Rani Yang Malang
SETELAH
UJIAN,
Monas langsung turun balapan. Banyak sekali dia melakukan adu balap. Bahkan sering berpindah-pindah tempat. Kemenangan demi
kemenangan pun sering didapatkannya. Dan semenjak itu dirinya disebut-sebut sebagai
dewa balap. Meski
begitu
identitas aslinya tak banyak orang yang tahu. Uang
hasil kemenangannya semakin menumpuk. Bos Baron pun semakin bangga.
Suatu malam di bulan April. Sepulang berkumpul, sekitar jam
sebelas lewat, di daerah Solo Baru ada kejadian tabrak lari. Di saat itu banyak orang
yang mendekat dan berkerumun. Monas berhenti sejenak. Dilihatnya seorang gadis tengah kesakitan, merintih dan menangis di pinggir
jalan. Kakinya terlihat berdarah dan tak mampu untuk berdiri. Setelah mengamati, Monas seperti mengenal gadis malang itu. Dia semakin mendekat supaya lebih jelas melihatnya. Dan benar, ternyata gadis itu adalah Rani, mantan pacar Raffi.
“Rani, kamu nggak apa-apa?”
“Monas, kakiku sakit
banget ….” Tak berapa lama Rani pun pingsan.
“Maaf Bapak-bapak, ini teman saya. Tolong! Kalau ada mobil atau taksi, mohon cepat diantar ke rumah sakit terdekat. Nanti saya yang ganti ongkosnya ya, Pak?”
“Em pakai mobil saya saja Mas,” sahut seorang
lelaki tua yang berdiri di dekat Monas.
“Ya sudah Pak. Makasih sebelumnya. Tapi temen saya sudah pingsan ini. Dia harus cepat-cepat di bawa ke
rumah sakit.
“Iya Mas.”
Monas pun mengangkat tubuh Rani diangkat ke mobil. Dia di bawa ke rumah sakit terdekat. Monas mengikutinya dari belakang. Setibanya di
rumah sakit, Rani pun langsung ditangani oleh
dokter dan perawat. Sampai jam lima pagi tubuh Rani masih terbaring di kamar. Monas duduk menemani di sampingnya. Tak lama kemudian Rani pun siuman.
Kedua matanya terbuka dan mengamati sekelilingnya.
“Ah Monas, aku di mana ini?”
“Kamu sudah siuman, Ran? Tenang
nggak apa-apa, Ran. Kamu
di rumah sakit sekarang, aku akan menemanimu kok.”
“Aduh Nas, kakiku gimana? Apa
kata dokter?” Air mata Rani perlahan keluar. “Apa kakiku patah,
Nas?” ucapnya sambil menahan sakit.
Monas tersenyum. “Kakimu nggak kenapa-napa kok Ran. Hanya luka sobek di betis. Tapi, dokter bilang … kamu keguguran,” ucap Monas pelan yang tak menyangka kalau Rani
ternyata sedang hamil. “Sekarang istirahat dulu aja ya?”
“Oh Nas, kamu memang cowok yang baik. Makasih ya sudah nolong aku di saat
ini.”
“Tapi
nggak hanya aku yang nolong kamu. Tadi bapak-bapak yang di tempat tabrakan yang nolongin kamu. Mereka yang bawa kamu ke sini.
“Dimana mereka? Aku pingin ngucapin makasih, Nas.”
Monas tersenyum. “Mereka sudah tidak ada di sini. Tapi
aku sudah berterimakasih ke mereka. Nah, sekarang kamu istirahat
dulu ya?”
Rani mengangguk. Dia berusaha untuk tertidur agar tak terlalu
merasakan sakit. Sedangkan Monas masih duduk di sampingnya yang terbaring lemah. Hingga rasa kantuk pun ikut menyerangnya saat melihat Rani sudah
tertidur. Monas pun ikut terlelap.
Jam delapan pagi Monas terbangun di saat suster masuk dan membawakan
makanan untuk pasien. Setelah diperiksa, Monas menyuapi Rani karena
tubuhnya masih lemah. Tangan kanannya
masih terasa sakit untuk digerakkan. Rani juga terlihat masih trauma dengan
tabrakan semalam.
“Nas, boleh aku ngomong sedikit denganmu?”
“Jangan dulu Ran! Kamu masih kurang sehat. Lebih
baik istirahat dulu.”
“Hanya sabentar saja ..., ini
tentang kehamilanku.” Rani memaksakan diri untuk
berbicara walau dia masih terbaring.
Monas menatap Rani yang lemah sejenak. “Ya sudah, aku akan mendengarkannya.”
“Tapi tolong ini jangan diceritakan ke siapa-siapa,
Nas! Kuharap
ini menjadi rahasia saja.”
Monas terdiam.
Dia menghela nafas lalu mengangguk. “Baiklah.
Terus siapa
yang menghamilimu Ran? Apakah Raffi yang melakukan ini?”
“Benar, Nas. Raffi yang telah menghamiliku. Saat itu kami sebenarnya sudah putus. Namun
beberapa bulan kemarin dia minta balikan lagi. Aku pun menerimanya kembali. Dan
setiap bertemu, kami selalu … hingga
aku hamil. Saat aku tahu kalau hamil, aku menceritakannya pada Raffi. Namun, dia tak mau bertanggung jawab karena dia dan aku masih kuliah. Dia juga tak ingin nama keluarganya
tercoreng.”
“Tidak bisa gitu aja Ran. Dia pokoknya harus bertanggung
jawab dengan semua ini.” Monas
bersikeras.
“Kumohon Nas! Sudahlah, nggak usah. Ini semua juga salahku yang terlalu mencintainya. Akulah yang mau
dengannya. Nas, Tolong jangan ceritakan
ini …! Terutama Raffi.
Dengan begitu nama keluarganya pun tak akan tercoreng. Apalagi sekarang sang janin juga sudah tidak ada. Buat apa juga mempertahankan dan minta tanggung jawab dia. Sedangkan dia tak mencintaiku lagi. Nas, sekarang aku sadar …, aku salah berbuat seperti ini. Setelah sembuh nanti,
aku akan melanjutkan hidupku, dengan
melupakan Raffi tentunya. Biarlah dia menjadi kenangan saja. Kuharap kamu
mengerti, Nas. Inilah
permintaanku.”
Monas terdiam. Dia menatap wajah Rani yang sendu. “Baiklah kalau keinginanmu seperti ini, Ran. Mudah-mudahan aku bisa menjaga
rahasia ini dan mudah-mudahan ke depannya kamu jadi lebih baik lagi,” ucapnya sambil memegang tangan
Rani.
“Makasih ya, Nas.”
Rani kemudian memejamkan matanya
lagi. Hatinya sangat sakit. Dia mencoba menahan kesedihannya. Menahan sakitnya. Namun perlahan terlihat
genangan air
menetes dari kelopak matanya. Gambaran perihnya hati yang terluka. Terluka oleh cinta karena ingkar
akan tanggung jawab. Terluka akan janin yang menjadi buah cintanya, yang akhirnya harus pergi juga. Isakan
lirih pun terdengar.
Sementara Monas termenung melihat
wajah Rani yang terus meneteskan air mata. Yang begitu rela
dengan semua kejadian yang telah menimpa. Demi Raffi. Meskipun tahu kalau Raffi
sebenarnya tak mencintainya lagi. Dan derita hati itu hanya dirasakannya sendiri. Monas
terus menatap gadis yang malang di sampingnya. Memegang dan membelai rambutnya. Namun dia mendo’akannya supaya kuat dan tegar, sebab itu semua adalah keinginan Rani.
Monas melangkah meninggalkan Rani
yang terbaring, agar dia lebih bisa beristirahat dan menenangkan perasaannya. Monas duduk di kursi panjang di
lorong
rumah sakit. Dia teringat beberapa bulan kemarin
setelah Raffi menang balapan dengan Iwan, kemudian menyatakan cintanya ke Aira namun ditolak.
“Berarti semenjak itu Raffi kembali pada Rani. Dan Rani hanya sebagai pelampiasan kekecewaannya. Kini, dia yang harus menanggung
semuanya. Oh kasihan sekali kamu,
Rani,” ucapnya lirih.
Setelah beberapa
saat, Monas kembali lagi ke dalam kamar Rani yang
terbaring. Dia menemaninya hingga
siang karena dia tahu gadis itu tak memiliki saudara yang dekat.
Kemudian Monas berpamitan untuk pulang
lebih dulu dan malamnya akan kembali lagi. Rani kembali beristirahat setelah
Monas meninggalkannya sendiri.
Setelah Magrib Monas sudah berada di rumah sakit.
“Hai
Ran, gimana sekarang dah baikan? Nih aku bawa makanan
untukmu. Makan yang banyak biar cepat sembuh ya?”
“Iya, dah mendingan Nas. Tinggal
kakiku yang masih sakit. Nas, boleh nggak kita pulang ke kosku. Aku sudah nggak betah di sini.”
“Em
belum boleh, Ran. Kata dokter tadi, paling tidak dua hari
lagi baru boleh pulang.”
“Terus
kamu akan bermalam di sini lagi Nas? Enggak usah juga nggak apa-apa, Nas.”
Monas tersenyum. “Nggak apa-apa Ran. Aku tahu kamu nggak punya saudara di sini. Biarkan
aku yang menemanimu di rumah sakit ya. Nah
kalau udah sembuh nanti aku antar pulang ke kosmu. Kan kita lagi libur kuliah ini.”
Rani tak menyangka kalau Monas sangatlah baik terhadap
dirinya. “Makasih ya, Nas. Ternyata kamu jauh lebih baik dari
Raffi. Meskipun kamu terlihat cuek
dan pendiam namun kamu sebenarnya baik sekali, Nas,” ucapnya sambil tersenyum.
Malam semakin menjelang dan Monas
kembali menemani Rani yang masih terbaring sakit. Dia menemani kekasih temannya. Di dalam kamar dia melamun dan merenung. Oh Raffi, ternyata
kamu telah banyak membuat hati gadis terluka oleh kelakuanmu. Mau sampai kapan kamu, Fi? Aku memang
hanya sebatas temanmu. Tapi sebenarnya
aku peduli denganmu. Bahkan dari
dulu. Tapi, kamu belum
bisa berubah juga. Apalagi
semenjak kamu ditolak Aira, kembang kampus kita. Kini kamu semakin menjadi-jadi. Oh, aku juga akhir-akhir ini melupakan Kasih karena aku sering
balapan. Aku tahu dia begitu
menyayangiku. Tapi aku
belum pernah sekali pun apel ke rumahnya. Semoga kamu tak berubah dan pindah ke lain hati, Kasih, batinnya [ ]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar