Di Gerbang Kampus
HARI SENIN PAGI Monas keluar dari rumahnya. Dia langsung menarik gas motor ninjanya yang sudah sedikit berganti warna. Menyusuri jalanan dari
Sukoharjo, Solo Baru, melewati
kraton dan terus sampai ke kampus. Dia selalu datang di saat jam mata kuliah akan dimulai. Berbeda dengan ketiga
temannya yang datang lebih awal karena ingin nongkrong terlebih dulu.
Sepuluh menit sebelum masuk, Monas sudah sampai gerbang kampus. Dia mengendarai motornya
dengan pelan. Saat mau mengarah
ke kelas, di depannya terlihat seorang gadis berambut sebahu dan berjalan agak terburu-buru. Monas mendekat dan berhenti di
sampingnya.
“Hai, mau bareng
ke dalam?” ucap Monas sambil membuka kaca helm. Gadis berambut sebahu menoleh.
Dia menatap sejenak dengan pria yang menawarinya tumpangan. Namun dia tak
mengenalnya. Dia diam. “Ayo naik! Nanti kamu keburu telat lho.”
Gadis berambut
sebahu itu melihat jam tangannya. Dia memang pasti terlambat masuk kelas kalau berjalan
kaki ke dalam kampus. “Em, beneran boleh?”
“Ya bolehlah,
kan aku tadi yang nawarin. Kamu mahasiswi apa? Ayo aku antar!”
Gadis berambut
sebahu itu tersenyum. “Ya udah, makasih ya sebelumnya.”
“Kamu mahasiswi fakultas
apa?” tanya Monas kembali.
“Ekonomi dan Bisnis.”
“Oo … yaudah ayo naik!.”
Monas kemudian mengantarnya. Namun selama diatas motor keduanya hanya terbungkus
dalam diam. Tak sepatah kata pun
keluar dari bibir keduanya. Dan setelah sampai di depan fakultas ekonomi dan Bisnis,
Monas pun berhenti.
“Nah udah
sampai. Buruan nanti kamu telat!”
“Makasih ya dah nganter?” balas gadis itu sambil memberikan
senyumnya lagi.
“Ya, sama-sama,” ucap Monas sambil membalas senyum gadis itu dari balik
helm. “Assalamuallaikum .…”
“Wa allaikum salam.”
Monas pun langsung bergegas ke kelasnya. Jam mata kuliahnya juga segera akan
dimulai. Namun diam-diam Monas mengagumi gadis yang di boncengnya tadi. “Cantik sekali mahasiswi tadi, suaranya juga lembut. Tapi,
kok aku nggak pernah lihat
dia, ya? Dan dia seperti berbeda
dengan mahasiswi yang lain. Pasti anak orang berada. Ah, sudahlah,” gumamnya.
Sementara itu di fakultas ekonomi, saat dosen
memberi mata kuliah, Aira tampak duduk melamun. Hatinya berucap, siapa
ya cowok tadi? Badannya tinggi dan gagah. Rambutnya
agak panjang. Kok, aku belum pernah lihat dia,
ya. Emm meski naik motor, tapi tubuhnya
harum. Aira tersenyum. Cuek
juga dia tadi. Enggak seperti mahasiswa
yang lain, yang banyak nanya ini itu. Beda
banget. Tapi sayang, wajahnya kulihat samar karena tertutup helm. batinnya.
“Eh, Ra, kenapa
telat?” tanya seorang gadis disampingnya pelan namun mengejutkannya.
Lamunan Aira pun
buyar. Bayangan pria yang mengantarnya tadi langsung lenyap dari pikirannya. “Egh ya ...
ada apa, Hes?” Aira terlihat sedikit
bingung .
“Makanya jangan
bengong wae. Kenapa kamu telat?”
“Em, mobilku lagi di
bengkel, Hes.”
“Em, aku lihat tadi kamu dianter cowok
pakai motor. Tadi mas Roni,
anaknya budhemu yang nganter Ra?
“Em bukan mas
Roni itu.”
“Kalau bukan mas
Roni, pacarmu ya, Ra?” Hesti
tersenyum dan menaik-turunkan alisnya.
“Eh bukan juga. Aku juga nggak tahu Hes,
siapa dia?”
“Tapi, kamu pas
bengong juga cengar-cengir dari tadi aku perhatiin. Jadi curiga aku.”
“Ah, nanti aja aku ceritain. Lagi belajar nih,” sangkal Aira yang
berusaha menutupi.
“Oke, jadi penasaran aku
sama cowok tadi.”
Selama mata
kuliah berjalan Aira pun masih dibuat penasaran oleh pria yang mengantarnya dari
gerbang sampai ke depan kelas. Sebab
dia merasa biasanya semua
mahasiswa banyak cara untuk bisa kenal dan dekat dengannya. Tapi, pria yang mengantarnya tadi hanya diam saja. Cuek, seperti tidak ingin kenal dengan dirinya.
Saat jam istirahat Aira dan kedua
sahabatnya, Hesti & Dewi duduk di
kantin. Ramai sekali
kantin hari itu. Penuh mahasiswa dan mahasiswi untuk makan siang. Hesti
menatap Aira. Dia masih penasaran.
“Eh Ra, siapa cowok tadi?”
Aira seketika
berhenti menyeruput minumannya. “Aduh Hes … kan aku tadi udah bilang, aku nggak kenal.”
“Kok endak kenal gimana
sih, Ra? Biasanya kamu kan endak pernah mau bareng sama cowok, kalau belum kenal.”
“He em,” sahut
Dewi sambil mencomot kue.
“Gini-gini Hes, Wi, aku ceritain
kejadiannya. Tadi pagi itu aku udah mau telat masuk kelas. Nah, pas aku lagi jalan buru-buru di depan gerbang
kampus, ada cowok naik motor
berhenti nyamperin aku. Dia nawarin boncengan ke aku. Jadi ya, aku ikut aja karena aku buru-buru, gitu Hes.”
“Tapi sepertinya
boleh juga Ra. Ehm ehm .…”
“Ah udahlah, terserah kalian kalau nggak
percaya.” Aira menyeruput lagi minumannya.
“Cieee Wi, sepertinya
ada yang lagi gimanaaa gitu.”
“Sepertinya gitu sih Hes, lagi penasaran. Ehm ehm ....”
“Bodo amat,” jawab Aira yang sedikit kesal karena
digoda oleh kedua temannya.
Walau sebenarnya dia pun penasaran dengan pria yang mengantarnya.
Sementara di sudut meja yang lain, di antara mahasiswa yang
berkumpul di kantin, sambil duduk mata Agung, Raffi dan
Ian pun melihat Aira yang sedang bersama kedua temannya. Terutama Raffi yang memang sudah lama tertarik dengan Aira. Oh, andai aku bisa dekat dan bisa menjadi kekasihmu, Ra. Alangkah
bahagianya aku, batinnya.
Di saat
Raffi terus memandangi Aira, tiba-tiba…
“Hai Kunyang!” gertak Ian. Hahaha ... ckckckckck
..., biasa saja kali ngelihatnya!”
“Ah, kampret kowe. Dasar Kucrut.” Raffi
terlihat kesal dengan gertakan Ian yang mengagetkannya.
“Hahaha ... iya, biasa ja Fi. Kita tahu kalau gadis itu memang kembangnya kampus ini.”
Agung pun ikut berkomentar datar.
“Iya Bro, sempurna sekali gadis itu. Udah
cantik, tinggi, putih lagi.” Raffi memegang dagunya. Kemudian dia mengusapnya.
“Gimana ya biar aku bisa ngedapetin dia?”
“Endak Bro, Bener. Kalau
yang ini aku serius, endak bakal main-main. Suerr,” ucap Raffi sambil
menunjukkan dua jarinya ke Ian.
“Ah, kemarin saja si Rani baru kowe putusin kan?”
“Pokoknya Ian, kowe bantu aku ya?” Raffi memegang pundak
Ian. “Ngedapetin dia.”
“Ah males ah. Kan aku juga udah sering bantuin kowe terus to?”
“Bener Kucruuut, aku serius ini. Bantuin ya
temanku yang baik?” ucap
Raffi penuh harap.
“Yo wis
… tapi gimana nanti aja yo?”
“Nah gitu lah.
Kamu memang sahabatku nomer satu, Ian,” ucap Raffi bangga sambil menepuk-nepuk
pundak Ian.
Sejenak hening.
Agung menatap Ian.
“Lho si Monas di mana kok endak ke sini?”
“Biasa, dia ke perpus dulu,” jawab Ian.
Sambil minum
kopi Agung cs terus asik
ngobrol. Namun, pandangan mata Raffi tetap ke arah meja di mana Aira berada. Bersamaan dengan itu, ada
dua mahasiswa senior yang datang. Iwan Permana dan Doni Angga Kusuma langsung duduk diantara ketiga cewek itu.
Mereka terlihat sudah sangat akrab, terutama Iwan. Dia dikenal sudah cukup dekat dengan Aira. Namun, masih juga belum bisa mendapatkan hatinya.
“Waduh Kunyang, sainganmu dateng lho. Berat
banget sepertinya,” ucap Ian
sambil cengar-cengir.
“Ah masa? Terus gimana Ian?”
“Aku kasih saran mau endak?”
“Boleh,” sahut
Raffi penasaran. “Kucrut,
saranmu apa?”
“Lebih baik kowe mundur wae. Hahaha ....”
“Ah kampret kowe, kirain
saran apa gitu. Malah aku suruh mundur. Ya endaklah. Pokoknya aku endak bakal
mundur sampai dia jadi pacarku. Dan kowe harus bantu aku. Ngerti!”
Tak berapa lama
Monas pun muncul. Terlihat dia berjalan masuk
kantin menuju ketiga temannya. Dia melewati meja Aira yang sedang makan. Saat yang bersamaan pula
Aira melihat ke arah Monas yang
lewat di depannya. Dia
membatin, Apakah dia ya, yang
tadi nganter aku ke kelas? Sepertinya sih dia? Celana dan
jaketnya … bener itu. Oh, wajahnya ganteng juga.
