental
Buto ijo? Rental tuyul?” Ian terlihat
heran. “Emang Buto ijo sama tuyul bisa dirental?”
“Buka rental Buto
ijo sama rental tuyul itu pasti kowe
kabeh bisa kaya raya,” ucap kang Gareng lagi dengan
lebih meyakinkan.
Selain Monas
semua yang ada di situ semakin bingung dengan jawaban kang Gareng.
“Nas, emang Buto ijo sama Tuyul bisa dirental
sekarang?” tanya Ari kepada Monas.
Monas terkekeh
geli. “Yo enggaklah. Setahuku itu kan mahluk ghaib. Kayak nggak ngerti kang Gareng wae. Tapi nggak
tahu juga sih kalau sekarang itu bisa.”
“Ah kampret kowe, Kang,” ucap Ari kesal karena ketipu. “Udah didengerin orang banyak malah
becanda. Sialannn, sialan ....”
Sementara yang lain juga ikut merasa kesal.
Kang gareng
tertawa puas. “Kowe wong
pinter-pinter diapusi[13]wae masih bisa. Hahaha
... kalau ada, semua orang udah
pada sugih mblegedu.”[14]
Harusnya kalian itu pakai akal sama kerja kalau mau nyari materi.” Kang Gareng
terus tertawa. Sementara yang lain juga ikut tertawa lepas.
Hahaha ... rental Buto ijo. Ada-ada aja, hahaha
....” Ian tertawa terbahak-bahak. “Tapi boleh juga. Itu ide sangat kreatif. Bener, buat guyon, hahaha ....”
Malam itu terasa semakin meriah dengan gelak tawa orang yang
ada di angkringan. Semua merasa senang dengan candaan kang Gareng, pemilik warung
angkringan. Bahkan sampai ada yang
perutnya sakit karena lucunya. Walau hanya tempat yang
kecil, warung wedangan itu,
tapi bisa memberikan sebuah kehangatan. Tak hanya minumannya yang
hangat, namun juga kehangatan suasananya hingga mampu membuat fresh pikiran dari kehidupan tiap harinya yang
mereka jalani. [ ]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar