Senin, 15 September 2014

Semua Karena Kamu



Semua Karena Kamu




INDAH MENTARI PAGI mulai muncul di ufuk timur. Sedikit demi sedikit udara semakin hangat untuk dihirup. Alunan kicauan burung-burung liar yang bersautan pun mengiringi. Sesekali mereka berlompatan di batang pohon duwet. Kasih mulai membuka matanya. Sudah lewat beberapa hari kejadian berdua dengan Monas, tapi hatinya selalu teringat terus dengan kecupan itu. Kecupan indah dari Monas. Dia tersenyum. Alangkah bahagia hati ini. Aku bahagia sekali mas. Aku percaya dengan semua ucapanmu mas Monas. Meski saat ini kita masih backstreet. Semoga Allah memberi jalan untuk cinta kita,” ucapnya lirih sambil menatap langit-langit kamar.
Pagi yang indah. Seindah harapannya untuk memulai hari. Kasih beranjak dari kasurnya setelah membenahi bedcover. Dan setelah urusan pagi di kamar selesai, dia menuju ke ruang makan dengan mengenakan seragam sekolah. Terlihat sudah ada ibu serta bapaknya menanti.
Kasih, ayo sarapan dulu! Nanti kalau endak sarapan, kamu bisa sakit lho.”
“Iyo, bener kata Ibumu. Ayo sarapan dulu!”
“Inggih Ibu, Bapak. Monggo .... Kasih duduk. Dia kemudian mengambil roti tawar di depannya lalu mengoleskan selai strawberry. “Em, kok kadingarén sudah rapih, Bapak sama Ibu badhé tindak pundi?”[1]
“Oh iyo Kasih, Bapak sama Ibu ada perlu. Mau pergi ke Sukoharjo, mau ketemu sama temen Bapak dulu. Biasa, ada urusanlah. Jadi Bapak endak bisa nganter ke  sekolah. Kowe endak apa-apa to?”
“Ya endak apa-apa Pak, nanti Kasih nitih[2] sepeda motor aja,” ucapnya sambil mengunyah.
“Yo wis yang hati- hati yo? Bapak cuma sehari ini kok, yo?” 
“Inggih Pak.”
Kasih sangat senang. Hari itu dia tidak diantar oleh bapaknya. Setelah menghabiskan sarapannya dia meminum segelas susu yang sudah disediakan di meja untuknya.
 Em menawi ngaten kulo mangkat rumiyin[3]nggih?”
“Yo wis berangkat sana!” Yang bener sekolahmu!” ucap ibunya. Sementara bapaknya hanya mengangguk.
“Nggih Bu.”
Kasih mencium kedua tangan orangtuanya. Dia melangkah ke depan. Di depan rumah motor maticnya telah disiapkan oleh pak Darso. Dia memakai helmnya.
“Matur suwun, Pak.”
“Monggo, ndhéréké[4] Mbak.
Kasih segera melaju. Dia keluar dari rumah dan menuju sekolah. Saat berkendara, angin di pagi hari menerpa rambutnya yang panjang dan indah. Semakin menambah kecantikannya sebagai seorang gadis yang beranjak dewasa.
Jalan Tawangsari pagi itu sangatlah ramai. Sepeda motor serta kendaraan lain saling berlalu-lalang. Bahkan untuk menyeberang saja dirasakan semakin susah. Kecelakaan di waktu jam masuk dan pulang sekolah pun sering terjadi. Kasih beberapa kali melihat kejadian itu. Di depan pasar Kasih memelankan lajunya. Terlihat banyak orang yang melintas. Setelah melewati pasar, jalan sudah lancar kembali.
Hanya butuh lima belas menit Kasih sampai di sekolah. Dia menaruh motor di tempat parkir siswa lalu berjalan menuju kelasnya. Dia masuk ke kelas yang terdapat papan kecil bertuliskan IPS 3 di atas pintu.
“Hai Kasih, hari ini tumben endak dianter?” tanya seorang gadis yang sedang duduk.
“Iya. Bapakku ada perlu, Put. Tapi aku malah seneng kok, malah bebas,” jawab Kasih sambil tersenyum. Kemudian dia duduk disamping Putri.
Putri ikut tersenyum. Wah bisa main berarti.” Kasih menganggukkan kepalanya. “Eh gimana? Sudah belajar belum kowe? Ini matematika lho, ada test.”
“Iyo aku ngerti, tadi malem aku dah belajar kok,” jawab Kasih pede.
Em sepertinya kowe beda Kasih. Hari ini kelihatan semangat gitu. Padahal kan kowe takut banget sama matematika. Ehm, curiga aku. Apa yang buat kowe bisa begini? Putri penasaran.
Kasih senyum-senyum. “Em pokoknya ada deh.”
“Wah, apa tuh?
“Rahasia Put,” ucap Kasih sambil terkekeh dan kemudian mengambil buku dari dalam tasnya.
Tak berapa lama kemudian  bel sekolah pun berbunyi. Pertanda untuk masuk kelas dan pelajaran pertama siap dimulai. Jadwal pelajaran pertama adalah matematika.  Mata pelajaran yang sangat tidak senangi oleh sebagian besar siswa dari kelas itu. Dan tak berapa lama dari balik pintu pak guru matematika pun masuk.
Selamat pagi semua?” sapanya.
Selamat pagi, Pak Guru .…” ucap semua murid.
“Baiklah, sesuai janji bapak minggu kemarin, hari ini bapak kasih soal untuk kalian semua. Sudah siap ya?”
“Beluum sudaah …,” jawab murid-murid tidak kompak.
Pak guru hanya tersenyum. “Siap tidak siap, bapak tetep ngasih kalian soal hari ini. Sekarang siapkan kertas untuk lembar jawabannya! Dua lembar saja.”
“Hei Put, nanti aku nyontek ya?” ucap Budi pelan. Dia memegang dan menggoyang-goyangkan kursi Putri dari belakang.
Putri menoleh. Emang kowe endak belajar semalem?
“Endak Put, aku semalem tidur dari sore. Kecapean habis main.
“Ah endak ah, jawab sendiri!”
“Nanti aku traktir deh ya? Please!”
“Ada apa, Bud?”
“Egh, ndak ada apa-apa Pak,” ucap Budi mengelak. “Cuma minjem bolpoint Pak, bolpoint saya habis.” Dia  tak menyangka kalau suara itu dari pak gurunya. Sementara Putri & Kasih senyum-senyum.
“Pakai bolpoint bapak saja gimana?”
“Egh, endak usah Pak. Ini udah ada dari Putri.
“Ya sudah kalau begitu.” Pak guru membuka bukunya. “Mari kita mulai ya? Tulis soalnya dulu baru nanti jawabannya. Bapak kasih waktu tiga puluh menit saja ya?”
“Haa?” Murid-murid mulai gaduh. “Banyak tidak soalnya Pak?” celetuk seorang murid yang duduk di belakang.
“Tenang, cuma sepuluh soal.” Pak guru pun tersenyum. “Kita mulai ya? Soal pertama ..., Tulis!”
Para murid pun akhirnya menulis semua soal dari pak guru. Suasana kelas seketika berubah menjadi sepi dan hening. Sebagian besar tampak kebingungan untuk menjawab soal yang jumlahnya hanya sepuluh itu. Terutama Budi. Dia terus lirik kanan dan kiri. Sesekali kakinya menendang kursi di depannya yang diduduki Putri. Sementara Putri dan Kasih hanya senyum-senyum saja. Setelah tiga puluh menit waktu yang diberikan untuk menjawab berlalu, satu persatu maju ke depan secara teratur mengumpulkan lembar jawaban ke meja pak guru. Ada yang wajahnya senang karena bisa mengerjakan, banyak pula yang murung karena susah menjawab.
“Aduh mati aku, bijiku[5] berapa yo entar? Ah susah amat pak guru ngasih soalnya, keluh Budi saat duduk kembali ke kursinya.
“Nah, makanya belajar Bud! Paling endak kita sudah siap,” sahut Kasih pede.
Iya Kasih, kowe enak dekat Putri. Dia kan jago matematika.”
“Eh, jangan salah Bud. Kasih ngerjain sendiri tadi.”
“Ha? Tumben Kasih. Biasanya kowe juga takut matematika.” Budi heran tak percaya.
“Aku juga bingung Bud, Kasih bisa begini.”
“Em, rahasialah.”
Kasih hanya senyum-senyum. Sebenarnya dia sudah diberi tahu dari Monas tentang cara belajar dan tentang suatu soal yang akan diujikan. Monas juga telah mengajarkan hal-hal yang lain. Yang membuat mental murid tidak mudah jatuh saat menjalani ujian biasa atau ujian akhir.
“Baik, murid-murid. Waktunya masih satu jam ya? Nah sekarang kita lanjutkan pelajarannya. Em buka halaman tiga puluh lima ya? Nanti bapak akan menjelaskannya. Bagi yang belum mengerti benar, tolong silakan bertanya saja! Sebab yang ini harus dipahami dulu dari awalnya. Mengerti semua?
“Mengerti Paaak.”
“Baik, sekarang kita mulai.
Mereka pun melanjutkan pelajaran matematika itu sampai selesai dan kemudian berganti dengan mata pelajaran selanjutnya.
Saat bel istirahat pun berbunyi,  semua murid langsung berhamburan keluar menuju ke kantin. Sudah waktunya sang perut perlu diisi untuk mengganti kembali energi mereka yang hilang saat berpikir. Kasih dan Putri pun berjalan santai ke kantin yang ada di pojok sekolah. Mereka memesan makanan dan minumannya. Karena keduanya datang belakangan, mereka mendapat tempat duduk di pinggir.
“Eh Kasih, kok aku lihatin sekarang-sekarang dirimu beneran berubah. Em lebih semangat, lebih pede. Aku kasih ngerti to?” tanya Putri sambil merahapi makannya.
Kasih tersenyum. “Em endak ada apa-apa Put.”
“Yo endak mungkinlah kalau endak ada apa-apa.” Putri masih tak percaya dengan jawaban Kasih. Dia yakin pasti ada sesuatu yang merubah Kasih.
Kasih diam sejenak, kemudian...
“Yo wis, tapi ini rahasia yo?” ucapnya pelan.
“Iyo tenang wae, percaya sama aku. Putri menunjukkan dua jarinya.
“Em gini Put, ini semua berkat mas Monas,” bisik Kasih di dekat telinga Putri.
“Mas Monas yang kakak kelas kita dulu itu? Yang bagus itu yo?” tanya Putri pelan.
“Iyo, dia yang ngajari aku cara belajar, serta waktu-waktu belajar yang baik.”
“Wah, hebat. Tapi aku curiga. Bukannya kowe endak boleh deket-deket sama cowok dulu? Bapakmu kan protektif sama kamu, Kasih.”
“Iya Put, itu semua juga diam-diam.
“Kamu jadi pacarnya mas Monas ya?” Putri menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum. “Em aku tahu sekarang, pantes kamu seneng terus sekarang.”
Wajah Kasih memerah. Dia kemudian tersenyum. “Em ... sebenernya iya Put. Tapi kami backstreet Put. Jangan sampai  yang lain tahu ya?”
“Iyo tenang aja, aku rahasiakan. Yang penting kowe senang. Aku juga ngedukung kalau kowe sama mas Monas. Dia itu baik banget orangnya. Ya walau agak cuek juga sih.
”Makasih ya Put. Nanti kalau aku minta tolong ke kamu endak apa-apa to?”
“Tenang my best friend, aku akan selalu membantumu. Putri mengedipkan mata kanannya. “Ayo dimakan! Ngobrol terus nanti dingin ini makanannya.”
“Makasih, Put. Tenang aja, aku yang bayar.
“Wah kebeneran berarti. Oya pulang sekolah nanti kita main yuk ke mall! Aku pingin nyari sesuatu, temani yo?”
“Em tapi aku ijin dulu sama bapak.”
“Tenang, biar aku yang ngomongnya nanti. Kan kalau perginya sama aku, pasti boleh.”
“Yo wislah gimana kowe wae.”
Keduanyapun melanjutkan makan siangnya. Mereka berdua tertawa mengingat tingkah Budi yang kebingungan saat mengerjakan soal matematika.[ ]




[1]Mau pergi kemana?
[2]naik
[3]Kalau begitu saya berangkat dulu
[4]Mengantarkan/menghantarkan/selamat jalan.tergantung kalimat.
[5]nilaiku



Tidak ada komentar:

Posting Komentar