Lulus
BULAN MEI. Hari demi hari terus
berlalu. Detik, menit, jam, hari,
hingga berganti minggu, dan menjadi bulan. Ujian
untuk SMA telah selesai dilaksanakan. Kasih yang tengah duduk di dalam kelas nampak sudah siap dengan hasil yang akan diumumkan. Bahkan semua siswa merasa tegang. Mereka sudah tak sabar ingin tahu lulus atau tidaknya.
Seorang guru wali kelas terlihat berjalan masuk. Segepok amplop warna putih ada di
genggamannya. Pak guru tersenyum. Dia mengatakan akan membagikan hasil
kelulusan kepada tiap siswa lewat amplop putih itu. Sementara semua siswa yang sudah menunggu dari pagi mulai jantungnya sudah berdebar-debar. Ingin segera tahu apakah nama dan nomor ujian mereka lulus atau tidak.
Saat pak guru selesai membagikan amplop
putih, tak berapa lama kemudian terdengar suara
kebahagiaan
siswa putra dan putri di kelas lain. Teriakan ‘lulus’ dan keriuhan kegembiraan terdengar sangat jelas. Tak berapa lama dari pintu kelas yang terbuka Kasih
melihat teman kelas lain langsung berhamburan keluar meluapkan kegembiraan
mereka. Sementara Kasih dan Putri masih
menunggu
karena belum membuka amplop di tangan mereka. Semua siswa di kelas Kasih nampak tegang. Dan setelah semua siswa menerima amplop, pak guru
mempersilahkan untuk membukanya.
“Kasih, aku lulus. Lihat!” ucap Putri disampingnya. Yes, Alhamdulilah ya allah. Kamu gimana?”
Kasih masih tegang. Perlahan dia membuka amplop itu. “Aku juga lulus Put. Lihat!
Kita lulus ..., Alhamdulilah kita akhirnya lulus.” Kasih terlihat senang dan haru.
Mereka bersorak sambil berpelukan
karena bahagia bukan kepalang. Semua siswa di kelas itu pun bersorak bersama. Dan ada
sebagian yang langsung berlari ke luar kelas.
“Kasih, gimana? Kamu
mau melanjutkan kuliah ke mana nanti?”
“Aku pingin kuliah di Solo aja. Bapak
ibuku berharap masuk kuliah tapi yang endak perlu jauh-jauh Put. Kalau kamu gimana? Pasti nilai kamu bagus Put. Kamu kan anak pinter.”
Putri seketika terlihat murung. “Ah endak tahu kalau aku, Kasih. Soalnya biaya kuliah kan mahal. Sedangkan aku …, kamu ngerti sendiri dengan keadaan
keluargaku.”
Kasih memegang telapak tangan Putri. “Ah jangan dipikirin sekarang! Yang penting kita rayain dulu kelulusan ini Put. Ayo kita jalan sama makan-makan bareng temen yang lain ya?”
“Iya Kasih. Kita seneng-seneng dulu.”
Suasana yang sedari pagi tegang pun berubah menjadi
sangat meriah luar biasa. Apalagi semua siswa dinyatakan lulus. Mereka menerimanya dengan
suka cita dengan menumpahkan corat-coret di
baju seragam. Dan berbagi tanda tangan di baju
untuk kenang-kenangan. Sebagai bentuk luapan kebahagiaan mereka. Hari di mana suatu kebahagiaan yang tak
terbendung di dalam tiga tahun menempuh belajar, akhirnya di hari itu mereka pun berhasil lulus.
Sebagian siswa kemudian pergi ke Batu Seribu, suatu tempat untuk merayakan
kelulusan.
Kasih dan Putri ada di antaranya. Dengan seragam penuh corat-coret mereka berjalan sambil bersuka ria menuju ke saung di dekat kolam
renang. Terlihat
banyak siswa dari sekolah lain ikut pula merayakan kelulusan di tempat yang sama. Ramai dan meriah.
Putri berdiri. “Ayo! Semuanya pada makan sepuasnya ya? Hari ini kita rayakan kelulusan
ini. Hari ini ada yang bayari. Semua ditraktir. Jangan pada ragu teman-teman! Kasih yang traktir kita!”
Sontak suasana menjadi bertambah riuh dari kegembiraan
semua yang berada di situ. Teriakan kegirangan dan ucapan terimakasih kepada
Kasih terdengar saling bergantian. Terlihat sebagian teman yang lain
mengacungkan jempolnya karena hari itu mereka makan gratis.
Kasih tersenyum. “Iya. Ayo pokoknya harus dimakan! Harus habis ya?” ucap Kasih yang begitu
gembiranya.
“Huh, mantap tenan. Ayo kita makan yang banyak hari ini hehehe,” ucap Budi yang terlihat
senang bukan kepalang.
Suasana kelulusan itu pun semakin
meriah dengan berbagai kelucuan-kelucuan
dan tingkah konyol dari mereka. Suatu kebahagiaan yang sempurna
bagi para siswa dan siswi itu. Kebahagiaan anak remaja yang mengartikan arti
kelulusan dalam pandangan mereka. Dan tak lupa mereka
mengabadikan moment itu dengan kamera dan video.
Di sudut lain Kasih menelepon Monas untuk berbagi kebahagian dan
memberitahukan bahwa dia lulus, yang pada saat
itu ada di kampus. Kasih meminta Monas menemaninya saat libur panjang
nanti, menemaninya melihat pagelaran Solo Batik Carnival di bulan
juni, dan menemaninya saat mendaftar masuk kuliah nanti.
Monas ikut gembira mendengar kelulusan Kasih. Guratan senyum
yang lebar terlihat jelas di wajahnya. Dia menutup handphone-nya. Kemudian dia menghadap laptopnya kembali. Dia melanjutkan membuat beberapa gambar bangunan yang diinginkannya. Dia mencoba membuat pengaturan yang baik suatu letak gedung dengan sebuah sircuit balap di dalamnya serta mencoba menuangkan ide itu ke dalam laptopnya. Meski masih banyak kekurangan yang dia sadari namun, dia ingin itu bisa
terwujud. Dan meski hasilnya mungkin tak
memuaskannya.
Sesekali dia merenung untuk mencari inspirasi yang lain, yang
mungkin bisa diterapkan dalam karyanya, yang
memiliki seni tersendiri yang bisa dijadikan ciri khas. Dia mulai membuka gambar kota-kota dunia yang mungkin bisa
diadopsi untuk bisa menambah kesempurnaan gambarnya.
“Huft, ternyata nggak mudah aku bikin-bikin
sesuatu. Butuh pengetahuan yang
luas untuk membuat ini. Ah pusing juga aku. Oh jadi apa ya aku besok nantinya? Ah sudahlah, aku juga nggak tahu besok bisa bangun tidur jam berapa? Yang penting
dijalani saja. Selamat ya, Kasih. Kamu
sekarang udah lulus. Aku
sangat senang. Semoga
kamu nanti bisa masuk kampus yang kamu
inginkan dan cita-citamu bisa tercapai. Semoga aku juga bisa mendampingimu selalu nantinya,” ucapnya pelan.[ ]


keren ^^
BalasHapus