Rabu, 01 Oktober 2014

Menang Lagi



Menang Lagi






HARI BERGANTI serasa cepat. Di hari sabtu di bulan februari di kantin kampus masih berkumpul empat pria yang sedang minum kopi.
“Eh Raffi, gimana? Kamu bener udah siap lawan si Iwan Permana itu?”
“Jelas siap dong, Nas. Pokoknya aku harus menang. Akan aku tunjukkan kemampuanku.”
“Kalau kamu kalah gimana? Kamu nggak nyesel?”
“Ya mau gimana lagi. Makanya aku harus menang, siapa pun lawannya? Demi Aira aku rela. Dan aku harus menang. Aku percaya sama settingan si Agung, Nas.”
“Ya sudahlah, kalau kamu sudah nekat. Tapi jangan sampai  Aira tahu tentang ini! Nanti jadi masalah besar lho.”
“Iya, tenang Bro. Kamu juga harus menang, oke?”
“Iya aku usahakan bisa menang. Oya aku nggak bisa nemenin kalian, karena tempat balapan kita berbeda. Gung, Ian nanti malam kamu temanin Raffi aja ya? Kalau aku sudah beres, aku langsung ke tempat kalian. Oke?
“Beres Bro. Kita temeni si Kunyang ini. Kita kasih semangat dia biar bisa mendapatkan pujaan hatinya, hahaha ....” Tawa Ian memecah suasana yang sedikit tegang dan serius tadi.
Bersamaan dengan itu datang delapan pria menghampiri meja mereka. Yang tak lain adalah Iwan dan temannya. Berhenti di depan Raffi. Raffi pun menatap tajam pandangan mereka. Suasana kantin menjadi tegang.
“Hai Raffi. Ingat! Jangan lupa malam ini! Kita buktikan siapa yang lebih hebat diantara kita. Hati-hati ya?ancam Iwan.
Suasana begitu sangat tegang. Monas dan yang lainnya juga ikut berdiri.
“Baik. Aku akan buktikan kalau aku yang akan menang, Wan.”
“Hah, gede juga nyali kamu. Baik, aku tunggu kamu nanti malam di tempat biasa. Oya, kalian juga boleh bantu cuci motorku kalau nanti dia kalah, hahaha ... hahaha ….Kemudian Iwan dan teman-temannya sambil tertawa meninggalkan Raffi yang sedang terbakar emosi.
“Kamu yang harus hati-hati Wan. Lihat aja nanti!” teriak Raffi yang seakan ubun-ubunnya mendidih karena sudah dilecehkan.
Wow ternyata sombong bener si Iwan itu. Belum tahu kita kali dia. Nanti malam kamu harus menang Fi. Biar dia bisa tutup mulutnya yang sombong itu dan mencuci motormu. Aku akan bantu kamu kalau ada apa-apa nanti. Selain Raffi ternyata Ian juga tak terima mendengar ucapan Iwan yang melecehkan.
“Heh sudah Bro, nggak enak sama yang lain. Semua ngelihatin kita. Mending kita cabut dari sini, ntar malah ada masalah lain, ucap Monas. Keempatnya akhirnya meninggalkan kantin.


***

Jogja, Sabtu pukul 23.15 di tempat balapan berlangsung terlihat begitu ramai sekali.  Tempat bertemu dan berkumpulnya orang-orang berjiwa muda untuk unjuk kemampuan motor mereka. Baik pria maupun wanita saling menunjukkan kehebatan motornya beradu cepat. Bahkan tak jarang memakan korban karena buah dari pertunjukan kehebatan yang salah itu.
Di antara keramaian yang meriah Monas masih duduk sendiri di ujung kerumunan. Dia mengamati sekitarnya. Helmnya telah melekat di kepala. Dia terlihat sudah siap. Tinggal menunggu perintah dari bos Baron saja. Kemudian...
“Oke jocker. Kamu datang ke sini sekarang!” ucap bos Baron dari hp-nya.
“Baik Bos,” jawab Monas melalui headsetnya.
Tak berapa lama Monas menghampiri bos Baron.
“Jocker, lawanmu sudah ada di garis start. Dia sudah menunggumu. Kalahkan dia, oke?”
“Baik Bos.”
Monas langsung menghampiri Bagas yang sudah siap di garis start.
Rhung ... rhung ...!!
Suara knalpot sangat keras keluar dari motor gede milik Bagas. Kini mereka sejajar di garis start. Siap beradu cepat.
Bagas membuka kaca helmnya. “Oh jadi kamu si Jocker itu? Kamu yang kalahin Adam kemarin?
“Ya, aku lagi beruntung aja,” jawab Monas.
“Malam ini aku akan kalahin kamu, Jocker. Ini di Jogja bukan di Solo, gertak Bagas.
“Ehm, kita lihat aja!” jawab Monas santai.
Kemudian seorang gadis cantik datang ke tengah-tengah mereka.
“Baik. Kalian sudah siap?”
Rhung ... rhung ...!!
Suara knalpot sebagai tanda bahwa mereka telah siap.
Tiga … dua … satu, Go!
Seiring gadis cantik itu menurunkan tangannya, balapan pun dimulai. Keduanya sama-sama menarik gas saat tangan gadis cantik itu turun. Monas meluncur kencang dengan motornya. Terlihat dia melesat lebih cepat dari motor Bagas. Tiap melewati belokan posisinya tetap di depan Bagas. Setelah sampai belokan terakhir dia kembali menarik gasnya. Dia terus meluncur lebih cepat dari Bagas sampai garis finish. Dan Akhirnya Monas memenangkan balapan. Nampak riuh para penonton, melihat pembalap yang baru mereka lihat bisa mengalahkan Bagas. Mereka tercengang karena Bagas yang sudah berkali-kali menang dan belum pernah kalah akhirnya kalah juga malam itu.
Dengan rasa kecewa Bagas menghampiri Monas. “Thank’s Bro. Kuakui, aku kalah hari ini. Tapi lain waktu aku pingin kalahin kamu. Aku masih penasaran. Ternyata kamu memang hebat.”
“Aku lagi beruntung malam ini, Bro,” jawab Monas sambil berjabat tangan dengan Bagas.
Bagas kembali ke kelompoknya. Dia begitu kecewa karena telah meremehkan motor  lawannya tadi. Dan tak menyangka bisa kalah.
“Bos, aku langsung cabut ya? Aku nggak bisa gabung dulu.”
“Iya Jocker, nanti kita kumpul aja di basecamp oke?” ucap bos Baron sambil tersenyum. Dia bangga dan puas berkat kemenangan Monas.
“Oke Bos, siap.”
Monas kembali meluncur keluar dari tempat balapan malam itu. Dia meluncur ke Solo. Namun dia ingin tahu hasil balapan dari Raffi dengan Iwan. Sesaat kemudian dia berhenti. Dia membuka helm dan mengambil hp-nya.
“Hai Ian, gimana Raffi menang nggak?”
“Em Nas, balapannya endak jadi. Soalnya polisi merazia tempat balapan tadi.”
“Terus gimana jadinya?”
“Kata Raffi, mungkin diundur malam minggu depan. Terus kamu menang nggak di situ?”
“Aku menang Bro.”
“Yes, yes. Bro, Jocker menang di Jogja.” Ian berteriak ke temannya. Raffi dan Agung pun ikut senang.
“Sekarang di mana Ian?”
“Kita di jl.Slamet Riyadi tempat biasa nongkrong, Bro.”
“Ya udah tunggu aku ya?
“Oke, tenang kita tunggu pokoknya.”
Setelah memasukkan hp-nya, Monas kembali meluncur di jalanan ke Solo. Jarak Solo-Jogja cukup jauh. Jalur jalan beraspal yang bagus, lebar dan tak banyak tikungan. Hanya di tiap perempatan jalan dia sesekali berhati-hati karena lampu lalu lintas. Ketika melewati kawasan Prambanan nampak ramai oleh anak muda bermalam mingguan. Di daerah Klaten pun tak kalah ramai saat dia melintas. Di sekitar alun-alun nampak muda-mudi banyak yang berkumpul. Monas merasa dirinya tak jauh berbeda dengan mereka, yang menghabiskan malam yang panjang dengan berkumpul dan bergembira.
Sesampainya di jl.Slamet Riyadi, dia bergabung dengan ketiga temannya yang sedang duduk. Mereka lagi asik makan dan minum.
“Selamat Bro, kamu menang lagi,” ucap Ian.
“Makasih. Lho emang tadi ada razia Fi?” ucap Monas sambil duduk di dekat Agung.
“Iya Nas. Razia gede-gedean. Semua pada kocar-kacir tadi. Sepertinya mulai sekarang polisi mulai giat merazia. Untung kita sudah tahu tadi. Kita langsung ke sini aja nongkrong.
“Terus kapan kamu balapan sama Iwan?”
“Endak tahu. Mungkin minggu depan. Tapi takutnya malam minggu besok masih ada razia lagi. Atau di tempat lain. Yang penting aku nunggu aja konfirmasi dari dia.”
“Ya sudahlah kalau gitu. Mau di sini sampai jam berapa kita?”
“Bentar lagilah Nas, kan kowe juga baru sampai. Di sini juga banyak cewek-cewek cakep, jadi betah aku,” ucapnya sambil melirik ke sebelah kiri.
“Tuh bener to, emang kowe ini boyo tenan.  Katanya Aira tok dalam hatimu. Giliran di sini ada cewek cakep, langsung ilang itu Aira.”
“Ah yang di sini kan cuma buat cuci mata tok Kucrut.”
Monas melihat kelakuan temannya hanya geleng-geleng kepala. Tersenyum dan meneguk lagi softdrinknya. 




***

Senin. Di kantin, saat Raffi, Ian, Monas dan Agung lagi asyik minum kopi, tiba-tiba datanglah Iwan dan teman-temannya. Mereka langsung menuju arah Raffi yang sedang duduk dan tertawa. Iwan berhenti di depan Raffi dan langsung berucap, “Hai Fi! Ternyata kamu itu cuma pengecut.  Ke mana kamu setelah polisi pada pergi, hah?!  Kamu ndak berani nongol lagi?”
“Hai Wan, aku  bukan pengecut!sahut Raffi. Dia langsung berdiri mendekati Iwan. Diikuti Ian, Monas dan Agung. Raffi pun emosi tak terima dibilang pengecut.
Raffi dan Iwan saling berhadapan. “Kalau bukan pengecut apa? Ha? Aku udah nunggu lagi kamu di sana. Tapi kamu ndak nongol. Ternyata nyalimu endak ada.”
“Bener Wan. Dia ini cuma pengecut. Cuma omongnya aja yang gede,” tambah Doni.
“Jaga omonganmu Don! Jangan asal ngomong! ” Raffi menunjuk ke wajah Doni. Sekarang mau kamu apa? Ngajak berantem? Ayo!” ucap Raffi yang emosinya sudah memuncak. Darahnya mendidih. Terbakar oleh api amarah. Suasana bertambah tegang. Namun, Doni juga sudah ikut terbakar emosi mendengar ucapan Raffi, dia sudah siap dengan kepalan tangannya. Dengan segera Monas menengahi mereka agar tidak terjadi perkelahian di kantin.
Hei sudah! Kita nggak perlu berantem. Malu sama yang lain.”
Kamu juga mau bantu temanmu yang pengecut ini, Nas?”
Aku cuma nggak ingin ada ribut-ribut di sini,” ucap Monas.
Ah kamu juga banyak omong.”
Bughh!!
Bogem mentah dilayangkan Doni yang tepat mengenai wajah Monas. Monas pun langsung jatuh ke lantai. Seketika itu Ian yang melihat Monas kena hajar Doni pun tak terima. Monas yang tak ada urusan dengan itu malah kena hajar. Sontak Ian langsung balik menghajar  wajah Doni dengan kerasnya. Doni pun langsung tersungkur. Dan darah terlihat keluar dari hidungnya. Ian langsung mendekati Iwan dan menariknya.
“Wan, inget ya, aku ndak suka caramu begini! Apalagi cara Doni tadi. Kamu dan Raffi malam minggu depan balapan saja. Yang kalah harus mengakui kekalahannya. Dan urusan ini endak perlu diperpanjang. Paham?tegas Ian. Tatapan mata Ian sangat tajam saat itu. Garang. Bukan seperti Ian yang biasanya.
Baiklah Ian. Aku tunggu kalian malam minggu depan di tempat biasa.”
“Ya, sekarang pergilah!” ucap Ian yang terus menatap mata Iwan.
Kemudian Iwan, Doni dan teman lainnya meninggalkan tempat itu. Ian menghampiri Monas yang berusaha menghentikan darah di bibirnya akibat bogem mentah Doni. Mereka pun kemudian meninggalkan kantin. [ ]





Tidak ada komentar:

Posting Komentar