Kalung Indah Dari Prambanan
DI HARI
MINGGU
berikutnya. Jam tujuh pagi, Monas membuka matanya.
Dia bangun
dan langsung membuka hp. Ada satu pesan masuk.
“Nas, aku tunggu kamu depan mall Solo Baru ya? Jam 8. Nanti aku kabari lg
kalo udah sampe.”
“Ah, untung aku bangun pagi kali ini. Sebenarnya mataku masih berat banget untuk terbuka. Tapi, aku sudah janji sama dia. Ada apa ya dengan Aira? Ah sudahlah mandi aja sekarang,”
ucapnya.
Monas melangkah ke kamar mandi. Kegiatan yang jarang dilakukan olehnya di hari minggu, harus
bangun pagi ditambah terus mandi. Yang biasanya dia masih menyatu dengan selimutnya hingga siang. Setelah
berpakaian dia mengeluarkan motor yang semalam dipakai. Memanaskan mesinnya, kemudian kembali ke
dalam lagi.
“Nas, kowe mau pergi ke mana? Kok kadingaren banget pagi-pagi sudah bangun dan mandi di hari minggu,
sama sudah rapi lagi. Endak seperti biasanya yang selalu bangun siang,” sapa mbah Putri yang lagi duduk di
meja tengah.
“Oh inggih Mbah. Ini ada perlu, jadi ya nggak seperti biasanya.”
“Yo wis, kalau ada perlu yo endak apa-apa. Tapi ke sini dulu, ayo sarapan bareng-bareng!”
Monas melihat ke meja, ada segelas teh hangat yang sudah dibuatkan untuknyadan beberapa cemilan. “Ah kebeneran.” Monas tersenyum. “Mbah Putri mboten késah[1]sekarang?”
“Endak Nas, aku endak pergi ke mana-mana. Kan sudah beres urusan sawahnya. Aku pingin ada di rumah wae hari ini.”
“O nggih sampun. Mendingan
juga ada di rumah aja, istirahat Mbah.”
“Iyo Nas.”
Mereka duduk bersama sambil sarapan. Ada kehangatan rasa dan suasana meski hanya berdua. Monas melihat jam dinding sudah pukul 07.30, dia pun
harus berangkat.
“Mbah Putri, aku berangkat sekarang nggih. Sudah ditunggu teman.”
“Iyo Nas, tapi yang hati-hati yo?”
“Inggih Mbah.”
Monas keluar sambil memakai jaket
dan helm. Dia langsung meluncur
menuju jalan raya. Sepanjang jalan dia
melihat persawahan yang dilewati nampak berganti
menghijau. Pertanda telah selesai ditananami padi dan mulai
meninggi. Terlihat pertumbuhannya cukup bagus dan menjanjikan. Sepertinya panen yang akan datang akan
lebih bagus sesuai harapan. Sepanjang jalan dia mencoba
mengingat kembali kenangan dulu dan membandingkannya. Sungguh jauh berbeda sekali. Dulu para petani kalau membajak
sawah perlu bantuan ternak mereka. Namun sekarang
sudah ada traktor. Dulu kalau
panen padi hanya ditumbuk untuk mengupas kulitnya. Namun sekarang sudah ada mesin yang bisa mengupasnya. Bahkan semua biji-bijian yang lain
pun sudah ada mesin pengupasnya. Sungguh beruntung bagi orang yang hidupnya di
zaman sekarang. Semua hal
serasa dimudahkan, batinnya.
Melewati kota Sukoharjo, Monas masih memikirkan tentang dirinya. Sedangkan dia hanya bisa mengisi
waktunya dengan kuliah dan balapan liar saja. Belum tahu kapan dia bisa memberikan sesuatu
yang bermanfaat buat orang lain dari hasil kuliahnya nanti. Dia ingin setelah lulus kuliah tak
hanya terus mendapat kerja saja, namun dia juga ingin membuat
suatu perubahan nantinya.
Di salah satu mall Solo Baru, tepatnya di pinggir jalan, terlihat
sebuah sedan hitam berhenti. Dan keluarlah seorang gadis yang
sangat cantik berambut panjang sebahu mengenakan kemeja batik dengan celana jeans. Aira baru saja tiba.
Dia diantar oleh seorang pria.
“Ra, bener kamu ndak mau mas temenin?”
“Nggak usah Mas Ron, nanti aku sama temen-temenku kok.
Aira tersenyum. “Nanti kalau udah mau balik aku kabarin.”
“Ya sudah yang penting kabarin mas! Hati-hati ya Ra.”
“Iya Mas Ron, makasih banget.”
Tak berapa lama
kemudian sedan hitam itu pergi meninggalkan Aira. Dia berdiri dan membuka hp-nya. Banyak orang yang melintas, takjub melihat
kecantikan Aira. Sesekali Aira melihat jam di tangannya.
Sementara saat memasuki Solo baru, Monas berhenti. Dia
membuka hp dan membaca sms yang masuk. Kemudian dia melanjutkan lagi laju
motornya. Selang beberapa saat Monas dengan sepeda motor
menghampiri Aira yang berdiri
menunggunya.
“Hai Ra, maaf aku telat. Kamu udah lama nunggunya
di sini?”
“Ah nggak kok Nas. Aku
juga baru nyampai,” jawab Aira sambil
tersenyum.
“Ya udah, kita ke Jogja
sekarang. Eh tapi kita mau ke tempat siapa Ra?”
“Em kita ke rumah sakit di Jogja, Nas.”
“Ha? Siapa yang sakit, Ra?” Monas nampak kaget.
Aira tersenyum. “Enggak ada yang sakit kok. Aku ada perlu sama salah seorang
dokter di sana, Nas.”
“Oh aku kira ada saudara kamu
yang sakit.” Monas juga ikut tersenyum. “Ya udah
aku anter sekarang. Ayo
naik! Nih pakai helmnya!” Monas memberikan helm satu lagi
yang ada di jok belakang motornya.
Keduanya berangkat menyusuri
jalan menuju ke Jogja. Beruntung
cuaca sedikit berawan dan memayungi mereka pagi itu. Padahal di bulan april adalah musim kemarau, yang biasanya
sudah panas sedari pagi. Aira memegang pinggang Monas. Masih terlihat sedikit malu. Dia tak berani berpegangan terlalu erat.
“Nas, kita nanti mampir dulu ke candi Prambanan, ya?”
“Mampir
candi Prambanan, Ra? Mau
ngapain? Bukannya kita mau ke rumah sakit?” Monas sedikit heran.
“Iya, aku mau beli sesuatu. Aku juga sudah lama nggak ke candi Prambanan. Cuma bentar kok. Abis itu kita ke rumah sakit ya?”
“Ya sudah, terserah kamu aja.”
“Egh Nas, aku boleh pegangan yang
lebih erat nggak, Nas? Aku takut kamu bawa motornya
kencang.”
“Em boleh Ra, pegangan yang kencang lebih aman malahan.”
Aira merapatkan badannya ke tubuh
Monas. Kedua tangannya melingkar memeluk
tubuh pria itu dari belakang dengan erat. Sebab dirinya takut akan kecepatan. Aira merasakan nyaman sekali di belakang pria tampan itu. Wajahnya pun disandarkan ke
punggungnya. Aira tersenyum.
“Eh Ra, tapi jangan tidur ya?”
“Ah ya enggaklah. Kalau
tidur ya di kamar, Nas. Kamu bisa aja becanda.” Tangan
Aira sambil mencubit kecil pinggang Monas.
Monas menarik gasnya perlahan. Sedikit demi sedikit bertambah kencang
tarikan motor itu. Hingga melewati
motor lain yang jauh di bawah kelasnya. Serta melewati mobil-mobil yang ada di depannya. Meski sedikit
kencang namun masih dalam batas yang aman berkendara. Tapi bagi Aira itu sudah sangat kencang. Hingga beberapa kali dia memeluk erat Monas karena takut.
Hanya butuh waktu kurang dari satu jam mereka telah tiba
di kawasan candi Prambanan. Suatu kawasan peninggalan tumpukan batu bersejarah yang
tertata indah. Terlihat tinggi menjulang ke langit. Bangunan candi yang masih tetap terawat dan
terjaga. Selain Monas dan Aira, banyak pengunjung yang berwisata.
Keduanya berjalan masuk ke dalam
kawasan candi. Sepanjang
jalan pintu masuk ada berderet warung yang begitu rapi dan bersih, menawarkan hasil karya mereka
kepada siapa saja yang lewat. Sebagai
cinderamata untuk dibawa pulang untuk kenang-kenangan. Aira seperti berkeliling mencari sesuatu. Hingga membuat
Monas penasaran.
“Ra,
kamu nyari apa? Kok
dari tadi nggak ketemu-ketemu sepertinya.”
“Iya, aku nyari sesuatu tapi belum ketemu. Mungkin di dalam kali Nas.”
“Iya sesuatu itu apa namanya? Mungkin aku bisa bantu nyarinya.”
“Em aku nyari kalung, Nas.”
“Lho, ini ada kalung Ra!” Monas
sambil menunjuk ke bawah.
“Bukan ini Nas, pokoknya beda. Kita
nyari di dalam yuk, sambil lihat candi dari dekat!”
Keduanya pun berjalan memasuki kawasan candi setelah membeli ticket. Aira mengajak
Monas menuju candi yang terbesar. Di dalam
salah satu candi, Aira mengambil gambar arca dari berbagai sudut. Monas hanya
diam dan mengamati gadis cantik yang bersamanya. Dia terus menatap apa yang
dilakukan gadis itu. Aira hampir sama
dengan Kasih. Mereka sama-sama
memiliki wajah yang cantik. Tingkahnya
juga sama persis. Senyum serta
cara bicaranya juga tak jauh berbeda. Hanya Aira lebih sedikit pendiam dibanding Kasih, batinnya.
“Hai, kok kamu ngelihatku seperti itu Nas. Ada yang aneh ya dengan diriku?”
Sontak Monas kaget. “Egh enggak kok, nggak ada yang aneh. Bener.”
Aira tersenyum. “Ah bohong pasti?”
“Egh bener kok nggak bohong.” Monas menyunggingkan bibirnya sebentar. “Katanya
mau nyari kalung, Ra?” Monas langsung mengalihkan pembicaraan.
“Iya ini udahan kok. Sekarang
kita ke museum, mungkin saja ada di dekat sana. Yuk!”
Mereka berjalan menjauh dari candi, menuju ke sebuah museum yang banyak pepohonan rimbun di sekitarnya. Saat semakin dekat terdengar
ada hiburan musik khas jawa yang mengalun. Serta
ada beberapa penjual cinderamata di pinggirnya. Aira pun semakin mendekat. Dan
benar, ada penjual kalung yang selama
ini dicarinya, bersebelahan dengan penjual topi blangkon dan ikat kepala batik.
Aira terlihat senang. “Nah ini Nas yang aku cari. Kalung dengan tali hitam yang liontinnya dari batu. Sangat
indah. Berbeda dari yang lain kan?”
“Oh ini. Iya, bagus juga Ra.”
“Mas, aku mau yang ini, yang batunya kecil warna putih bening
ya?”
“Iya Mbak ini, monggo!” jawab penjual itu.
“Bagus nggak, Nas?”
“Em iya, bagus Ra.”
“Mas satu lagi ya? Nas, kamu mau yang warna apa?”
“Ha? Nggak usah Ra, bener nggak usah.”
“Nggak apa-apa. Ini
sebagai pertemanan kita kok, Nas. Kamu suka warna
apa?” Aira tersenyum.
Monas menatap wajah Aira sesaat. “Ya udah, aku yang warna ijo itu aja.” Monas menunjuk satu kalung.
Aira tersenyum. “Mas, yang warna
ijo itu ya.”
Sang penjual mengambil dan
memberikan kepada Monas kemudian
memakainya. Monas
memakaikan kalung batu berwarna putih bening di leher Aira. Sangat cocok sekali
kalung itu melingkar di leher Aira, hingga terlihat bertambah cantik.
Setelah apa yang dicari didapatkan,
keduanya melangkah ke parkir untuk kembali berangkat ke Jogja. Mereka pun
menuju ke arah selatan. Monas mengambil
jalur sebelah kiri, mengambil jalur lambat.
Sepanjang perjalanan, suasana mesra dirasakan Aira. Baru pertama kalinya dia merasakan
kedekatan dengan seorang pria. Bahkan sangat
dekat. Aira menyandarkan wajahnya lagi di pundak Monas. Sesekali pula senyuman manis diberikan kepada pria itu. Akan tetapi Monas terlihat biasa saja. Terkesan santai terhadap Aira. Dia menganggap Aira hanyalah sebatas teman semata. Bahkan dia tak berharap atau
berkeinginan untuk menjadikan kekasihnya. Terlalu
jauh keinginan itu dari angan-angannya. Terlalu
berlebihan untuk berharap kepada gadis cantik nan sempurna itu untuk mencintai dirinya. Namun demikian, ada perasaan
yang cukup aneh yang mendera dan dirasakan Monas. Dia juga merasa begitu
hangat, begitu mesra, begitu bahagia dari hanya sekedar pertemanan.
Ketika sudah memasuki kota Jogja, suasana berubah menjadi cukup ramai. Keduanya pun terus menyusuri kota pelajar itu. Dan di
perempatan jalan.
“Nas, di depan itu kita belok
kiri ya? Nah itu rumah sakitnya.”
“Baik Ra.”
Mereka pun sampai di rumah sakit yang cukup besar. Keduanya
langsung masuk. Saat melangkah Monas mengagumi gedung rumah sakit itu. Sebuah bangunan rumah sakit yang menawan, begitu bersih dan terasa nyaman
dengan para pekerjanya yang ramah.
“Mbak, apa dokter mata Irwan Adiguna bisa ditemui sekarang?” tanya Aira kepada orang yang ada di bagian informasi.
“Maaf, Mbak siapa? Dan apa sudah ada
janji dengan pak dokter?”
“Saya
Aira. Saya sudah ada janji. Tolong dihubungkan bentar ya, Mbak?”
“Baik. Mbak Aira tunggu sebentar
ya?”
Perawat itu pun menelepon ke ruang
dr Irwan. Monas dan Aira diam menunggu.
“Oya, Mbak Aira sudah ditunggu di ruangan pak dokter.”
“Makasih ya, Mbak.”
“Sama-sama, silakan!”
Aira dan Monas berjalan masuk
lift.
“Ra, jadi dokter yang kamu pingin
temui itu dokter mata ya?”
“Iya Nas. Dia adalah dokter spesialis mata paling senior di sini. Dia juga sahabat ayahku dulu.
Memang dia sudah cukup umur. Tapi
dia masih mampu untuk melayani pasiennya. Bahkan
dia masih mampu melakukan operasi. Pokoknya
nanti kamu akan kaget melihatnya, karena dia seperti awet muda.”
“O gitu.” Monas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah lift berhenti, mereka menuju ke ruang dr. Irwan. Sesekali mereka berpapasan dengan para dokter dan perawat yang lain di
lorong itu.
Toktoktok!
Aira mengetuk pintu
“Ya, masuk!”
“Siang, Om.”
“Eh Aira, masuk-masuk! Wah, kamu sudah besar sekarang. Dan cantik lagi, seperti ibumu dulu.”
“Ah, Om bisa aja deh.” Aira tersenyum sambil mencium tangan dokter paruh
baya itu.
“Bener lho, Om sampai nggak nyangka. Ayo silakan duduk!”
“Iya Om, makasih.”
“Oya tumben kamu main ke sini. Ada perlu apa ketemu Om?” Dia menatap Monas sebentar. “Terus ini siapa? Pacar kamu ya? Wah ganteng dan cantik, cocok banget sepertinya, hehehe.”
Aira tersipu malu. “Om pasti gitu deh …, ini Monas, Om. Temenku, Om.”
“Oh
namanya Monas, seperti tugu di Jakarta itu ya?”
Monas hanya senyum-senyum
mendengar dia disamakan dengan sebuah tugu di Jakarta. Tapi itu memanglah benar
sebab namanya diambil dari tugu itu. Dan setelah melihat dr. Irwan, dia membenarkan apa yang dikatakan Aira kalau sang
dokter memang suka bercanda dan kelihatan masih muda. Dia menerka mungkin itulah yang membuat dokter itu tetap
kelihatan muda. Karena
sering menolong, sering bertemu
orang, dan sering bercanda dengan siapa
pun dengan ramah. Aira dan dokter Irwan nampak asik ngobrol. Sesekali mereka tertawa bersama. Sementara Monas kadang sesekali ikut
dalam obrolan itu. Setelah cukup lama
mereka berbincang-bincang, Aira kemudian berpamitan pulang. Dia takut terlalu lama menggangu pekerjaan dokter di rumah sakit tersebut.
Keduanya berjalan keluar setelah bersalaman.
“Ra,
habis dari sini kita langsung pulang sekarang?” tanya Monas.
“Sebenernya aku masih pingin
jalan, Nas. Dan kalau kamu nggak keberatan, sekalian sampai sore.”
“Ya aku sih nggak keberatan. Tapi
kita mau jalan ke mana?”
Aira terdiam sejenak. “Kita ke pantai Parang triris aja gimana?”
“Em ya udah kita ke pantai sampai sore kalau gitu.”
“Tapi kita makan dulu. Aku
sudah laper, dari tadi cuma minum terus.”
“Sama.” Monas tersenyum. “Perutku juga udah keroncongan
sekarang.” Aira pun ikut tersenyum.
Sebelum sampai ke pantai mereka berhenti di salah satu
fastfood. Saat makan Aira sesekali menatap
pria yang ada di depannya. Dia tertegun memperhatikan Monas yang santai melahap makanan. Dia mengagumi ketampanan pria itu.
Hatinya sangat senang dan nyaman.
Setelah setengah jam berjalan ke selatan, tibalah mereka di Parangtritis. Sebuah pantai yang memiliki
daya pikat tersendiri. Pantai yang dikenal memiliki ombak besar serta memiliki cerita mitos di kalangan
masyarakat jawa. Monas dan Aira menyusuri pasir pantai. Gulungan
ombak yang cukup besar, silih berganti menghampiri langkah keduanya. Mereka pun berhenti dan duduk. Hembusan angin berulang kali menyibak rambut Aira.
“Nas, pantai ini indah dan ramai
ya? Banyak pengunjung ke sini.”
Monas menoleh. “Iya Ra. Pantai
ini salah satu yang sangat indah yang di miliki Jogja. Tapi lebih ramai lagi kalau pas
tahun baru masehi dan saat tahun baru islam atau satu syuro.”
“Tahun baru, Nas?”
“Iya, tahun baru. Biasanya masyarakat sini apalagi
kaum mudanya, setelah mereka menanti malam pergantian tahun di jl Malioboro. Mereka
kemudian menghabiskan malam tahun barunya ya di pantai ini. Banyak sekali orang yang berkumpul
di sini sampai pagi,” jawab Monas kalem.
“Bener, Nas? Kamu pernah?”
“Bener Ra. Dan aku pernah ke sini waktu malam
pergantian tahun itu. Aku
ke sini sama temen-temenku yang lain.”
“Wah sepertinya sangat indah dan mengasikkan. Aku jadi pingin sekali melewati pergantian tahun itu. Seperti ceritamu, Nas.”
Monas tersenyum. Kemudian dia mengalihkan pandanganya
menatap laut lepas. Aira terpaku dengan cerita Monas. Dia menatap wajah Monas dari samping. Hatinya
bergetar. Entah kenapa
kebersamaan
dengan pria di sampingnya membuatnya
bahagia.
“Em, Nas ….” Aira mengulum
bibirnya.
“Iya Ra, da pa?” Monas menatap wajah
Aira. Aira terdiam sejenak.
“Em, aku
jadi pingin mengalami seperti ceritamu
itu.” Aira tersenyum
kecil. “Mau nggak kamu menemani aku untuk melewati tahun baru nanti?
“Apa Ra?” Monas sedikit kaget. Dia menatap wajah cantik gadis itu. “Kenapa aku, Ra yang kamu minta menemanimu?”
“Karena aku belum pernah tahun
baruan seperti ceritamu. Dan, aku nyaman jika kamu yang menemaniku jalan. Kamu berbeda dengan yang lain.”
“Oh gitu ya.”
Monas tersenyum kecil. Sejenak Monas terdiam. Dia mengalihkan pandangannya ke laut lagi. Dia nampak bingung dengan perasaannya. Bagaimana ini? Kenapa kamu malah dekat denganku Ra? Bagaimana perasaan Raffi atau yang
lain? Mungkin
mereka akan berharap bisa jalan denganmu juga di malam
yang indah itu. Dan … Kasih pasti
juga mengajakku malam tahun baruan juga. Oh aku bingung Ra, batinnya.
“Kamu mau kan,
Nas?”
Pertanyaan Aira benar-benar membuat Monas serba salah.
“Em gimana ya Ra? Kalau
nggak ada acara yang lain ya?” ucap Monas
sambil tersenyum. “Tapi
aku nggak bisa janji.”
“Kamu
keberatan ya, Nas?”
“Em bukan begitu Ra. Aku takut nanti kalau aku janji
denganmu, terus aku nggak bisa menepatinya, kamu jadi kecewa
malahan. Karena aku nggak pernah berjanji dan menjanjikan sesuatu kepada orang
lain Ra, selama ini.”
“Oh,
gitu ya.” Monas mengangguk.
Aira tersenyum lega
mendengar jawaban Monas yang sangat dewasa dan bertanggung-jawab. Keduanya pun terdiam
sejenak sambil kembali menatap laut lepas.
“Nas, pasti banyak cewek
kampus yang suka dan cinta sama kamu ya?”
“Ah aku nggak tahu Ra. Dan
aku … malah takut sebenernya.”
Aira heran. “Takut
Nas? Lho kenapa? Orang disukai sama dicintai seseorang kok takut,” ucap
Aira yang sedikit bingung dengan jawaban itu.
Monas menatap Aira. “Aku takut … karena di setiap satu senyum yang hadir, akan ada satu tetes airmata yang jatuh, Ra.” Kemudian Monas menunduk.
“Egh sory, aku nggak paham dengan kata-katamu, Nas. Apa maksudnya?”
“Suatu hari kamu juga akan tahu Ra,” ucap Monas sambil
tersenyum. Sesaat Aira tertegun
dengan kata-kata Monas. Namun
dia benar-benar tak memahaminya. Kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat sedikit. Dia
tersenyum. Sejenak
pun hening.
Disaat Aira menatap
laut lepas, Monas menoleh dan menatap wajahnya. Dia membatin, oh jujur Ra,
kamu ini gadis yang cantik sekali di mataku. Seandainya aku belum punya kekasih
Ra, tapi sayang sekarang di hatiku sudah terisi oleh seorang gadis yang
menyayangiku. Aku tak ingin membuatmu sedih Ra. Kemudian Monas melemparkan pandanganya
ke laut.
Tak berselang lama disaat Monas menatap laut lepas,
gantian Aira menoleh. Aira menatap dalam
wajah Monas disampingnya. Nas ingin rasanya aku
jadi kekasihmu. Dan ingin
rasanya menyandarkan kepalaku ini di pundakmu sekarang. Atau kamu merangkul dan memelukku
pun, aku ikhlas. Oh Nas, setelah dekat denganmu seperti ini, aku bahagia sekali saat ini. Nas, tahukah perasaanku
kepadamu yang sebenarnya? Tapi, aku adalah perempuan. Aku enggak ingin menyatakan
perasaanku lebih dulu. Aku pingin kamu yang menyatakannya. Dan jika bukan
sekarang, kuharap lain waktu kamu akan menyatakannya untukku, Nas. Aku akan
tetap menunggumu, Nas, batinnya.
Hembusan angin dan deburan ombak yang menghempas, menambah romantis suasana keduanya. Ditambah pergantian ombak yang silih
berganti menyentuh pasir pantai. Sepertinya
sang ombak tak ingin surut memberi arti tersendiri tentang kerinduannya untuk
sang pasir. Terlengkapi pula dengan
warna langit yang semakin senja. Warna semburat merahnya perlahan menjadi kuning
keemasan. Semakin
ke
bawah sang
matahari bergulir,
semakin remang. Dua insan manusia yang berbeda jenis itu masih duduk menikmati
keagungan ciptaan Tuhan. Yang
tak akan bisa ditandingi oleh makhluk apapun karena
Dia adalah sang penciptanya.
Sekali lagi Monas melihat ke samping, menatap
wajah Aira. Monas membatin, oh Ra, hembusan angin pantai ini yang menyibakkan rambut lurusmu, menambah indah dan sempurna dengan
wajah ayumu. Ra, aku takut suatu hari nanti perasaan ini jadi cinta. Aku takut perasaan ini jadi sayang. Aku takut akan semua itu. Karena
aku bukanlah orang yang pantas untukmu. Karena aku tak berharap akan dirimu. Jika kejadian ini adalah suatu pertanda akan perasaan itu, maafin aku, Ra. Aku tak
ingin membuatmu sedih. Tapi aku akan tetap menjadi orang yang dekat denganmu.
Monas berdiri. “Ra, ini sudah sore sebaiknya
kita pulang yuk!” Monas tersenyum dan
mengulurkan tangannya.
“Oh iya ya sudah sore. Baiklah kita pulang.” Aira berdiri sambil menggenggam telapak tangan Monas. Setelah berdiri tapi genggaman tangannya belum dilepasnya. Monas melihat genggaman itu sejenak. “Em Nas … aku minta satu hal lagi
darimu, boleh?”
Monas menatap Aira. “Satu hal apa, Ra?”
“Nas, bisa nggak apa yang terjadi hari ini kita jalan, menjadi rahasia
kita saja?”
“Egh jadi rahasia kita, Ra?”
“Iya, hanya kita,” ucap Aira yang terus menatap Monas.
Monas pun terdiam. Dia juga terus
memandangi wajah cantik itu. Sejenak dia menghela
nafas. “Baiklah, Ra. Kita jadikan ini sebagai
rahasia kita,” ucapnya sambil tersenyum. Namun di dalam dadanya ada perasaan yang berkecamuk
hebat.
Saat malam nampak sudah mengisi
alam dengan ditandai kehadiran gelapnya, Monas sudah sampai di ujung jalan dan di depan rumah besar. Aira pun turun dari motor.
“Em Nas, makasih ya sudah mau
menemani aku jalan. Dan
tolong ini jadi rahasia kita saja!” Aira
tersenyum.
“Baik Ra. Aku juga makasih dengan kalung ini yang kamu beri untukku.”
“Ah cuma kalung aja kok Nas. Anggap itu kenang-kenangan.”
“Baik
Ra. Aku pulang ya,?”
“Nas, tunggu!”
Monas tak jadi menarik gasnya. “Ada apa lagi Ra?”
“Jangan lupa tahun baru nanti!” ucap Aira sambil tersenyum kecil.
“Em, insyaallah ya Ra? Aku pulang sekarang,” sambil membalas senyuman Aira.
“Ya. Hati-hati di jalan, Nas!”
Monas pun berlalu dari Aira. Gadis
itu masih berdiri memandangi Monas sampai tak terlihat lagi di ujung jalan. Dia nampak bahagia sekali. Sebab hari itu adalah hari yang mungkin tak terlupakan baginya. Dia seharian dapat pergi berdua dan dekat dengan Monas.
Aira pun melangkah masuk gerbang.
Sesampainya di rumah Monas
langsung masuk kamarnya. Merebahkan
tubuhnya di dinding kamar. Sambil duduk perasaannya berkelana. Pikirannya menerawang ke mana-mana. Hatinya pun bergejolak.
“Aduh, kenapa perasaanku seperti ini? Dan kejadiannya selalu seperti ini
bila aku dekat dengan seorang gadis. Semua selalu ingin menjadi rahasia. Kenapa? Kenapa dalam diriku penuh
rahasia? Aku semakin tak mengerti. Apakah aku beruntung atau merugi dengan
hal ini? Yang pasti aku merasa semakin
berat. Karena selalu ada rahasia
di dalam diriku ini. Bukan aku yang menginginkanya. Namun
aku tak mampu menolaknya. Aku sudah punya rahasia sendiri dengan diriku. Rahasia dengan temanku. Rahasia dengan Kasih. Dan sekarang rahasia dengan Aira.
Oh, maafkan aku bila rahasia ini nantinya sudah tidak bisa menjadi rahasia
lagi. Dan seandainya nanti
menjadikan rugi atau kecewa seseorang, aku
minta maaf,” gumamnya.
Monas menunduk melihat ke bawah. Sedih menyadari di dirinya penuh dengan rahasia. Sesuatu yang akan membuat lebih haru nantinya. Sesuatu yang menambah beban pikirannya. Namun, dia tak mau perasaannya terus larut dengan sesuatu yang membingungkan itu. Dia ingat kalau hal kuliah dan belajar adalah lebih utama. Lebih perlu dipikirkan dan
dijalankan.
Malam itu Monas membuka beberapa
buku dan membaca serta mempelajarinya. Baginya
lebih baik
belajar pengetahuan apa saja agar nanti tak terlalu
merugi.
Setelah dua jam berlalu hp-nya menjerit. Ada pesan dari Kasih. Mereka
pun saling berbalas.
“Mas Monas yg trsyg, km lagi belajar ya?”
“Iya Kasih, aku lg baca buku. Kamu?”
“Aku jg sama lg
baca buku, kan aku ujiannya bentar
lagi,
dan kamu duluan ya ujiannya Mas?”
“Iya. Aku duluan ujiannya. Kasih belajarlah yang rajin
dan ikuti saranku yg dulu ya.
Semoga kamu nanti bisa
masuk universitas yg
bagus.”
“Mksh Masku yg tersayang, smoga kamu juga dpt
nilai
yang bgs jg.”
“Ya ... semoga Kasih.”
“Oya Mas, nanti kalau aku lulus,
temenin aku daftar ke
universitas ya?”
“Iya Kasih, aku siap menemanimu ke mana pun.”
“Ah Masku sayang bisa aja. Ya udah makasih yah ..., ni
dah malem, met tidur ja
ya. Dr Kasih yg slalu syg.”
“Iya, aku jg. Makasih atas sayangmu untukku.”
Monas tersenyum. Dia menaruh buku yang dibacanya tadi. Kemudian dia menyalakan laptop dan membuka fb-nya. Ada banyak
yang meminta pertemanan untuknya,
dari Teguh
Prasetyo, Cee ndie, Saiful bahri, Rukmana
tea dan Nelis
listiani. Setelah mengkonfirmasi
dan membalas beberapa komentar Monas
membuka dan mengunduh beberapa
pengetahuan dan hal lain yang sekiranya dibutuhkan
dan yang menarik baginya. Ternyata hal
itu membuat beban pikiran dan perasaannya sedikit berkurang. Di mana ada seorang gadis lagi yang menaruh rahasia di hatinya.[ ]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar