Tantangan Untuk Raffi
SIANG HARI di dalam
kelas Monas masih diam tak beranjak dari tempat duduknya. Sementara Ian sudah pergi ke kantin. Dia terlihat melamun. Aduh, nanti hari minggu bisa nggak
ya aku nganter Aira? Sepertinya dia butuh teman. Dari
suaranya, dia jujur seperti tak pernah keluar jalan-jalan
sendiri. Mungkin dia selalu pergi dengan ditemani
orang-orang terdekat untuk menjaganya dari orang yang bermaksud
jahat. Makanya semalem dia ingin sekali jalan dengan orang
yang dipercayanya saja, batinnya.
Di saat masih melamun, dia dikejutkan dengan bunyi handphonenya. Satu pesan diterimanya.
“Nas, malam minggu kamu turun lagi ya? Sore ditunggu
di basecamp. Thank’s.”
Dia beranjak keluar kelas, menuju ke kantin. Dia masuk dan melihat Aira duduk dengan temannya,
Dewi dan Hesti. Aira
juga melihat dan memberikan senyum kecil kepadanya. Monas
lalu berjalan ke ujung kantin, di mana temannya sudah duduk
menunggu dengan ketiga gelas kopi di
meja mereka. Kemudian Monas duduk bergabung dan menjelaskan pesan kepada ketiga temannya. Pandangannya hanya ke
depan sambil berbincang
dengan Agung. Sementara Raffi melirik ke Aira sambil memberikan
senyum. Aira pun membalas
senyum itu. Raffi membatin, oh manis sekali senyummu,
Ra. Hingga hatiku selalu teringat kamu terus,
dan ingin dekat selalu.
Senyum balasan Aira melambungkan imajinasi Raffi.
Melambung tinggi seperti gumpalan awan hasrat
yang siap menghujani asmara dengan derasnya. Siap membasahi dan membanjiri telaga
cinta gadis yang cantik itu.
Sore hari
setelah selesai kuliah, di saat Monas
Ian, Agung dan Raffi mau meninggalkan
kampus, mereka
dihadang oleh puluhan motor. Salah satu dari mereka mendekati Raffi.
“Hai, kamu yang namanya Raffi?” ucap Iwan.
“Iya. Ada apa? Ada perlu apa?”
tegas Raffi.
“Wow, boleh juga suaranya.” Iwan tersenyum
sinis. “Raffi, denger-denger kamu mau mendekati Aira ya? Aku kasih tahu ya, jangan sekali-kali mendekatinya lagi! Ini peringatan dariku. Ngerti kamu, Raffi?”
Raffi langsung
turun dari motor dan berdiri berhadapan dengan Iwan. “Hah, emang kamu siapanya? Dan kamu juga bukan pacarnya kan? Kenapa kamu ngelarang-larang
aku? Dia bebas dekat sama siapa saja.”
“Wow wow wow, rupanya ada nyalinya juga ya?” ucap Iwan yang menatap tajam Raffi.
Suasana semakin tegang. Beberapa teman Iwan juga turun dari motor dan mendekati Raffi. Namun seketika itu Monas, Agung dan Ian langsung mendekat dan memisahkan kedua orang yang sudah
terpancing emosi itu.
“Hai sudah, jangan berantem!” ucap Ian. Ini kampus. Ini tempat
untuk belajar, bukan untuk berantem. Malu
kalau ketahuan ribut-ribut. Oya ini urusannya apa, Wan?”
“Hai Ian, kasih tahu temen kamu ini jangan dekati
Aira, oke? Kalau endak mau urusan sama aku. Ngerti?” Mendengar ucapan Iwan, Raffi makin geram.
“Sudah, endak usah jadi rame. Kalian seperti anak kecil. Gini saja, kalian bersainglah untuk
mendapatkan cewek itu secara sehat dan jantan. Dan biarkanlah nanti si
cewek itu yang memilih diantara kalian. Oke? Sekarang biarkan kami lewat! Kami ada urusan lain.” Ian berusaha meredam emosi keduanya.
Iwan justru
bertambah geram mendengar ucapan Ian. “Oh jadi
mau menantang secara jantan, baik. Hai Raffi, denger-denger
kamu suka balapan kan? Gimana kalau kita selesaikan ini dengan balapan saja? Kamu setuju?”
“Baik, kalau maunya seperti itu. Dan apa taruhannya?” sahut Raffi. Dia sudah terbawa
emosi. Sementara Ian diam dan menyesalkan itu.
“Yang menang
boleh dektin Aira sama nembak dia duluan. Jantan dan fer kan?”
“Aku setuju.
Tapi antara kita tak boleh ada yang saling menjelekkan dan menjatuhkan.”
“Sip, tapi … bukan
hanya itu saja Fi.”
“Jadi ada yang
lain lagi?”
“Oo … jelas
ada.” Iwan terkekeh.
“Apa
itu?”
“Yang kalah
harus cuci motor.” Iwan tertawa dan diikuti temannya yang lain.
“Deal, aku
terima tantanganmu, Wan. Kapan kita mulai?”
“Baguus.” Iwan
tersenyum. “Malam minggu besok gimana?” tantang Iwan.
“Oke, malam minggu aku tunggu kamu.”
Kemudian puluhan motor kelompok Iwan pun pergi
meninggalkan kelompok Raffi. Sementara Ian, Agung dan Monas menenangkan Raffi
yang emosinya melonjak.
“Hah, emang kamu siapa ngelarang-larang, Wan? Aku kalahin kamu nanti. Awas kamu, Wan. Lihat saja nanti kamu bakal cuci motorku!”
“Hai Raffi, sudah! Tenangin emosi kamu! Kenapa kamu terpancing dengan
tantangannya tadi? Bodoh kamu,” tegas Ian.
“Ya habis dia nantang aku. Ya aku terima tantangannya
lah.”
“Ah payah. Tapi sudahlah, kamu sudah terima tantangannya. Berarti kamu harus meladeninya nanti malam minggu. Kamu siap Fi?”
“Aku siap. Siapa pun lawanku, aku siap,” jawab Raffi yang masih sewot.
“Terserah kamu, Fi,” ucap Ian. Sementara Monas hanya diam menatap temannya.
Raffi yang sudah terbakar emosi karena tantangan
Iwan, tak sabar ingin menunjukkan kalau dia bisa
mendapatkan hati Aira dengan menang balapan nanti. Saat di atas motor
Monas diam sambil menatap Raffi yang emosinya
sudah sangat memuncak. Ternyata banyak anak kampus yang ingin mendapatkan hati
Aira. Terutama
Raffi dan Iwan. Aku bisa lihat dari cara
mereka bersaing. Tapi kasihan Aira. Semoga saja Aira tidak tahu hal ini. Dan
semoga yang mendapatkan hati Aira nantinya adalah cowok yang baik, batinnya.
Di basecamp, Monas menemui bos Baron.
Di sisi lain, Raffi dan Agung langsung membongkar motornya. Dia meminta motornya disetting agar
lebih kencang. Berapa pun biaya yang harus dikeluarkan, dia siap demi
balapan malam minggu nanti. Sementara Monas di ruang tersendiri.
“Oh ya Jocker, sorry kalau aku ngasih tahunya mendadak ya tadi?”
“Oh nggak apa-apa Bos. Em oya, siapa lawanku nanti malam minggu, Bos?”
“Em Bagas. Dia dari Jogja. Dia denger kalau ada yang ngalahin
Adam kemarin. Jadi dia mau nyoba kamu nanti. Dia pingin cc yang lebih
besar lagi. Jadi nanti kamu pakai motorku yang itu.
“Ha? Motor punya Bos?”
“Aku sudah percaya sama kamu.” Bos Baron tersenyum. “Oya ini balapan terakhir. Habis ini aku stop dulu, baru sehabis ujian kamu nanti kita lanjutkan lagi. Kamu siap?”
“Oke, aku siap Bos”
“Satu lagi, kamu sekarang dikenal menjadi joki misterius di kalangan balapan liar kemarin. Karena nggak ada yang tahu
siapa kamu. Nah biarkan ini jadi misterius saja bagi mereka. Aku juga nggak akan kasih
tahu siapa kamu, oke?”
“Oke Bos.”
“Nanti kamu datang ke arena balapan kalau aku kasih
tahu. Kamu datang, kamu balapan, lalu kamu pergi. Jadi siapa pun tidak akan tahu siapa kamu, oke?”
“Oke Bos. Aku ngerti.”
“Ya sudah itu saja.” Bos Baron lalu menatap
ke depan. “Oya itu si
Raffi kenapa kok motornya dibongkar?”
“Oh, dia tadi ditantangin balapan Bos.”
“Berapa taruhannya? Gede?”
“Egh taruhannya boleh nembak cewek
duluan sama yang kalah harus cuci motor, Bos.”
Bos Baron sontak
tercengang. Matanya membelalak lalu tertawa. “Em boleh juga, tapi ya sudahlah kita lihat saja hasilnya nanti ya? Oya jangan lupa malam minggu tunggu konfirmasi dariku!”
“Baik Bos, aku kembali ke temenku
dulu ya?”
“Ya.”
Monas berjalan ke motor bos Baron. Sejenak dia berdiri di dekat kuda besi dan menatap dalam-dalam. Dia memegang, mengusap, dan merasakan hawa petarung jalanan di
motor itu. Kemudian dia mengayunkan langkahnya menemui Agung, Ian
dan Raffi yang sedang membongkar motor.
“Fi, jadi bongkar semua ini motor?”
“Iya Nas. Aku mau motor ini kenceng berapa pun biayanya. Gung, besok kamu cariin barang yang diperlukan ya? Pokoknya harus menang. Ini demi Aira dan
harga diriku.”
“Aku usahain Fi. Tapi kamu harus hati-hati juga. Dulu si Iwan juga sering
balapan. Settingan motornya juga bagus lho,” ucap Agung.
“Pokoknya aku percaya sama kamu dan Bram.”
“Tapi jika kamu
kalah, berarti kamu siap malu lho karena harus cuci motor Iwan.
“Aku siap Gung,”
tegas Raffi. Sementara Agung, Ian, Monas geleng-geleng.
“Raffi, motormu kan baru dibongkar, kamu pulang pake motorku aja ya?” ucap Monas.
“Lho, kamu nanti pakai motor
siapa Nas?” tanya Raffi.
“Aku pakai motornya Bos. Dia yang suruh aku tadi.”
“Wah tambah kenceng kamu, Nas,” celetuk Ian.
“Ah cuma sementara. Aku turun pakai motor itu nanti.”
“Wah bakal tambah seru nanti.” ucap Raffi
takjub. “Kapan-kapan kamu balapan sama aku ya?”
Ian langsung
tertawa. “Ya jelas kalah kowe Kunyang. Motormu endak ada apa-apanya sama motornya si Bos.”
“Yang penting berani dulu Kucrut.”
Mereka akhirnya tertawa sejenak. Dari suasana tegang yang menyelimuti Raffi tadi. Kini suasana sudah berubah seperti semula dari pertemanan mereka.
***
Malam jam sembilan, di dalam kamar Monas kembali merenung. Monas membatin sepertinya makin berat lawanku besok balapan. Tapi
aku harus tetap menang. Oya, Aira minta aku menemaninya
hari minggu besok. Tapi aku juga belum tahu siapa dia
sebenarnya? Dan kenapa harus aku yang diajak? Wah
gawat! Kalau sampai ketahuan Iwan atau Raffi. Mereka
belum jadi pacarnya saja sudah seperti itu. Apalagi kalau ketahuan aku jalan sama Aira. Bisa
ribet urusanya nanti. Ah sudahlah, daripada aku pusing mending
nongkrong ajalah di warungnya kang Gareng. Di sana siapa tahu bisa ketawa-ketawa
agar kendor saraf ini.
Monas menaiki motornya meluncur ke warung kang Gareng di sisi jalan. Saat sampai dilihatnya sudah banyak
yang nongkrong di warung pinggir jalan itu.
“Wuih, motornya ganti lagi. Kok motormu gonta-ganti to Nas?” tanya cowok berambut keriting sambil mendekati motor Monas.
“Biasa Pung, ini minjem kok.”
“Wah ini cc-nya gede banget yo? Pasti mahal banget ini. Ckckckck … kayaknya aku endak sanggup beli. Dan Seumpama yang naik aku, pasti klelep ini alias endak kelihatan.”
“Ah ya masih kelihatan, Pung.”
“Kang Gareng, mantep yo?”
“Iyo Pung. Makanya motormu bebek itu, ganti aja seperti yang dibawa Monas itu.”
“Ah, aku masih sayang motorku
ini. Walaupun jelek tapi ada kisah yang tak terlupakan dengan motor ini lho,” ucap Ipung sambil menunjuk motor bebeknya.
Monas tersenyum.
“Kang, aku pesen wedang jahe susu yo?” Monas masuk dan duduk.
“Siap Nas,” jawab kang Gareng.
“Wah Nas, sekarang semakin banyak cewek yang seneng sama kowe di kampus,
yo?” tanya Ipung lagi yang kembali duduk di sebelah Monas.
“Lha yo jelas no Pung. Orangnya aja udah ganteng, motornya gede dan
bagus, kurang apa coba? Kalau sampai cewek-cewek kampus endak seneng, berarti buta. Hehehe, iyo endak Kang Gareng?” celetuk Ari.
“Betul betul betul …,” sahut kang Gareng.
Serentak suasana di warung angkringan kang Gareng jadi meriah oleh gelak tawa seisi warung.
“Ah biasa wae kok Ri,” ucap Monas.
“Yo endak mungkin. Berarti mereka-mereka buta beneran. Masa sama kowe kok endak seneng.” Monas hanya tersenyum sambil
mengambil gorengan.
“Pung, kowe kapan balik dari Surabaya? Tumben ada di rumah,” tanya Monas.
“Aku udah tiga hari, Nas. Aku cuti dulu, pingin ada di rumah. Lha kowe gimana sekarang? Mana cewekmu? Kenalin ke aku! Dari dulu kok hanya jomblo wae ?”
Monas terkekeh. “Nanti kalau udah waktunya aku kenalin kowe, fren.”
“Oh iyo harus itu. Aku tunggu yo?”
Mereka terus bercanda, tertawa
dan menikmati makanan ankringan. Suasan
makin bertambah seru dengan celetukan-celetukan khas kang Gareng. [ ]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar