Kuda Besi Yang Baru
DI BASECAMP sudah
ada Agung, Ian, Raffi serta teman bos Baron yang lain. Semuanya sekitar sembilan orang termasuk Takahasi. Dia sedang asik
ngobrol dengan Agung, meski sudah mengerti bahasa Indonesia namun logatnya
terdengar kurang pas.
Saat Agung asik
berbincang dengan Takahasi, bos Baron mendekatinya.
“Gung, mana
Jocker kok belum datang?”
“Paling bentar lagi Bos, katanya masih di jalan.”
Tak berapa lama
kemudian terdengar bunyi knalpot mendekat.
Rhuung … rhuung …!
“Nah, tuh orangnya datang. Panjang umur
bener,” ujar Agung.
Monas turun dari
motor dan langsung mendekat.
“Maaf Bos, aku telat.
Maaf ya Brother semua?” Monas menyalami dengan cara khas bersalaman anak motor.
“Nggak apa-apa. Ya sudah, karena kita sudah pada kumpul, kita mulai ya?”
“Oke Bos.”
Bos Baron pun
memulai briefing. Dia
mengatur semuanya karena dia
adalah bosnya. Semua
mendengarkan. Dan, sesekali temannya
yang lain memberikan masukan-masukan untuk ide-ide mereka ke depannya.
“Oke, semua sudah
ngerti tugas masing-masing ya? Ingat jangan ada kesalahan yang fatal! Kita harus benar-benar berusaha, Oke?”
“Oke, siap Bos,” ucap mereka kompak.
“Jocker,
sekarang kamu bawa motor ini agar kamu terbiasa,” sambil
menunjuk motor yang ada di dekatnya. “Sebab hanya kamu yang cc motornya kecil
di sini. Terus motor kamu ditinggal sini saja.”
“Ha? Ini Bos?”
Monas kaget
disuruh mengganti motornya dengan Kawasaki ninja ber-cc besar.
“Iya, sekarang ini kamu bawa pulang! Paling enggak kamu harus sering bawa agar nggak kaku dengan motor besar
yang lain. Nanti tinggal bawa motor yang lebih kencang saja kalau sudah siap, Oke?”
“Em oke Bos. Makasih.”
Perasaan Monas
senang bukan main. Tak terbayang sebelumnya
kalau sekarang dia langsung dikasih
kepercayaan untuk mengendalikan si kuda besi yang lebih kencang.
“Black, kamu
jadi partner dia ya? Bantu dia biar nambah skillnya!”
“Beres Bos.”
“Baiklah, breafing kita hari ini kita tutup sampai
di sini. Pokoknya semua harus sering kumpul di sini, Oke? Aku ada pekerjaan lain.”
“Oke, Bos.”
Bos Baron pun meninggalkan mereka karena ada pekerjaan yang perlu diurus olehnya. Sedang yang lain masih meneruskan
obrolan.
“Wah edan kowe, Nas. Sekarang motormu
mantep,” ucap Ian.
“Ah aku cuma disuruh pakai aja. Eh tapi kamu
latih aku ya, Ian?”
“Tenang, apa pun aku bantu buat kamu.”
“Kita mulai besok. Oke Ian?”
“Bereess,” ucap Ian sambil mengacungkan dua
jempolnya.
“Wah kamu hebat sekarang Nas, eh jocker. Sekarang
motormu tambah kenceng, aku
jadi iri,” celetuk Raffi. “Nanti
aku juga mau beli yang lebih kenceng ah. Terus aku setting di sini, biar imbang sama kamu, hehehe. Kamu beli endak Kucrut, motor baru?”
“Ngapain mesti beli, nanti aku pinjem wae sama Monas kalau
perlu.”
“Ah kamu pingin enaknya aja Kucrut.”
“Ya nggak apa-apa lah Kunyang,” sambil terkekeh dan meninju kecil
ke pundaknya.
Dua jam lebih
Monas berada di situ. Dia mencoba motor pegangan barunya beberapa kali. Agung
juga sudah merasa puas melihat Monas sudah sedikit beradaptasi dengan motor
settingannya di tempat itu. Agung
mendekati ketiga temannya yang berkumpul.
“Ayo kita pulang! Udah sore banget,” ucap Agung.
“Iya, ayo pulang Bro!” ucap Monas. Ian dan
Raffi hanya mengangguk setuju.
“Bram, Takahasi,
kita pulang dulu ya?”
“Oke Gung,
sampai besok lagi. Salam
kemenangan,” ucap Takahasi. Sementara Bram mengacungkan jempolnya.
Basecamp itu terdengar bergemuruh, dengan suara knalpot yang
dikeluarkan oleh motor-motor mereka. Keempatnya mulai
menarik gas motornya masing masing. Tak ketinggalan Monas alias Jocker, sekali tarik gas saja langsung melesat jauh meninggalkan
yang lain.
“Ah kampret, Beneran sekarang Monas tambah lebih kenceng
ya, Fi?”
“Iya Ian, kita sekarang yang repot ngejar dia.”
“Ayo kejar dia!”
“Oke.”
Rhuung …!
Raffi dan Ian pun berusaha mengejar
Agung dan Monas di jalanan
yang cukup ramai berseliweran kendaraan yang lain. Saling meliuk indah saat
mendahului kendaraan di depannya. Meski baru memegang motor yang lebih kencang, Monas terlihat sudah bisa
mengendalikan sang kuda besi.
Dia cepat beradaptasi dengan motor
yang sekarang dibawanya. Dengan menggunakan feelingnya, dia sudah bisa
membaca berat motor itu dengan tubuhnya. Dan tak hanya itu tentang timing, skill, dan nyalinya sebagai
joki sudah tak diragukan lagi.
Saat di
perempatan jalan dan lampu sedang berwarna merah Ian membuka kaca helmnya. “Gila kowe. Kowe belajar di mana kok udah
langsung jago megang motor itu di jalanan begini? Hebat banget tadi sampai aku
ketinggalan jauh,” celetuknya.
Monas tersenyum.
“Kan, kamu yang ajari tadi.”
“Opo? Aku wae belum pernah
pegang, ngajari gimana?”
“Hey … siap-siap,
udah mau ijo lho lampunya!” Mata Monas menunjuk ke lampu lalu lintas.
Ian mengalihkan
pandangannya. Dia melihat lampu lalu lintas sudah berwarna kuning. “Kampret. Awas kowe, Nas!” ucapnya kepada pria di sampingya.
Rhung … rhuuung
… rhuuuuuuung ...!
Kemudian mereka
melesat kencang saat lampu berganti warna hijau. Sesekali Raffi dan melakukan
standing hingga membuat orang
lain pun bengong karena
takjub melihatnya. Mereka bergaya seolah-olah merekalah yang menjadi raja
jalanan. Hanya Monas dan Agung yang biasa saja dalam berkendara.
“Bro, sampai besok ya? Aku duluan,” ucap Raffi yang akan berbelok ke kiri ke rumahnya setelah sampai di Sukoharjo.
“Oke Bro, sampai besok,” jawab yang lain.
Tak berapa lama
Agung juga berpamitan. Dia melepas stang sambil melambaikan tangannya. “Sampai
besok.”
Rhunnng ...!
“Sip Broo, sampai besok juga.”
Tinggal Monas
dan Ian yang masih sejalur ke selatan. Keduanya melaju pelan.
“Ian, motor ini
agak liar bagiku. Aku ada
kesulitan ngontrolnya.”
“Tenang, bagiku kamu sudah jago kok bawanya. Cuma tadi aku lihat gerakan kakimu masih kaku. Nanti kalau
udah biasa juga bisa.”
“Iya bener, mungkin baru megang sekali ya?”
“Iya, itu wajar. Besok kamu latihan fisik dulu ya, biar endak kaku, sama kekuatanmu bisa nambah?”
“Oke Bro. ”
Mereka pun
akhirnya berpisah jalan ke rumah masing-masing. Saat tiba di rumah Monas
berhenti sejenak memandangi motor itu. “Gila, liar amat motor ini. Sepertinya aku belum cocok kali atau belum pas settingannya buatku. Tapi
aku senang ternyata bisa juga menikmati kecepatan dengan motor seperti ini.”
Monas mengusap-usap tangki motor. “Semoga kamu jadi sahabat baikku ya?”
Dia melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung
merebahkan tubuhnya di kasur. “Ah
lelah banget hari ini. Tapi aku bahagia banget dapet dua keberuntungan. Yang pertama, Kasih benar-benar mencintaiku. Dan terimakasih aku boleh menciummu, yang mungkin tak
sembarang orang kamu ijinkan untuk itu. Dan yang kedua, aku di suruh pegang
motor racing. Yang mungkin aku enggak
akan bisa beli motor seperti itu. Pasti mahal dan juga besar biaya merawatnya. Ah, indahnya hari ini.” Monas tersenyum. “Aku akan berusaha
menjaga cinta ini dan aku juga akan berusaha untuk bisa menyalurkan hobiku. Makasih Ya Allah.” ucapnya pelan.
Malam hari jam
enam lewat
“Nas, ayo maem dulu!”
Terdengar panggilan mbah
Putri dari luar kamar. “Kamu sudah shalat, belum?”
“Nggih Mbah, sudah barusan,”
ucap Monas. Kemudian dia bangkit dan membuka pintu. “Monggo Mbah,”
Keduanya
beranjak ke ruang makan.
“Ini Mbah endak masak. Tapi mbah
beli ayam bakar buat kowe.”
“Wah ayam bakar, sudah dijual padinya to Mbah?”
Monas langsung
duduk dan mengambil
nasi setelah mbah putrinya. Dia sudah
tergoda oleh bau harum ayam bakar di hadapannya.
“Sudah Nas, tadi
langsung dibayar. Kowe mau pakai uangnya?”
“Enggak usah Mbah
Putri, niku kanggé sampéyan
mawon.”[1]
“Yo wis
kalau pinginmu gitu. Lha, kaé
motornya siapa? Terus motormu
di mana?”
“Em itu motornya temen Mbah,
pingin gantian.”
“O gitu. Tapi motornya lebih gede yo, Nas?”
“Yo wis pokoknya yang hati-hati, yo? Ayo
nambah lagi makannya!”
“Nggih Mbah.”
Suasana di ruang
makan itu nampak hangat. Nampak
harmonis dan selaras dengan obrolan yang sopan. Ada ucapan yang halus antara
keduanya. Monas merasa dirinya dan sang nenek adalah berjodoh. Jodoh
dalam artian yang luas. Tak hanya jodoh dalam artian pasangan semata. Baginya, jodoh
adalah cocok dengan siapa saja. Bahkan jodoh dengan ciptaan Allah lainnya. Tinggal manusianya
bisa memaknai arti jodoh itu sendiri atau tidak, agar tak membuat kesalahan yang bisa merusak tentang makna
jodoh itu sendiri. Baginya semua manusia dipertemukan dengan
siapa saja itu juga berjodoh.
Namun, tergantung manusianya itu
sendiri bisa berjodoh dan bermanfaat tidak dengan pertemuan itu selama hidup di dunia. Dan perempuan tua yang ada di depannya adalah ditakdirkan sebagai
neneknya.
Selesai makan, Monas membaca buku mata kuliah besok. Mempelajari sebentar dan membuat beberapa catatan yang belum dipahaminya, agar besoknya bisa ditanyakan
ke dosen. Itu salah satu kebiasaannya agar
memudahkan dalam mempelajari suatu materi kuliah. Terkadang dia mencari ke perpus atau lewat internet untuk hal-hal yang belum
dimengerti. Baginya di zaman modern bila tak mengikuti atau
memanfaatkan tekhnologi, pasti akan ketinggalan dan merugi.
Bahkan perkembangannya sangat cepat. Tak aneh bila anak-anak kecil cepat pintar dan
menjadi hebat dengan tekhnologi
yang mendampinginya. Tapi Monas
merasa kebanyakan dari generasi muda
hanya menerima secara
instan saja. Moral dan mental mereka
kurang memahami dengan dampak
buruknya tekhnologi
yang dihadapi. Pinginnya serba cepat, mudah, praktis, dan yang menyenangkan.
Sekitar satu setengah jam dia membaca buku. Dia pun keluar kamar menuju ke belakang untuk
mengambil wudhu. Shalat isya’ belum dikerjakannya. Saat hendak masuk kamar tiba-tiba langkahnya
terhenti. Dilihatnya mbah Putri
masih menonton tv diruang tamu. Dia mengucap dalam hati, ah nanti sehabis shalat
aku mau ngobrol lagi dan menemani mbah putri. Kasihan
diusianya yang sudah tua, teman sebayanya sudah tidak ada lagi. Mereka telah
lebih dulu dipanggil yang Maha Kuasa.
Monas melihat
iba ke neneknya.
Setelah beberapa menit sholat dia keluar
dari kamar, dilihatnya sang
nenek tidak ada di ruang
tamu. Tv juga tak menyala. Dia
berjalan ke depan dan membuka
pintu, menoleh ke kanan. Dan benar, dia melihat neneknya berada
di luar sedang duduk di kursi panjang. Sebuah kursi panjang untuk tamu yang
ingin berada di luar rumah.
Monas mendekat
dan langsung duduk di sampingnya.
“Mbah Putri kok ada di luar, kenapa?”
Mbah Putri
menoleh. “Endak ada apa-apa. Aku lagi pingin di luar aja sebentar, Nas. Lha kowe endak belajar?”
“Sudah Mbah. Tapi hanya sebentar.”
“Terserah kowe wae mau lama atau sebentar belajarmu, yang penting kowe bisa paham dan bisa
ngerti pelajaranmu.” Mbah Putri tersenyum. “Aku cuma pesen sama kowe. Nas, dadio wong sing pinter tur ngerti, ojo mung
pinter kanggo minteri wong liyo. ning bisoho pinter iku
kanggo mangerténi marang liyan.”[3]
“Nggih Mbah. Insyaallah.”
Monas tersenyum. “Em Mbah, boleh nanya nggak?”
“Kowe mau nanya opo?”
“Em Mbah Putri kan sudah sepuh, gimana perasaannya sudah nggak punya
teman yang masih hidup? Maksudku sedih nggak, Mbah? Tapi maaf, aku nanya
seperti ini.”
“Yo pasti wae sedih,
Nas. Semua orang kalau sudah endak ada yang diajak ngomong, guyon[4], atau endak ada yang diajak urun rembuk[5]itu
pasti sedih. Apa lagi tinggal aku yang hidup. Tapi,
semua itu harus diterima dengan ikhlas.
Kudu dilakoni nganti wanciné awaké dhéwé dipundhut.”[6]
“Em, gitu nggih
Mbah?”
“Iyo Nas, tapi aku masih untung. Kowe jadi cucuku yang masih menemani
aku di sini. Tapi kowe suatu
hari nanti juga akan punya teman untuk hidup bersama sendiri, Nas. Dan aku yang sudah tua hanya bisa berdo’a kepada Gusti Allah, semoga aku nanti kalau dipanggil Gusti Allah, endak merepotkan orang
banyak. Aku pingin yang tenang wae, endak
ngalami sakit yang lama. Nanti malah kowe repot jadinya.”
“Eh, jangan gitu Mbah! Insyaallah, cucumu ini akan menemani sampeyan Mbah, sampai pada waktunya.”
Monas kemudian memeluk erat mbah
Putrinya. Seorang nenek yang telah merawatnya sampai dia dewasa. Nenek yang
rela mengorbankan apa saja
demi dirinya. Dan itu dirasakan Monas sedari kecil. “Mbah, jangan sedih! Masih ada aku
ini, cucumu yang ganteng sendiri.”
Monas
mengalihkan perasaan yang hampir
mengharukan itu.
“Iyo, cucuku yang bagus dewe. Tapi dulu kamu
itu bandel banget sewaktu masih kecil,”
ucap mbah Putri dan tersenyum
mengingat Monas masih kecil.
“Iyo Nas, sudah aku maafkan kok dari dulu.”
Tangan Monas diremas
dan diusap. Monas hanya tersenyum. Perlakuan seperti semasa kecilnya dulu.
Sering diusap dan dipijit oleh neneknya.
“Nas, ayo masuk
rumah! Udaranya sudah dingin. Mbah pingin tidur.”
“Oh, monggo Mbah ….”
Keduanya masuk ke dalam rumah. Monas
menggandeng sang nenek sampai masuk ke kamarnya. Setelah memberi senyuman, dia menutup pintu kamar neneknya sedikit dan
melangkah menuju kamarnya sendiri.
Monas duduk dan membuka hp-nya. Ada satu
pesan yang masuk. Kemudian dia
membalas pesan pendek dari Kasih.
“Kasih, aku jg bahagia. Kenangan ini kan ku jaga slamanya. met bobok sygku”
Saat pesan
balasan sudah terkirim. Dia menyalakan komputer sambil mendengarkan musik pelan. Saat faecbook-nya dibuka, terlihat ada
pesan baru di dinding fb-nya. Ada pula kabar terbaru untuknya. Kabar beberapa permintaan
pertemanan. Ada nama Aira dan empat
orang lainnya yang ingin bergabung. Monas menambahkan daftar mereka sebagai
teman. Lantas membuka pesan yang ditulis di dinding facebook. Ada satu pesan dari Migumi
Yura. Salah seorang mahasiswi di Jepang yang menjadi sahabat jauhnya. Dia membacanya. Satu pesan yang ditulis enam jam yang lalu. Namun, baru dibalasnya malam itu. Monas berteman dengan
Migumi baru dua bulan
terakhir lewat facebook. Walau jarak yang berjauhan, tapi keduanya seakan-akan seperti sahabat dekat. Dengan
adanya kemajuan tekhnologi, jarak seperti bukan menjadi penghalang lagi. Sesuatu atau apapun yang dulu sepertinya susah, namun sekarang sangat
mudah untuk didapatkan. Hanya tinggal mencarinya di internet lewat situs atau blog
tertentu.
Monas merasakan
begitu mudahnya pertemanan di zaman
modern. Lewat hadirnya
facebook, twitter dan media sosial lainnya, semakin menambah luas persahabatannya.
Cepat dan mudah berkomunikasi dengan siapa saja. Baginya yang penting tinggal peribadi
masing-masing yang menggunakannya. Mau dipakai untuk
kebaikan atau kejelekan. Semua
tergantung dari niat masing-masing. Monas
pun paham, di zaman modern sebagai orangtua harus lebih sering
aktif berperan untuk mengawasi putra-putrinya dalam pergaulan. Karena berkat kemajuan tehnologi, semua terasa bebas dan mudah.
Dilihatnya jam
dinding kamar. Malam semakin larut. Ngantuk. Matanya serasa ingin sekali dipejamkan. Tubuhnya juga sudah enggan untuk diajak duduk atau
berdiri. Sejenak dia masih
terbayang-bayang indahnya hari itu bersama
Kasih. Tak
berapa lama kemudian akhirnya dia pun
ambruk di bantai kantuk.[ ]
[1]Itu untuk anda saja
[2]Lebih besar
[3]Jadilah orang yang pintar
juga mengerti. jangan hanya pinter untuk minterin
orang lain. tapi bisalah pinter itu untuk memberi pengertian kepada orang lain.
[4]becanda
[5]Minta saran
[6]Apalagi tinggal aku yang
hidup. tapi
semua itu harus ikhlas. harus dijalani sampai
waktunya kita semua dipanggil.
[7]Minta maaf


Tidak ada komentar:
Posting Komentar