Aira tersenyum.
Dia seketika merasa senang karena bertemu
dengan cowok yang membuat penasaran hatinya
tadi. Apalagi ternyata wajahnya juga tampan. Pandangannya terus menatap
kemana Monas berjalan. Tiba-tiba…
“Eh Ra, kamu kenapa kok diam aja dari tadi?” tanya Iwan pelan
namun mengagetkannya.
“Egh, nggak ada apa-apa Mas Iwan. Aku baik-baik aja kok.”
“Ra, nanti sore kita jalan bisa nggak?”
“Em, gimana ya?
Aku lagi pingin di rumah, Mas. Enggak pingin ke mana-mana.”
“Oo ... ya udah, nggak apa-apa kok. Tadinya aku pingin ngajak jalan
malam ini. Em, nonton sama
makan malam bareng.”
“Em lain waktu aja ya, Mas?”
“Ya udah, lain waktu juga nggak apa-apa.”
“Kok cuma Aira sih yang diajak, Mas. Aku sama Dewi endak boleh ikut?” ucap Hesti.
“Iya nih, kok cuma Aira tok,” tambah Dewi sambil tersenyum..
“Ya enggaklah, kalian boleh ikut kok.”
“Nah gitu Mas, jadi biar tambah asik,” ucap
Dewi sambil tangannya menyenggol
Aira. Aira pun salah tingkah.
Sementara itu
Monas sudah bergabung dengan
Agung, Raffi dan Ian.
“Lho, kok beda? Nggak seperti biasanya hari ini. Kok seperti
lagi serius ini. Ada apa Bro?”
tanya Monas sambil duduk di samping Ian.
“Ini Nas, si Raffi lagi ngincer cewek kaé[2]
lho. Cewek cakep kembang kampus,
yang duduk sebelah sana. Yang
rambutnya panjang sebahu kaé.”
“Yang mana Ian?”
“Kaé lho Nas, kaé
....”
Dan saat yang bersamaan, mata Monas dan Aira bertemu. Keduanya saling pandang. Lho
itu kan cewek yang aku boncengin tadi. O jadi dia ternyata
kembang kampus ini, batin Monas.
“Em yang cakep
kaé. Bener Fi?”
“Iya Nas, aku sebenernya sudah lama ngincer
dia.”
“Lha Rani,
gimana?”
“Yach, seperti endak ngerti Raffi wae Nas,” sahut Ian.
“Nas, bantu aku
yo?” ucap Raffi.
“Aduh, aku bisa bantu apa? Aku kasihan Rani,
Fi.”
“Rani udah
menjauh dari aku. Kowe ngedukung wae, yo?”
“Yo wis terserah. Tapi kalau cewek kaé mau juga sama kamu lho. Kalau nggak mau, aku nggak dukung.”
“Siiiip. Nah gitu sobatku yang paling baik.” Raffi mengacungkan jempolnya.
Namun obrolan
mereka yang asik itu pun harus berakhir. Mata kuliah berikutnya sudah menanti. Kantin yang tadinya ramai dengan banyaknya
mahasiswa berangsur sepi.
Selama di kelas, Aira masih terusik oleh rasa panasaran tentang
siapakah cowok yang mengantarnya tadi. Ingin sekali dirinya mengenal lebih jauh lagi. Kenapa hati dan
pikiranku selalu ke dia? Apakah aku jatuh hati padanya?
Tapi kan aku baru bertemu sekali. Aduh ... kenapa ya aku ini?
batinnya.
Sampai mata
kuliah berakhir, Aira tetap tidak bisa konsentrasi. Setelah dosen
meninggalkan ruangan, Hesti pun
menegurnya.
“Eh Ra, kok tumben kamu melamun terus hari
ini. Endak biasanya, kenapa?”
“Em, nggak ada apa-apa kok Hes.”
“Ah, bohong kamu, Ra. Jujur saja lagi .…”
“Beneran Hes, nggak ada apa-apa,” sanggah Aira yang terus
berusaha menutupi.
“Ya sudah,
yuk pulang bareng naik mobilku!”
“Tapi anter ke toko bunga ya, Hes? Biasa,
aku pingin beli bunga dulu.”
“Iya Ra, dianter kok. Ayo Wi!”
Mereka pun akhirnya
meninggalkan kampus kesayangan. Tempatnya para mahasiswa dan mahasiswi menimba ilmu, berbagi pengetahuan,
belajar bersosial. Dan tempatnya
orang-orang terdidik untuk meraih masa depan lebih baik yang tiap hari berganti
pengetahuan disiplin ilmu untuk dipahami. [ ]

Cerita nya bersambung tah. Gue mah dah serius bca nya mpe lpa dah yg di ruangam
BalasHapushehe iya sengaja dibuat bersambung, maaf ya!
Hapus