Rabu, 10 September 2014

Buatlah Aku Bangga



Buatlah Aku Bangga





TOKTOKTOK …!
Terdengar suara pintu diketuk.
Monas, ayo bangun! Sudah jam lima subuh lewat lho. Cepet shalat subuh! Nanti kesiangan lagi.”
Suara sedikit keras dari mbah Putri terdengar dari balik pintu kamar Monas.
Ehg … em … nggih Mbah sebentar lagi,” jawab Monas.
“Cepet to! Nanti kowe kesiangan, ayo bangun!”
Inggih Mbah.”
Akhirnya Monas pun bangun meski agak malas. Dia kemudian mandi dan mengerjakan sholat subuh. Sejenak dia berdiam diri di kamar. Merebahkan tubuhnya kembali. Menatap langit-langit kamar. Dia tersenyum. Rasa bahagia yang sangat merasukinya. Pikirannya terbayang kejadian indah bersama Kasih kemarin. Namun kemudian terusik oleh suara kokok ayam tetangga yang riuh bersautan. Seakan memberi tahu bahwa pagi sudah datang. Monas langsung bangun dan melangkah. Dia mengeluarkan motor dan memanaskan mesinnya.  Kemudian dia duduk dan menyeruput segelas kopi di ruang tamu. Pisang goreng yang ada di piring pun di makannya. Menemani neneknya berbincang sambil menunggu waktu berangkat.
Kowe mau sarapan nasi goreng endak, Nas?
Ah nggak Mbah, ini aja udah cukup. Kalau makan nasi goreng nanti malah gampang ngantuk.”
Yo wis, terserah kowe wae.”
Monas menatap jam dinding sejenak. Dia mengambil jacket yang berada di kursi lalu memakainya.
Mbah, aku berangkat dulu nggih?”
Iyo Nas.”
Dia melangkah ke arah motornya.
Hai sahabat baruku, ayo kita mulai hari ini! Jadilah sahabat yang baik buatku. Dan temanilah ke mana aku pergi, dengan kecepatanmu dan dengan kehebatanmu tentunya. Buatlah aku bangga, buatlah aku hebat. Aku mengandalkanmu,” ucapnya. Layaknya sebuah mantra. Kata-kata itu sering diucapkan kepada motor baru yang dinaikinya, meskipun selalu berganti bila menjadi joki.
Biasanya Monas datang di kampus dengan waktu yang mepet, tapi tidak untuk hari itu. Pagi itu dia sudah sampai.
Ehm, wah tumben pagi banget,” celetuk Ian, yang melangkah menyusul Monas dari belakang.
Oh, kowe Ian. Ayo masuk kelas !”
Ayo Bro, kita masuk.”         
“Ian, kowe dah belajar belum semalem?
Endak Nas, emang kenapa?”
Kowe nggak ngerti kebiasannya pak Anwar? Pak dosen ini kan biasannya sering ngetest mahasiswanya.” Monas tersenyum. “Terutama dirimu.
Tenang wae Bro,” ucap Ian sambil nyengir kuda. “Kan kalau endak bisa juga endak masalah to?
Monas tertawa. “Cuek wae yo?”
Ian mengangguk. Saat melangkah ke kelas, banyak mahasiswi yang menatap dan memperhatikan Monas dengan penuh keheranan karena tak biasanya dia datang  pagi. Namun Monas biasa saja dan terus saja masuk kelas bersama Ian. Keduanya memilih duduk di kursi agak di belakang.
Ian menoleh. “Nas, aku minjem bukumu, ya? Nanti pulang aku bawa.”
Ah buat apa Ian? Paling nanti kamu juga nggak bisa kalau ada ujian.” Monas tersenyum.
“Sialan kowe. Otakku beda sama kowe. Kowe endak perlu belajar juga sudah pinter. Lha kalau aku, kadang udah belajar besuknya hilang semua.”
Iya-ya, bawa aja bukuku semualah. Bakar! Terus bubuknya campur kopi, lalu minum. Biar encer otakmu!
Ah bisa wae kowe, Nas.” Sejenak Ian melihat ke depan. Dia menatap seorang gadis yang baru saja duduk. “Eh kemarin kowe dapat salam dari Widi tuh.” Ian tersenyum. “Gimana? Balas endak?” Ian menggerakkan alisnya naik turun.
“Ha? Salam apa lagi Ian?” Monas tersenyum cuek. “Salamat pagi apa salamat siang?
Ah kowe gimana to? Orang dapat salam juga. Eh Nas, Widi kaé cakep juga lho.”
Ya udah, dia buat kamu wae.”
Ah bener yo, buat aku?
Iyo, buat kamu wae  kalau dia mau. Aku males urusan cewek, Ian.”
“O iya ya kamu udah ada Kasih. Sampai lupa aku. Terus salamnya gimana? Dibalas endak?
Bilang salamnya diterima gitu aja ya?”
Terus kalau dia ngajak kowe jalan, gimana?
Kowe aja yang jalan sama dia, kowe kan yang aslinya seneng sama dia. Bener kan?” ledek Monas.
Ian terpojok. “Ah sialan kowe, bisa wae mengalihkan omonganku terus.”
Pokoknya aku pingin belajar, ngerti Bro? Enggak mau di ganggu yang lain.”
“Baiklah Bro, aku ngerti.” Ian kemudian menatap ke tempat Widi duduk. Saat yang bersamaan dia  melihat gadis itu tersenyum. “Oh, manisnya ….”
Monas pun tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu sambil menggelengkan kepala. Tak lama kemudian seorang pria berkumis tebal dengan buku digenggaman pun masuk ke ruang kelas itu sambil menyapa. Meski tak terlalu keras namun semua mahasiswa membalas sapaan dosen mereka dengan kompak.
Pria tua berkumis tebal itu menaruh buku di meja. “Baik, sekarang kita akan melanjutkan pembahasan minggu kemarin ya. Yang kurang paham silakan ditanyakan nanti! Pas waktu buka forum.”
Iya Pak .” Suara Ian terdengar paling kencang.
Wah, kamu semangat banget ya kelihatannya hari ini, Ian?
Ya harus semangatlah, Pak. Jadi anak muda itu ya harus semangat. Apalagi udah sarapan tadi. Sarapannya enak lagi,” sambil melirik ke arah Widi yang senyum-senyum melihat tingkah Ian. Sementara yang lain ikut tertawa.
Dan benar selama proses belajar hingga selesai, Ian yang sering mendapat pertanyaan pak Anwar. Namun, dia tetap tak bisa menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan dari dosen. Sementara Monas hanya tersenyum melihat sahabatnya itu yang kadang gelagapan tak bisa menjawab. Bahkan yang lain juga ikut tertawa.
Saat jam istirahat tiba Ian menendang kursi Monas.
“Nas, kita ke kantin yuk! laper aku. Jadi habis energiku terkuras ke pikiran.”
“Halah, mikir apa kowe? Orang kowe nggak pernah beres jawabanmu tiap ditanya dosen. Malah main mata sama Widi terus kan?
Ian terkekeh. “Ngerti wae kowe. Ikut ke kantin endak?”
Enggak, aku entar mau ke perpus balikin buku dulu. Kowe duluan aja sana.
Oke. Kowe mau makan apa? Aku yang bayari.”
“Udahlah nggak usah. Pesenin kopi aja.”
Yo wis, aku duluan ya?”
Hemm.”
Monas membereskan bukunya. Sementara Widi menoleh dan menatap pria tampan itu. Dia sengaja belum beranjak dari duduknya. Dia tersenyum. Em kamu memang benar-benar tampan Nas. Aku benar-benar mengagumimu, batinnya.
Monas berdiri dan beranjak. Saat Monas melewatinya, tadinya dia ingin memberhentikan pria itu dan ingin berbicara sebentar. Namun entah kenapa dia urungkan niatnya itu.  Dia hanya tersenyum saja dengan Monas. Dan Monas pun membalas senyuman Widi, kemudian berlalu.  
Di kantin sudah berkumpul Agung dan Raffi. Keduanya asik membahas tentang kejadian semalam di tempat bos Baron. Sesekali Agung menghisap rokoknya.  Tak berapa lama Ian datang membawa dua gelas kopi dan langsung duduk bergabung.
Oya, ngomong-ngomong Monas mana, Bro? tanya Raffi.
Biasa,  ke perpus Fi. Nanti juga ke sini.”
“Gung, motornya Monas kayaknya kenceng banget. Settingannya bagus yo, Bro?”
Yoi, bener. Tapi juga karena cc-nya yang gede. Cuma bahaya kalau Monas belum adaptasi.”
Lho, bukannya malah keren bisa kenceng banget Gung?” tanya Ian gantian.
Yo endak, itu malah bahaya. Yang penting sesuai jokinya. Pas juga sama jalannya, lurus atau belak-belok. Bannya juga cocok endak, basah atau kering jalannya nanti kalau turun race. Tapi kalau buat jalan biasa ya ndak perlu. Gitu Bro.
“Oo gitu yo, Bro. Pokoknya kita pasrah ajalah sama kowe, Gung.”
Aku juga belajar dari Bram. Dia lebih jago sama lebih pengalaman dibanding aku. Pengalamannya saat di Jepang endak diragukan lagi lah. Aku juga beruntung kita bisa kenal dia. Makanya aku endak akan sia-siakan buat belajar sama dia.”
Bener Gung,” sahut Ian. “Aku juga pingin bantu Monas dalam hal ngendaliin motor. Aku bakal gojlok fisiknya.”
Sejenak terdiam. Agung melempar pandangannya. “Nah, lha kaé orangnya datang,” ucap Agung saat dia melihat Monas datang.
Monas berjalan mendekati ketiga temannya. “Sorry, aku terakhir datengnya Bro.
“Endak apa-apa Bro,” ucap Agung. “Gini, motormu aku setting lagi bareng Bram, yo? Kamu entar juga di bengkel sana sekalian. Kita pingin tahu kamu segimana cocoknya, Oke?”
Oke, aku setuju. Nanti habis kuliah kelar langsung ke sana yo?” ucap Monas.
Sip, habis kuliah.”
Oya Nas, aku pingin juga fisikmu dilatih biar lebih kuat lagi ngendaliin motor. Nanti aku sama Black yang akan ajarin, kalau udah disetting motornya. Sama kita nanti yang akan bantu kamu test motor. Oke Bro?” ucap Ian.
Monas sedikit heran. “Kok pakai fisik juga Bro?
Kata Black itu penting. Kamu  harus rutin olah raga, paling enggak lari. Sebab daya tahan tubuh pembalap kan ngaruh. Coba kalau posisi dingin, pas malam kamu turun. Belum lagi nunggu situasi jalan. Kekuatanmu masih kurang, sama masih kaku. Bener, enggak?”
Em bener juga Ian. Oke, kita mulai sabtu besuk ya?”
Ian mengangguk.
Sementara di meja yang lain tepatnya grup dari Iwan Permana, mereka juga sedang berkumpul. Ada empat orang juga di sana. Mereka dari awal membicarakan tentang Agung dan ketiga temannya.
“Wan, kamu tahu endak akhir-akhir ini Aira lebih dekat sama anak motor itu? Kamu endak cemburu, ha?”
Iya, aku juga udah tahu. Sebenarnya aku juga ngerasa, kalau Aira sekarang makin menjauh dariku. Aku juga endak ngerti apa kelebihan mereka itu? Paling cuma kebut-kebutan di jalan,” ucap Iwan sinis.
Nah terus gimana cara kamu pingin ngerebut Aira? Biar jadi milik kamu. Malu kan anak orang ada, terus punya mobil bagus, masa kalah sama anak jalanan itu?” Doni mulai memancing situasi.
Iya, ini aku juga baru mikirin gimana caranya. Makanya bantu aku biar aku endak kalah.”
“Oh, tenang aja. Aku siap membantumu, Bro. Masa senior kalah sama juniornya, ya endak temen-temen?”
Bener,” ucap yang lain sambil mengangguk-angguk.
Ah kalian bisanya cuma ikut-ikutan aja.”
“Kita pasti bantu kowe, Wan. Aira emang pantas direbutin. Dia itu sempurna sekali Wan,” ucap Bagus.
Iwan menatap tajam.  “Siapa sih anak motor yang naksir Aira, ha? Ada yang tahu endak?”
Em, yang aku denger si Raffi. Ya, Raffi yang rambutnya pendek itu,”  Doni melayangkan pandangannya ke Raffi yang lagi menyeruput kopinya. “Lumayan juga sih wajahnya dan katanya lumayan juga nyalinya. Tapi kamu jangan kalah Wan?”
 “Oo … jadi dia yang suka sama Aira.” Iwan mengangguk-anggukkan kepala. “Oke, yang pasti aku endak mau kalah. Aku juga endak akan menyerah untuk bisa ngedapetin Aira.”
Nah, gitu dong Bro, yang semangat. Tunjukin kamu ini siapa, Wan!” sahut Doni. “Tahu ndak si Raffi itu juga sering ada di tempat kita ngumpul sekarang?”
“Yang bener, Don?” Iwan terhenyak tak percaya.
Ah payah kamu, Wan. Ke mana aja kamu sampai endak tahu? Kamu sibuk sih sama cewek-cewek.”
Iwan mulai geram. “Ya sudah kita temuin aja di tempat ngetracknya. Kalau perlu aku yang turun lawan mereka. Apalagi dulu juga aku sering turun balapan.”
Nah gitu Wan, itu baru jantan tenan. Bener temen-temen?” ucap Doni.
Bener Bro,” ucap serentak keduanya.
Ya udah, kita tunggu sampai malem minggu. Motorku tolong kamu setting ya, Gus?”
Beres, kalau cuma soal setting-menyetting serahin ke aku,” jawab Bagus pede.
Akhirnya mereka juga sepakat berencana untuk kembali turun balapan lagi. Emosi Iwan serasa kembali terbakar.  Semakin membara karena ada yang berani mendekati Aira. Ditambah lagi dia tak ingin kalah dengan Raffi.  

Monas duduk sendirian di basecamp. Dia melamun. Banyak hal yang baru kutemui dalam hidup. Banyak pula yang harus kuulang. Hari hanyalah batasan waktu yang ditandai siang dan malam yang selalu berulang dari kemarin, sekarang, dan besok. Hingga batasan waktu dijalani oleh setiap orangnya. Mengingat ‘sang waktu’ itu adalah lebih beruntung daripada melupakannya. Ketika masih kecil pasti ingat waktu-waktu yang indah karena sebagian besar diisi dengan bermain. Ketika besar dan dewasa, sang waktu juga masih setia menemani. Dan ketika menjelang tua, sang waktu juga masih setia mendampingi. Bahkan sampai kapan pun. Hingga mati maupun sesudah mati, sang waktu akan selalu mendampingi. Sebaiknyalah harus selalu ingat dan memahami, serta mengerti dengannya. Itulah yang dianggap beruntung. Karena semua tak lepas dari sang waktu, pikirnya.
Jocker, ke sini! Menurut kamu motor ini kurang gimana?” Monas kaget. Teriakan Bram  menyadarkan lamunannya.
Eh iya.” Monas mendekati Bram. “Motor ini aku akui sangat kencang. Tapi kalau buat belok, ban belakang seperti licin banget. Mungkin aku belum terbiasa kali, jadi aku susah ngendaliinya.
Oke, aku akan ganti ban sama remnya.
“Em settingan seperti ini gimana buatmu, Nas?” Monas terdiam. Bram menatap Monas dalam. “Settingan seperti inilah yang sering di pakai. Ini juga sama dengan motornya Takahasi.” Bram kemudian menoleh ke Agung. “Menurut kamu gimana, Gung?”
Em, menurutku Monas biar adaptasi dulu. Dia kan belum biasa megang motor ini. Itu menurutku.”
Ya udah kita kerjakan sekarang! Kita ganti bannya sama beberapa sparepartnya agar pas. Tapi aku nanti pingin lihat hasil settingan ini ya?”
Oke, Bram.”
Setelah ban dan beberapa sparepart diganti, kemudian Monas mulai menaikinya. Dia mencobanya  hingga beberapa kali. Namun hari itu dia hampir jatuh dua kali.
Selesai mencoba motor, dia  kembali ke rumah dengan membawa motor lamanya. Melaju di jalan dengan santai. Dia tak mau menarik gas saat di jalan raya. Sebab masih padat-padatnya pengendara lain di jalan kota Solo itu. Saat lampu lalu lintas berwarna merah dia berhenti. Monas berpikir, ah aku harus bisa megang motor ini. Walau liar, aku harus bisa. Aku harus jadi yang tercepat. Aku yakin bisa. Bener, tadi aku akui tenagaku kurang untuk megang motor itu. Selain berat, motor itu kencang sekali. Feeling dan timingku kurang pas. Huh, hampir aku jatuh tadi. Tapi  untunglah hari ini aku masih beruntung. Setelah melewati Solo Baru, suasana jalan lebih lengang. Memasuki daerah perbatasan, Monas baru menarik gas motornya.
Menjelang malam setelah memberi makan ikan di aquarium, dia kembali ke kamar beristirahat. Sambil menyalakan laptop, alunan musik pop mememaninya. Dia mulai mencari wawasan baru di internet. Baik tentang geografi, motor, sampai pertanian. Di saat itu pula hp-nya berdering.
“Hai Kasih, ada apa ya?”
Endak ada apa-apa Mas, cuma pingin nelepon aja kok.”
Oh kirain ada hal yang penting. Lho, kamu ada di mana ini?
Ada di kamar, Mas.”
Ibu sama bapak kamu di mana?”
Tenang Mas, mereka lagi ada tamu di depan. Jadi endak akan tahu.”
Em bener, nggak ada yang penting nih?”
Em cuma pingin ngobrol sama sedikit kangen.”
“Heu, kangennya aku terima.”
“Em strawberynya gimana, Mas?”
“Oh iya ya, ntar deh biar aku minta tolong sama Ian. Biar dia yang ambil dari rumahmu.”
Mas, bener kan akan selalu sayang sama Kasih?”
Iya, aku akan selalu sayang sama kamu. Nah sekarang kamu lanjutkan belajarnya ya? Kamu kan udah kelas tiga, aku nggak mau nilai kamu jatuh nanti.”
“Iya Mas, aku lanjutkan belajarku ya? Makasih Mas, met malem?”
Malem Kasih.”
Telepon pun terputus.
“Mudah-mudahan nilai kamu tidak jatuh, Kasih. Jadi kamu bisa kuliah yang kamu inginkan. Aku akan berusaha membantumu lewat tambahan semangat. Agar kamu lebih enjoy dalam menghadapi test nanti. Kamu adalah gadis yang rawan secara emosional. Gadis yang masih tinggi harapan pencapaiannya. Tak seharusnya aku menghalangi itu di usiamu yang sekarang. Biarlah tetap indah di angan-anganmu tentang hidup ini. Kasih, terimakasih atas semua ini. Dan mudah-mudahan kamu beruntung selalu, ucap Monas sambil memandangi foto Kasih.
Monas lalu membuka facebooknya. Ada Zian kinanti, Teguh basuki serta Firman Rakasuma sedang online. Mereka adalah senior dan teman yang baik baginya. Monas belajar banyak dari mereka. Sedang Firman Rakasuma adalah sahabat dari Bogor. Yang hobinya sedikit sama dengannya. Begitu menyukai dunia motor.  Namun mereka belum pernah bertatap muka secara langsung. Hanya bertemu lewat layar kaca jejaring sosial. Dunia yang begitu dekat, tapi tetap terbatasi.
Hingga malam semakin larut dan tak terasa sudah lewat tengah malam Monas di depan laptopnya. Setelah mematikan dia mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Di dalam keteraturan nafas yang dihembus dan dihirup, dia memejamkan matanya.[ ]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar