Senin, 25 Agustus 2014

Sebuah perkenalan



Sebuah perkenalan








HARI SELASA Aira sendirian masuk ke perpustakaan. Mencari buku untuk tambahan materi yang belum dipahaminya. Di hari itu tampak cukup banyak mahasiswa yang ada di perpustakaan. Sambil berjalan pandangannya menyisir rak-rak buku dari atas ke bawah. Tiba-tiba pandangannya pun terhenti saat dia melihat seorang mahasiswa berambut agak panjang tengah duduk dekat dinding sendirian membaca buku.
Lho itu kan cowok yang kemarin. Cuek banget. Dengan santainya baca buku di pojok sambil menyenderkan badannya ke dinding,” ucapnya lirih. Setelah Aira mendapatkan buku yang dicari, dia pun menghampiri pria itu. Walau sedikit ragu dia terus melangkah dan berhenti di dekatnya. “Hai, masih ingat aku?” tegurnya pelan sambil tersenyum.
Monas menoleh. “Oh, hai juga.” Monas membalas semyum gadis yang berdiri disampingnya. “Iya masih. Kamu yang aku anter kemarin.”
“Kamu aneh, cuek banget baca bukunya.
“Ah masa sih?” Aira mengangguk. “Em perasaan aku biasa saja. Tiap baca buku aku juga sering di sini sambil nyender.
“Oh gitu.” Aira tersenyum lagi. “Oya kemarin makasih ya sudah anterin aku?  Aku jadi nggak telat.”
“Iya nggak apa-apa, cuma nganter bentar ini. Lagian kemarin juga udah makasihnya,” jawab Monas sambil tersenyum kecil.
“Em aku Aira, kamu siapa?” sambil menyodorkan tangannya.
Monas menjabat tangan halus Aira. “Aku Monas.” Aira terdiam sejenak. Dia merasakan dadanya langsung berdebar aneh. Jantungnya berdegub kencang saat menatap pria tampan di depannya itu. Monas perlahan melepas jabatan tangannya.
“Em Monas ya?” Aira tersenyum gugup. “Heu kayak yang di ….” Aira tak melanjutkan ucapannya.
“Iya, namaku diambil dari tugu yang ada di Jakarta itu. Namaku jelek ya?” jawab Monas.
“Oh enggak kok. Malah itu beda dari yang lain. Kamu ambil jurusan apa, Nas?”
Geografi, semester empat. Kamu sendiri, Ra?”
Aku semester empat juga. Manajemen.”
“Hmm keren.” Monas tersenyum. “Kamu mau baca di sini juga Ra, denganku sambil nunggu mata kuliah berikutnya?”
Jantung Aira makin berdegub kencang saat Monas mengajaknya duduk bersama. Dadanya kembali berdebar hebat. Dia seperti kehilangan kata-kata. “Eng, makasih Nas. Kapan-kapan aja ya. Lagipula … aku masih mau nyari beberapa buku lagi buat aku pinjam,” ucap Aira dengan senyuman senang bercampur gugup. “Em mari Nas, aku cari beberapa buku dulu.”
“Iya, Ra. Silakan …!”
Aira kemudian berjalan ke rak buku lagi. Dia berdiri terpaku. Hatinya berucap, huft ... kenapa tadi dadaku langsung berdebar aneh ya? Jantungku juga berdegub kencang saat bersalaman dengannya. Aku baru pertama kali merasakan ini. Sebelumnya aku belum pernah sampai seperti ini. Hmm, ternyata namanya adalah Monas. Walau kelihatan cuek tapi dia sepertinya cowok yang baik. Aira tersenyum.
Beberapa saat setelah mendapat buku yang dicari lalu Aira mencari tempat duduk yang agak jauh dari Monas. Dari jauh dilihatnya Monas terus menatap pada buku yang dia baca. Dia seperti sudah larut dan tenggelam dengan bukunya itu. Perlahan makin banyak mahasiswi yang datang. Sejenak Aira memperhatikan ada yang aneh dengan perpustakaan itu.  Aira menatap ke sekeliling penuh keheranan. Dia membatin, Lho kalau aku lihat-lihat kok rata-rata banyak cewek di sini ya? Aku perhatiin dari mereka semua juga sesekali melihat ke arah  Monas di sana. Aneh. Apa mereka tertarik sama Monas? Apa  kelebihan Monas sampai-sampai pada seperti ini?  
Tak berapa lama kemudian Monas berdiri, menaruh kembali buku yang dibacanya ke rak. Berjalan melewati Aira dan  terus ke penjaga perpustakaan.
Mbak, makasih ya?”               
Iya, Mas Monas. Bukunya endak dibawa?”
Besok aja Mbak, sekarang belum butuh. Mari ….”
Oh iya, silakan Mas.”
Monas pun keluar perpustakan dan kembali menuju kelasnya. Sementara mahasiswi yang  lain dan  Aira hanya memandanginya. Dua gadis di dekat Aira membuka pembicaraan tapi dengan suara pelan.
“Oh, gantengnya kamu, Monas. Walau kamu cuek, aku mau jadi pacarmu.
“Aku juga gelem[1] jadi pacar yang keduanya. Eh, dia sudah punya pacar belum, ya?”
Sepertinya dia belum punya, soalnya aku belum pernah lihat dia bonceng cewek.
Berarti masih ada peluang buat kita, yo?”
Iyo.
Kedua gadis di samping Aira tersenyum bersama. Aira seakan tak percaya yang baru saja didengarnya. Dia membatin, Gila, ternyata banyak mahasiswi di sini yang tertarik sama Monas. Tapi, memang aku akui,  Monas memang punya daya tarik yang berbeda dan membuat penasaran para mahasiswi di sini. Ah, kenapa aku juga tambah penasaran ya sama dia? Kok jadi pingin lebih mengenal dia lebih dekat. Apa ya kelebihannya? Aira pun segera keluar dari perpus.
Di kantin Aira menghampiri Hesti dan Dewi teman dekatnya.
Hei Ra, dari mana kok baru datang? Udah lama lho, kita  nunggu kamu tahu.
Dari perpus Hes, tadi.”              
Pantesan lama banget.”
“Hes, boleh nanya nggak?
Tentang apa, Ra? Kayaknya penting banget.”
Ah nggak penting sih.”
“Ya udah ndak penting juga ndak papa. Mau nanya apa?”
Kamu tahu nggak siapa Monas? Mahasiswa geografi itu?”
Oo ... cowok ganteng dan cuek itu. Ehm, jadi curiga aku,” ucap Hesti sambil senyum-senyum.
“Enggak gitu Hes, tadi aku lihat dia di perpus, terus banyak mahasiswi sini yang ngomongin dia tadi,” tepis Aira.
Iya sih Ra, banyak mahasiswi senior atau baru yang naksir sama dia. Nih kayak si Dewi, yang pingin banget deket sama dia. Ehm ehm ....
Dewi pun jadi salah tingkah digoda Hesti. Wajahnya merah padam. Padahal dari tadi dia diam saja.
Ah siapa lagi? Endak kok Ra, dia terlalu ganteng buat aku. Dia itu pantesnya sama kamu,” sanggahnya.
Hesti pun langsung terkekeh geli. Sementara Aira hanya tersenyum.
“Ra, yang aku tahu dia itu mahasiswa geografi. Terus, dia itu gabung sama anak-anak motor. Cuma itu Ra yang aku tahu. Emang ada apa Ra, kok kamu nanya dia? Kamu juga naksir?” tanya Hesti.
Ah enggak Hes, cuma nanya aja kok.”
Tapi, aku yakin kamu nanti bisa tertarik sama dia, Ra.” Hesti tersenyum. "Em, aku kenal sama temennya, si Ian, tapi endak kenal banget sih. Nanti aku tanyainlah kalau kamu pingin tahu tentang dia."
Ah nggak usah Hes, jangan!” Aira mulai sedikit panik.
“Bener …?”
“Bener Hes,ucapnya mengelak. Namun pipi Aira memerah. Sebenarnya Aira ingin tahu lebih jauh. Hanya saja dia malu dengan kedua temannya.
“Ra, nanti malam online ya? Seperti biasa,” ucap Dewi.
Iya. Tapi nanti malem aku mau ke gramedia dulu Wi. Agak maleman aja ya OL-nya?”
“Oke.”
                                                               .
***
                   


Hari pun berganti. Malam telah menyapu siang. Jam tujuh malam, Aira pergi ke Gramedia di salah satu mall di Solo. Sendiri dengan menaiki taksi.
Aira adalah anak bungsu seorang pengusaha kaya. Gadis nan cantik bernama lengkap Aira Renata Puspaloka, sejak kecil sampai masa remajanya dihabiskan tinggal di Jakarta dan Singapura.  Namun, sekarang dia tinggal di rumah budhenya dan lebih memilih kuliah di Solo.  
Gadis nan cantik itu tak nampak kalau sesungguhnya dia adalah anak dari keluarga berada dan sekaligus berpengaruh. Terkesan biasa saja. Padahal banyak bisnis keluarganya yang sukses dan menggurita di negeri ini. Kedua kakaknya berada di luar negeri menjadi pengusaha. Keduanya mengikuti jejak ayahnya.
Hanya sebentar dengan taksi untuk melewati jalanan dan menuju mall. Aira pun masuk dan melihat-lihat toko pakaian sebelum ke Gramedia. Setelah merasa cukup puas berkeliling dia pun masuk ke toko buku itu. Malam itu dirinya ingin membeli beberapa buku. Sambil melangkah pelan saat mencari novel baru, tangannya mengambil satu buku, lalu dia berjalan lagi ke sebalik rak buku yang lain. Kedua matanya terus mengamati ke atas. Dia menelusuri satu persatu judul buku. Saat dia meraih  satu buku, tanpa disengaja terlepas dan jatuh.
Brukk!!
Aduh!” Terdengar suara orang kesakitan pelan karena kejatuhan buku yang diambil Aira.
Oh maaf Mas, maaf nggak sengaja,” ucap Aira yang merasa bersalah karena buku itu jatuh mengenai bahu seorang pria di bawahnya.
Iya, nggak apa-apa, Mbak,” ucap pria itu sambil memegang buku yang jatuh dan ingin memberikannya. Saat wajah mereka bertatapan, keduanya kaget. “Lho kamu, Ra?
“Monas? Kamu? Maaf ya? Maaaf banget, ucap Aira merasa bersalah. Dadanya berdebar hebat lagi di depan pria itu. Dia berusaha menutupinya dengan tersenyum.
Iya nggak apa-apa, cuma kena di bahu ini,” balas Monas sambil nyengir, “kamu lagi nyari buku apa, Ra?”
Egh aku nyari novel Nas, kamu sendiri?
Aku lihat-lihat buku perikanan. Kamu suka novel, Ra?”
Iya. Lho kamu kan mahasiswa geografi, kenapa bacaannya perikanan?
Aku  suka ikan sama tanaman. Di rumah aku pelihara ikan di aquarium, dikit sih.
“Oh, gitu.
Mereka akhirnya saling berbincang berdua sambil mencari buku selama di Gramedia. Dan debaran di dada Aira pun perlahan menghilang, bahkan malah berganti. Aira justru bertambah gembira bertemu dan ditemani tanpa disengaja oleh pria yang membuat hatinya penasaran.
Em, Kamu tadi ke sini naik apa, Ra?
Naik taksi Nas, kamu sendiri?”
Ya naik motor Ra, punyaku kan cuma motor. Pulang mau aku anter lagi nggak? Sekalian aku pulang.
