Senin, 25 Agustus 2014

Di Gerbang Kampus



Di Gerbang Kampus






HARI SENIN PAGI Monas keluar dari rumahnya. Dia langsung menarik gas motor ninjanya yang sudah sedikit berganti warna. Menyusuri jalanan dari Sukoharjo, Solo Baru, melewati kraton dan terus sampai ke kampus.  Dia selalu datang di saat jam mata kuliah akan dimulai. Berbeda dengan ketiga temannya yang datang lebih awal karena ingin nongkrong terlebih dulu.
Sepuluh menit sebelum masuk, Monas sudah sampai gerbang  kampus. Dia mengendarai motornya dengan pelan. Saat mau mengarah ke kelas, di depannya terlihat seorang gadis berambut sebahu dan berjalan agak terburu-buru. Monas mendekat dan berhenti di sampingnya.
“Hai, mau bareng ke dalam?” ucap Monas sambil membuka kaca helm. Gadis berambut sebahu menoleh. Dia menatap sejenak dengan pria yang menawarinya tumpangan. Namun dia tak mengenalnya. Dia diam. “Ayo naik! Nanti kamu keburu telat lho.”
Gadis berambut sebahu itu melihat jam tangannya. Dia memang pasti terlambat masuk kelas kalau berjalan kaki ke dalam kampus.  Em, beneran boleh?”  
“Ya bolehlah, kan aku tadi yang nawarin. Kamu mahasiswi apa? Ayo aku antar!
Gadis berambut sebahu itu tersenyum. “Ya udah,  makasih ya sebelumnya.”
“Kamu mahasiswi fakultas apa?” tanya Monas kembali.
Ekonomi dan Bisnis.”
Oo … yaudah ayo naik!.”
Monas kemudian mengantarnya. Namun selama diatas motor keduanya hanya terbungkus dalam diam. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir keduanya. Dan setelah sampai di depan fakultas ekonomi dan Bisnis, Monas pun berhenti.
“Nah udah sampai. Buruan nanti kamu telat!
Makasih ya dah nganter?” balas gadis itu sambil memberikan senyumnya lagi.
Ya, sama-sama,” ucap Monas sambil membalas senyum gadis itu dari balik helm. “Assalamuallaikum .…”
Wa allaikum salam.                
Monas pun langsung bergegas ke kelasnya. Jam mata kuliahnya juga segera akan dimulai. Namun diam-diam Monas mengagumi gadis yang di boncengnya tadi. Cantik sekali mahasiswi tadi, suaranya juga lembut. Tapi, kok aku nggak pernah lihat dia, ya? Dan dia seperti berbeda dengan mahasiswi yang lain. Pasti anak orang berada. Ah, sudahlah, gumamnya.
Sementara itu di fakultas ekonomi, saat dosen memberi mata kuliah, Aira tampak duduk melamun. Hatinya berucap, siapa ya cowok tadi? Badannya tinggi dan gagah. Rambutnya agak panjang. Kok, aku belum pernah lihat dia, ya. Emm meski naik motor, tapi tubuhnya harum. Aira tersenyum. Cuek juga dia tadi. Enggak seperti mahasiswa yang lain, yang banyak nanya ini itu. Beda banget. Tapi sayang, wajahnya kulihat samar karena tertutup helm. batinnya.
“Eh, Ra, kenapa telat?” tanya seorang gadis disampingnya pelan namun mengejutkannya.
Lamunan Aira pun buyar. Bayangan pria yang mengantarnya tadi langsung lenyap dari pikirannya. “Egh ya ... ada apa, Hes?” Aira terlihat sedikit bingung .
“Makanya jangan bengong wae. Kenapa kamu telat?”
“Em, mobilku lagi di bengkel, Hes.”
“Em, aku lihat tadi kamu dianter cowok pakai motor. Tadi mas Roni, anaknya budhemu yang nganter Ra?
“Em bukan mas Roni itu.”
“Kalau bukan mas Roni, pacarmu ya, Ra?” Hesti tersenyum dan menaik-turunkan alisnya.
“Eh bukan juga. Aku juga nggak tahu Hes, siapa dia?”
Tapi, kamu pas bengong juga cengar-cengir dari tadi aku perhatiin. Jadi curiga aku.”
“Ah, nanti aja aku ceritain. Lagi belajar nih,” sangkal Aira yang berusaha menutupi.
“Oke, jadi penasaran aku sama cowok tadi.”
Selama mata kuliah berjalan Aira pun  masih dibuat penasaran oleh pria yang mengantarnya dari gerbang sampai ke depan kelas. Sebab dia merasa biasanya semua mahasiswa banyak cara untuk bisa kenal dan dekat dengannya. Tapi, pria yang mengantarnya tadi hanya diam saja. Cuek, seperti tidak ingin kenal dengan dirinya.  
Saat jam istirahat Aira dan kedua sahabatnya, Hesti & Dewi duduk di kantin. Ramai sekali kantin hari itu. Penuh  mahasiswa dan mahasiswi untuk makan siang. Hesti menatap Aira. Dia masih penasaran.
Eh Ra, siapa cowok tadi?”
Aira seketika berhenti menyeruput minumannya. “Aduh Hes … kan aku tadi udah bilang, aku nggak kenal.”
Kok endak kenal gimana sih, Ra? Biasanya kamu kan endak pernah mau bareng sama cowok, kalau belum kenal.
“He em,” sahut Dewi sambil mencomot kue.
Gini-gini Hes, Wi, aku ceritain kejadiannya. Tadi pagi itu aku udah mau telat masuk kelas. Nah, pas aku lagi jalan buru-buru di depan gerbang kampus, ada cowok naik motor berhenti nyamperin aku. Dia nawarin boncengan ke aku. Jadi ya, aku ikut aja karena aku buru-buru, gitu Hes.”
“Tapi sepertinya boleh juga Ra. Ehm ehm .…”
Ah udahlah, terserah kalian kalau nggak percaya.” Aira menyeruput lagi minumannya.
Cieee Wi, sepertinya ada yang lagi gimanaaa gitu.”
Sepertinya gitu sih Hes, lagi penasaran. Ehm ehm ....”
“Bodo amat,” jawab Aira yang sedikit kesal karena digoda oleh kedua temannya. Walau sebenarnya dia pun penasaran dengan pria yang mengantarnya.
Sementara di sudut meja yang lain, di antara mahasiswa yang berkumpul di kantin, sambil duduk mata Agung, Raffi dan Ian pun melihat Aira yang sedang bersama kedua temannya. Terutama Raffi yang memang sudah lama tertarik dengan Aira. Oh, andai aku bisa dekat dan bisa menjadi kekasihmu, Ra. Alangkah bahagianya aku, batinnya.
Di saat Raffi terus memandangi Aira, tiba-tiba…
“Hai Kunyang!” gertak Ian. Hahaha ... ckckckckck ..., biasa saja kali ngelihatnya!”
“Ah, kampret kowe. Dasar Kucrut.” Raffi terlihat kesal dengan gertakan Ian yang mengagetkannya.
Hahaha ... iya, biasa ja Fi. Kita tahu kalau gadis itu memang kembangnya kampus ini.” Agung pun ikut berkomentar datar.
Iya Bro, sempurna sekali gadis itu. Udah cantik, tinggi, putih lagi.” Raffi memegang dagunya. Kemudian dia mengusapnya. “Gimana ya biar aku bisa ngedapetin dia?
“Ah, paling cuma kamu mainin terus kamu putusin. Kowe kan boyo?[1] Sudah kebaca Bro …,” sahut Ian
“Endak Bro, Bener. Kalau yang ini aku serius, endak bakal main-main. Suerr,” ucap Raffi sambil menunjukkan dua jarinya ke Ian.
“Ah, kemarin saja si Rani baru kowe putusin kan?
“Pokoknya Ian, kowe bantu aku ya?” Raffi memegang pundak Ian. “Ngedapetin dia.”
Ah males ah. Kan aku juga udah sering bantuin kowe terus to?”
Bener Kucruuut, aku serius ini. Bantuin ya temanku yang baik?” ucap Raffi penuh harap.
Yo wis … tapi gimana nanti aja yo?
“Nah gitu lah. Kamu memang sahabatku nomer satu, Ian,” ucap Raffi bangga sambil menepuk-nepuk pundak Ian.
Sejenak hening.
Agung menatap Ian. “Lho si Monas di mana kok endak ke sini?”
Biasa, dia ke perpus dulu,” jawab Ian.
Sambil minum kopi Agung cs terus asik ngobrol. Namun, pandangan mata Raffi tetap ke arah meja di mana Aira berada. Bersamaan dengan itu, ada dua mahasiswa senior yang datang. Iwan Permana dan Doni Angga Kusuma langsung duduk diantara ketiga cewek itu. Mereka terlihat sudah sangat akrab, terutama Iwan. Dia dikenal sudah cukup dekat dengan Aira. Namun, masih juga belum bisa mendapatkan hatinya.
Waduh Kunyang, sainganmu dateng lho. Berat banget sepertinya,” ucap Ian sambil cengar-cengir.
Ah masa? Terus gimana Ian?”
“Aku kasih saran mau endak?”
“Boleh,” sahut Raffi penasaran. “Kucrut, saranmu apa?”
“Lebih baik kowe mundur wae. Hahaha ....”
Ah kampret kowe, kirain saran apa gitu. Malah aku suruh mundur. Ya endaklah. Pokoknya aku endak bakal mundur sampai dia jadi pacarku. Dan kowe harus bantu aku. Ngerti!”
Tak berapa lama Monas pun muncul. Terlihat dia berjalan masuk kantin menuju ketiga temannya.  Dia melewati meja Aira yang sedang makan. Saat yang bersamaan pula Aira melihat ke arah Monas yang lewat di depannya. Dia membatin, Apakah dia ya, yang tadi nganter aku ke kelas? Sepertinya sih dia? Celana dan jaketnya … bener itu. Oh, wajahnya ganteng juga.
Aira tersenyum. Dia seketika merasa senang karena bertemu dengan cowok yang membuat penasaran hatinya tadi. Apalagi ternyata wajahnya juga tampan. Pandangannya terus menatap kemana Monas berjalan. Tiba-tiba…
Eh Ra, kamu kenapa kok diam aja dari tadi?” tanya Iwan pelan namun mengagetkannya.
“Egh, nggak ada apa-apa Mas Iwan. Aku baik-baik aja kok.”  
“Ra, nanti sore kita jalan bisa nggak?
“Em, gimana ya? Aku lagi pingin di rumah, Mas. Enggak pingin ke mana-mana.”
Oo ... ya udah, nggak apa-apa kok. Tadinya aku pingin ngajak jalan malam ini. Em, nonton sama makan malam bareng.
Em lain waktu aja ya, Mas?”
Ya udah, lain waktu juga nggak apa-apa.”
Kok cuma Aira sih yang diajak, Mas. Aku sama Dewi endak boleh ikut?” ucap Hesti.
Iya nih, kok cuma Aira tok,” tambah Dewi sambil tersenyum..
Ya enggaklah, kalian boleh ikut kok.
Nah gitu Mas, jadi biar tambah asik,” ucap Dewi  sambil tangannya  menyenggol Aira. Aira pun salah tingkah.
Sementara itu Monas sudah bergabung dengan Agung, Raffi dan Ian.
“Lho, kok beda?  Nggak seperti biasanya hari ini. Kok seperti lagi serius ini. Ada apa Bro?” tanya Monas sambil duduk di samping Ian.
Ini Nas, si Raffi lagi ngincer cewek kaé[2] lho. Cewek cakep kembang kampus, yang duduk sebelah sana. Yang rambutnya panjang sebahu kaé.
“Yang mana Ian?
“Kaé lho Nas, kaé ....”
Dan saat yang bersamaan, mata Monas dan Aira bertemu. Keduanya saling pandang. Lho itu kan cewek yang aku boncengin tadi. O jadi dia ternyata kembang kampus ini, batin Monas.
“Em yang cakep kaé. Bener Fi?
Iya Nas, aku sebenernya sudah lama ngincer dia.”
“Lha Rani, gimana?
Yach, seperti endak ngerti Raffi wae Nas,” sahut Ian.
“Nas, bantu aku yo?” ucap Raffi.
Aduh, aku bisa bantu apa? Aku kasihan Rani, Fi.”
“Rani udah menjauh dari aku. Kowe ngedukung wae, yo?
Yo wis terserah. Tapi kalau cewek kaé mau juga sama kamu lho. Kalau nggak mau, aku nggak dukung.
Siiiip. Nah gitu sobatku yang paling baik.” Raffi mengacungkan jempolnya.
Namun obrolan mereka yang asik itu pun harus berakhir. Mata kuliah berikutnya sudah menanti. Kantin yang tadinya ramai dengan banyaknya mahasiswa berangsur sepi.
Selama di kelas, Aira masih terusik oleh rasa panasaran tentang siapakah cowok yang mengantarnya tadi. Ingin sekali dirinya mengenal lebih jauh lagi. Kenapa hati dan pikiranku selalu ke dia? Apakah aku jatuh hati padanya? Tapi kan aku baru bertemu sekali. Aduh ... kenapa ya aku ini? batinnya.
Sampai mata kuliah berakhir, Aira tetap tidak bisa konsentrasi. Setelah dosen meninggalkan ruangan, Hesti pun menegurnya.
Eh Ra, kok tumben kamu melamun terus hari ini. Endak biasanya, kenapa?”
“Em, nggak ada apa-apa kok Hes.”
“Ah, bohong kamu, Ra. Jujur saja lagi .…”
Beneran Hes, nggak ada apa-apa,” sanggah Aira yang terus berusaha menutupi.
Ya sudah, yuk pulang bareng naik mobilku!”
Tapi anter ke toko bunga ya, Hes? Biasa, aku pingin beli bunga dulu.”
Iya Ra, dianter kok. Ayo Wi!”
Mereka pun akhirnya meninggalkan kampus kesayangan. Tempatnya para mahasiswa dan  mahasiswi menimba ilmu, berbagi pengetahuan, belajar bersosial. Dan tempatnya orang-orang terdidik untuk meraih masa depan lebih baik yang tiap hari berganti pengetahuan disiplin ilmu untuk dipahami. [ ]



[1]Buaya alias playboy.
[2] itu                                                         



2 komentar:

  1. Cerita nya bersambung tah. Gue mah dah serius bca nya mpe lpa dah yg di ruangam

    BalasHapus