Semua Karena Kamu
INDAH MENTARI PAGI mulai muncul di ufuk timur. Sedikit demi sedikit udara semakin hangat
untuk dihirup. Alunan
kicauan burung-burung liar
yang bersautan pun mengiringi. Sesekali mereka berlompatan di batang pohon duwet. Kasih mulai membuka matanya. Sudah lewat beberapa hari kejadian berdua dengan Monas, tapi hatinya selalu
teringat terus dengan kecupan itu. Kecupan indah dari Monas. Dia
tersenyum. “Alangkah bahagia hati ini. Aku bahagia sekali mas. Aku percaya dengan semua ucapanmu mas Monas.
Meski saat ini kita masih backstreet. Semoga Allah memberi jalan untuk cinta kita,” ucapnya lirih sambil menatap
langit-langit kamar.
Pagi yang indah. Seindah harapannya untuk
memulai hari. Kasih beranjak dari kasurnya setelah membenahi bedcover. Dan
setelah urusan pagi di kamar selesai, dia menuju ke ruang makan dengan mengenakan seragam sekolah. Terlihat sudah ada ibu serta bapaknya menanti.
“Kasih, ayo sarapan dulu! Nanti
kalau endak
sarapan, kamu bisa sakit lho.”
“Iyo, bener kata Ibumu. Ayo sarapan dulu!”
“Inggih Ibu, Bapak. Monggo ....” Kasih duduk. Dia kemudian mengambil roti
tawar di depannya lalu mengoleskan selai strawberry. “Em, kok kadingarén
sudah rapih, Bapak sama Ibu badhé tindak
pundi?”[1]
“Oh iyo Kasih, Bapak sama Ibu ada perlu. Mau pergi ke Sukoharjo,
mau ketemu sama temen Bapak dulu. Biasa, ada urusanlah. Jadi Bapak endak bisa nganter ke sekolah.
Kowe endak apa-apa to?”
“Yo wis
yang hati- hati yo? Bapak cuma
sehari ini kok, yo?”
“Inggih Pak.”
Kasih sangat
senang. Hari itu dia tidak diantar oleh bapaknya. Setelah menghabiskan
sarapannya dia meminum segelas susu yang sudah disediakan di meja untuknya.
“Yo wis berangkat sana!” Yang bener
sekolahmu!” ucap ibunya. Sementara bapaknya hanya mengangguk.
“Nggih Bu.”
Kasih mencium
kedua tangan orangtuanya. Dia melangkah ke depan. Di depan rumah motor maticnya telah disiapkan oleh
pak Darso. Dia memakai helmnya.
“Matur suwun, Pak.”
Kasih segera
melaju. Dia keluar dari rumah dan menuju sekolah. Saat berkendara, angin di pagi hari menerpa rambutnya yang panjang dan indah. Semakin menambah
kecantikannya sebagai seorang
gadis yang beranjak dewasa.
Jalan Tawangsari
pagi itu sangatlah ramai. Sepeda
motor serta kendaraan lain saling berlalu-lalang. Bahkan untuk menyeberang saja dirasakan semakin susah.
Kecelakaan di waktu jam masuk dan
pulang sekolah pun sering terjadi. Kasih beberapa kali melihat kejadian itu.
Di depan pasar Kasih memelankan
lajunya. Terlihat banyak orang yang melintas. Setelah melewati pasar, jalan sudah lancar kembali.
Hanya butuh lima belas menit Kasih sampai di sekolah. Dia menaruh motor di tempat parkir siswa lalu berjalan menuju kelasnya. Dia masuk ke kelas yang terdapat papan kecil bertuliskan IPS 3 di atas pintu.
“Hai Kasih, hari ini tumben endak
dianter?” tanya seorang gadis yang
sedang duduk.
“Iya. Bapakku ada perlu,
Put. Tapi aku malah seneng kok,
malah bebas,” jawab Kasih sambil tersenyum. Kemudian dia duduk disamping Putri.
Putri ikut
tersenyum. “Wah bisa main
berarti.” Kasih menganggukkan kepalanya. “Eh gimana? Sudah
belajar belum kowe? Ini matematika lho, ada test.”
“Iyo aku ngerti, tadi malem aku dah belajar
kok,” jawab Kasih pede.
“Em sepertinya kowe beda Kasih. Hari ini kelihatan semangat gitu. Padahal kan kowe takut banget sama matematika.
Ehm, curiga aku. Apa yang buat kowe
bisa begini?” Putri
penasaran.
Kasih senyum-senyum. “Em pokoknya ada deh.”
“Wah, apa tuh?”
“Rahasia Put,” ucap Kasih sambil
terkekeh dan kemudian mengambil buku dari dalam tasnya.
Tak berapa lama
kemudian bel sekolah pun berbunyi. Pertanda untuk masuk kelas dan pelajaran
pertama siap dimulai. Jadwal pelajaran pertama adalah matematika. Mata
pelajaran yang sangat tidak senangi oleh sebagian besar siswa dari kelas
itu. Dan tak berapa lama dari balik pintu pak guru matematika pun masuk.
“Selamat pagi semua?” sapanya.
“Selamat pagi, Pak Guru .…” ucap semua murid.
“Baiklah, sesuai janji bapak minggu kemarin, hari ini bapak kasih soal untuk kalian semua.
Sudah siap ya?”
“Beluum … sudaah …,” jawab murid-murid tidak kompak.
Pak guru hanya tersenyum.
“Siap tidak siap, bapak tetep ngasih kalian
soal hari ini. Sekarang siapkan kertas untuk lembar jawabannya! Dua lembar saja.”
“Hei Put,
nanti aku nyontek ya?” ucap Budi pelan. Dia
memegang dan menggoyang-goyangkan kursi
Putri dari belakang.
Putri menoleh. “Emang kowe endak belajar semalem?”
“Endak Put, aku semalem tidur dari sore. Kecapean habis main.”
“Ah endak ah, jawab sendiri!”
“Nanti aku traktir deh ya? Please!”
“Ada apa, Bud?”
“Egh, ndak ada apa-apa Pak,” ucap Budi mengelak. “Cuma minjem bolpoint Pak,
bolpoint saya habis.” Dia tak menyangka kalau suara itu
dari pak gurunya. Sementara
Putri & Kasih senyum-senyum.
“Pakai bolpoint bapak saja gimana?”
“Egh, endak usah Pak. Ini
udah ada dari Putri.”
“Ya sudah kalau begitu.” Pak guru membuka
bukunya. “Mari kita mulai ya? Tulis soalnya dulu baru nanti jawabannya. Bapak kasih waktu tiga puluh
menit saja ya?”
“Haa?” Murid-murid mulai gaduh. “Banyak tidak
soalnya Pak?” celetuk seorang
murid yang duduk di belakang.
“Tenang, cuma sepuluh soal.” Pak guru pun tersenyum. “Kita mulai ya? Soal pertama ..., Tulis!”
Para murid pun akhirnya menulis semua soal dari
pak guru. Suasana kelas seketika berubah menjadi sepi dan hening. Sebagian besar tampak kebingungan untuk menjawab soal yang jumlahnya
hanya sepuluh itu. Terutama Budi. Dia terus lirik kanan dan kiri. Sesekali
kakinya menendang kursi di depannya yang diduduki Putri. Sementara Putri dan Kasih hanya senyum-senyum saja. Setelah tiga puluh menit waktu yang
diberikan untuk menjawab berlalu, satu persatu
maju ke depan secara teratur mengumpulkan
lembar jawaban ke meja pak guru. Ada
yang wajahnya senang karena bisa mengerjakan, banyak pula yang murung karena susah menjawab.
“Aduh mati aku, bijiku[5]
berapa yo entar? Ah susah amat pak guru ngasih soalnya,” keluh
Budi saat duduk kembali ke kursinya.
“Nah, makanya belajar Bud! Paling endak kita sudah siap,” sahut
Kasih pede.
“Iya Kasih, kowe enak
dekat Putri. Dia kan jago matematika.”
“Eh, jangan salah Bud.
Kasih ngerjain sendiri tadi.”
“Ha? Tumben Kasih. Biasanya kowe juga takut matematika.” Budi
heran tak percaya.
“Aku juga bingung Bud, Kasih bisa begini.”
“Em, rahasialah.”
Kasih hanya senyum-senyum. Sebenarnya dia sudah diberi tahu dari Monas tentang cara belajar dan tentang suatu soal yang akan
diujikan. Monas juga telah mengajarkan hal-hal yang lain. Yang membuat mental murid tidak mudah jatuh saat menjalani ujian biasa atau ujian
akhir.
“Baik, murid-murid. Waktunya masih satu jam
ya? Nah sekarang kita lanjutkan pelajarannya. Em buka halaman tiga puluh lima
ya? Nanti bapak akan
menjelaskannya. Bagi yang
belum mengerti benar, tolong
silakan bertanya saja! Sebab yang ini harus dipahami dulu
dari awalnya. Mengerti semua?”
“Mengerti Paaak.”
“Baik, sekarang kita mulai.”
Mereka pun melanjutkan pelajaran matematika
itu sampai selesai dan kemudian berganti dengan mata
pelajaran selanjutnya.
Saat bel istirahat pun berbunyi, semua murid langsung berhamburan keluar menuju ke kantin. Sudah waktunya sang perut perlu diisi untuk mengganti kembali energi mereka
yang hilang saat berpikir.
Kasih dan Putri pun berjalan santai ke kantin yang ada di pojok
sekolah. Mereka
memesan makanan dan minumannya.
Karena keduanya datang
belakangan, mereka mendapat tempat duduk
di pinggir.
“Eh Kasih,
kok aku lihatin
sekarang-sekarang dirimu beneran
berubah. Em lebih semangat, lebih pede. Aku kasih ngerti to?” tanya Putri sambil merahapi makannya.
Kasih tersenyum.
“Em endak ada apa-apa Put.”
“Yo endak mungkinlah kalau endak ada
apa-apa.” Putri masih tak percaya dengan jawaban Kasih. Dia yakin pasti ada
sesuatu yang merubah Kasih.
Kasih diam sejenak, kemudian...
“Yo wis, tapi ini rahasia yo?” ucapnya pelan.
“Iyo tenang wae, percaya sama aku.” Putri menunjukkan dua jarinya.
“Em gini Put, ini semua berkat mas Monas,” bisik Kasih di dekat telinga Putri.
“Mas Monas yang kakak kelas kita dulu itu? Yang
bagus itu yo?” tanya Putri pelan.
“Iyo, dia yang ngajari aku cara belajar, serta
waktu-waktu belajar yang baik.”
“Wah, hebat. Tapi aku curiga. Bukannya kowe endak boleh deket-deket
sama cowok dulu? Bapakmu kan protektif sama kamu, Kasih.”
“Iya Put, itu semua juga diam-diam.”
“Kamu jadi pacarnya mas Monas ya?” Putri
menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum. “Em aku tahu sekarang, pantes kamu seneng terus
sekarang.”
Wajah Kasih
memerah. Dia kemudian tersenyum. “Em ... sebenernya iya Put. Tapi kami backstreet Put. Jangan sampai yang lain tahu ya?”
“Iyo tenang aja, aku rahasiakan. Yang
penting kowe senang. Aku juga
ngedukung kalau kowe sama mas
Monas. Dia itu baik banget orangnya.
Ya walau agak cuek juga sih.”
”Makasih ya Put. Nanti kalau aku minta tolong ke kamu endak apa-apa to?”
“Tenang my best friend, aku akan selalu
membantumu. Putri mengedipkan mata kanannya. “Ayo dimakan! Ngobrol terus nanti dingin ini makanannya.”
“Makasih, Put. Tenang aja, aku
yang bayar.”
“Wah kebeneran berarti.
Oya pulang sekolah nanti kita
main yuk ke mall! Aku pingin nyari sesuatu,
temani yo?”
“Em tapi aku ijin dulu sama bapak.”
“Tenang, biar aku yang ngomongnya nanti. Kan kalau perginya sama
aku, pasti boleh.”
“Yo wislah gimana kowe wae.”
Keduanyapun
melanjutkan makan siangnya. Mereka
berdua tertawa mengingat tingkah Budi
yang kebingungan saat mengerjakan soal matematika.[ ]
[1]Mau pergi kemana?
[2]naik
[3]Kalau begitu saya
berangkat dulu
[4]Mengantarkan/menghantarkan/selamat
jalan.tergantung kalimat.
[5]nilaiku


Tidak ada komentar:
Posting Komentar