Ya kalau dibolehin juga nggak apa-apa. Kamu pulang ke mana, Nas?”
Ke Sukoharjo. Kamu ke mana?”
Aku ke budheku di dekat Kraton.
Ya udah ayo pulang! Atau masih mau nyari yang lain lagi?”
Udah ini aja, yuk pulang Nas ...!”
Setelah membayar buku yang mereka beli, keduanya berjalan menuju ke tempat parkir. Aira merasa senang, ternyata Monas bukanlah pria yang cuek. Bahkan Aira mengagumi pria di sampingnya itu.
Keduanya keluar mall menuju ke jalan raya. Aira tak menyangka akan di bonceng lagi oleh pria itu.
Em, Kamu dari kuliah belum pulang, Nas?
Belum Ra, tadi aku main dulu ke temen. Oya Ra, pegangan ya? Kalau kamu jatuh, nanti aku yang repot.
Em, iya.” Aira tersenyum. Dia kemudian perlahan memegang pinggang Monas. “Nas, kamu langsung pulang?
Em nggak sih, aku mau makan dulu. Aku laper. Kamu mau ikut?”
Em gimana ya? Tapi ya udah, kita nyari makan dulu. Aku juga belum makan.” Aira kembali tersenyum. “Mau makan di mana, Nas?”
Di pinggir jalan aja ya, Ra? Tenang, aku jamin makanannya enak kok. Nggak apa-apa kan?”
Em, nggak apa-apa.
Tak berapa lama mereka berhenti di tempat makan lesehan  pinggir jalan. Keduanya masuk dan duduk di bawah seperti para pembeli lainnya. Bapak pemilik warung lesehan mendatangi mereka dengan senyum ramah, meski usianya sudah cukup senja.
“Eh Mas Monas, kadingaren bareng sama gadis cantik. Biasanya sendirian terus. Pasti ini pacarnya ya, Mas?” ucap pemilik warung dengan yakinnya.
“Oh sanés[2]Pak Trimo. Ini temen kok, Pak,” jawab Monas yang sedikit kaget, tapi Aira justru malah tersenyum kecil.
“Oo ... réncang[3]to.  Bapak kira pacarnya. Maaf ya Mas! Terus mau makan apa ini?” tanya pak Trimo, bapak pemilik warung lesehan yang sudah  kenal dan akrab dengan Monas.
“Nggak perlu minta maaf Pak Trimo. Em Aku pesen seperti biasanya aja.” Monas menoleh ke Aira. “Kamu makan apa, Ra?”
“Em, aku samain yang kamu pesan aja, Nas.
“Ya udah, sami[4]pak Trimo pesenannya.”
“Inggih Mas. Sekedap ditenggo riyin nggih?[5]
Nggih Pak,” jawab Monas.
Sementara itu Aira memperhatikan Monas. Dia tertegun melihat pria di depannya. Dia semakin yakin kalau ternyata Monas bukan orang yang benar-benar cuek. Tapi malah sopan, hangat, serta akrab. Beda sekali seperti yang dikatakan teman kampus yang lain.
“Nas, aku boleh nanya nggak?
Ya boleh Ra, kan nanya nggak bayar ini. Mau nanya apa, Ra?
Kenapa kamu kalau di kampus kelihatan cuek dan nggak banyak ngomong Nas? Maksudku hanya sekedarnya saja kalau ngomong.
Apa aku kelihatannya seperti itu, Ra?
Iya, malah banyak yang ngomong seperti itu.
Ah, aku sebenarnya biasa aja kok Ra. Sama kayak yang lain. Aku milih diam itu karena aku nggak mau ikut campur urusan orang lain. Aku hanya pingin nyaman aja. Itu aja kok, Ra,” jawab Monas datar.
“Em, gitu ya,ucap Aira sambil tersenyum lagi.
Tak berapa lama makanan pun datang. Dua porsi nasi liwet dengan sayur gudeg, telur, tempe goreng, dan es jeruk tersaji di meja keduanya.
Monggo Mas, dipun rahapi![6]
Inggih Pak, matur suwun.[7]
Pak Trimo kembali ke belakang.
Ayo Ra, dimakan!”
Iya. Nas, kamu sering makan di sini ya?” ucap Aira sambil meminum es jeruknya.
Iya nggak sering, Ra. Tapi aku suka makan di tempat yang begini. Tempat lesehan seperti ini biasanya murah, nggak ribet, ramah, santai, serta enak.”
Em gitu.
Dan lagi, Ra. Kita kan bisa berbagi rizki sama warung yang kurang ramai. Coba kalau semua makan di restoran, nanti tempat seperti ini bisa bangkrut. Udah gitu duitku juga enggak cukup untuk makan di restoran yang mahal, jawab Monas sambil tersenyum dan menelan makanannya.
 Heu ... kamu bisa aja Nas.”
Aira tersenyum. Dia menatap pria di depannya sambil mengunyah dan menelan makanannya perlahan. Dia kagum dengan Monas, tentang cara berpikir, kejujurannya, dan apa adanya. Perasaannya bertambah terkesan, bahkan mungkin lebih ke arah menyukai. Tapi Monas seperti tak peduli. Pria itu tak pernah bertanya tentang siapa dirinya ataupun perihal keluarganya. Aira terus menatapnya. Aira merasa kalau Monas benar-benar berbeda.
Kamu kenapa, Ra? Kok ngelihatin aku gitu terus. Ada yang aneh ya?”
Ah enggak, enggak ada yang aneh kok,jawab Aira terlihat salah tingkah saat ucapan Monas mengagetkannya. Dia pun menunduk lalu mengambil es jeruk dan meyeruputnya. Debaran aneh itu kembali hadir di hatinya. Sejenak terdiam. Kemudian dia kembali menatap pria tampan di depannya. Matanya berbinar. Senyumnya terlihat kembali. Entah kenapa Aira merasakan keinginan untuk selalu dekat dengan pria di depannya itu. Dia ingin sekali mengungkapkannya. Namun, ragu dan malu menjadi tembok penghalang niatnya itu. Setelah beberapa saat tertahan, akhirnya Aira mencoba memberanikannya. “Em Nas ….” Ucapannya kemudian terhenti. Aira kembali terdiam. Seketika tembok ragu dan malu kembali hadir menghalanginya.
 Monas menghentikan makannya dan menatap gadis nan cantik di depannya. “Iya Ra. Ada apa?”
Sambil menyeruput es jeruknya, Aira berusaha mengumpulkan kembali keberaniannya yang tadi sempat kabur. “Em boleh nggak aku kenal dan dekat sama kamu, Nas?”
Monas pun langsung tertawa pelan. Sementara Aira menjadi bingung sendiri. Dia tak tahu dimana letak lucunya. Padahal pertanyaannya tadi adalah serius. “Lho bukannya kamu sudah dekat sama aku? Kamu duduk aja sudah di depanku, Ra?” Monas tersenyum.
Mendengar jawaban Monas, Aira pun ikut tersenyum lebar. Namun berkat itu dia merasa terbantu. Tembok ragu dan malu yang menghalanginya langsung runtuh dan menghilang begitu saja. “Em bukan itu maksudku. Maksudku … akrab. Ya, akrablah gitu.”
Monas mengambil minumnya. Dia menyeruputnya sambil menatap Aira. Boleh aja Ra, tapi nanti kalau udah akrab sama aku, terus kamu malah rugi gimana?”
Rugi gimana maksudnya, Nas?” Aira heran.
Kan aku orangnya cuma begini dan nggak banyak punyanya.”
Aira kembali tersenyum. “Ah kamu bisa aja.”
Di sela-sela mereka ngobrol, tak terasa waktu pun sudah beranjak larut malam. Semakin sepi dan semakin dingin terasa.
“Ra udah malem, ayo pulang! Aku anter.”
Iya Nas. Em tapi aku boleh minta nomer hp kamu, Nas?”
Boleh, Ra.”
Setelah bertukar nomer hp dan membayar makan, mereka berpamitan dengan pak Trimo sang pamilik warung. Keduanya beranjak pergi menyusuri kembali jalanan kota Solo nan damai. Monas mengantar Aira ke tempat Budhenya. Gadis nan cantik rupa itu memegang pinggang pria tampan itu sambil mendekatkan tubuhnya. Ada perasaan sangat nyaman yang dirasakannya saat bersama Monas. Sampai di ujung jalan, tepatnya rumah yang besar di ujung jalan dan pagar yang cukup tinggi, Aira pun meminta Monas berhenti.
“Di sini kamu tinggal, Ra?”
Iya Nas. Mau masuk dulu, Nas?
“Ah enggak Ra, udah malam. Kapan-kapan aja.”
“Em makasih ya Nas, yang tadi. Sama sudah nganter aku ke sini.
“Sama-sama, Ra. Pulang dulu ya? Assalamualaikum .…”
Iya. Wa alaikum salam ....
Kemudian Monas langsung menarik gas perlahan, meninggalkan Aira di depan gerbang sendirian. Setelah Monas tak terlihat lagi dari pandangan matanya, Aira pun masuk ke dalam halaman yang cukup luas itu sambil senyum-senyum sendiri. Dia serasa tak percaya malam itu bisa bertemu dan mengenal Monas tanpa disengaja. Di dalam rumah sudah ada Budhenya yang sedang menunggu, dengan wajah terlihat cemas.
Dari mana kamu, Rara? Kok malem banget pulangnya. Budhe khawatir lho. Apalagi kamu sendirian, endak ada yang ikut nemenin kamu. Budhe takut kamu kenapa-kenapa, ucap Budhenya yang sedari kecil memanggilnya dengan panggilan Rara.
Eghh, maaf Budhe kalau Aira bikin Budhe khawatir. Aira tadi ketemu temen terus ngobrol dulu sampai malem. Maaf banget ya, Budhe?
Ya sudah, lain kali ngomong dulu ya? Sama nanti kamu harus ada yang nemenin kalau mau kemana-mana, biar Budhe endak khawatir. Nanti kalau ada apa-apa, terus ayah kamu nanya  ke Budhe, gimana?”
Iya Budhe, nanti enggak lagi.
Yo wis, kamu cepat makan sana! Sudah disiapkan dari tadi.
“Aira sudah makan  Budhe, tadi bareng temen. Aira pamit ke kamar aja Budhe.”
Yo wis, sana istirahat!”
Permisi Budhe ….”
Iyo ….”
Maklum, kalau kekhawatiran itu ada pada Budhenya. Sebab Aira sekarang tinggal bersamanya, dan kini menjadi tanggung jawabnya. Setelah masuk kamar, Aira duduk di tempat tidur. Diam sambil sesekali tersenyum. Dia nampak bahagia. Wajah Monas masih terus membayanginya. Oh ternyata nama lengkapnya Monas Dewantoro. Cukup hebat dan mengagumkan. Seperti ki Hajar Dewantoro aja. Dia juga baik, jujur dan apa adanya. Aduhh … kenapa aku selalu salah tingkah ketika bersamanya? Kenapa tadi hatiku berdebar lagi saat dengannya? Apakah aku sudah jatuh hati? Ah … Monas sangatlah hangat dan menyenangkan orangnya. Beda dengan cowok-cowok yang selama ini aku kenal dan dekat denganku. Aku akui dia cukup tampan dengan rambutnya yang sedikit panjang itu. Dan sepertinya aku mulai menyukainya ..., batinnya.[ ]





[1]mau
[2]bukan
[3]teman
[4]sama
[5]Sebentar ditunggu dulu ya
[6]Dimakan, dinikmati..
[7]Terima kasih


Tidak ada komentar:

Posting Komentar