Senin, 20 Oktober 2014

Lulus

Lulus






BULAN MEI. Hari demi hari terus berlalu. Detik, menit, jam, hari, hingga berganti minggu, dan menjadi bulan. Ujian untuk SMA telah selesai dilaksanakan. Kasih yang tengah duduk di dalam kelas nampak sudah siap dengan hasil yang akan diumumkan. Bahkan semua siswa merasa tegang. Mereka sudah tak sabar ingin tahu lulus atau tidaknya.
Seorang guru wali kelas terlihat berjalan masuk. Segepok amplop warna putih ada di genggamannya. Pak guru tersenyum. Dia mengatakan akan membagikan hasil kelulusan kepada tiap siswa lewat amplop putih itu. Sementara semua siswa yang sudah menunggu dari pagi mulai jantungnya sudah berdebar-debar. Ingin segera tahu apakah nama dan nomor ujian mereka lulus atau tidak.
Saat pak guru selesai membagikan amplop putih, tak berapa lama kemudian terdengar suara kebahagiaan siswa putra dan putri di kelas lain. Teriakan ‘lulus’ dan keriuhan kegembiraan terdengar sangat jelas. Tak berapa lama dari pintu kelas yang terbuka Kasih melihat teman kelas lain langsung berhamburan keluar meluapkan kegembiraan mereka. Sementara Kasih dan Putri masih menunggu karena belum membuka amplop di tangan mereka. Semua siswa di kelas Kasih nampak tegang. Dan setelah semua siswa menerima amplop, pak guru mempersilahkan untuk membukanya.
“Kasih, aku lulus. Lihat!” ucap Putri disampingnya. Yes, Alhamdulilah ya allah. Kamu gimana?”
Kasih masih tegang. Perlahan dia membuka amplop itu. Aku juga lulus Put. Lihat! Kita lulus ..., Alhamdulilah kita akhirnya lulus.” Kasih terlihat senang dan haru.
Mereka bersorak sambil berpelukan karena bahagia bukan kepalang. Semua siswa di kelas itu pun bersorak bersama. Dan ada sebagian yang langsung berlari ke luar kelas.
“Kasih, gimana? Kamu mau melanjutkan kuliah ke mana nanti?”
“Aku pingin kuliah di Solo aja. Bapak ibuku berharap masuk kuliah tapi yang endak perlu jauh-jauh Put. Kalau kamu gimana? Pasti nilai kamu bagus Put. Kamu kan anak pinter.”
Putri seketika terlihat murung. Ah endak tahu kalau aku, Kasih. Soalnya biaya kuliah kan mahal. Sedangkan aku, kamu ngerti sendiri dengan keadaan keluargaku.”
Kasih memegang telapak tangan Putri. Ah jangan dipikirin sekarang! Yang penting kita rayain dulu kelulusan ini Put. Ayo kita jalan sama makan-makan bareng temen yang lain ya?
Iya Kasih. Kita seneng-seneng dulu.”
Suasana yang sedari pagi tegang pun berubah menjadi sangat meriah luar biasa. Apalagi semua siswa dinyatakan lulus.  Mereka menerimanya dengan suka cita dengan menumpahkan corat-coret di baju seragam. Dan berbagi tanda tangan di baju untuk kenang-kenangan. Sebagai bentuk luapan kebahagiaan mereka. Hari di mana suatu kebahagiaan yang tak terbendung di dalam tiga tahun menempuh belajar, akhirnya di hari itu mereka pun berhasil lulus.
Sebagian siswa kemudian pergi ke Batu Seribu, suatu tempat untuk merayakan kelulusan. Kasih dan Putri ada di antaranya. Dengan seragam penuh corat-coret  mereka berjalan sambil bersuka ria menuju ke saung di dekat kolam renang. Terlihat banyak siswa dari sekolah lain ikut pula merayakan kelulusan di tempat yang sama. Ramai dan meriah.
Putri berdiri. Ayo! Semuanya pada makan sepuasnya ya? Hari ini kita rayakan kelulusan ini. Hari ini ada yang bayari. Semua ditraktir.  Jangan pada ragu teman-teman! Kasih yang traktir kita!
Sontak suasana menjadi bertambah riuh dari kegembiraan semua yang berada di situ. Teriakan kegirangan dan ucapan terimakasih kepada Kasih terdengar saling bergantian. Terlihat sebagian teman yang lain mengacungkan jempolnya karena hari itu mereka makan gratis.
Kasih tersenyum. Iya. Ayo pokoknya harus dimakan! Harus habis ya?” ucap Kasih yang begitu gembiranya.
Huh, mantap tenan. Ayo kita makan yang banyak hari ini hehehe,” ucap Budi yang terlihat senang bukan kepalang.
Suasana kelulusan itu pun semakin meriah dengan berbagai kelucuan-kelucuan dan tingkah konyol dari mereka. Suatu kebahagiaan yang sempurna bagi para siswa dan siswi itu. Kebahagiaan anak remaja yang mengartikan arti kelulusan dalam pandangan mereka. Dan tak lupa mereka mengabadikan moment itu dengan kamera dan video.
Di sudut lain Kasih menelepon Monas untuk berbagi kebahagian dan memberitahukan bahwa dia lulus, yang pada saat itu ada di kampus. Kasih meminta Monas  menemaninya  saat libur panjang nanti, menemaninya melihat pagelaran Solo Batik Carnival di bulan juni, dan menemaninya saat mendaftar masuk kuliah nanti.
Monas ikut gembira mendengar kelulusan Kasih. Guratan senyum yang lebar terlihat jelas di wajahnya. Dia menutup handphone-nya. Kemudian dia menghadap laptopnya kembali. Dia melanjutkan membuat beberapa gambar bangunan yang diinginkannya. Dia mencoba membuat pengaturan yang baik suatu letak gedung dengan sebuah sircuit balap di dalamnya serta mencoba menuangkan ide itu ke dalam laptopnya. Meski masih banyak kekurangan yang dia sadari namun, dia ingin itu bisa terwujud. Dan meski hasilnya mungkin tak memuaskannya.
Sesekali dia merenung untuk mencari inspirasi yang lain, yang mungkin bisa diterapkan dalam karyanya, yang memiliki seni tersendiri yang bisa dijadikan ciri khas. Dia mulai membuka gambar kota-kota dunia yang mungkin bisa diadopsi untuk bisa menambah kesempurnaan gambarnya.  
“Huft, ternyata nggak mudah aku bikin-bikin sesuatu. Butuh pengetahuan yang luas untuk membuat ini. Ah pusing juga aku. Oh jadi apa ya aku besok nantinya? Ah sudahlah, aku juga nggak tahu besok bisa bangun tidur jam berapa? Yang penting dijalani saja. Selamat ya, Kasih. Kamu sekarang udah lulus. Aku sangat senang. Semoga kamu nanti bisa masuk kampus yang kamu inginkan dan cita-citamu bisa tercapai. Semoga aku juga bisa mendampingimu selalu nantinya,” ucapnya pelan.[ ]



1 komentar: