Buatlah Aku Bangga
TOKTOKTOK …!
Terdengar suara
pintu diketuk.
“Monas, ayo bangun! Sudah jam lima subuh lewat lho. Cepet shalat subuh! Nanti kesiangan lagi.”
Suara sedikit keras dari mbah Putri terdengar dari balik pintu kamar Monas.
“Ehg …
em … nggih Mbah sebentar lagi,” jawab Monas.
“Cepet to! Nanti
kowe kesiangan, ayo bangun!”
“Inggih Mbah.”
Akhirnya Monas pun bangun meski agak malas. Dia kemudian mandi dan mengerjakan sholat subuh. Sejenak dia berdiam diri di kamar. Merebahkan
tubuhnya kembali. Menatap langit-langit kamar. Dia tersenyum. Rasa bahagia yang
sangat merasukinya. Pikirannya terbayang kejadian indah bersama Kasih kemarin. Namun kemudian terusik oleh suara kokok
ayam tetangga yang riuh bersautan. Seakan memberi tahu bahwa pagi
sudah datang. Monas langsung bangun dan melangkah. Dia mengeluarkan motor dan memanaskan mesinnya. Kemudian dia duduk
dan menyeruput segelas kopi di ruang tamu. Pisang goreng yang ada di piring pun di makannya. Menemani neneknya berbincang sambil menunggu waktu berangkat.
“Kowe mau sarapan nasi goreng endak, Nas?”
“Ah nggak Mbah, ini aja udah
cukup. Kalau makan nasi goreng nanti malah gampang ngantuk.”
“Yo wis, terserah kowe wae.”
Monas menatap
jam dinding sejenak. Dia mengambil jacket yang berada di kursi lalu memakainya.
“Mbah, aku berangkat dulu nggih?”
“Iyo Nas.”
Dia melangkah ke
arah motornya.
“Hai sahabat baruku, ayo kita mulai hari
ini! Jadilah sahabat yang baik buatku. Dan temanilah ke mana aku pergi, dengan
kecepatanmu dan dengan kehebatanmu tentunya. Buatlah aku bangga, buatlah aku hebat. Aku
mengandalkanmu,” ucapnya. Layaknya
sebuah mantra. Kata-kata itu sering diucapkan kepada
motor baru yang dinaikinya, meskipun selalu berganti bila menjadi joki.
Biasanya Monas datang di kampus dengan waktu yang mepet, tapi tidak untuk hari itu. Pagi itu
dia sudah sampai.
“Ehm, wah tumben pagi banget,” celetuk Ian,
yang melangkah menyusul Monas dari belakang.
“Oh, kowe Ian. Ayo masuk kelas !”
“Ayo Bro, kita masuk.”
“Ian, kowe dah belajar belum semalem?”
“Endak Nas, emang kenapa?”
“Kowe nggak ngerti
kebiasannya pak Anwar? Pak dosen ini kan biasannya sering ngetest mahasiswanya.” Monas tersenyum. “Terutama
dirimu.”
“Tenang wae Bro,” ucap Ian sambil nyengir kuda. “Kan kalau endak bisa juga endak masalah to?”
Monas tertawa. “Cuek wae yo?”
Ian mengangguk.
Saat melangkah ke kelas, banyak mahasiswi yang menatap dan
memperhatikan Monas dengan penuh keheranan karena tak biasanya dia datang pagi. Namun Monas biasa saja dan
terus saja masuk kelas bersama Ian. Keduanya memilih duduk di kursi agak di
belakang.
Ian menoleh. “Nas,
aku minjem bukumu, ya? Nanti
pulang aku bawa.”
“Ah buat apa Ian? Paling nanti kamu juga nggak bisa kalau ada ujian.” Monas tersenyum.
“Sialan kowe. Otakku
beda sama kowe. Kowe endak perlu belajar juga sudah pinter. Lha kalau aku, kadang udah belajar besuknya hilang semua.”
“Iya-ya, bawa aja bukuku semualah. Bakar! Terus bubuknya campur kopi, lalu
minum. Biar encer otakmu!”
“Ah bisa wae kowe, Nas.”
Sejenak Ian melihat ke depan. Dia menatap seorang gadis yang baru saja duduk. “Eh
kemarin kowe dapat salam dari Widi tuh.” Ian tersenyum.
“Gimana? Balas endak?” Ian
menggerakkan alisnya naik turun.
“Ha? Salam apa lagi Ian?” Monas tersenyum
cuek. “Salamat pagi apa
salamat siang?”
“Ah kowe gimana to? Orang dapat salam juga. Eh Nas, Widi kaé cakep juga
lho.”
“Ya udah, dia buat kamu wae.”
“Ah bener yo, buat aku?”
“Iyo, buat kamu wae kalau dia mau. Aku males urusan
cewek, Ian.”
“O iya ya kamu
udah ada Kasih. Sampai lupa aku. Terus salamnya gimana? Dibalas endak?”
“Bilang salamnya diterima gitu aja ya?”
“Terus kalau dia ngajak kowe jalan, gimana?”
“Kowe aja yang jalan sama dia, kowe kan yang aslinya seneng sama dia. Bener kan?” ledek Monas.
Ian terpojok. “Ah sialan kowe, bisa wae mengalihkan omonganku terus.”
“Pokoknya aku pingin belajar, ngerti Bro? Enggak mau di ganggu yang lain.”
“Baiklah Bro, aku ngerti.” Ian kemudian menatap ke tempat Widi duduk. Saat yang bersamaan dia melihat
gadis itu tersenyum. “Oh,
manisnya ….”
Monas pun tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu
sambil menggelengkan kepala. Tak lama kemudian seorang pria berkumis tebal dengan
buku digenggaman pun masuk ke ruang kelas itu sambil menyapa. Meski tak terlalu
keras namun semua mahasiswa membalas sapaan dosen mereka dengan kompak.
Pria tua
berkumis tebal itu menaruh buku di meja. “Baik, sekarang kita akan
melanjutkan pembahasan minggu kemarin ya. Yang kurang paham silakan ditanyakan
nanti! Pas waktu buka forum.”
“Iya Pak ….” Suara Ian terdengar paling kencang.
“Wah, kamu semangat banget
ya kelihatannya hari ini, Ian?”
“Ya harus semangatlah, Pak. Jadi anak muda itu ya harus semangat. Apalagi udah sarapan tadi.
Sarapannya enak lagi,” sambil melirik ke arah Widi yang senyum-senyum
melihat tingkah Ian. Sementara
yang lain ikut tertawa.
Dan benar selama proses belajar hingga selesai, Ian yang sering
mendapat pertanyaan pak Anwar. Namun, dia
tetap tak bisa menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan dari dosen. Sementara
Monas hanya tersenyum melihat sahabatnya itu yang kadang gelagapan tak bisa
menjawab. Bahkan yang lain juga ikut tertawa.
Saat jam
istirahat tiba Ian menendang kursi Monas.
“Nas, kita ke
kantin yuk! laper aku. Jadi habis energiku terkuras ke pikiran.”
“Halah, mikir apa
kowe? Orang kowe nggak pernah beres
jawabanmu tiap ditanya dosen. Malah main mata sama Widi terus kan?”
Ian terkekeh. “Ngerti wae kowe. Ikut ke kantin endak?”
“Enggak, aku entar mau ke perpus balikin
buku dulu. Kowe duluan aja sana.”
“Oke. Kowe mau makan apa? Aku yang bayari.”
“Udahlah nggak usah. Pesenin kopi aja.”
“Yo wis,
aku duluan ya?”
“Hemm.”
Monas
membereskan bukunya. Sementara Widi menoleh dan menatap pria tampan itu. Dia
sengaja belum beranjak dari duduknya. Dia tersenyum. Em kamu memang benar-benar tampan Nas. Aku benar-benar mengagumimu, batinnya.
Monas berdiri
dan beranjak. Saat Monas melewatinya, tadinya dia ingin memberhentikan pria itu
dan ingin berbicara sebentar. Namun entah kenapa dia urungkan niatnya itu. Dia hanya tersenyum saja dengan Monas. Dan
Monas pun membalas senyuman Widi, kemudian berlalu.
Di kantin sudah
berkumpul Agung dan Raffi. Keduanya asik membahas tentang kejadian semalam di tempat bos Baron. Sesekali Agung menghisap rokoknya. Tak berapa lama Ian datang membawa dua gelas
kopi dan langsung duduk bergabung.
“Oya, ngomong-ngomong Monas mana, Bro?” tanya Raffi.
“Biasa, ke perpus Fi. Nanti juga ke sini.”
“Gung, motornya
Monas kayaknya kenceng banget. Settingannya bagus yo, Bro?”
“Yoi, bener. Tapi juga karena cc-nya yang gede. Cuma bahaya kalau Monas belum adaptasi.”
“Lho, bukannya malah keren bisa kenceng
banget Gung?” tanya Ian gantian.
“Yo endak, itu malah
bahaya. Yang penting sesuai jokinya. Pas juga sama jalannya, lurus atau belak-belok. Bannya juga cocok endak, basah atau kering jalannya nanti kalau turun race.
Tapi kalau buat jalan biasa ya ndak perlu. Gitu Bro.”
“Oo gitu yo, Bro. Pokoknya kita pasrah ajalah sama
kowe, Gung.”
“Aku juga belajar dari Bram. Dia lebih jago sama lebih pengalaman
dibanding aku. Pengalamannya saat di Jepang endak diragukan
lagi lah. Aku juga beruntung kita bisa kenal dia. Makanya aku endak akan sia-siakan buat belajar sama dia.”
“Bener Gung,” sahut Ian. “Aku juga pingin bantu Monas dalam hal ngendaliin
motor. Aku bakal gojlok fisiknya.”
Sejenak terdiam.
Agung melempar pandangannya. “Nah,
lha kaé orangnya datang,” ucap Agung saat dia melihat Monas datang.
Monas berjalan
mendekati ketiga temannya. “Sorry, aku terakhir datengnya Bro.”
“Endak apa-apa
Bro,” ucap Agung. “Gini, motormu aku setting lagi
bareng Bram, yo? Kamu entar juga di bengkel sana sekalian.
Kita pingin tahu kamu segimana cocoknya, Oke?”
“Oke, aku setuju. Nanti habis
kuliah kelar langsung ke sana yo?” ucap Monas.
“Sip, habis kuliah.”
“Oya Nas, aku pingin juga fisikmu dilatih biar lebih kuat lagi ngendaliin
motor. Nanti aku sama Black yang akan ajarin, kalau udah disetting motornya. Sama kita nanti
yang akan bantu kamu test
motor. Oke Bro?”
ucap Ian.
Monas sedikit
heran. “Kok pakai fisik juga Bro?”
“Kata Black itu penting. Kamu harus rutin olah raga, paling enggak lari.
Sebab daya tahan tubuh pembalap kan ngaruh. Coba kalau posisi dingin, pas malam kamu turun. Belum
lagi nunggu situasi jalan. Kekuatanmu masih kurang, sama masih kaku. Bener, enggak?”
“Em bener juga Ian. Oke, kita mulai sabtu besuk ya?”
Ian mengangguk.
Sementara di
meja yang lain tepatnya grup dari Iwan Permana, mereka juga sedang
berkumpul. Ada empat
orang juga di sana. Mereka dari awal membicarakan tentang Agung dan ketiga temannya.
“Wan, kamu tahu endak akhir-akhir
ini Aira lebih dekat sama anak motor itu? Kamu
endak cemburu, ha?”
“Iya, aku juga udah tahu. Sebenarnya aku juga ngerasa, kalau Aira
sekarang makin menjauh dariku. Aku juga endak ngerti apa
kelebihan mereka itu? Paling cuma
kebut-kebutan di jalan,” ucap Iwan sinis.
“Nah terus gimana cara kamu pingin ngerebut
Aira? Biar jadi milik kamu. Malu
kan anak orang ada, terus punya mobil bagus, masa kalah sama anak jalanan itu?” Doni
mulai memancing situasi.
“Iya, ini aku juga baru mikirin gimana caranya. Makanya bantu aku biar aku endak kalah.”
“Oh, tenang aja.
Aku siap membantumu, Bro. Masa
senior kalah sama juniornya, ya endak temen-temen?”
“Bener,” ucap yang lain sambil
mengangguk-angguk.
“Ah kalian bisanya cuma ikut-ikutan aja.”
“Kita pasti bantu kowe, Wan. Aira emang pantas direbutin. Dia
itu sempurna sekali Wan,” ucap Bagus.
Iwan menatap
tajam. “Siapa sih anak motor yang naksir
Aira, ha? Ada yang tahu endak?”
“Em, yang aku denger si Raffi. Ya, Raffi yang
rambutnya pendek itu,” Doni melayangkan pandangannya ke Raffi yang
lagi menyeruput kopinya. “Lumayan juga sih wajahnya dan katanya lumayan juga
nyalinya. Tapi kamu jangan kalah Wan?”
“Oo … jadi dia yang suka sama Aira.” Iwan mengangguk-anggukkan
kepala. “Oke, yang pasti aku endak mau kalah. Aku juga endak akan menyerah untuk bisa ngedapetin Aira.”
“Nah, gitu dong Bro, yang semangat. Tunjukin kamu ini siapa,
Wan!” sahut Doni. “Tahu ndak si
Raffi itu juga sering ada di tempat kita ngumpul sekarang?”
“Yang bener, Don?” Iwan terhenyak tak percaya.
“Ah payah kamu, Wan. Ke mana aja kamu sampai
endak tahu? Kamu sibuk sih sama cewek-cewek.”
Iwan mulai
geram. “Ya sudah kita temuin aja di tempat ngetracknya.
Kalau perlu aku yang turun
lawan mereka. Apalagi dulu juga aku sering turun balapan.”
“Nah gitu Wan, itu baru jantan tenan. Bener temen-temen?” ucap Doni.
“Bener Bro,” ucap serentak
keduanya.
“Ya udah, kita tunggu sampai malem minggu.
Motorku tolong kamu setting ya, Gus?”
“Beres, kalau cuma
soal setting-menyetting
serahin ke aku,” jawab Bagus
pede.
Akhirnya mereka juga sepakat berencana
untuk kembali turun balapan lagi. Emosi
Iwan serasa
kembali terbakar. Semakin membara
karena ada yang berani mendekati
Aira. Ditambah lagi dia tak ingin kalah dengan
Raffi.
Monas duduk sendirian
di basecamp. Dia melamun. Banyak
hal yang baru kutemui dalam hidup. Banyak pula yang harus kuulang. Hari
hanyalah batasan waktu yang ditandai siang dan malam yang selalu
berulang dari kemarin, sekarang, dan besok. Hingga batasan waktu dijalani oleh
setiap orangnya. Mengingat ‘sang waktu’ itu adalah lebih beruntung
daripada melupakannya. Ketika masih kecil pasti ingat waktu-waktu
yang indah karena sebagian besar diisi dengan bermain. Ketika besar dan dewasa,
sang waktu juga masih setia menemani. Dan ketika menjelang tua, sang waktu juga
masih setia mendampingi. Bahkan sampai kapan pun. Hingga
mati maupun sesudah mati, sang waktu akan selalu mendampingi. Sebaiknyalah
harus selalu ingat dan memahami, serta mengerti dengannya. Itulah yang dianggap
beruntung. Karena semua tak lepas dari sang waktu, pikirnya.
“Jocker, ke sini! Menurut
kamu motor ini kurang gimana?”
Monas kaget. Teriakan Bram menyadarkan lamunannya.
“Eh iya.” Monas mendekati
Bram. “Motor ini aku akui sangat
kencang. Tapi kalau buat
belok, ban belakang seperti
licin banget. Mungkin aku belum terbiasa kali, jadi aku susah ngendaliinya.”
“Oke, aku akan ganti ban sama remnya.
“Em settingan
seperti ini gimana buatmu, Nas?” Monas terdiam. Bram menatap Monas dalam. “Settingan seperti inilah yang sering
di pakai. Ini juga sama dengan motornya Takahasi.” Bram kemudian menoleh ke
Agung. “Menurut kamu gimana,
Gung?”
“Em, menurutku Monas biar adaptasi dulu. Dia kan belum biasa megang
motor ini. Itu menurutku.”
”Ya udah
kita kerjakan sekarang! Kita ganti bannya sama beberapa sparepartnya agar pas. Tapi aku nanti pingin lihat
hasil settingan ini ya?”
“Oke, Bram.”
Setelah ban dan beberapa
sparepart diganti, kemudian Monas mulai menaikinya. Dia mencobanya hingga beberapa kali. Namun hari
itu dia hampir jatuh dua kali.
Selesai mencoba motor, dia
kembali ke rumah dengan membawa motor lamanya. Melaju di jalan dengan santai. Dia tak mau menarik gas saat di jalan raya. Sebab masih padat-padatnya pengendara lain di jalan kota Solo itu. Saat
lampu lalu lintas berwarna merah dia berhenti. Monas berpikir, ah aku harus bisa megang motor ini. Walau
liar, aku harus bisa. Aku harus jadi yang
tercepat. Aku yakin bisa. Bener,
tadi aku akui tenagaku kurang untuk megang motor itu. Selain berat,
motor itu kencang sekali. Feeling dan timingku kurang pas. Huh,
hampir aku jatuh tadi. Tapi untunglah hari ini aku masih
beruntung. Setelah
melewati Solo Baru, suasana
jalan lebih lengang. Memasuki daerah
perbatasan, Monas baru menarik gas motornya.
Menjelang malam setelah memberi makan ikan di aquarium, dia kembali ke kamar beristirahat. Sambil menyalakan laptop, alunan musik
pop mememaninya. Dia mulai mencari wawasan baru di internet. Baik
tentang geografi, motor, sampai pertanian. Di saat itu pula hp-nya berdering.
“Hai Kasih, ada apa ya?”
“Endak ada apa-apa Mas, cuma pingin nelepon aja kok.”
“Oh kirain ada hal yang penting. Lho, kamu ada di mana ini?”
“Ada di kamar, Mas.”
“Ibu sama bapak kamu di mana?”
“Tenang Mas, mereka lagi
ada tamu di depan. Jadi endak akan tahu.”
“Em bener, nggak ada yang
penting nih?”
“Em cuma pingin ngobrol sama sedikit kangen.”
“Heu, kangennya aku terima.”
“Em strawberynya gimana, Mas?”
“Oh iya ya, ntar
deh biar aku minta tolong sama Ian.
Biar dia yang ambil dari rumahmu.”
“Mas, bener kan akan selalu sayang sama Kasih?”
“Iya, aku akan selalu sayang sama kamu. Nah sekarang
kamu lanjutkan belajarnya ya? Kamu kan udah kelas tiga,
aku nggak mau nilai kamu
jatuh nanti.”
“Iya Mas, aku lanjutkan belajarku ya? Makasih
Mas, met malem?”
“Malem Kasih.”
Telepon pun
terputus.
“Mudah-mudahan nilai kamu
tidak jatuh, Kasih.
Jadi kamu bisa kuliah yang kamu inginkan. Aku akan berusaha
membantumu lewat tambahan
semangat. Agar kamu lebih enjoy
dalam menghadapi test nanti. Kamu
adalah gadis yang rawan secara emosional. Gadis yang masih tinggi
harapan pencapaiannya. Tak seharusnya aku menghalangi itu di usiamu yang sekarang. Biarlah tetap indah di angan-anganmu tentang hidup ini.
Kasih, terimakasih atas semua ini. Dan mudah-mudahan kamu beruntung selalu,” ucap Monas sambil memandangi foto Kasih.
Monas lalu membuka facebooknya. Ada Zian kinanti, Teguh
basuki serta Firman Rakasuma sedang online. Mereka adalah senior
dan teman yang baik baginya. Monas belajar banyak dari mereka. Sedang Firman Rakasuma adalah sahabat dari Bogor. Yang hobinya
sedikit sama dengannya. Begitu
menyukai dunia motor. Namun mereka belum pernah bertatap muka secara langsung. Hanya bertemu lewat layar kaca jejaring sosial. Dunia yang begitu dekat, tapi tetap terbatasi.
Hingga malam
semakin larut dan tak terasa sudah lewat
tengah malam Monas di depan laptopnya. Setelah mematikan dia mulai merebahkan tubuhnya di
tempat tidur. Di dalam keteraturan nafas yang dihembus dan dihirup, dia memejamkan matanya.[ ]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar