Selasa, 09 September 2014

Kuda Besi Yang Baru



Kuda Besi Yang Baru





DI BASECAMP sudah ada Agung, Ian, Raffi serta teman bos Baron yang lain. Semuanya sekitar sembilan orang termasuk Takahasi. Dia  sedang asik ngobrol dengan Agung, meski sudah mengerti bahasa Indonesia namun logatnya terdengar kurang pas.
Saat Agung asik berbincang dengan Takahasi, bos Baron mendekatinya.
“Gung, mana Jocker kok belum datang?”
Paling bentar lagi Bos, katanya masih di jalan.”
Tak berapa lama kemudian terdengar bunyi knalpot mendekat.
Rhuung … rhuung …!
Nah, tuh orangnya datang. Panjang umur bener,” ujar Agung.
Monas turun dari motor dan langsung mendekat.
Maaf Bos, aku telat. Maaf ya Brother semua?” Monas menyalami dengan cara khas bersalaman anak motor.
“Nggak apa-apa. Ya sudah, karena kita sudah pada kumpul, kita mulai ya?”
Oke Bos.”
Bos Baron pun memulai briefing. Dia mengatur semuanya karena dia adalah bosnya. Semua mendengarkan. Dan, sesekali temannya yang lain memberikan masukan-masukan untuk ide-ide mereka ke depannya.
Oke, semua sudah ngerti tugas masing-masing ya? Ingat jangan ada kesalahan yang fatal!  Kita harus benar-benar berusaha, Oke?”
Oke, siap Bos,” ucap mereka kompak.
“Jocker, sekarang kamu bawa motor ini agar kamu terbiasa,”  sambil menunjuk motor yang ada di dekatnya. “Sebab hanya kamu yang cc motornya kecil di sini. Terus motor kamu ditinggal sini saja.”
Ha? Ini Bos?”
Monas kaget disuruh mengganti motornya dengan Kawasaki ninja ber-cc besar.
Iya, sekarang ini kamu bawa pulang! Paling enggak kamu harus sering bawa agar nggak kaku dengan motor besar yang lain. Nanti tinggal bawa motor yang lebih kencang saja kalau sudah siap, Oke?”
Em oke Bos. Makasih.”
Perasaan Monas senang bukan main. Tak terbayang sebelumnya kalau sekarang dia langsung dikasih kepercayaan untuk mengendalikan si kuda besi yang lebih kencang.
“Black, kamu jadi partner dia ya? Bantu dia biar nambah skillnya!”
Beres Bos.”
“Baiklah, breafing kita hari ini kita tutup sampai di sini. Pokoknya semua harus sering kumpul di sini, Oke?  Aku ada pekerjaan lain.”
Oke, Bos.”
Bos Baron pun meninggalkan mereka karena ada pekerjaan yang perlu diurus olehnya. Sedang yang lain masih meneruskan obrolan.
Wah edan kowe, Nas. Sekarang motormu mantep,” ucap Ian.
Ah aku cuma disuruh pakai aja. Eh tapi kamu latih aku ya, Ian?”
Tenang, apa pun aku bantu buat kamu.”
Kita mulai besok. Oke Ian?”
Bereess,” ucap Ian sambil mengacungkan dua jempolnya.
Wah kamu hebat sekarang Nas, eh jocker. Sekarang motormu tambah kenceng, aku jadi iri,” celetuk Raffi. “Nanti aku juga mau beli yang lebih kenceng ah. Terus aku setting di sini, biar imbang sama kamu, hehehe. Kamu beli endak Kucrut, motor baru?”
Ngapain mesti beli, nanti aku pinjem wae sama Monas kalau perlu.”
Ah kamu pingin enaknya aja Kucrut.”
Ya nggak apa-apa lah Kunyang,” sambil terkekeh dan meninju kecil ke pundaknya.
Dua jam lebih Monas berada di situ. Dia mencoba motor pegangan barunya beberapa kali. Agung juga sudah merasa puas melihat Monas sudah sedikit beradaptasi dengan motor settingannya di tempat itu.  Agung mendekati ketiga temannya yang berkumpul.
Ayo kita pulang! Udah sore banget,” ucap Agung.
Iya, ayo pulang Bro!” ucap Monas. Ian dan Raffi hanya mengangguk setuju.
“Bram, Takahasi, kita pulang dulu ya?”
“Oke Gung, sampai besok lagi. Salam kemenangan,” ucap Takahasi. Sementara Bram mengacungkan jempolnya.
Basecamp itu terdengar bergemuruh, dengan suara knalpot yang dikeluarkan oleh motor-motor mereka. Keempatnya mulai menarik gas motornya masing masing. Tak ketinggalan Monas alias Jocker, sekali tarik gas saja langsung melesat jauh meninggalkan yang lain.
Ah kampret, Beneran sekarang Monas tambah lebih kenceng ya, Fi?”
Iya Ian, kita sekarang yang repot ngejar dia.”
Ayo kejar dia!”
Oke.”
Rhuung …!
Raffi dan Ian pun berusaha mengejar Agung dan Monas di jalanan yang cukup ramai berseliweran kendaraan yang lain. Saling meliuk indah saat mendahului kendaraan di depannya. Meski baru memegang motor yang lebih kencang, Monas terlihat sudah bisa mengendalikan sang kuda besi. Dia cepat beradaptasi dengan motor yang sekarang dibawanya. Dengan menggunakan feelingnya, dia sudah bisa membaca berat motor itu dengan tubuhnya. Dan tak hanya itu tentang timing, skill, dan nyalinya sebagai joki sudah tak diragukan lagi.
Saat di perempatan jalan dan lampu sedang berwarna merah Ian membuka kaca helmnya. “Gila kowe. Kowe belajar di mana kok udah langsung jago megang motor itu di jalanan begini? Hebat banget tadi sampai aku ketinggalan jauh,” celetuknya.
Monas tersenyum. “Kan, kamu yang ajari tadi.”
“Opo? Aku wae belum pernah pegang, ngajari gimana?
“Hey … siap-siap, udah mau ijo lho lampunya!” Mata Monas menunjuk ke lampu lalu lintas.
Ian mengalihkan pandangannya. Dia melihat lampu lalu lintas sudah berwarna kuning. “Kampret. Awas kowe, Nas!” ucapnya kepada pria di sampingya.
Rhung … rhuuung … rhuuuuuuung ...!
Kemudian mereka melesat kencang saat lampu berganti warna hijau. Sesekali Raffi dan melakukan standing hingga membuat orang lain pun bengong karena takjub melihatnya. Mereka bergaya seolah-olah merekalah yang menjadi raja jalanan. Hanya Monas dan Agung yang biasa saja dalam berkendara.  
Bro, sampai besok ya? Aku duluan,” ucap Raffi yang akan berbelok ke kiri ke rumahnya setelah sampai di  Sukoharjo.
Oke Bro, sampai besok,” jawab yang lain.
Tak berapa lama Agung juga berpamitan. Dia melepas stang sambil melambaikan tangannya. “Sampai besok.
Rhunnng ...!
 Sip  Broo, sampai besok juga.”
Tinggal Monas dan Ian yang masih sejalur ke selatan. Keduanya melaju pelan.
“Ian, motor ini agak liar bagiku. Aku ada kesulitan ngontrolnya.”
Tenang, bagiku kamu sudah jago kok bawanya. Cuma tadi aku lihat gerakan kakimu masih kaku. Nanti kalau udah biasa juga bisa.”
Iya bener, mungkin baru megang sekali ya?”
Iya, itu wajar. Besok kamu latihan fisik dulu ya, biar endak kaku, sama kekuatanmu bisa nambah?”
Oke Bro. ”
Mereka pun akhirnya berpisah jalan ke rumah masing-masing. Saat tiba di rumah Monas berhenti sejenak memandangi motor itu. Gila, liar amat motor ini. Sepertinya aku belum cocok kali atau belum pas settingannya buatku. Tapi aku senang ternyata bisa juga menikmati kecepatan dengan motor seperti ini.” Monas mengusap-usap tangki motor. “Semoga kamu jadi sahabat baikku ya?”
Dia melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Ah lelah banget hari ini. Tapi aku bahagia banget dapet dua keberuntungan. Yang pertama, Kasih benar-benar mencintaiku. Dan terimakasih  aku boleh menciummu, yang mungkin tak sembarang orang kamu ijinkan untuk itu. Dan yang kedua, aku di suruh pegang motor racing. Yang mungkin aku enggak akan bisa beli motor seperti itu. Pasti mahal dan juga besar biaya merawatnya. Ah, indahnya hari ini.” Monas tersenyum. “Aku akan berusaha menjaga cinta ini dan aku juga akan berusaha untuk bisa menyalurkan hobiku. Makasih Ya Allah.” ucapnya pelan.
Malam hari jam enam lewat
“Nas, ayo maem dulu!” Terdengar panggilan mbah Putri dari luar kamar. “Kamu sudah shalat, belum?
Nggih Mbah, sudah barusan,” ucap Monas. Kemudian dia bangkit dan membuka pintu. “Monggo Mbah,”
Keduanya beranjak ke ruang makan.
Ini Mbah endak masak. Tapi mbah beli ayam bakar buat kowe.
Wah ayam bakar, sudah dijual padinya to Mbah?”
Monas langsung duduk dan mengambil nasi setelah mbah putrinya. Dia  sudah tergoda oleh bau harum ayam bakar di hadapannya.
“Sudah Nas, tadi langsung dibayar. Kowe mau pakai uangnya?
“Enggak usah Mbah Putri, niku kanggé sampéyan mawon.”[1]
Yo wis kalau pinginmu gitu. Lha, kaé motornya siapa? Terus motormu di mana?”
Em itu motornya temen Mbah, pingin gantian.”
“O gitu. Tapi  motornya lebih gede yo, Nas?
Nggih Mbah, luwih ageng.”[2]
Yo wis pokoknya yang hati-hati, yo? Ayo nambah lagi makannya!
Nggih Mbah.”
Suasana di ruang makan itu nampak hangat. Nampak harmonis dan selaras dengan obrolan yang sopan. Ada ucapan yang halus antara keduanya. Monas merasa dirinya dan sang nenek adalah berjodoh.  Jodoh dalam artian yang luas. Tak hanya jodoh dalam artian pasangan semata. Baginya, jodoh adalah cocok dengan siapa saja. Bahkan jodoh dengan ciptaan Allah lainnya. Tinggal manusianya bisa memaknai arti jodoh itu sendiri atau tidak, agar  tak membuat kesalahan yang bisa merusak tentang makna jodoh itu sendiri. Baginya semua manusia dipertemukan dengan siapa saja itu juga berjodoh. Namun, tergantung manusianya itu sendiri bisa berjodoh dan bermanfaat tidak dengan pertemuan itu selama  hidup di dunia. Dan perempuan tua yang ada di depannya adalah ditakdirkan sebagai neneknya.
Selesai makan, Monas membaca buku mata kuliah besok. Mempelajari sebentar dan membuat beberapa catatan yang belum dipahaminya, agar besoknya bisa ditanyakan ke dosen. Itu salah satu kebiasaannya agar memudahkan dalam mempelajari suatu materi kuliah. Terkadang dia mencari ke perpus atau lewat internet untuk hal-hal yang belum dimengerti. Baginya di zaman modern bila tak mengikuti atau memanfaatkan tekhnologi, pasti akan ketinggalan dan merugi. Bahkan perkembangannya sangat cepat. Tak aneh bila anak-anak kecil cepat pintar dan menjadi hebat dengan tekhnologi yang mendampinginya. Tapi Monas merasa kebanyakan dari generasi muda hanya menerima secara instan saja. Moral dan mental mereka kurang memahami dengan dampak buruknya tekhnologi yang dihadapi. Pinginnya serba cepat, mudah, praktis, dan yang menyenangkan.
Sekitar satu setengah jam dia membaca buku. Dia pun keluar kamar menuju ke belakang untuk mengambil wudhu. Shalat isya’ belum dikerjakannya.  Saat hendak masuk kamar tiba-tiba langkahnya terhenti. Dilihatnya mbah Putri masih menonton tv diruang tamu. Dia mengucap dalam hati, ah nanti sehabis shalat aku mau ngobrol lagi dan menemani mbah putri. Kasihan diusianya yang sudah tua, teman sebayanya sudah tidak ada lagi. Mereka telah lebih dulu dipanggil yang Maha Kuasa.
Monas melihat iba ke neneknya. Setelah beberapa menit sholat dia keluar dari kamar, dilihatnya sang nenek tidak ada di ruang tamu. Tv juga tak menyala. Dia berjalan ke depan dan membuka pintu, menoleh ke kanan. Dan benar, dia melihat neneknya berada di luar sedang duduk di kursi panjang. Sebuah kursi panjang untuk tamu yang ingin berada di luar rumah.
Monas mendekat dan langsung duduk di sampingnya.
Mbah Putri kok ada di luar, kenapa?”
Mbah Putri menoleh. “Endak ada apa-apa. Aku lagi pingin di luar aja sebentar, Nas. Lha kowe endak belajar?”
Sudah Mbah. Tapi hanya sebentar.”
Terserah kowe wae mau lama atau sebentar belajarmu, yang penting kowe bisa paham dan bisa ngerti pelajaranmu.” Mbah Putri tersenyum. “Aku cuma pesen sama kowe. Nas, dadio wong sing pinter tur ngerti, ojo mung pinter kanggo minteri wong liyo. ning bisoho pinter iku kanggo mangerténi marang liyan.”[3]
Nggih Mbah. Insyaallah.” Monas tersenyum. “Em Mbah, boleh nanya nggak?”
Kowe mau nanya opo?”
Em Mbah Putri kan sudah sepuh, gimana perasaannya sudah nggak punya teman yang masih hidup? Maksudku sedih nggak, Mbah? Tapi maaf, aku nanya seperti ini.”
Yo pasti wae sedih, Nas. Semua orang kalau sudah endak ada yang diajak ngomong, guyon[4], atau endak ada yang diajak urun rembuk[5]itu pasti sedih. Apa lagi tinggal aku yang  hidup. Tapi, semua itu harus diterima dengan ikhlas. Kudu dilakoni nganti wanciné awaké dhéwé dipundhut.[6]
“Em, gitu nggih Mbah?”
Iyo Nas, tapi aku masih untung. Kowe jadi cucuku yang masih menemani aku di sini. Tapi kowe suatu hari nanti juga akan punya teman untuk hidup bersama sendiri, Nas. Dan aku yang sudah tua hanya bisa berdo’a kepada Gusti Allah, semoga aku nanti kalau dipanggil Gusti Allah, endak merepotkan orang banyak. Aku pingin yang tenang wae,  endak ngalami sakit yang lama. Nanti malah kowe repot jadinya.”
Eh, jangan gitu Mbah! Insyaallah, cucumu ini akan menemani sampeyan Mbah, sampai pada waktunya.” Monas kemudian memeluk erat mbah Putrinya. Seorang nenek yang telah merawatnya sampai dia dewasa. Nenek yang rela mengorbankan apa saja demi dirinya. Dan itu dirasakan Monas sedari kecil. Mbah, jangan sedih! Masih ada aku ini, cucumu yang ganteng sendiri.”
Monas mengalihkan perasaan yang hampir mengharukan itu.
Iyo, cucuku yang bagus dewe. Tapi dulu kamu itu bandel banget sewaktu masih kecil,” ucap mbah Putri dan tersenyum mengingat Monas masih kecil.
“Cucumu ini nyuwun ngapuro[7] nggih Mbah? Dulu banyak merepotkan sampeyan.”
Iyo Nas, sudah aku maafkan kok dari dulu.”
Tangan Monas diremas dan diusap. Monas hanya tersenyum. Perlakuan seperti semasa kecilnya dulu. Sering diusap dan dipijit oleh neneknya.
“Nas, ayo masuk rumah! Udaranya sudah dingin. Mbah pingin tidur.
Oh, monggo Mbah ….”
Keduanya masuk ke dalam rumah. Monas menggandeng sang nenek sampai masuk ke kamarnya. Setelah memberi senyuman, dia menutup pintu kamar neneknya sedikit dan melangkah menuju kamarnya sendiri.  Monas duduk dan membuka hp-nya. Ada satu pesan yang masuk. Kemudian dia membalas pesan pendek dari Kasih.
Kasih, aku jg bahagia. Kenangan ini kan ku jaga slamanya. met bobok sygku
Saat pesan balasan sudah terkirim. Dia menyalakan komputer sambil mendengarkan musik pelan. Saat faecbook-nya dibuka, terlihat ada pesan baru di dinding fb-nya. Ada pula kabar terbaru untuknya. Kabar beberapa permintaan pertemanan. Ada nama Aira dan empat orang lainnya yang ingin bergabung. Monas menambahkan daftar mereka sebagai teman. Lantas membuka pesan yang ditulis di dinding facebook. Ada satu pesan dari Migumi Yura. Salah seorang  mahasiswi di Jepang yang menjadi sahabat jauhnya. Dia membacanya. Satu pesan yang ditulis enam jam yang lalu. Namun, baru dibalasnya malam itu. Monas berteman dengan Migumi baru dua bulan terakhir lewat facebook. Walau jarak yang berjauhan, tapi keduanya seakan-akan seperti sahabat dekat. Dengan adanya kemajuan tekhnologi, jarak seperti bukan menjadi penghalang lagi. Sesuatu atau apapun yang dulu sepertinya susah, namun sekarang sangat mudah untuk didapatkan. Hanya tinggal  mencarinya di internet lewat situs atau blog tertentu.
Monas merasakan begitu mudahnya pertemanan di zaman modern. Lewat hadirnya facebook, twitter dan media sosial lainnya, semakin menambah luas persahabatannya. Cepat dan mudah berkomunikasi dengan siapa saja. Baginya yang penting tinggal peribadi masing-masing yang menggunakannya. Mau dipakai untuk kebaikan atau kejelekan. Semua tergantung dari niat masing-masing. Monas pun paham, di zaman modern  sebagai orangtua harus lebih sering aktif berperan untuk mengawasi putra-putrinya dalam pergaulan. Karena berkat kemajuan tehnologi, semua  terasa bebas dan mudah.
Dilihatnya jam dinding kamar. Malam semakin larut. Ngantuk. Matanya serasa ingin sekali  dipejamkan. Tubuhnya juga sudah enggan untuk diajak duduk atau berdiri. Sejenak dia masih terbayang-bayang indahnya hari itu bersama Kasih. Tak berapa lama kemudian akhirnya dia pun ambruk di bantai kantuk.[ ]




[1]Itu untuk anda saja
[2]Lebih besar
[3]Jadilah orang yang pintar juga mengerti. jangan hanya pinter untuk minterin orang lain. tapi bisalah pinter itu untuk memberi pengertian kepada orang lain.
[4]becanda
[5]Minta saran
[6]Apalagi tinggal aku yang hidup.  tapi semua itu harus ikhlas. harus dijalani sampai waktunya kita semua dipanggil.
[7]Minta maaf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar