Menang Lagi
HARI BERGANTI serasa cepat. Di hari sabtu di bulan februari di kantin kampus masih berkumpul empat pria yang sedang
minum kopi.
“Eh Raffi, gimana? Kamu bener udah siap lawan si Iwan
Permana itu?”
“Jelas siap dong, Nas. Pokoknya
aku harus menang. Akan aku tunjukkan kemampuanku.”
“Kalau kamu kalah gimana? Kamu nggak nyesel?”
“Ya mau gimana lagi. Makanya aku harus menang, siapa pun lawannya? Demi
Aira aku rela. Dan
aku harus menang. Aku
percaya sama settingan si Agung, Nas.”
“Ya sudahlah, kalau kamu sudah
nekat. Tapi jangan sampai Aira tahu tentang ini! Nanti jadi masalah
besar lho.”
“Iya, tenang Bro. Kamu juga harus menang, oke?”
“Iya aku usahakan bisa menang. Oya aku nggak bisa nemenin kalian, karena tempat balapan kita berbeda.
Gung, Ian nanti malam kamu temanin
Raffi aja ya? Kalau aku sudah beres, aku langsung ke tempat kalian. Oke?”
“Beres Bro. Kita temeni si Kunyang ini. Kita kasih semangat dia biar
bisa mendapatkan pujaan hatinya, hahaha ....” Tawa Ian memecah suasana
yang sedikit tegang dan serius tadi.
Bersamaan dengan itu datang delapan pria menghampiri meja mereka. Yang tak lain adalah Iwan dan
temannya. Berhenti di depan Raffi. Raffi pun menatap tajam
pandangan mereka. Suasana kantin menjadi tegang.
“Hai Raffi. Ingat! Jangan lupa malam ini! Kita buktikan siapa yang lebih hebat diantara kita. Hati-hati ya?” ancam Iwan.
Suasana begitu sangat tegang. Monas dan yang lainnya juga
ikut berdiri.
“Baik. Aku akan buktikan kalau aku yang
akan menang, Wan.”
“Hah, gede juga nyali kamu. Baik, aku tunggu kamu nanti malam di tempat biasa. Oya, kalian juga boleh bantu cuci motorku kalau nanti dia kalah, hahaha ... hahaha ….” Kemudian Iwan dan teman-temannya sambil tertawa meninggalkan Raffi yang sedang terbakar emosi.
“Kamu yang harus hati-hati Wan. Lihat aja nanti!” teriak Raffi
yang seakan ubun-ubunnya mendidih karena sudah dilecehkan.
“Wow ternyata sombong bener si Iwan itu. Belum tahu kita kali dia. Nanti
malam kamu harus menang Fi. Biar
dia bisa tutup mulutnya yang sombong itu
dan mencuci motormu. Aku akan bantu kamu kalau ada
apa-apa nanti.” Selain Raffi ternyata Ian juga tak terima mendengar ucapan Iwan yang
melecehkan.
“Heh sudah Bro, nggak enak sama yang lain. Semua ngelihatin kita. Mending kita cabut dari sini, ntar
malah ada masalah lain,” ucap Monas. Keempatnya akhirnya meninggalkan kantin.
***
Jogja, Sabtu pukul 23.15 di tempat balapan berlangsung terlihat begitu ramai sekali. Tempat bertemu dan berkumpulnya orang-orang
berjiwa muda untuk unjuk kemampuan motor mereka. Baik
pria maupun wanita saling menunjukkan kehebatan motornya beradu
cepat. Bahkan tak jarang memakan korban karena buah dari pertunjukan kehebatan yang salah itu.
Di antara keramaian yang meriah Monas
masih duduk sendiri di ujung kerumunan. Dia mengamati sekitarnya. Helmnya telah melekat di kepala. Dia terlihat sudah siap. Tinggal menunggu perintah dari bos Baron saja. Kemudian...
“Oke jocker. Kamu datang ke sini
sekarang!” ucap bos Baron dari hp-nya.
“Baik Bos,” jawab Monas melalui headsetnya.
Tak berapa lama Monas menghampiri
bos Baron.
“Jocker, lawanmu sudah ada di
garis start. Dia sudah menunggumu. Kalahkan dia, oke?”
“Baik Bos.”
Monas langsung menghampiri Bagas
yang sudah siap di garis start.
Rhung ... rhung ...!!
Suara knalpot sangat keras
keluar dari motor gede milik Bagas. Kini
mereka sejajar di garis start. Siap
beradu cepat.
Bagas membuka kaca helmnya. “Oh jadi kamu si Jocker itu? Kamu yang kalahin Adam kemarin?”
“Ya, aku lagi beruntung aja,” jawab
Monas.
“Malam ini aku akan kalahin kamu, Jocker. Ini di Jogja bukan di Solo,” gertak Bagas.
“Ehm, kita lihat aja!” jawab Monas santai.
Kemudian seorang gadis cantik datang
ke tengah-tengah mereka.
“Baik. Kalian sudah siap?”
Rhung ... rhung ...!!
Suara knalpot sebagai
tanda bahwa mereka telah siap.
“Tiga … dua … satu, Go!”
Seiring gadis cantik itu
menurunkan tangannya, balapan pun dimulai.
Keduanya sama-sama menarik gas saat tangan gadis cantik itu
turun. Monas meluncur kencang dengan
motornya. Terlihat dia melesat lebih cepat
dari motor Bagas. Tiap melewati belokan posisinya tetap di depan Bagas. Setelah sampai belokan terakhir dia kembali menarik gasnya. Dia terus meluncur lebih cepat dari Bagas sampai garis finish. Dan Akhirnya Monas memenangkan balapan. Nampak riuh para penonton,
melihat pembalap yang baru mereka lihat bisa mengalahkan Bagas. Mereka tercengang karena Bagas yang sudah
berkali-kali menang dan belum pernah kalah akhirnya kalah juga malam itu.
Dengan rasa kecewa Bagas menghampiri
Monas. “Thank’s Bro. Kuakui, aku kalah hari ini. Tapi lain waktu aku pingin kalahin
kamu. Aku masih penasaran. Ternyata kamu memang hebat.”
“Aku lagi beruntung malam ini, Bro,” jawab Monas sambil berjabat tangan dengan Bagas.
Bagas kembali ke kelompoknya. Dia begitu kecewa karena telah meremehkan motor
lawannya tadi. Dan tak menyangka bisa kalah.
“Bos, aku langsung cabut ya? Aku nggak bisa gabung dulu.”
“Iya Jocker, nanti kita kumpul aja di
basecamp oke?” ucap bos Baron sambil
tersenyum. Dia bangga dan puas berkat kemenangan Monas.
“Oke Bos, siap.”
Monas kembali meluncur keluar dari
tempat balapan malam itu. Dia
meluncur ke Solo. Namun dia ingin tahu hasil balapan dari Raffi dengan Iwan. Sesaat kemudian dia berhenti. Dia membuka helm dan mengambil hp-nya.
“Hai Ian, gimana Raffi menang nggak?”
“Em Nas, balapannya endak jadi. Soalnya polisi merazia tempat
balapan tadi.”
“Terus gimana jadinya?”
“Kata Raffi, mungkin diundur
malam minggu depan. Terus
kamu menang nggak di situ?”
“Aku menang Bro.”
“Yes, yes. Bro, Jocker menang di Jogja.” Ian berteriak ke temannya. Raffi dan
Agung pun ikut senang.
“Sekarang di mana Ian?”
“Kita di jl.Slamet Riyadi tempat
biasa nongkrong, Bro.”
“Ya udah tunggu aku ya?”
“Oke, tenang kita tunggu pokoknya.”
Setelah memasukkan hp-nya, Monas kembali meluncur
di jalanan ke Solo. Jarak
Solo-Jogja cukup jauh. Jalur jalan beraspal yang bagus, lebar dan tak banyak
tikungan. Hanya di tiap perempatan
jalan dia sesekali berhati-hati karena lampu lalu lintas. Ketika melewati kawasan
Prambanan nampak ramai oleh anak muda bermalam mingguan. Di daerah Klaten pun tak kalah ramai saat dia melintas. Di
sekitar alun-alun nampak muda-mudi banyak yang berkumpul. Monas merasa dirinya tak
jauh berbeda dengan mereka, yang
menghabiskan malam yang panjang dengan berkumpul
dan bergembira.
Sesampainya di jl.Slamet Riyadi,
dia bergabung dengan ketiga temannya yang sedang duduk. Mereka
lagi asik makan dan minum.
“Selamat Bro, kamu menang lagi,” ucap Ian.
“Makasih. Lho emang tadi ada razia
Fi?” ucap Monas sambil duduk di dekat Agung.
“Iya Nas. Razia gede-gedean. Semua pada kocar-kacir tadi. Sepertinya mulai sekarang polisi
mulai giat merazia. Untung kita sudah tahu tadi. Kita langsung ke sini aja nongkrong.
“Terus kapan kamu balapan sama
Iwan?”
“Endak tahu. Mungkin minggu depan. Tapi takutnya malam minggu besok masih
ada razia lagi. Atau di tempat
lain. Yang penting aku nunggu aja
konfirmasi dari dia.”
“Ya sudahlah kalau gitu. Mau di sini sampai jam berapa kita?”
“Bentar lagilah Nas, kan kowe
juga baru sampai. Di sini juga banyak cewek-cewek cakep, jadi betah aku,”
ucapnya sambil melirik ke sebelah kiri.
“Tuh bener to, emang kowe ini boyo tenan. Katanya Aira tok dalam
hatimu. Giliran di sini ada cewek
cakep, langsung ilang itu Aira.”
“Ah yang di sini kan cuma buat cuci mata
tok Kucrut.”
Monas melihat kelakuan temannya hanya geleng-geleng
kepala. Tersenyum dan meneguk lagi
softdrinknya.
***
Senin. Di kantin, saat Raffi, Ian, Monas dan
Agung lagi asyik minum kopi, tiba-tiba datanglah Iwan dan teman-temannya. Mereka langsung menuju arah Raffi
yang sedang duduk dan tertawa. Iwan berhenti di depan Raffi dan langsung berucap, “Hai Fi! Ternyata kamu itu cuma pengecut. Ke mana kamu setelah
polisi pada pergi, hah?! Kamu ndak berani nongol lagi?”
“Hai Wan, aku bukan pengecut!” sahut Raffi. Dia langsung berdiri mendekati Iwan. Diikuti Ian, Monas dan Agung. Raffi pun emosi tak terima dibilang pengecut.
Raffi dan Iwan saling berhadapan. “Kalau bukan pengecut apa? Ha? Aku udah nunggu lagi kamu
di sana. Tapi kamu ndak nongol. Ternyata nyalimu endak ada.”
“Bener Wan. Dia ini cuma pengecut. Cuma omongnya aja yang gede,” tambah Doni.
“Jaga omonganmu Don! Jangan asal ngomong! ” Raffi menunjuk ke wajah
Doni. “Sekarang mau kamu apa? Ngajak berantem? Ayo!” ucap Raffi yang emosinya
sudah memuncak. Darahnya mendidih. Terbakar oleh api amarah. Suasana bertambah tegang. Namun, Doni juga sudah ikut
terbakar emosi
mendengar ucapan Raffi, dia sudah siap dengan kepalan tangannya. Dengan segera Monas menengahi mereka agar tidak terjadi
perkelahian di kantin.
“Hei
sudah! Kita nggak perlu berantem. Malu sama yang lain.”
“Kamu
juga mau bantu temanmu yang pengecut ini, Nas?”
“Aku
cuma nggak ingin ada ribut-ribut di sini,” ucap Monas.
“Ah
kamu juga banyak omong.”
Bughh!!
Bogem mentah dilayangkan Doni yang tepat mengenai wajah Monas. Monas pun langsung
jatuh ke lantai. Seketika itu Ian yang melihat Monas kena hajar Doni pun tak
terima. Monas yang tak ada urusan dengan
itu malah kena hajar. Sontak Ian langsung balik menghajar wajah
Doni dengan kerasnya. Doni pun langsung tersungkur. Dan darah terlihat keluar dari
hidungnya. Ian langsung mendekati Iwan
dan menariknya.
“Wan, inget ya, aku ndak suka caramu begini! Apalagi cara
Doni tadi. Kamu dan Raffi malam minggu depan balapan
saja. Yang kalah harus mengakui kekalahannya. Dan urusan ini endak perlu
diperpanjang. Paham?” tegas Ian. Tatapan mata Ian sangat tajam saat itu. Garang.
Bukan seperti
Ian yang biasanya.
“Baiklah
Ian. Aku tunggu kalian malam
minggu depan di tempat biasa.”
“Ya, sekarang pergilah!” ucap Ian yang
terus menatap mata Iwan.
Kemudian Iwan, Doni dan teman
lainnya meninggalkan tempat itu. Ian menghampiri Monas yang berusaha
menghentikan darah di bibirnya akibat bogem mentah Doni. Mereka pun kemudian meninggalkan kantin. [ ]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar