Senin, 15 September 2014

Cemburu



Cemburu




JAM LIMA PAGI Monas sudah terbangun. Dia langsung sholat subuh. Sedang Ian, masih terhipnotis dengan tidurnya. Monas kemudian membantu mbah Putrinya di dapur, meringankan keseharian neneknya. Hari semakin terang, Monas menghampiri Ian yang masih tidur.
Heh, Ian, bangun udah siang!”
Egh …, jam berapa?”
Jam enam kurang. Kowe pulang dulu nggak?”
Egh, ntar lagi,” jawabnya malas.
Ya udah terserah kowelah, kalau mau tidur lagi. Tapi aku keluar dulu ya?”
Ian menarik selimut. “Egh, iya.”
Monas meninggalkan Ian yang masih enggan untuk bangun. Dia masuk kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Air pagi hari yang dingin membasahi tubuhnya.
Tak lama setelah itu dia keluar dengan motornya. Dia mengarah ke sawah untuk menemui orang yang akan membajak sawah setelah panen yang kemarin. Seperti perintah mbah Putrinya semalam. Dan benar, saat sampai ternyata dia sudah ditunggu oleh seorang lelaki yang lumayan tua usianya.
Pak Karso udah lama nunggunya?
“Belum, Mas. Bapak juga baru nyampe kok.”
“Em aku kira udah lama.  Gimana, sawah mbah Putri dibajak hari ini to?”
“Iya Mas.
“Tapi bapak sudah sarapan belum? Ini ada sedikit makanan buat sarapan. Biar nggak lemes nanti.” Monas menyodorkan bungkusan kantong kereseknya.
Ah Mas Monas bisa wae. Tapi bapak wis nyarap[1]tadi.
Monas tersenyum. “Yo yang ini buat nanti kalau ngerasa lapar lagi.”
Pak Karso pun menerimanya. “Eh Mas, sawah sini masih beruntung lho, panennya kemarin bagus.”
Alhamdulillah Pak. Lho, emangnya ada yang nggak panen?
Ada Mas, tapi bukan daerah sini. Tuh yang di dekat bukit sana,” ucapnya sambil menunjuk ke tempat yang di maksud. Kasihan, hampir semua keserang tikus. Terus di daerah barat sana juga gagal panen katanya. Sampai harus tanam benih lagi lho, Mas. Pokoknya kasihan jadi petani sekarang, Mas.”
Monas terdiam. Dia merasa iba. “Bener Pak Karso. Memang kasihan jadi petani. Sekarang makin tambah susah hidupnya. Ya, tapi kita harus berusaha Pak, biar nggak terlalu susah. Gimana bener nggak? Yang penting tetep bersyukur sama Sang Pencipta, biar bagaimanapun keadaannya.”
Bener Mas, kita tetep harus bersyukur. Yo wis bapak mau kerja dulu yo? Biar cepat selesai. Monggo Mas .…”
Monggo-monggo, Pak.”
Lelaki tua itu kemudian meninggalkan Monas. Sementara Monas kembali terdiam.
“Ah benar, jadi petani saat ini memang semakin susah. Semakin berat. Hasilnya nggak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin banyak dan mahal. Dari urusan makan, urusan pendidikan, urusan sakit, sampai urusan yang lainnya. Semua membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kalau hanya mengandalkan dari hasil bertani yang pas-pasan semua itu sudah pasti kurang. Ya Allah, mudah-mudahan kami ini diberi petunjuk serta kemudahan dalam segala urusannya. Aku juga akan berpikir dan berusaha.  Aamiin,” gumamnya.
Monas kembali ke rumahnya. Dia berjalan mendekati mbah Putri di kamar belakang.
Mbah Putri, anu, pak  Karso hari ini siap ngluku.[2] sawah nganggo tractor. Tadi aku udah ketemu.”
Yo wis, nanti tinggal cari orang untuk tandur. Kamu sarapan sana! Ini sudah siang, kamu kuliah to?”
Inggih Mbah. Lha, Ian sudah bangun belum?”
Wah belum Nas, bocah kaé angler turuné.”[3]
Monas kaget Ian belum bangun. “Ah bener-bener. Ya sudah Mbah, mau aku bangunin dia.  Udah siang ini.”
Yo, gugahen kono!”[4]  
Monas melangkah masuk kamar dan langsung membangunkan Ian yang masih lelap. Dia menggerak-gerakan tubuhnya.“Heh, bangun wong ndablek,[5] ini udah siang. Ayo kuliah! Nanti telat lho. Ayo bangun!”
Egh, dah siang?” Mata Ian terasa berat untuk dibuka.
Iya, udah siang. Kowe pulang dulu apa langsung berangkat dari sini?”
Ian kemudian duduk sambil menyenderkan tubuhnya di dinding. Namun matanya masih rapat. “Aku pulang dulu Nas, ambil laptop sama ganti baju. Tapi aku mandi di sini yo?”
Iya, cepetan mandi sana! Aku tunggu di ruang makan ya?”
Ian menguap. “Iyo yo. Eh enak tenan kamarmu ini, aku sampai angler.”
Monas kemudian menarik tangan Ian. “Halah udah cepet mandi sana, ini dah siang. Cepet!”
Dengan sangat terpaksa Ian pun mengikuti perintah Monas.
Setelah sarapan bersama keduanya meluncur ke kampus dengan motor kesayangan mereka, melaju menyusuri jalanan Sukoharjo. Terlihat masih banyak area persawahan sedang memasuki musim tanam. Air masih melimpah, yang berasal dari irigasi waduk di Wonogiri. Fasilitas dari pemerintah untuk menghasilkan panen dalam setahun bisa lebih dari satu kali. Sebuah cara memakmurkan petani yang dulunya hanya bisa panen setahun sekali. Namun  bagi Monas sebuah kemakmuran yang diharapkan oleh banyak petani, masih sangat jauh untuk bisa dirasakan.
Tak berapa lama mereka sudah sampai. Keduanya duduk. Ian terlihat kurang bersemangat.
Ah belajar lagi, bosen aku, Nas,” keluh Ian.
Heh, namanya juga kuliah Ian, bukan nongkrong.” 
Ah bisa wae kowe. Nanti kita ngetest motor di mana?”
Di sekitar Wonogiri ya? Biar nggak bosen.”
Oke Bro, nanti kita ke sana. Tapi aku udah yakin kamu pasti menang Bro, besok.”
Mudah-mudahan, ya?”
Berarti nanti kita ke tempat kafenya bos Baron?”
Aku nggak ah, kowe aja nanti ya? Aku males yang gituan, Bro.”
Iya, aku ngerti Bro.”
 Tak lama kemudian proses belajar pun dimulai. Semua mahasiswa nampak proaktif dengan mata kuliah yang diberikan oleh sang dosen. Situasi yang tepat untuk sebuah proses belajar. Hanya Ian yang terlihat tak bersemangat. Dia selalu saja melihat ke arah Widi duduk, hingga jam belajar selesai.
Sementara itu Aira, Dewi dan Hesti terlihat keluar ruangan mereka.
Em Hes, Wi, aku ke perpus dulu ya? Ada perlu.”
Kamu endak ke kantin, Ra?”
Nanti aja aku nyusul.”
Ya udah nanti kita tunggu. Pasti banyak cowok di kantin yang kecewa siang ini sepertinya,” ucap Hesti meledek.
Aira tersenyum. “Ah bisa aja. Dah aku duluan ya?”
Oke deh.”
Aira melangkah menuju ke perpus. Sampai di perpus Aira masuk ke dalam dan langsung mencari-cari buku. Dia kembali mendapati Monas yang sedang santai membaca di tempat favoritnya. Aira sejenak memandang kagum kepada pria itu. Dia mengagumi Monas sebagai pribadi yang berbeda di antara yang lain.  Hmm, memang kamu cowok yang menarik, Nas. Hanya sedikit yang aku tahu darimu. Dan ini yang membuatku penasaran sama kamu. Mungkin gadis yang lain juga sama sepertiku. Kamu baik, pintar, santai, cuek, mengagumkan dan apa adanya. Ah aku jadi pingin ngobrol sama dia, batinnya.
Aira melangkah mendekati Monas dan berhenti tepat di sampingnya.
Hai, serius amat bacanya,” tegur Aira pelan sambil tersenyum.
Monas menoleh. Dia membalas senyum Aira. “Oh kamu, Ra. Kirain siapa? Mau baca buku juga?”
Iya, tapi mau baca di rumah aja.”
Kirain mau baca di sini.”
Em boleh ngobrol bentar nggak?” Aira terlihat agak malu-malu.
Boleh. Ada perlu apa Ra?
Em nggak penting sih, tapi gimana ya?” Saat melihat sekeliling dia menjadi ragu. “Em tapi nggak jadi Nas, ini di perpus. Nanti aku telepon aja ya?” Aira jadi salah tingkah. Entah kenapa tiba-tiba dia jadi berubah saat berhadapan dengan Monas.
“Aneh kamu, Ra. Tadi katanya ada perlu. Eh tapi terus nggak jadi.”
Iya, nggak enak aja di sini. Nanti aku telepon aja, em aku duluan ya? Assalamualaikum ....
Iya, waalaikum salam.”
Aira kemudian ke tempat penjaga perpus sambil menunjukkan buku yang dipinjamnya. Dengan perasaan yang salah tingkah dan gugup, dia  mengurungkan niatnya berbicara dengan Monas. Dia tak mau bila berdua dengan Monas akan menjadi bahan pembicaraan di kampus. Sementara Monas merasa ada yang aneh dengan Aira. Namun kemudian dia kembali larut pada bukunya lagi.
Aira melangkah keluar menuju kantin menyusul kedua temannya. Dia menghampiri Hesti dan Dewi. Namun di tempat itu sudah ada Iwan Permana dan Doni Angga Kusuma.
Hai Aira, kok baru datang? Dari perpus ya?” tanya Iwan.
Iya Mas, habis minjem buku buat dibaca.”
Buku apa, Ra?”
Buku management, Mas. Karena di sini ada banyak ya, aku minjem aja.”
Em kalau butuh buku yang lain, aku pinjemin kamu. Aku juga punya, Ra.”
Em makasih Mas. Enggak usah, yang ini aja belum dibaca.”
“Endak apa-apa Ra. Kamu tinggal ngomong aja ya? Nanti pasti Iwan bawain kok,” ucap Doni.
“Makasih banget Mas. Nggak usah, nanti aja.”
Ya udah yang penting endak usah sungkan sama aku ya? Eh, kamu mau makan apa? Biar aku yang ambilin.”
Ah nggak usah. Biar Aira ambil sendiri, Mas.” Aira berusaha menolak.
Ehm ehm, endak apa-apa Ra, sekali-kali diambilin Mas Iwan.” Hesti tersenyum. “Aira kalau di sini sukanya makan kue atau roti, yang penting rasa coklat, Mas.”
Ya udah, aku pesenin ya? Nanti sekalian aku bawain. Kamu di sini aja!” Iwan lalu melangkah  dan memesan yang disukai Aira.
“Hes, aduh, nggak enak aku,” bisik Aira.
Hesti kembali tersenyum. “Udah dienakin aja. Mas Iwan kan baik, perhatian lagi.”
Awas kamu, Hes!” Aira nampak kesal dengan Hesti.
Sementara di meja yang lain, kedua mata Raffi selalu memandang ke arah Aira. Dia sedikit cemburu karena nampak sangat akrab dengan Iwan. Raffi tahu Iwan juga ingin mendapatkan hati Aira. Ian tersenyum melihat Raffi yang sedang panas hatinya.
Eh Gung, kowe nyium bau ada yang gosong endak?
Agung menoleh. “Bau gosong?” Agung mencoba menghirup udara sekitarnya. ”Endak, Ian.  Aku endak nyium bau gosong.” Agung menghirup sekali lagi. “Endak ada yang gosong ah.”
“Masa Gung? Bau hati gosong?”
“Hati gosong?” Agung bingung karena tak ada aroma yang kebakar disitu.  “Kan, di sini kita nggak ada yang makan. Kita cuma ada kopi ini. Aku cuma nyium bau kopi, Ian.”
Ian tersenyum. “Ada ah. Tuh!” Mata Ian melirik ke Raffi. Sementara tangannya menunjuk ke dada.
Agung sejenak menatap Raffi yang pandangannya masih ke Aira. “Em, iyo sekarang baru nyium aku. Bau hati gosong.” Agung langsung nyengir.
Bener kan, gosong …?”
Wah kalau yang ini gosong buanget, Ian” Agung tertawa sambil melihat ke Raffi. Raffi awalnya tak tahu namun akhirnya sadar kalau omongan itu yang sedari tadi ternyata menyindirnya.
Ah, kampret kowe kabeh emang.”
Agung dan Ian tertawa puas.
Hahaha, ada yang hatinya panas kebakar api cemburu sampai gosong.” Ian tertawa terus.
Tenang Bro, nanti akulah yang bakal dapetin dia,” ucap Raffi membela diri.
Saat yang bersamaan Monas datang menghampiri. Wah lagi seneng ya? Apa senengnya? Bagi-bagilah!”
Hahaha, tenang Nas, kowe juga kebagian hati gosong kok,” ucap Agung sambil memegangi perut.
“Hati gosong? Maksudnya?” Monas bingung.
“Tuh lihat sana! Siapa yang sama Aira itu?” Monas menatap ke meja Aira. “Eh, di sini ada yang hatinya panas … sampai gosong malah.  Baunya ke mana-mana.” Ian tertawa puas.
Oh kirain apa? Bisaan kowe Ian.” Monas melihat Raffi yang jadi obyek pembicaraan itu ikut tertawa pelan.
Setelah tertawa puas mereka kemudian membicarakan tentang rencana besok malam. Mereka akan turun ngetrack untuk yang pertama dengan team bos Baron. Mereka nampak serius membicarakan hal itu.
Sesekali mata Aira memandang ke arah Monas duduk. Akan tetapi mata Raffi lah yang sering bertemu pandang. Hatinya terlonjak karena pandangan mata dan senyuman Aira dikira untuknya. Dan itu yang membuat hatinya sedikit dingin dibandingkan yang tadi.
Oh iya Bro, besok pagi kita coba motornya lagi ya?” tanya Monas.
Siap Bro,”ucap ketiganya kompak.
“Berarti ini dah beres. Kalau gitu aku tinggal dulu ya? Sorry ninggal kalian,” ucap Agung lalu berdiri.
O ya, aku juga duluan yo?” ucap Raffi yang juga berdiri.
Lho emang hatinya yang gosong udah fresh lagi?” tanya Ian.
Udah tadi, dia udah senyum sama aku, Kucrut. Hehehe, aku duluan yo?”
Iyo,” jawab Monas dan Ian.
Raffi dan Agung kemudian pergi menuju kelasnya masing-masing. Sementara Monas dan Ian masih duduk sambil menikmati kopi mereka sambil melihat ke arah meja Aira. Dan dalam waktu bersamaan Aira tersenyum kepada Monas. Monas pun membalas senyuman itu. Ian melihat itu merasa bingung.  Dari tadi Aira senyum ke arah sini buat Raffi apa Monas, ya? Jangan jangan …,  pikirnya.
Ehm Nas, kamu kenal Aira”
Ya kenal lah Ian. Semua mahasiswa sini siapa yang nggak tahu dia.”
“Deket sama dia?”
“Ha? ya kalau deket sih enggak. Emang ada apa Ian?”
Egh, endak ada apa-apa Nas. Kok tadi senyum ke kamu agak beda ya perasaanku.”
Monas tertawa pelan. “Ah aneh kowe. Dia senyum ya aku balas senyum. Bedanya gimana?”
Ah endak kok, Nas. Eh kelar kuliah kita endak langsung pulang ya? Kita main dulu yuk!” Ian mengalihkan pembicaraanya. Namun dia masih merasa curiga dengan senyuman Aira tadi.
Em boleh. Terus enaknya main ke mana?
Ke kostnya Widi aja yuk!” ucap Ian.
Hmm, emang itu pinginmu.”
Ian nyengir kuda. “Sekali-kali, Nas.”
Yo wis, terserah kowe wae.”
Dengan senangnya Ian kemudian bergegas berdiri dan membayar minum itu. Kemudian keduanya melangkah keluar sambil melewati depan meja Aira. Dan untuk kesekian kalinya Ian melihat Aira memberikan senyum dan tatapan mata yang berbeda ke arah Monas.
Eh Hes, Wi, ayo kita ke kelas!”
Oh iya. Ayo! Mas Iwan sama Mas Doni, kita duluan ya? Makasih nih makan siangnya.”
Lho, kok buru-buru? Santai dulu kenapa?
Makasih Mas. Kita ada mata kuliah lagi nih,” ucap Hesti.
Em kalau gitu ya sudah. Aku makasih juga ya Wi, Hes dan kamu, Aira?”
Sama-sama Mas,” jawab Aira
Saat berjalan ke kelas mereka, Hesti bertanya, “Ra, kamu kenapa kok sepertinya endak betah gitu tadi?”
Iya Ra, kenapa?ucap Dewi juga.
Egh, nggak ada apa-apa kok,” sanggah Aira, “eh, aku main ke kostmu yang baru ya nanti kelar kuliah?” Aira mengalihkan pembicaraanya.
Wah tumben mau main? Biasanya diajakin nggak mau terus, ucap Hesti.
Boleh, enggak …?”
“Ya Boleh, Ra.” Hesti tersenyum. “Pas, aku juga enggak bawa mobil, jadi ngikut mobil kamu  aja ya?”
Aira mengangguk dan tersenyum.


[1]sarapan
[2]Bajak sawah
[3]Anak itu nyenyak tidurnya
[4] Bangunkan sana.
[5] Orang males, tak tahu diri






Selesai kuliah sore itu Aira ke tempat kost Hesti yang baru.  Saat akan masuk, Aira melihat dua motor terparkir yang seperti tak asing baginya. Sepertinya dia mengenal dengan orang yang membawa motor itu. Dia berhenti sejenak. Namun kemudian dia berjalan lagi menyusul temannya. Pandanganya terpaku sesaat pada taman indah yang ada bangunan berlantai tiga itu. Ada banyak pohon anggrek yang sedang berbunga.
Hesti membuka kamar. “Ra, ayo masuk! Endak usah malu-malu. Sorry kamarnya jelek n berantakan.”
Ah kamu ini Hes, seperti sama orang lain aja,” ucap Aira.
Eh mau minum apa? Yang biasa atau yang dingin?”
Yang dingin lah,” sahut Dewi dengan cepat.”
Hesti terkekeh. “Udah kehausan ya Wi?” Dewi mengangguk kepalanya.
Sementara di tempat yang sama, di kamar Widi nampak suasana sedikit agak ramai. Ian selalu bercanda. Dan sesekali tangannya meraih makanan ringan di depannya. Sedang Monas lebih banyak berdiam diri dan hanya tersenyum. Setelah beberapa saat kemudian...
Em Wid, aku keluar bentar ya?” ucap Monas.
Lho mau kemana Nas,” ucap Widi.
Aku pingin ke bawah bentar, lihat taman tadi.” Monas langsung berdiri. “Oke Ian, aku ke bawah dulu ya?”
Iya Bro.”
Monas lalu melangkah keluar kamar. Dia terus berjalan menuju tangga. Terlihat beberapa perempuan di kost itu yang memandanginya. Monas berjalan ke bawah dan terus melewati pinggiran taman. Dia langsung duduk di kursi pojok taman. Tak ada siapa-siapa di situ. Hanya dia sendiri. Monas mengambil majalah lalu membukanya.
Dari kamar Hesti, Aira berdiri dan melangkah keluar. Dia berhenti di pembatas teras kamar Hesti. Pandangan matanya menyapu  ke sekeliling taman. Dia terus memandangi bunga-bunga anggrek di taman. Namun pandangan matanya seketika terhenti di pojok taman. Dia melihat di kursi ada seorang pria sedang duduk membaca buku. “Sepertinya aku kenal cowok itu. Rambutnya yang agak panjang itu, apa mungkin dia itu Monas? Tapi kalau seandainya itu dia, ngapain dia ada di sini? Ah nggak mungkin itu dia. Tapi, kok mirip banget ya. Terus motor yang di depan tadi sama seperti yang dibawa Monas. Ah jadi penasaran, mending aku turun aja,gumamnya.
Aira kemudian melangkah dan turun ke bawah. Dia berjalan ke arah pria yang sedang duduk. Aira berhenti di dekatnya setelah yakin jika pria itu adalah Monas.
Aira tersenyum. “Ehm ehm.” 
Monas langsung menoleh saat mendengar ada yang mendeham di dekatnya. Dia tersenyum. “Eh kamu, Ra. Kok kamu ada di sini?” Monas heran.
“Hmm, harusnya aku yang nanya kayak gitu ke kamu, Nas? Ini kan Kost khusus perempuan.”
Monas tersenyum. “Em, aku hanya main ke temenku. Dia kost di sini. Aku ke sini sama Ian, Ra. Lha kalau kamu sendiri?
Aku main ke tempat Hesti. Dia juga kost di sini.”
Keduanya pun tersenyum.
“Em berarti kebetulan ya?” Aira mengangguk. “Oh iya duduk, Ra!”
Aira duduk di samping Monas. “Siapa temen kamu yang kost di sini, Nas?
“Widi, Ra. Dia satu kelas bareng aku sama Ian.”
Ada perlu ya sama dia, Nas?
Enggak kok, aku sama Ian hanya main aja. Aku disuruh ke sini main sama Widi sudah dari dulu, tapi baru sekarang datang ke sini, Ra.”
Oh gitu, kirain .…”
Kirain apa Ra?” sahut Monas.
Ah enggaak.” Aira tersenyum. “Oya kamu habis dari sini mau langsung balik Nas?”
Enggak Ra. Aku ada perlu sama Ian, sama dua temenku yang lain. Emang ada apa?”
Ah nggak ada apa-apa sih. Cuma nanya aja.” Aira tersenyum.
Em tadi siang waktu di kantin aku lihat kamu sama Iwan akrab banget. Iwan itu pacar kamu ya, Ra?”
Aira kaget. “Ah bukan Nas. Kami cuma temen aja kok.” Aira terlihat panik. Jantungnya berdegub kencang. Dia tak menyangka Monas bertanya seperti itu.
Kalau pacar juga nggak apa-apa kok, Ra. Iwan Permana itu kan cowok yang sempurna lho.” Monas tersenyum.
Tapi aku nggak suka sama dia kok Nas,” sahut Aira.
Lho, kurang apa dia itu Ra? Kok kamu nggak mau?” ucap Monas datar.
Em kapan-kapan aku kasih tahu alasannya deh, tapi nggak sekarang.”
Monas tersenyum. “Aku cuma nanya lho, Ra.
Iya Nas, nggak apa-apa kok.”
Aira kemudian mengambil sebuah majalah yang ada di depannya. Dia berusaha terlihat santai. Monas sejenak terdiam, namun kemudian dia teringat sesuatu.
Oya Ra, kalau Iwan permana itu bukan pacar kamu, aku ada titipan salam buat kamu.”
“Ha?” Aira kaget lagi. “Em titipan salam, dari siapa Nas?
Monas tersenyum. “Dari yang mengagumimu, Ra.”
“Iya. Siapa? Aira tersipu. Wajahnya sedikit memerah.
Menurutku cowok ini pas buat kamu, Ra. Dan aku kenal baik dengannya.
Siapa Nas …?” Aira penasaran karena sudah banyak yang memberikan salam untuknya.
Em dia …, Raffi, Ra.”
Ha? Raffi?” Aira nyengir.
Iya, emang kenapa Ra? Pas kan kalau Raffi sama kamu? Aku juga dukung lho.” Monas senyum-senyum.
Ah udahlah Nas. Mending kita ngobrol yang lain aja gimana?”
Lho, aku kan hanya diminta nyalamin ke kamu, Ra. Jadi ya, aku sampaiinlah,” jawab Monas datar. Aira menyunggingkan sedikit bibirnya. “Eh dibalas enggak salamnya?” Aira tetap terdiam. Bibirnya masih rapat. Dia bingung mau menjawab apa kepada Monas. Karena yang diharapkan olehnya justru salam dari pria di depannya, bukan Raffi. Aira mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka lembaran majalah yang dipegangnya. “Hei Ra, gimana?”
Aira tersenyum. Kemudian dia menatap pria di depannya itu sesaat. “Em … kamu juga dapat salam, Nas.” Aira mencoba mengalihkan obrolannya. Dia tak mau terpojok terus dalam obrolannya dengan Monas.
Ha? Aku?” Aira mengangguk “Dari siapa?
Ya dari cewek lah.” Aira tersenyum.
Wah, mendingan janganlah!”
“Cakep lho Nas ….” Aira senyum-senyum.
Monas pun penasaran. “Em aku dapet salam dari siapa Ra?
Sesaat Aira terdiam. Dia tersenyum sambil memandangi wajah Monas. “Dari aku, Nas.”
Mendengar ucapan Aira Monas sontak tertawa namun pelan. “Bisa  aja becandanya kamu, Ra. Hahaha ….”
Kok malah ketawa Nas,” ucap Aira sambil senyum-senyum meski sebenarnya dia juga sedikit malu. Namun berkat kata-katanya tadi kini giliran Monas yang gantian terpojok.   “Eh gimana? Salamku diterima enggak?
Monas hanya tersenyum. Dia tak percaya gadis yang ada di depannya akan berkata seperti itu padanya. “Ya udah aku terima salamnya. Nanti aku simpen di lemari biar awet.
Alhamdulilah diterima, walau disimpennya di lemari, bukan di hati.”
Keduanya pun tertawa bersama. Keduanya kemudian berbicara tentang hal lain dan makin akrab. Setelah beberapa lama mereka ngobrol di dekat taman, Monas teringat harus ke basecamp.
Oya Ra, aku ada perlu yang lain. Maaf ya? Obrolan kita udahan dulu ya? Aku mau ke kamar Widi. Sorry ya Ra?”
Em nggak apa-apa kok Nas. Aku juga mau ke kamar Hesti. Oh iya besok kamu ada acara nggak?”
Ada apa Ra?
Aira tersenyum. “Em cuma pingin ngobrol lagi kayak gini sama kamu. Soalnya asik kalau sama kamu.”
Oh kirain apaan. Besok malam aku enggak bisa, lain kali aja ya Ra?”
“Oke, lain kali aja Nas. Nanti aku hubungi kamu aja, ya?”
“Heum, mari Ra! Assalamu’alaikum ....
Iya Nas. Wa’alaikum salam.”
Monas pun meninggalkan Aira. Sedang Aira hanya tertegun dan termenung sejenak sambil membatin, hemm baru kali ini aku kenal dengan cowok yang benar-benar berbeda. Kamu memang berbeda. Aku kagum padamu, Nas. Aira tersenyum, lalu melangkah kembali ke kamar Hesti.
Heh, dari mana Ra? Kok tumben lama banget.”
Em hanya duduk di kursi deket taman tadi.” Aira langsung duduk di lantai. Dia meraih segelas air sirup lalu meminumnya. “Em, kamu kenal Widi, Hes?
“Widi anak geografi yang kost di sana itu?” Aira mengangguk. “Iya tahu. Aku kenal tapi endak terlalu akrab. Kenapa Ra?
Em cuma nanya aja kok. Orangnya gimana Hes?”
Hesti melihat ke luar dari pintu kamarnya. Orangnya ya biasa aja, kalem, baik. Nah itu orangnya, Ra,” ucapnya sambil menunjuk. “Lho sama siapa dia? Itu kan si Ian.”
“Ian?” sahut Dewi. Dia penasaran dan langsung bergeser ke dekat pintu.
“Bener itu si Ian, sama Monas malahan, Wi. Lho tumben mereka main ke sini ya?” ujar Hesti.
Iya Hes. Ada apa ya?” ucap Dewi.
“Lagi pada main kali,” jawab Aira.
Tumben banget Monas main ke sini.”
“Emang mereka nggak pernah ke sini Hes?” tanya Aira. Dia mencoba mengorek info.
“Em selama ini belum pernah.”
“Eh Hes, Wi, kalian pernah lihat nggak si Monas jalan sama cewek gitu?
Dewi dan Hesti kembali berkumpul. “Em setahuku belum pernah Ra. Malah selama kita kuilah aku belum pernah lihat dia ngeboncengin cewek, Ra. Lha dia itu kan orangnya pendiem juga.” jawab Dewi. Sementara Hesti ikut mengangguk.
“Em Jangan-jangan Monas itu playboy Hes, Wi? Biasanya kan yang diam-diam gitu pinter nyimpen rahasia. Terus ceweknya banyak, bener enggak?”
Hmm, kamu salah Ra, kalau si Monas itu beda dari yang lain. Emang dia sedikit misterius. Tapi kalau dia ngomong bisa, pasti dia usahakan bisa. Dia konsisten dengan janjinya. Dia bisa dipercaya. Dia juga pinter lagi,” jawab Dewi.
Iya Ra, tuh si Dewi aja tahu baiknya Monas gimana.”
Em gitu ya? Aku kan enggak tahu, makanya aku nanya.”
Makanya jangan di rumah gede melulu!” ucap Dewi.
Hesti menatap Aira. “Lho Ra, kok kamu dari tadi nanyain Monas? Wah aku curiga ini Wi.” Hesti senyum-senyum.
Aira tersenyum. “Lha emang kalau aku nanya tentang dia nggak boleh?”
Boleh kok Ra, boleh,” jawab Dewi sambil nyengir, “tapi Hes, sepertinya ada yang mulai kepincut sama dia.”
“Kalau kamu kepincut sama Monas juga ndak apa-apa kok Ra,” ujar Hesti sambil menggoda Aira dengan menaik turunkan alis matanya. Sementara Aira hanya membalas dengan tersenyum saja kepada keduanya sambil memakan kue di depannya.
“Padahal sudah ada mas Iwan, Raffi, sama yang lain ya, Hes?” celetuk Dewi. Sementara Hesti hanya mengangguk.
“Tapi … tunggu-tunggu!” Hesti menatap tajam Aira. “Kamu tadi nanya  tentang Widi anak geografi, kamu tahu dia di sini dari siapa Ra? Kan kamu baru sekali ini ke sini.
“Iya ya Hes,” sahut Dewi.
Aira terdiam. Dia bingung mau berkata apa. Dia terpojok oleh pertanyaan Hesti. “Em tadi aku … ketemu sama Monas di taman tadi.” Aira akhirnya jujur.
“Jadi kamu tadi keluar sampai lama banget tadi sama Monas, Ra?”
Aira nyengir. “Em iya. Tadi kita ngobrol di bawah.”
“Wah kamu pinter ya,  Ra?” ucap Dewi.
“Eh kita cuma ngobrol biasa kok. Makanya dia bilang tadi main ke tempat Widi gitu sama Ian.”
“Halah Ra, sebenarnya kamu suka ya, sama dia?” tanya Hesti.
“Ah enggak kok, kita enggak ada apa-apa.” Aira salah tingkah. Pipinya memerah.
“Sudahlah Ra,  endak usah bohong. Matamu itu endak bisa bohong Ra,” ucap Hesti lagi.
“Ah enggak, beneran. Udah kita bahas yang lain aja.”
“Terus mas Iwan sama Raffi, gimana mereka?”
“Aduh Hesti, Dewi. Udah ya, kan tadi aku udah bilang, semua aku anggap temen.”
“Ya terserah sih. Nanti kalau ada apa-apa, kita endak bisa bantu jangan salahin ya, Wi?” Hesti mengedipkan satu matanya ke Dewi.
Dewi tersenyum. “Iya Hes, habis ada yang endak jujur sih.”
“Aduuh, kalian ini kenapa sih?”
“Ra, sebenernya kalau kamu suka sama si Monas, aku malah dukung kamu. Aku seneng kalau kamu sama dia.”
“Aku juga setuju Hes, kalau Aira sama Monas. Kalian cocok banget malahan. Dan aku juga tahu Monas itu orangnya gimana, Ra.”
“Sudahlah aku pulang aja.” Aira hendak berdiri namun langsung dicegah Hesti.
“Eh jangan ngambek Ra! Gitu aja ngambek.”
“Abis kalian ini, itu aja yang dibahas.”
“Oke, kita bahas yang lain deh. Toh suatu hari nanti juga ada yang jujur ya, Wi?”
“Tuh mulai lagi kan?” Pipi Aira pun memerah.

***

Keesokan harinya, tepatnya hari sabtu, Monas bersiap ke kampus. Setelah berpamitan dengan mbah Putri, seperti biasa dia meluncur dengan motornya. Tiap pagi jalanan kota Solo penuh dengan kendaraan. Apalagi sepeda motor, ibarat  semut yang sangat banyak sedang berjalan beriringan. Bahkan berjubel di tiap perempatan. Sesampai di kampus dia melepas helm dan hendak berjalan, Namun tiba-tiba ada motor yang datang dan berhenti di sampingnya.
Rhung … Rhung …!
“Ehm, tumben kok baru nyampe Ian? Dari mana kowe? Biasanya dah duluan di sini.
“Dari tempat pacarku, Atik. Kemarin kan aku endak jemput dia. Eh dia ngambek, Nas.  Tapi denger-denger juga katanya ada cowok lain yang naksir sama dia. Makanya aku nanti pingin selidiki dulu.”
“Em gitu. Terus kemarin ngobrol sama Widi, gimana?”
“Wah iyo, kemarin seru. Enak ngobrol sama dia. Tapi … dianya nanya soal kowe terus.”
Monas tersenyum. “Nanya apa Ian?” sambil duduk di kursi.
“Dia nanya, apa kowe dah punya pacar belum?”
“Terus kowe jawab apa?”
“Ya aku jawab sepertinya udah. Malah banyak yang kecewa karena berharap kowe. Aku jawab gitu.”
Monas tertawa. “Kowe bisa wae.”
“Kowe endak marah Nas, aku bilang gitu?”
“Ngapain marah, kowe kan sahabatku Ian. Kalau kowe mau sama Widi, silakan saja!”
“Iya Nas. Dia lebih enak dan dewasa lho daripada Atik. Dan sekarang aku kan lagi ada masalah sama Atik. Widi malah jadi penenang hatiku.”
Bahasamu Ian.” Monas tertawa terbahak-bahak. “Nanti beres dari sini langsung ke basecamp  yo?”
“Sip Bro, itu pasti.”

Siang hari mereka berdua berjalan ke tempat parkir dan langsung menuju ke gerbang depan. Agung dan Raffi sudah menunggu. Mereka langsung ke basecamp di tempat bos Baron. Saat di basecamp semua berkumpul membicarakan rencana bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara Bram dan Agung nampak sedikit sibuk memeriksa serta mengetest motor Monas yang akan turun nanti malam.  
“Oke, semua sudah mengerti bagian masing-masing, Bro?” tanya bos Baron.
“Sudah Bos,” ucap semua kompak.
“Clear, ya?”
Clear ….
“Oke, aku pingin nanti jam delapan malem kalian kumpul di sini semua. Terus cabut ke tempat balapan. Kita standby di sana seperti biasanya. Nah, kalian boleh break dulu sampai jam delapan ya? Ingat!! Jam delapan malam kita briefing lagi, Oke Bro?”
“Oke Bos.”
Terlihat ada yang kembali mencoba motor dan ada yang meninggalkan tempat itu lebih dulu dengan keperluan masing-masing. Sementara Monas, Black, Beng-Beng dan Ian meninggalkan basecamp untuk mensurvei tempat untuk turun nanti malam.
“Nas, kita sudah putar-putar area ini beberapa kali. Ini tempat turun nanti malam. Kamu sudah hafal kan area ini sama sekitarnya?” tanya Black.
“Sudah, Black.”
“Kalau gitu sudah tahu kan untuk rencana yang kedua?”
“Iya Black.”
Black mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus, sekarang sudah clear semua. Nah terserah mau balik ke basecamp atau kalian mau ke mana? Yang penting kumpul jam delapan.”
“Em, aku ada perlu dulu. Enggak apa-apa kan, Bro?” ucap Monas.
“Ya nggak apa-apa yang penting kumpul di basecamp jam  delapan.”
“Siap”
“Ya sudah kalau gitu kita berpisah di sini saja. Sampai ketemu nanti malam.” Black dan Beng-Beng pergi meninggalkan Monas dan Ian.
“Kita mau ke mana dulu, Nas?” tanya Ian.
“Aku mau pulang dulu, Ian. Aku belum ngasih makan ikan sama nyiram tanaman strawberry. Gimana?”
“Ya udah kita pulang dulu istirahat bentar.  Toh masih longgar waktunya.”
“Oke Ian, kita cabut.”
“Oke Bro.”
Tak lama kemudian mereka meninggalkan tempat itu yang sudah mereka pelajari.

***


Jam di dinding menunjuk pukul 19.30 terlihat Monas sudah siap dengan jacket kesayangan dan helmnya. Tak lama kemudian terdengar suara knalpot yang menderu di depan rumahnya.  Monas bergegas keluar.
Mereka berangkat ke arah alun-alun. Agung dan Raffi sudah menunggu. Hanya butuh waktu lima belas menit Monas dan Ian sudah sampai. Kemudian mereka berempat melanjutkan lagi berkendara ke basecamp. Keempatanya melaju kencang di jalan yang lurus dan lebar. Sesekali mereka beriringan layaknya sang pemilik jalan. Gambaran gelora anak muda yang sedang meledak-ledak. Seperti ingin menunjukkan bahwa merekalah yang menjadi jagoan di jalanan. Di basecamp, semua anggota team satu persatu pun berdatangan.
Bos Baron langsung menemui Monas. “Oke Jocker,  motor kamu di sana sudah siap. Beri kami kemenangan, oke?”
Siap Bos, aku usahakan.” Monas kemudian menghampiri motor yang akan digunakan balapan. Dia mengelus tangki motor itu. Dia merasa sudah siap untuk balapan malam itu. Dia juga sudah siap untuk menang.
Baik semuanya, kita berangkat setelah ada kabar dari sana. Jadi kalian santai saja dulu, Oke?
Oke Bos.”
Mereka kembali bersantai sambil duduk-duduk di dalam. Sementar Monas memilih keluar ke halaman luar. Dia duduk di luar memandang langit. Hemm cerah sekali malam ini. Bintang-bintang terlihat jelas bertebaran di langit. Angin malam tak terlalu kencang. Dinginnya juga tak menusuk ke tulang.gumamnya. Sesekali dia berdiri dan berjalan. Cukup lama Monas berada di luar. Kemudian Ian datang menghampiri.
“Bro, kata bos Baron, kita berangkat sekarang.
“Sekarang Ian?”
“Iya, kata bos, sekarang.”
Baik, Ian, ayo!Keduanya kemudian melangkah masuk ke basecamp.
Terlihat semua anggota team, termasuk bos Baron sudah mulai bersiap di atas motor masing-masing. Monas menaiki motor dan menstarternya. Jam menunjukkan pukul 10:10. Mereka keluar beriringan menuju tempat balapan. Nampak dua puluh  motor beriringan dengan suara knalpot yang menderu memecah suasana malam. Setiap orang yang melihat nampak takjup dengan iring-iringan tersebut. Tak berapa lama mereka pun sampai di tempat balapan. Di pinggir area balap semua motor terparkir rapih. Berbaris memanjang seperti ular. Dan terlihat sudah ada yang sedang balapan. Sementara team bos Baron masih melihat dan menikmati balapan itu.
Wow, rame banget, Bro,” ucap Raffi.
Iya Kunyang.” Ian melihat sekeliling. “Banyak cewek-ceweknya juga. Endak nyangka aku.”
Iyo, bener. Ceweknya cakep-cakep, Kucrut. Wah endak rugi kita.”
Bener Fi, endak rugi. Ian tersenyum.
Sementara Monas yang duduk di dekat bos Baron hanya terdiam. Namun dia membatin, gila, nggak nyangka tempat ini yang tadi sore sepi, malamnya penuh dengan lautan manusia. Begitu banyak anak muda yang ada di sini.
Salah seorang dari sisi jalan menghampiri bos Baron. Kemudian mereka berjabat tangan.
Hohoho Bro Baron, gimana kabarnya? Udah lama lho kamu sama teammu absent di sini.”
Baik, Bro Dani.
“Sudah siap turun malam ini?”
“Aku siap sekarang.”
“Bagus, udah dapet joki baru sepertinya?
Iya, jokiku baru sekarang, mau coba?
“Boleh. Siapa, Bro?
Jocker.”
Hoho, Jocker. Kita test sekarang, oke?”
“Boleh”
“Dua putaran?”
“Oke.”
“Em kalau gitu aku langsung turunin Adam malam ini. Aku pingin lihat kehebatannya
Oke, deal.
Keduanya pun sepakat. Dani lalu kembali ke barisan teamnya.  Dia mendatangi anggotanya yang memakai motor merah. Dia menepuk pundak seorang cowok yang memakai jacket merah yang membonceng cewek seksi. Sementara bos Baron membisik ke sampingnya.
Jocker, pria yang naik motor merah itu lawanmu malam ini. Kalahkan dia, oke?”
Oke, Bos.”
Nanti Black yang jadi bayanganmu, oke?
Oke, Bos.
Malam ini lawanmu Adam. Hanya dua putaran.
Aku paham Bos.”
Sementara itu Adam dengan motor merahnya  mendekat dan berhenti di depan Monas. Dia berteriak, “Hai anak baru, ayo kita mulai! Jangan berharap bisa menang dariku! Ha?Kemudian dia langsung ke garis start.
Ayo Jocker!  Santai saja, yang penting kalahkan dia, biar nggak sombong dia,ucap Black.
Iya, Black. Aku santai aja kok.” Keduanya kemudian mereka ke garis start. Monas di sebelah kanan. Sedang Adam di sebelah kiri. Terlihat ada dua orang di belakang mereka. Salah satunya adalah Black.
Rhung ... rhuuuungg ...!
Deru kenalpot terdengar menggelegar.
Adam menoleh “Hai anak baru, hati-hati ya? Motormu sudah pasti kalah, ucap Adam.
Kesombongan Adam keluar. Namun Monas seperti biasa. Dia tampak diam dan cuek. Hanya tersenyum kecil dibalik helmnya. Dari pinggir salah seorang cewek berjalan ke depan dan tepat di tengah-tengah mereka. Kemudian dia mengangkat tangan kanannya.
Kalian siap?
Rhung Rhung ...!
Bunyi knalpot menandakan mereka sudah siap. Kedua pembalap terlihat fokus dengan menatap tangan cewek itu.
Oke, Tiga ... dua ... Satu. Go!Tangannya ke bawah dan menunjuk arah depan.
Setelah mendengar Go’, mereka menarik tali gas semaksimal mungkin. Keduanya melesat kencang diikuti dua motor di belakangnya. Riuh suara dan tepuk tangan penonton yang ada di tempat itu turut menyemangati.  Monas dan Adam meliuk-liuk indah di setiap tikungan. Kemudian melesat kencang  lagi saat jalan yang lurus. Hanya dua putaran saja. Saat putaran pertama Adam lebih awal namun saat putaran kedua Monas mampu mendahului Adam di tikungan. Akhirnya Monas sampai di garis finish terlebih dulu. Adam pun akhirnya kalah.
Wow, kamu hebat kuda besiku, kita menang, ucap Monas senang.
Tepuk tangan serta riuhnya suara penonton mengiringi kemenangan Monas.  Adam pun menghampiri Monas dengan wajah murung. Dia tak menyangka bisa kalah dengan sang joki baru yang diremehkannya.
Hai Jocker, motormu hebat. Aku nggak nyangka bisa kalah malam ini dengan joki baru. Lain waktu kita balapan lagi. Tunggu tantanganku berikutnya! Oke?
Monas tersenyum. “Oke. Aku tunggu.”
Adam kembali ke barisan teamnya. Dia nampak kecewa berat. Sementara Monas kembali ke kelompoknya dan langsung disambut ucapan selamat untuknya. Terutama bos Baron.
Bagus Jocker, kita menang malam ini.”
Ya Bos.”
Tak berapa lama Dani menghampiri bos Baron.
Oke, Baron. Jokimu si Jocker, sama motornya malam ini hebat. Lain waktu kita race lagi.” Bos Baron tersenyum bangga. Nanti bayarannya aku kasih ke tempatmu.
Oke, thank’s Bro.”
Dani meninggalkan bos Baron dengan wajah kecewa juga. Karena sebelumnya tadi dia yakin pasti menang. Akan tetapi malah kalah taruhan yang cukup besar malam itu.
Bos, Polisi lagi arah ke sini,” ucap Beng-Beng yang menghampiri.
Oke, Kita cabut sekarang!”
Tak berapa lama mereka pun pergi karena ada polisi yang akan datang merazia. Sambil membunyikan klackson ke lawan. Satu persatu meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan mereka melesat dengan kencang. Mengambil rencana B.

Di kafe.
Selamat, kamu hebat Jocker. Kamu menang. Kita semua menang.” Ucap Ian bangga.
Raffi tertawa. “Brarti sekarang waktunya untuk senang-senang.”
Monas tersenyum. “Trim’s sobatku.”
Selamat Bro, you memang hebat,” ucap Takahasi yang menepuk pundak Monas.
Makasih Takahasi, ini juga berkat kamu sama Agung.”  Sementara Agung tampak sangat senang sekali.
Oke Jocker, thank’s. Kita menang malam ini.”
Makasih juga Bos.
Boas Baron tersenyum dan mengangguk. “Semuanya boleh minum sepuasnya malam ini.” Sontak seisi kafe langsung berteriak girang. [ ]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar