Sebuah perkenalan
HARI SELASA Aira sendirian masuk ke perpustakaan. Mencari buku untuk tambahan materi yang belum dipahaminya. Di hari itu tampak cukup banyak mahasiswa yang ada di
perpustakaan. Sambil berjalan pandangannya menyisir rak-rak buku dari atas ke bawah. Tiba-tiba
pandangannya pun terhenti saat dia
melihat seorang mahasiswa berambut agak panjang tengah duduk dekat
dinding sendirian membaca buku.
“Lho itu kan cowok yang kemarin.
Cuek banget. Dengan santainya baca buku di pojok sambil menyenderkan badannya ke dinding,” ucapnya lirih. Setelah Aira mendapatkan buku yang dicari, dia pun menghampiri
pria itu. Walau sedikit ragu dia
terus melangkah dan berhenti di dekatnya. “Hai, masih ingat aku?” tegurnya pelan sambil tersenyum.
Monas menoleh.
“Oh, hai juga.” Monas membalas
semyum gadis yang berdiri disampingnya. “Iya masih. Kamu yang aku anter kemarin.”
“Kamu aneh, cuek
banget baca bukunya.”
“Ah masa sih?” Aira mengangguk. “Em perasaan
aku biasa saja. Tiap baca buku aku juga sering di sini sambil nyender.”
“Oh gitu.” Aira
tersenyum lagi. “Oya kemarin makasih ya sudah anterin
aku? Aku jadi nggak telat.”
“Iya nggak
apa-apa, cuma nganter bentar
ini. Lagian kemarin juga udah makasihnya,”
jawab Monas sambil tersenyum kecil.
“Em aku Aira, kamu siapa?” sambil menyodorkan tangannya.
Monas menjabat
tangan halus Aira. “Aku Monas.” Aira terdiam sejenak. Dia merasakan dadanya
langsung berdebar aneh. Jantungnya berdegub kencang saat menatap pria tampan di
depannya itu. Monas perlahan melepas jabatan tangannya.
“Em Monas ya?”
Aira tersenyum gugup. “Heu kayak yang di ….” Aira tak melanjutkan ucapannya.
“Iya, namaku
diambil dari tugu yang ada di Jakarta itu. Namaku jelek ya?” jawab Monas.
“Oh enggak kok.
Malah itu beda dari yang lain. Kamu
ambil jurusan apa, Nas?”
“Geografi, semester empat. Kamu
sendiri, Ra?”
“Aku semester empat juga. Manajemen.”
“Hmm keren.”
Monas tersenyum. “Kamu mau baca di sini juga Ra, denganku sambil nunggu mata kuliah berikutnya?”
Jantung Aira
makin berdegub kencang saat Monas mengajaknya duduk bersama. Dadanya kembali
berdebar hebat. Dia seperti kehilangan kata-kata. “Eng, makasih Nas. Kapan-kapan aja ya.
Lagipula … aku masih mau nyari beberapa buku lagi buat aku pinjam,” ucap Aira
dengan senyuman senang bercampur gugup. “Em mari Nas, aku cari beberapa buku
dulu.”
“Iya, Ra. Silakan
…!”
Aira kemudian
berjalan ke rak buku lagi. Dia
berdiri terpaku. Hatinya berucap, huft ...
kenapa tadi dadaku langsung berdebar aneh ya?
Jantungku juga berdegub kencang saat bersalaman dengannya. Aku baru pertama kali merasakan ini. Sebelumnya aku belum
pernah sampai seperti ini. Hmm, ternyata
namanya adalah Monas. Walau kelihatan cuek tapi dia
sepertinya cowok yang baik. Aira tersenyum.
Beberapa saat setelah
mendapat buku yang dicari lalu Aira mencari tempat duduk yang agak jauh dari
Monas. Dari jauh dilihatnya Monas terus menatap pada buku yang dia baca. Dia
seperti sudah larut dan tenggelam dengan bukunya itu. Perlahan makin banyak mahasiswi
yang datang. Sejenak Aira memperhatikan ada yang aneh dengan perpustakaan itu. Aira menatap ke sekeliling penuh keheranan.
Dia membatin, Lho kalau aku lihat-lihat kok
rata-rata banyak cewek di sini ya? Aku perhatiin dari mereka semua
juga sesekali melihat ke arah Monas di
sana. Aneh. Apa mereka tertarik sama Monas? Apa kelebihan Monas sampai-sampai pada seperti ini?
Tak berapa lama kemudian Monas berdiri,
menaruh kembali buku yang
dibacanya ke rak. Berjalan melewati Aira dan terus ke penjaga perpustakaan.
“Mbak, makasih ya?”
“Iya, Mas Monas. Bukunya endak dibawa?”
“Besok aja Mbak, sekarang
belum butuh. Mari ….”
“Oh iya, silakan Mas.”
Monas pun keluar
perpustakan dan
kembali menuju kelasnya. Sementara mahasiswi yang
lain dan Aira hanya memandanginya. Dua gadis di dekat Aira membuka pembicaraan tapi dengan suara pelan.
“Oh, gantengnya kamu, Monas. Walau kamu cuek, aku mau jadi pacarmu.”
“Sepertinya dia belum punya,
soalnya aku belum pernah lihat
dia bonceng cewek.”
“Berarti masih ada peluang buat kita, yo?”
“Iyo.”
Kedua gadis di
samping Aira tersenyum bersama. Aira seakan tak percaya yang baru saja
didengarnya. Dia membatin, “Gila, ternyata banyak
mahasiswi di sini yang tertarik sama Monas.
Tapi, memang aku akui, Monas memang punya daya tarik yang
berbeda dan membuat penasaran para mahasiswi di sini.
Ah, kenapa aku juga tambah penasaran ya sama dia? Kok
jadi pingin lebih mengenal dia lebih dekat. Apa ya kelebihannya?” Aira pun segera keluar dari
perpus.
Di kantin Aira menghampiri Hesti dan Dewi teman dekatnya.
“Hei Ra, dari mana kok baru datang? Udah lama lho, kita nunggu kamu tahu.”
“Dari perpus Hes, tadi.”
“Pantesan lama banget.”
“Hes, boleh
nanya nggak?”
“Tentang apa, Ra? Kayaknya penting banget.”
“Ah nggak penting sih.”
“Ya udah ndak
penting juga ndak papa. Mau nanya apa?”
“Kamu tahu nggak siapa
Monas? Mahasiswa geografi itu?”
“Oo ... cowok ganteng dan
cuek itu. Ehm, jadi curiga aku,” ucap Hesti sambil senyum-senyum.
“Enggak gitu Hes,
tadi aku lihat dia di perpus,
terus banyak mahasiswi sini yang
ngomongin dia tadi,” tepis Aira.
“Iya sih Ra, banyak mahasiswi senior atau baru yang naksir sama dia. Nih kayak si Dewi, yang pingin banget deket sama
dia. Ehm ehm ....”
Dewi pun jadi salah tingkah digoda Hesti. Wajahnya merah padam. Padahal
dari tadi dia diam saja.
“Ah siapa lagi? Endak kok Ra, dia terlalu ganteng buat aku. Dia itu pantesnya sama kamu,” sanggahnya.
Hesti pun langsung
terkekeh geli. Sementara Aira hanya tersenyum.
“Ra, yang aku tahu dia itu mahasiswa geografi. Terus, dia
itu gabung sama anak-anak motor. Cuma
itu Ra yang aku tahu. Emang ada apa Ra, kok kamu
nanya dia? Kamu juga naksir?” tanya Hesti.
“Ah enggak Hes, cuma nanya aja kok.”
“Tapi, aku yakin kamu nanti bisa tertarik sama dia, Ra.” Hesti tersenyum. "Em,
aku kenal sama temennya, si Ian, tapi
endak kenal banget sih. Nanti aku tanyainlah kalau kamu pingin tahu tentang dia."
“Ah nggak usah Hes, jangan!”
Aira mulai sedikit panik.
“Bener …?”
“Bener Hes,” ucapnya mengelak. Namun
pipi Aira memerah. Sebenarnya Aira
ingin tahu lebih jauh. Hanya saja dia malu dengan kedua temannya.
“Ra, nanti malam online ya? Seperti biasa,” ucap Dewi.
“Iya. Tapi nanti malem aku mau ke gramedia dulu Wi. Agak
maleman aja ya OL-nya?”
“Oke.”
.
***
Hari pun berganti. Malam telah menyapu siang. Jam tujuh malam, Aira pergi ke Gramedia di salah satu mall di Solo. Sendiri dengan menaiki taksi.
Aira adalah anak bungsu seorang pengusaha kaya. Gadis nan cantik bernama lengkap Aira Renata Puspaloka, sejak kecil sampai masa remajanya
dihabiskan tinggal di Jakarta
dan Singapura. Namun, sekarang dia tinggal
di rumah budhenya dan lebih memilih kuliah di Solo.
Gadis nan cantik
itu tak nampak kalau sesungguhnya
dia adalah anak dari keluarga berada dan sekaligus berpengaruh. Terkesan
biasa saja. Padahal banyak bisnis keluarganya
yang sukses dan menggurita di negeri ini. Kedua kakaknya berada di
luar negeri menjadi pengusaha. Keduanya mengikuti jejak ayahnya.
Hanya sebentar
dengan taksi untuk melewati jalanan
dan menuju mall. Aira pun masuk dan melihat-lihat toko pakaian sebelum ke Gramedia. Setelah merasa cukup puas berkeliling dia pun masuk
ke toko buku itu. Malam itu dirinya ingin membeli beberapa buku.
Sambil melangkah pelan saat
mencari novel baru, tangannya
mengambil satu buku, lalu dia berjalan lagi ke sebalik rak buku
yang lain. Kedua matanya terus mengamati
ke atas. Dia menelusuri satu persatu judul buku. Saat dia meraih satu buku, tanpa
disengaja terlepas dan jatuh.
Brukk!!
“Aduh!” Terdengar suara orang kesakitan pelan karena kejatuhan buku yang diambil Aira.
“Oh maaf Mas, maaf nggak sengaja,” ucap Aira yang merasa bersalah karena buku itu jatuh mengenai bahu seorang pria di bawahnya.
“Iya, nggak apa-apa, Mbak,” ucap pria itu sambil memegang buku yang
jatuh dan ingin memberikannya. Saat wajah mereka bertatapan, keduanya
kaget. “Lho kamu, Ra?”
“Monas? Kamu? Maaf ya? Maaaf banget,” ucap
Aira merasa bersalah. Dadanya berdebar hebat lagi di depan pria itu. Dia
berusaha menutupinya dengan tersenyum.
“Iya nggak apa-apa, cuma kena di bahu ini,” balas Monas sambil nyengir, “kamu
lagi nyari buku
apa, Ra?”
“Egh aku nyari novel Nas, kamu sendiri?”
“Aku lihat-lihat buku perikanan. Kamu
suka novel, Ra?”
“Iya. Lho kamu kan mahasiswa geografi, kenapa
bacaannya perikanan?”
“Aku
suka ikan sama tanaman.
Di rumah aku pelihara ikan di
aquarium, dikit sih.”
“Oh, gitu.”
Mereka akhirnya saling berbincang
berdua sambil mencari buku selama
di Gramedia. Dan debaran di
dada Aira pun perlahan menghilang, bahkan malah berganti. Aira justru bertambah
gembira bertemu dan ditemani
tanpa disengaja oleh pria yang membuat hatinya penasaran.
“Em, Kamu tadi ke sini naik apa, Ra?”
“Naik taksi Nas, kamu sendiri?”
“Ya naik motor Ra, punyaku kan cuma motor. Pulang mau aku anter lagi nggak? Sekalian aku pulang.”
“Ya kalau dibolehin juga nggak apa-apa. Kamu pulang ke mana, Nas?”
“Ke Sukoharjo. Kamu ke mana?”
“Aku ke budheku di dekat Kraton.”
“Ya udah
ayo pulang! Atau masih mau nyari yang lain lagi?”
“Udah ini aja, yuk pulang Nas ...!”
Setelah membayar buku yang mereka beli, keduanya berjalan menuju ke tempat parkir.
Aira merasa senang, ternyata Monas bukanlah pria yang cuek. Bahkan Aira mengagumi pria di sampingnya
itu.
Keduanya keluar mall menuju ke jalan raya. Aira tak menyangka akan di bonceng lagi oleh
pria itu.
“Em, Kamu dari kuliah
belum pulang, Nas?
“Belum Ra, tadi aku main dulu
ke temen. Oya Ra,
pegangan ya? Kalau kamu jatuh, nanti aku yang repot.”
“Em, iya.” Aira tersenyum. Dia kemudian perlahan memegang pinggang Monas. “Nas, kamu langsung
pulang?”
“Em nggak sih, aku mau makan dulu. Aku
laper. Kamu mau ikut?”
“Em gimana ya? Tapi ya udah, kita nyari makan dulu. Aku juga
belum makan.” Aira kembali tersenyum. “Mau makan di mana, Nas?”
“Di pinggir
jalan aja ya, Ra? Tenang, aku jamin makanannya enak kok. Nggak apa-apa kan?”
“Em, nggak apa-apa.”
Tak berapa lama mereka berhenti di tempat makan
lesehan pinggir jalan. Keduanya masuk dan duduk di bawah seperti para pembeli
lainnya. Bapak pemilik warung lesehan mendatangi mereka dengan senyum ramah,
meski usianya sudah cukup
senja.
“Eh Mas Monas, kadingaren bareng sama gadis cantik. Biasanya sendirian terus. Pasti ini pacarnya ya,
Mas?” ucap pemilik warung dengan yakinnya.
“Oh sanés[2]Pak
Trimo. Ini temen kok, Pak,”
jawab Monas yang sedikit kaget,
tapi Aira justru malah tersenyum
kecil.
“Oo ... réncang[3]to.
Bapak kira pacarnya. Maaf ya Mas! Terus
mau makan apa ini?” tanya pak
Trimo, bapak pemilik warung lesehan yang sudah kenal dan akrab dengan Monas.
“Nggak perlu
minta maaf Pak Trimo. Em Aku pesen seperti biasanya aja.” Monas menoleh ke
Aira. “Kamu makan apa, Ra?”
“Em, aku samain yang kamu pesan aja, Nas.”
“Inggih Mas. Sekedap ditenggo riyin nggih?”[5]
“Nggih Pak,” jawab Monas.
Sementara itu Aira memperhatikan Monas. Dia tertegun
melihat pria
di depannya. Dia semakin yakin kalau ternyata Monas
bukan orang yang benar-benar cuek. Tapi malah sopan, hangat,
serta akrab. Beda sekali seperti yang dikatakan teman kampus yang lain.
“Nas, aku boleh nanya nggak?”
“Ya boleh Ra, kan nanya nggak bayar ini. Mau nanya apa, Ra?”
“Kenapa kamu kalau di kampus
kelihatan cuek dan nggak
banyak ngomong Nas? Maksudku hanya sekedarnya saja kalau
ngomong.”
“Apa aku kelihatannya seperti itu, Ra?”
“Iya, malah banyak yang ngomong seperti itu.”
“Ah, aku sebenarnya biasa aja kok Ra. Sama kayak yang lain. Aku milih diam itu karena aku nggak mau ikut campur urusan orang lain. Aku hanya pingin nyaman aja. Itu
aja kok, Ra,” jawab Monas
datar.
“Em, gitu ya,” ucap Aira sambil tersenyum lagi.
Tak berapa lama
makanan pun datang. Dua porsi nasi liwet dengan sayur gudeg, telur, tempe goreng, dan
es jeruk tersaji di meja keduanya.
“Inggih Pak, matur suwun.”[7]
Pak Trimo
kembali ke belakang.
“Ayo Ra, dimakan!”
“Iya. Nas, kamu sering makan di sini
ya?” ucap Aira sambil meminum es jeruknya.
“Iya nggak sering, Ra. Tapi aku suka makan di tempat yang begini. Tempat lesehan seperti ini biasanya murah, nggak ribet, ramah, santai, serta enak.”
“Em gitu ….”
“Dan lagi, Ra. Kita kan bisa berbagi rizki sama warung yang kurang ramai. Coba kalau semua makan di restoran,
nanti tempat seperti ini bisa
bangkrut. Udah gitu duitku juga enggak cukup untuk makan di restoran yang mahal,” jawab Monas sambil tersenyum dan menelan makanannya.
“Heu ... kamu bisa aja Nas.”
Aira tersenyum.
Dia menatap pria di depannya sambil mengunyah dan menelan makanannya perlahan.
Dia kagum dengan Monas,
tentang cara berpikir, kejujurannya, dan apa adanya. Perasaannya bertambah terkesan, bahkan mungkin lebih ke arah menyukai. Tapi Monas seperti tak
peduli. Pria itu tak pernah bertanya tentang siapa
dirinya ataupun perihal keluarganya. Aira terus menatapnya. Aira merasa kalau Monas benar-benar berbeda.
“Kamu kenapa, Ra? Kok ngelihatin aku gitu terus. Ada yang aneh ya?”
“Ah enggak, enggak ada yang aneh kok,” jawab Aira terlihat salah
tingkah saat ucapan Monas mengagetkannya. Dia pun menunduk lalu mengambil es jeruk dan
meyeruputnya. Debaran aneh itu kembali hadir di hatinya. Sejenak terdiam. Kemudian
dia kembali menatap pria tampan di depannya. Matanya berbinar. Senyumnya
terlihat kembali. Entah kenapa Aira merasakan keinginan untuk selalu dekat
dengan pria di depannya itu. Dia ingin sekali mengungkapkannya. Namun, ragu dan
malu menjadi tembok penghalang niatnya itu. Setelah beberapa saat tertahan, akhirnya
Aira mencoba memberanikannya. “Em
Nas ….” Ucapannya kemudian
terhenti. Aira kembali terdiam. Seketika tembok ragu dan malu kembali hadir
menghalanginya.
Monas menghentikan makannya dan menatap gadis
nan cantik di depannya. “Iya Ra. Ada apa?”
Sambil
menyeruput es jeruknya, Aira berusaha mengumpulkan kembali keberaniannya yang
tadi sempat kabur. “Em boleh nggak
aku kenal dan dekat sama kamu, Nas?”
Monas pun
langsung tertawa pelan. Sementara Aira menjadi bingung sendiri. Dia tak tahu dimana
letak lucunya. Padahal pertanyaannya tadi adalah serius. “Lho bukannya kamu sudah
dekat sama aku? Kamu duduk aja sudah di depanku, Ra?” Monas
tersenyum.
Mendengar
jawaban Monas, Aira pun ikut tersenyum lebar. Namun berkat itu dia merasa
terbantu. Tembok ragu dan malu yang menghalanginya langsung runtuh dan menghilang
begitu saja. “Em bukan itu
maksudku. Maksudku … akrab.
Ya, akrablah gitu.”
Monas mengambil minumnya. Dia menyeruputnya
sambil menatap Aira. “Boleh aja
Ra, tapi nanti kalau udah akrab sama aku, terus kamu
malah rugi gimana?”
“Rugi gimana maksudnya, Nas?” Aira heran.
“Kan aku orangnya cuma begini dan nggak banyak punyanya.”
Aira kembali
tersenyum. “Ah kamu bisa aja.”
Di sela-sela mereka ngobrol, tak terasa waktu pun sudah beranjak larut malam. Semakin
sepi dan semakin dingin
terasa.
“Ra udah malem, ayo pulang! Aku anter.”
“Iya Nas. Em tapi aku boleh minta nomer hp
kamu, Nas?”
“Boleh, Ra.”
Setelah bertukar
nomer hp dan membayar makan, mereka berpamitan dengan pak Trimo sang pamilik warung. Keduanya beranjak pergi menyusuri
kembali jalanan kota Solo nan damai. Monas mengantar Aira ke tempat Budhenya. Gadis nan cantik rupa itu memegang pinggang pria tampan itu sambil mendekatkan tubuhnya. Ada perasaan sangat
nyaman yang dirasakannya saat bersama Monas. Sampai
di ujung jalan, tepatnya
rumah yang besar di ujung jalan
dan pagar yang cukup tinggi, Aira pun meminta Monas berhenti.
“Di sini kamu tinggal, Ra?”
“Iya Nas. Mau masuk dulu, Nas?”
“Ah enggak Ra, udah malam. Kapan-kapan aja.”
“Em makasih ya Nas, yang tadi. Sama sudah
nganter aku ke sini.”
“Sama-sama, Ra. Pulang dulu ya? Assalamualaikum .…”
“Iya. Wa alaikum salam ....”
Kemudian Monas
langsung menarik gas perlahan, meninggalkan Aira di depan gerbang sendirian. Setelah Monas tak terlihat lagi dari
pandangan matanya, Aira pun
masuk ke dalam halaman yang
cukup luas itu sambil senyum-senyum sendiri. Dia serasa tak percaya
malam itu bisa bertemu dan mengenal
Monas tanpa disengaja. Di dalam rumah sudah ada Budhenya yang sedang menunggu, dengan wajah terlihat cemas.
“Dari mana kamu, Rara? Kok malem
banget pulangnya. Budhe
khawatir lho. Apalagi kamu sendirian, endak ada yang ikut nemenin kamu. Budhe takut kamu
kenapa-kenapa,” ucap Budhenya yang sedari kecil memanggilnya dengan panggilan Rara.
“Eghh, maaf Budhe kalau Aira bikin Budhe khawatir. Aira tadi ketemu temen terus ngobrol dulu sampai malem. Maaf banget
ya, Budhe?”
“Ya sudah, lain
kali ngomong dulu ya? Sama nanti kamu harus ada yang nemenin kalau mau
kemana-mana, biar Budhe endak khawatir. Nanti kalau ada apa-apa,
terus ayah kamu nanya ke
Budhe, gimana?”
“Iya Budhe, nanti enggak
lagi.”
“Yo wis, kamu cepat makan sana! Sudah disiapkan
dari tadi.”
“Aira sudah makan Budhe, tadi bareng temen. Aira pamit ke kamar aja Budhe.”
“Yo wis, sana istirahat!”
“Permisi Budhe ….”
“Iyo ….”
Maklum, kalau kekhawatiran itu ada pada Budhenya. Sebab Aira sekarang tinggal bersamanya, dan kini menjadi tanggung jawabnya. Setelah masuk kamar,
Aira duduk di tempat tidur. Diam
sambil sesekali tersenyum. Dia nampak bahagia. Wajah Monas masih terus membayanginya. Oh ternyata nama lengkapnya Monas Dewantoro.
Cukup hebat dan mengagumkan. Seperti ki Hajar Dewantoro aja.
Dia juga baik, jujur dan apa
adanya. Aduhh … kenapa aku selalu salah tingkah ketika bersamanya? Kenapa tadi
hatiku berdebar lagi saat dengannya? Apakah aku sudah jatuh hati? Ah
… Monas sangatlah hangat dan menyenangkan orangnya.
Beda dengan cowok-cowok yang selama ini aku kenal dan
dekat denganku. Aku akui dia cukup tampan dengan rambutnya
yang sedikit panjang itu. Dan sepertinya aku
mulai menyukainya ..., batinnya.[ ]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar