Cemburu
JAM LIMA PAGI Monas sudah terbangun. Dia langsung sholat subuh.
Sedang Ian, masih terhipnotis
dengan tidurnya. Monas
kemudian membantu mbah Putrinya
di dapur, meringankan keseharian neneknya. Hari semakin terang, Monas menghampiri Ian yang masih tidur.
“Heh, Ian, bangun udah
siang!”
“Egh …, jam berapa?”
“Jam enam kurang. Kowe pulang dulu nggak?”
“Egh, ntar lagi,” jawabnya malas.
“Ya udah
terserah kowelah, kalau mau tidur lagi. Tapi aku keluar dulu ya?”
Ian menarik
selimut. “Egh, iya.”
Monas meninggalkan Ian yang masih enggan
untuk bangun. Dia masuk kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Air pagi hari yang dingin membasahi tubuhnya.
Tak lama setelah
itu dia keluar dengan
motornya. Dia mengarah ke sawah untuk menemui orang yang akan membajak sawah setelah
panen yang kemarin. Seperti perintah mbah Putrinya semalam. Dan
benar, saat sampai ternyata dia sudah ditunggu oleh seorang lelaki yang lumayan tua usianya.
“Pak Karso udah lama
nunggunya?”
“Belum, Mas.
Bapak juga baru nyampe kok.”
“Em aku kira udah lama. Gimana, sawah mbah Putri
dibajak hari ini to?”
“Iya Mas.”
“Tapi bapak sudah
sarapan belum? Ini ada sedikit makanan buat sarapan. Biar nggak lemes nanti.” Monas menyodorkan
bungkusan kantong kereseknya.
Monas tersenyum.
“Yo yang ini buat nanti kalau ngerasa lapar lagi.”
Pak Karso pun
menerimanya. “Eh Mas,
sawah sini masih beruntung lho,
panennya kemarin bagus.”
“Alhamdulillah Pak. Lho, emangnya ada yang nggak panen?”
“Ada Mas, tapi bukan daerah sini. Tuh yang di dekat bukit sana,”
ucapnya sambil menunjuk ke tempat yang di maksud. Kasihan, hampir semua keserang tikus. Terus di
daerah barat sana juga gagal panen
katanya. Sampai harus tanam benih lagi lho, Mas. Pokoknya kasihan jadi petani sekarang, Mas.”
Monas terdiam.
Dia merasa iba. “Bener Pak Karso. Memang kasihan jadi petani. Sekarang makin
tambah susah hidupnya. Ya, tapi kita harus berusaha Pak, biar nggak terlalu susah.
Gimana bener nggak? Yang
penting tetep bersyukur sama Sang Pencipta, biar bagaimanapun keadaannya.”
“Bener Mas, kita tetep harus bersyukur. Yo wis bapak mau kerja dulu yo? Biar cepat selesai. Monggo Mas .…”
“Monggo-monggo, Pak.”
Lelaki tua itu
kemudian meninggalkan Monas. Sementara Monas kembali terdiam.
“Ah benar, jadi
petani saat ini memang semakin susah. Semakin berat. Hasilnya nggak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup
yang semakin banyak dan mahal. Dari urusan makan, urusan pendidikan, urusan
sakit, sampai urusan yang lainnya.
Semua membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kalau hanya mengandalkan dari hasil bertani yang pas-pasan semua itu sudah pasti kurang. Ya Allah, mudah-mudahan
kami ini
diberi petunjuk serta kemudahan dalam
segala urusannya. Aku juga akan
berpikir dan berusaha. Aamiin,” gumamnya.
Monas kembali ke
rumahnya. Dia berjalan mendekati mbah
Putri di kamar belakang.
“Yo wis, nanti tinggal cari orang untuk
tandur. Kamu sarapan sana! Ini sudah siang, kamu
kuliah to?”
“Inggih Mbah. Lha, Ian sudah bangun belum?”
Monas kaget Ian
belum bangun. “Ah bener-bener. Ya sudah Mbah, mau aku
bangunin dia. Udah siang ini.”
Monas melangkah
masuk kamar dan langsung membangunkan Ian yang masih lelap. Dia menggerak-gerakan tubuhnya.“Heh, bangun wong ndablek,[5]
ini udah siang. Ayo kuliah! Nanti telat lho. Ayo bangun!”
“Egh, dah siang?” Mata Ian terasa berat untuk
dibuka.
“Iya, udah siang. Kowe pulang dulu apa langsung berangkat dari
sini?”
Ian kemudian
duduk sambil menyenderkan tubuhnya di dinding. Namun matanya masih rapat. “Aku pulang dulu Nas, ambil laptop sama ganti baju. Tapi
aku mandi di sini yo?”
“Iya, cepetan mandi sana! Aku tunggu di ruang makan ya?”
Ian menguap. “Iyo yo. Eh enak tenan kamarmu ini, aku sampai angler.”
Monas kemudian
menarik tangan Ian. “Halah udah cepet mandi sana, ini dah siang. Cepet!”
Dengan sangat
terpaksa Ian pun mengikuti perintah Monas.
Setelah sarapan
bersama keduanya meluncur ke kampus dengan motor kesayangan mereka, melaju menyusuri jalanan Sukoharjo. Terlihat masih banyak area persawahan sedang memasuki musim tanam.
Air masih melimpah, yang berasal dari irigasi waduk di Wonogiri. Fasilitas dari pemerintah untuk menghasilkan panen dalam setahun bisa lebih dari satu kali. Sebuah cara memakmurkan petani yang
dulunya hanya bisa panen
setahun sekali. Namun bagi Monas sebuah kemakmuran yang diharapkan oleh
banyak petani, masih sangat jauh untuk bisa dirasakan.
Tak berapa lama mereka sudah sampai. Keduanya
duduk. Ian terlihat kurang bersemangat.
“Ah belajar lagi, bosen aku, Nas,” keluh
Ian.
“Heh, namanya juga kuliah Ian, bukan
nongkrong.”
“Ah bisa wae kowe. Nanti kita ngetest motor di mana?”
“Di sekitar Wonogiri ya? Biar nggak
bosen.”
“Oke Bro, nanti kita
ke sana. Tapi aku udah yakin
kamu pasti menang Bro, besok.”
“Mudah-mudahan, ya?”
“Berarti nanti kita ke tempat kafenya bos Baron?”
“Aku nggak ah, kowe aja nanti ya? Aku males yang gituan, Bro.”
“Iya, aku ngerti Bro.”
Tak lama kemudian proses belajar pun dimulai. Semua
mahasiswa nampak proaktif dengan mata
kuliah yang diberikan oleh sang dosen. Situasi yang tepat untuk sebuah
proses belajar. Hanya Ian yang terlihat tak bersemangat. Dia selalu saja melihat ke arah Widi duduk, hingga
jam belajar selesai.
Sementara itu
Aira, Dewi dan Hesti terlihat keluar ruangan mereka.
“Em Hes, Wi, aku ke perpus dulu ya? Ada
perlu.”
“Kamu endak ke kantin, Ra?”
“Nanti aja aku nyusul.”
“Ya udah
nanti kita tunggu. Pasti banyak cowok di kantin yang kecewa siang ini sepertinya,” ucap Hesti meledek.
Aira tersenyum. “Ah bisa aja. Dah aku duluan ya?”
“Oke deh.”
Aira melangkah
menuju ke perpus. Sampai di perpus Aira masuk ke dalam dan langsung mencari-cari buku. Dia kembali mendapati Monas yang sedang santai membaca di
tempat favoritnya. Aira sejenak
memandang kagum kepada pria itu.
Dia mengagumi Monas sebagai pribadi yang berbeda di antara yang lain. Hmm,
memang kamu cowok yang menarik, Nas. Hanya sedikit yang aku tahu
darimu. Dan ini yang membuatku penasaran sama kamu. Mungkin gadis
yang lain juga sama sepertiku. Kamu baik, pintar, santai, cuek, mengagumkan dan
apa adanya. Ah aku jadi pingin ngobrol sama
dia, batinnya.
Aira melangkah
mendekati Monas dan berhenti
tepat di sampingnya.
“Hai, serius amat bacanya,” tegur Aira pelan
sambil tersenyum.
Monas menoleh.
Dia membalas senyum Aira. “Oh
kamu, Ra. Kirain siapa? Mau
baca buku juga?”
“Iya, tapi mau baca di rumah aja.”
“Kirain mau baca di sini.”
“Em boleh ngobrol bentar nggak?” Aira terlihat agak malu-malu.
“Boleh. Ada perlu apa Ra?”
“Em nggak penting sih, tapi gimana ya?” Saat melihat
sekeliling dia menjadi ragu. “Em tapi nggak jadi Nas, ini di perpus. Nanti aku telepon
aja ya?” Aira jadi salah tingkah.
Entah kenapa tiba-tiba dia jadi berubah saat berhadapan dengan Monas.
“Aneh kamu, Ra.
Tadi katanya ada perlu. Eh tapi terus nggak jadi.”
“Iya, nggak enak aja di sini. Nanti aku telepon aja, em aku duluan ya? Assalamualaikum ....”
“Iya, waalaikum salam.”
Aira kemudian ke tempat penjaga perpus sambil menunjukkan buku yang dipinjamnya. Dengan perasaan yang salah tingkah dan
gugup, dia mengurungkan niatnya berbicara dengan Monas. Dia tak mau bila berdua dengan Monas akan
menjadi bahan pembicaraan di kampus. Sementara Monas merasa ada yang aneh dengan Aira. Namun kemudian dia
kembali larut pada bukunya lagi.
Aira melangkah keluar menuju kantin menyusul
kedua temannya. Dia menghampiri Hesti dan Dewi. Namun di tempat itu sudah ada Iwan Permana dan Doni Angga Kusuma.
“Hai Aira, kok baru datang? Dari perpus ya?” tanya Iwan.
“Iya Mas, habis minjem buku buat dibaca.”
“Buku apa, Ra?”
“Buku management, Mas. Karena di sini ada
banyak ya, aku minjem aja.”
“Em kalau butuh buku yang lain,
aku pinjemin kamu. Aku juga punya, Ra.”
“Em makasih Mas. Enggak usah, yang ini aja belum dibaca.”
“Endak apa-apa Ra. Kamu tinggal ngomong aja ya? Nanti pasti Iwan bawain kok,” ucap Doni.
“Makasih banget
Mas. Nggak usah, nanti aja.”
“Ya udah
yang penting endak usah sungkan sama aku ya? Eh, kamu mau makan apa? Biar aku yang ambilin.”
“Ah nggak usah. Biar Aira ambil sendiri, Mas.” Aira berusaha menolak.
“Ehm ehm, endak apa-apa Ra, sekali-kali diambilin Mas Iwan.” Hesti tersenyum.
“Aira kalau di sini sukanya
makan kue atau roti, yang penting rasa coklat, Mas.”
“Ya udah,
aku pesenin ya? Nanti sekalian aku bawain. Kamu di sini aja!”
Iwan lalu melangkah dan memesan yang disukai Aira.
“Hes, aduh, nggak enak aku,” bisik Aira.
Hesti kembali
tersenyum. “Udah dienakin
aja. Mas Iwan kan baik,
perhatian lagi.”
“Awas kamu, Hes!” Aira nampak kesal dengan Hesti.
Sementara di meja yang lain, kedua
mata Raffi selalu memandang ke arah
Aira. Dia sedikit cemburu karena nampak sangat
akrab dengan Iwan. Raffi tahu Iwan juga ingin mendapatkan hati Aira. Ian tersenyum
melihat Raffi yang sedang panas
hatinya.
“Eh Gung, kowe nyium bau ada
yang gosong endak?”
Agung menoleh. “Bau gosong?” Agung mencoba
menghirup udara sekitarnya. ”Endak, Ian.
Aku endak nyium bau gosong.” Agung menghirup sekali lagi. “Endak ada
yang gosong ah.”
“Masa Gung? Bau hati
gosong?”
“Hati gosong?”
Agung bingung karena tak ada aroma yang kebakar disitu. “Kan, di sini kita nggak ada yang makan. Kita cuma ada kopi
ini. Aku cuma nyium bau kopi, Ian.”
Ian tersenyum. “Ada ah. Tuh!” Mata Ian melirik ke
Raffi. Sementara tangannya menunjuk ke dada.
Agung sejenak
menatap Raffi yang pandangannya masih ke Aira. “Em, iyo sekarang baru nyium aku. Bau hati gosong.” Agung langsung
nyengir.
“Bener kan, gosong …?”
“Wah kalau yang ini gosong buanget, Ian”
Agung tertawa sambil melihat ke Raffi. Raffi awalnya tak tahu namun akhirnya
sadar kalau omongan itu yang sedari
tadi ternyata menyindirnya.
“Ah, kampret kowe kabeh emang.”
Agung dan Ian
tertawa puas.
“Hahaha, ada yang hatinya panas kebakar api cemburu sampai gosong.”
Ian tertawa terus.
“Tenang Bro, nanti akulah yang bakal dapetin dia,” ucap
Raffi membela diri.
Saat yang
bersamaan Monas datang
menghampiri. “Wah lagi seneng ya? Apa senengnya? Bagi-bagilah!”
“Hahaha, tenang Nas, kowe juga kebagian hati gosong kok,” ucap Agung sambil memegangi perut.
“Hati gosong? Maksudnya?” Monas bingung.
“Tuh lihat sana!
Siapa yang sama Aira itu?” Monas menatap ke meja Aira. “Eh, di sini ada yang hatinya
panas … sampai gosong malah. Baunya ke mana-mana.”
Ian tertawa puas.
“Oh kirain apa? Bisaan kowe Ian.” Monas melihat Raffi yang jadi obyek
pembicaraan itu ikut tertawa pelan.
Setelah tertawa
puas mereka kemudian membicarakan tentang rencana besok malam. Mereka akan turun ngetrack untuk yang pertama dengan team bos Baron. Mereka nampak serius
membicarakan hal itu.
Sesekali mata
Aira memandang ke arah Monas duduk. Akan tetapi mata Raffi lah yang
sering bertemu pandang. Hatinya terlonjak karena pandangan mata dan senyuman
Aira dikira untuknya. Dan itu yang membuat hatinya sedikit dingin dibandingkan yang tadi.
“Oh iya Bro, besok pagi kita coba motornya lagi ya?” tanya Monas.
“Siap Bro,”ucap ketiganya kompak.
“Berarti ini dah
beres. Kalau gitu aku tinggal dulu ya? Sorry ninggal
kalian,” ucap Agung lalu berdiri.
“O ya, aku juga duluan yo?” ucap Raffi yang juga berdiri.
“Lho emang hatinya yang gosong udah fresh lagi?” tanya Ian.
“Udah tadi, dia udah senyum sama
aku, Kucrut. Hehehe, aku
duluan yo?”
“Iyo,” jawab Monas dan Ian.
Raffi dan Agung
kemudian pergi menuju kelasnya masing-masing. Sementara Monas dan Ian masih
duduk sambil menikmati kopi mereka sambil melihat ke arah meja Aira. Dan dalam waktu
bersamaan Aira tersenyum kepada Monas. Monas pun membalas senyuman itu. Ian melihat itu merasa bingung. Dari tadi Aira senyum ke
arah sini buat Raffi apa Monas, ya? Jangan jangan …, pikirnya.
“Ehm Nas, kamu kenal Aira”
“Ya kenal lah Ian. Semua mahasiswa sini siapa yang nggak tahu
dia.”
“Deket sama
dia?”
“Ha? ya kalau
deket sih enggak. Emang ada apa Ian?”
“Egh, endak ada apa-apa Nas. Kok tadi senyum ke kamu
agak beda ya perasaanku.”
Monas tertawa pelan.
“Ah aneh kowe. Dia senyum ya aku balas senyum. Bedanya
gimana?”
“Ah endak kok, Nas. Eh kelar kuliah kita endak langsung pulang ya? Kita main
dulu yuk!” Ian mengalihkan pembicaraanya. Namun dia masih merasa curiga dengan
senyuman Aira tadi.
“Em boleh. Terus enaknya main ke mana?”
“Ke kostnya Widi aja yuk!” ucap Ian.
“Hmm, emang itu pinginmu.”
Ian nyengir
kuda. “Sekali-kali, Nas.”
“Yo wis, terserah kowe wae.”
Dengan senangnya Ian kemudian bergegas berdiri
dan membayar minum itu. Kemudian keduanya
melangkah keluar sambil melewati depan meja Aira. Dan untuk kesekian
kalinya Ian melihat Aira memberikan senyum dan tatapan mata yang berbeda ke arah
Monas.
“Eh Hes, Wi, ayo kita ke kelas!”
“Oh iya. Ayo! Mas Iwan sama Mas Doni, kita duluan ya? Makasih nih makan
siangnya.”
“Lho, kok buru-buru? Santai dulu kenapa?”
“Makasih Mas. Kita ada mata kuliah lagi nih,”
ucap Hesti.
“Em kalau gitu ya sudah. Aku
makasih juga ya Wi, Hes dan kamu, Aira?”
“Sama-sama Mas,” jawab Aira
Saat berjalan ke
kelas mereka, Hesti bertanya, “Ra, kamu kenapa kok sepertinya endak betah gitu tadi?”
“Iya Ra, kenapa?” ucap Dewi
juga.
“Egh, nggak ada
apa-apa kok,” sanggah Aira, “eh, aku main ke kostmu yang
baru ya nanti kelar kuliah?” Aira mengalihkan pembicaraanya.
“Wah tumben mau main? Biasanya diajakin nggak mau terus,” ucap Hesti.
“Boleh, enggak …?”
“Ya Boleh, Ra.” Hesti tersenyum. “Pas,
aku juga enggak bawa mobil, jadi ngikut mobil kamu aja ya?”
Aira mengangguk
dan tersenyum.
Selesai kuliah
sore itu Aira ke tempat kost
Hesti yang baru. Saat
akan masuk, Aira melihat dua motor terparkir yang seperti tak asing
baginya. Sepertinya dia mengenal
dengan orang yang membawa motor itu. Dia berhenti
sejenak. Namun kemudian dia berjalan lagi menyusul temannya. Pandanganya terpaku sesaat
pada taman indah yang ada bangunan berlantai tiga itu. Ada banyak pohon anggrek
yang sedang berbunga.
Hesti membuka
kamar. “Ra, ayo masuk! Endak usah malu-malu. Sorry kamarnya jelek n berantakan.”
“Ah kamu ini Hes, seperti sama orang lain aja,” ucap Aira.
“Eh mau minum apa? Yang biasa atau yang dingin?”
“Yang dingin lah,” sahut Dewi dengan cepat.”
Hesti terkekeh.
“Udah kehausan ya Wi?” Dewi mengangguk kepalanya.
Sementara di tempat
yang sama, di kamar Widi nampak suasana sedikit agak ramai. Ian selalu bercanda. Dan sesekali tangannya meraih
makanan ringan di depannya. Sedang Monas lebih banyak berdiam diri dan
hanya tersenyum. Setelah beberapa saat kemudian...
“Em Wid, aku keluar bentar ya?” ucap Monas.
“Lho mau kemana Nas,” ucap Widi.
“Aku pingin ke bawah bentar, lihat taman
tadi.” Monas langsung berdiri. “Oke Ian, aku ke bawah dulu ya?”
“Iya Bro.”
Monas lalu melangkah
keluar kamar. Dia terus berjalan menuju tangga. Terlihat beberapa perempuan di
kost itu yang memandanginya. Monas
berjalan ke bawah dan terus melewati pinggiran taman. Dia langsung duduk di kursi pojok taman. Tak ada siapa-siapa di situ.
Hanya dia sendiri. Monas mengambil majalah lalu membukanya.
Dari kamar
Hesti, Aira berdiri dan melangkah keluar. Dia berhenti di pembatas teras kamar
Hesti. Pandangan matanya
menyapu ke sekeliling taman. Dia terus
memandangi bunga-bunga anggrek di taman. Namun pandangan matanya seketika terhenti di pojok taman. Dia melihat
di kursi ada seorang pria sedang duduk membaca buku. “Sepertinya aku kenal cowok itu. Rambutnya
yang agak panjang itu, apa
mungkin dia itu Monas? Tapi kalau seandainya itu dia,
ngapain dia ada di sini? Ah nggak
mungkin itu dia. Tapi, kok mirip
banget ya. Terus motor yang di depan tadi sama seperti yang dibawa Monas. Ah
jadi penasaran, mending aku
turun aja,” gumamnya.
Aira kemudian
melangkah dan turun ke bawah. Dia berjalan ke arah pria yang sedang duduk. Aira
berhenti di dekatnya setelah yakin
jika pria itu adalah Monas.
Aira tersenyum. “Ehm ehm.”
Monas langsung
menoleh saat mendengar ada yang mendeham di dekatnya. Dia tersenyum. “Eh kamu, Ra. Kok kamu ada di sini?”
Monas heran.
“Hmm, harusnya
aku yang nanya kayak gitu ke kamu, Nas? Ini kan Kost khusus perempuan.”
Monas tersenyum.
“Em, aku hanya main ke temenku. Dia kost di sini. Aku ke sini sama Ian,
Ra. Lha kalau kamu sendiri?”
“Aku main ke tempat Hesti. Dia juga kost di sini.”
Keduanya pun
tersenyum.
“Em berarti kebetulan ya?” Aira
mengangguk. “Oh iya duduk,
Ra!”
Aira duduk di
samping Monas. “Siapa temen
kamu yang kost di sini, Nas?”
“Widi, Ra. Dia
satu kelas bareng aku sama
Ian.”
“Ada perlu ya sama dia, Nas?”
“Enggak kok, aku sama Ian hanya main aja. Aku disuruh ke sini main sama Widi sudah dari dulu, tapi baru sekarang datang ke sini, Ra.”
“Oh gitu, kirain .…”
“Kirain apa Ra?” sahut Monas.
“Ah enggaak.” Aira tersenyum. “Oya kamu habis dari sini mau langsung balik Nas?”
“Enggak Ra. Aku ada perlu sama Ian, sama
dua temenku yang lain. Emang ada apa?”
“Ah nggak ada apa-apa sih. Cuma nanya aja.” Aira tersenyum.
“Em tadi siang waktu di kantin aku lihat
kamu sama Iwan akrab banget. Iwan itu pacar kamu ya, Ra?”
Aira kaget. “Ah bukan Nas. Kami cuma temen aja kok.” Aira terlihat panik. Jantungnya berdegub
kencang. Dia tak menyangka Monas bertanya seperti itu.
“Kalau pacar juga nggak apa-apa kok, Ra. Iwan Permana itu kan cowok yang sempurna lho.”
Monas tersenyum.
“Tapi aku nggak suka sama
dia kok Nas,” sahut Aira.
“Lho, kurang apa dia itu Ra? Kok kamu nggak mau?” ucap Monas datar.
“Em kapan-kapan aku kasih tahu
alasannya deh, tapi nggak sekarang.”
Monas tersenyum.
“Aku cuma nanya lho, Ra.”
“Iya Nas, nggak apa-apa kok.”
Aira kemudian
mengambil sebuah majalah yang ada di depannya. Dia berusaha terlihat santai.
Monas sejenak terdiam, namun kemudian dia teringat sesuatu.
“Oya Ra, kalau Iwan permana itu bukan pacar
kamu, aku ada titipan salam buat kamu.”
“Ha?” Aira kaget
lagi. “Em titipan salam, dari
siapa Nas?”
Monas tersenyum.
“Dari yang mengagumimu, Ra.”
“Iya. Siapa?” Aira tersipu. Wajahnya sedikit memerah.
“Menurutku cowok ini pas buat kamu, Ra. Dan
aku kenal baik dengannya.”
“Siapa Nas …?” Aira penasaran karena sudah
banyak yang memberikan salam
untuknya.
“Em dia …, Raffi, Ra.”
“Ha? Raffi?” Aira nyengir.
“Iya, emang kenapa Ra? Pas kan kalau Raffi sama kamu? Aku juga dukung lho.”
Monas senyum-senyum.
“Ah udahlah Nas. Mending kita ngobrol yang
lain aja gimana?”
“Lho, aku kan hanya diminta nyalamin ke kamu,
Ra. Jadi ya, aku sampaiinlah,” jawab Monas datar. Aira menyunggingkan sedikit
bibirnya. “Eh dibalas enggak
salamnya?” Aira tetap terdiam. Bibirnya masih rapat. Dia bingung mau menjawab
apa kepada Monas. Karena yang diharapkan olehnya justru salam dari pria di
depannya, bukan Raffi. Aira mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka
lembaran majalah yang dipegangnya. “Hei Ra, gimana?”
Aira tersenyum. Kemudian
dia menatap pria di depannya itu sesaat. “Em … kamu juga dapat salam, Nas.” Aira mencoba mengalihkan
obrolannya. Dia tak mau terpojok terus dalam obrolannya dengan Monas.
“Ha? Aku?” Aira mengangguk “Dari siapa?”
“Ya dari cewek lah.” Aira tersenyum.
“Wah, mendingan janganlah!”
“Cakep lho Nas
….” Aira senyum-senyum.
Monas pun penasaran.
“Em aku dapet salam
dari siapa Ra?”
Sesaat Aira
terdiam. Dia tersenyum sambil memandangi wajah Monas. “Dari aku, Nas.”
Mendengar ucapan
Aira Monas sontak tertawa namun pelan. “Bisa aja becandanya kamu, Ra. Hahaha ….”
“Kok malah ketawa Nas,” ucap Aira sambil
senyum-senyum meski
sebenarnya dia juga sedikit malu. Namun berkat kata-katanya tadi kini giliran
Monas yang gantian terpojok. “Eh
gimana? Salamku diterima enggak?”
Monas hanya tersenyum.
Dia tak percaya gadis yang ada di depannya akan berkata seperti itu padanya. “Ya udah aku terima salamnya. Nanti aku simpen di lemari biar awet.”
“Alhamdulilah diterima, walau disimpennya di lemari, bukan di hati.”
Keduanya pun
tertawa bersama. Keduanya kemudian berbicara tentang hal lain dan makin akrab.
Setelah beberapa lama mereka ngobrol di dekat taman, Monas teringat harus ke basecamp.
“Oya Ra, aku ada perlu yang lain. Maaf ya? Obrolan kita udahan
dulu ya? Aku mau ke kamar
Widi. Sorry ya
Ra?”
“Em nggak apa-apa kok Nas. Aku juga mau ke kamar Hesti. Oh iya besok kamu ada acara nggak?”
“Ada apa Ra?”
Aira tersenyum. “Em cuma pingin ngobrol lagi kayak gini sama kamu. Soalnya asik kalau sama kamu.”
“Oh kirain apaan. Besok malam aku enggak bisa, lain kali aja ya Ra?”
“Oke, lain kali aja Nas. Nanti aku hubungi kamu aja, ya?”
“Heum, mari Ra! Assalamu’alaikum ....”
“Iya Nas. Wa’alaikum
salam.”
Monas pun meninggalkan Aira. Sedang Aira hanya tertegun dan termenung sejenak sambil membatin, hemm
baru kali ini aku kenal dengan cowok yang benar-benar
berbeda. Kamu memang berbeda. Aku kagum padamu, Nas.
Aira tersenyum, lalu melangkah kembali ke kamar Hesti.
“Heh, dari mana Ra? Kok tumben lama banget.”
“Em hanya duduk di kursi deket taman tadi.” Aira langsung duduk di
lantai. Dia meraih segelas air sirup lalu meminumnya. “Em, kamu kenal Widi, Hes?”
“Widi anak
geografi yang kost di sana itu?” Aira mengangguk. “Iya tahu. Aku kenal tapi endak
terlalu akrab. Kenapa Ra?”
“Em cuma nanya aja kok. Orangnya gimana Hes?”
Hesti melihat ke luar dari pintu kamarnya. “Orangnya ya biasa aja, kalem, baik.
Nah itu orangnya, Ra,”
ucapnya sambil menunjuk. “Lho sama
siapa dia? Itu kan si Ian.”
“Ian?” sahut Dewi. Dia penasaran dan
langsung bergeser ke dekat pintu.
“Bener itu si Ian,
sama Monas malahan, Wi. Lho tumben mereka main ke sini ya?” ujar Hesti.
“Iya Hes. Ada apa ya?” ucap Dewi.
“Lagi pada main
kali,” jawab Aira.
“Tumben banget Monas main ke sini.”
“Emang mereka
nggak pernah ke sini Hes?” tanya Aira. Dia mencoba mengorek info.
“Em selama ini
belum pernah.”
“Eh Hes, Wi,
kalian pernah lihat nggak si Monas jalan sama cewek gitu?
Dewi dan Hesti
kembali berkumpul. “Em setahuku belum pernah Ra. Malah selama kita kuilah aku belum
pernah lihat dia ngeboncengin cewek, Ra. Lha dia itu kan orangnya pendiem juga.”
jawab Dewi. Sementara Hesti ikut mengangguk.
“Em Jangan-jangan Monas itu playboy Hes, Wi? Biasanya kan yang diam-diam gitu pinter nyimpen rahasia. Terus ceweknya banyak, bener enggak?”
“Hmm, kamu salah Ra, kalau si Monas itu beda dari yang lain. Emang dia sedikit misterius. Tapi kalau dia ngomong bisa, pasti dia usahakan bisa. Dia konsisten
dengan janjinya. Dia bisa dipercaya.
Dia juga pinter lagi,” jawab Dewi.
“Iya Ra, tuh si Dewi aja tahu baiknya Monas gimana.”
“Em gitu ya? Aku kan enggak tahu, makanya aku nanya.”
“Makanya jangan di rumah gede melulu!” ucap
Dewi.
Hesti menatap
Aira. “Lho Ra, kok kamu dari
tadi nanyain Monas? Wah aku curiga ini Wi.” Hesti senyum-senyum.
Aira tersenyum.
“Lha emang kalau aku nanya tentang dia nggak boleh?”
Boleh kok Ra,
boleh,” jawab Dewi sambil nyengir, “tapi Hes, sepertinya ada yang mulai kepincut
sama dia.”
“Kalau kamu
kepincut sama Monas juga ndak apa-apa kok Ra,” ujar Hesti sambil menggoda Aira
dengan menaik turunkan alis matanya. Sementara Aira hanya membalas dengan
tersenyum saja kepada keduanya sambil memakan kue di depannya.
“Padahal sudah
ada mas Iwan, Raffi, sama yang lain ya, Hes?” celetuk Dewi. Sementara Hesti
hanya mengangguk.
“Tapi …
tunggu-tunggu!” Hesti menatap tajam Aira. “Kamu tadi nanya tentang Widi anak geografi, kamu tahu dia di sini dari siapa Ra? Kan kamu baru sekali ini ke sini.”
“Iya ya Hes,”
sahut Dewi.
Aira terdiam.
Dia bingung mau berkata apa. Dia terpojok oleh pertanyaan Hesti. “Em tadi aku … ketemu sama Monas di
taman tadi.” Aira akhirnya jujur.
“Jadi kamu tadi
keluar sampai lama banget tadi
sama Monas, Ra?”
Aira nyengir. “Em
iya. Tadi kita ngobrol di bawah.”
“Wah kamu pinter
ya, Ra?” ucap Dewi.
“Eh kita cuma
ngobrol biasa kok. Makanya dia bilang tadi main ke tempat Widi gitu sama Ian.”
“Halah Ra, sebenarnya
kamu suka ya, sama dia?” tanya Hesti.
“Ah enggak kok,
kita enggak ada apa-apa.” Aira salah tingkah. Pipinya memerah.
“Sudahlah Ra, endak usah bohong. Matamu itu endak bisa
bohong Ra,” ucap Hesti lagi.
“Ah enggak,
beneran. Udah kita bahas yang lain aja.”
“Terus mas Iwan
sama Raffi, gimana mereka?”
“Aduh Hesti,
Dewi. Udah ya, kan tadi aku udah bilang, semua aku anggap temen.”
“Ya terserah
sih. Nanti kalau ada apa-apa,
kita endak bisa bantu jangan salahin ya, Wi?” Hesti mengedipkan satu matanya ke
Dewi.
Dewi tersenyum. “Iya
Hes, habis ada yang endak jujur sih.”
“Aduuh, kalian
ini kenapa sih?”
“Ra, sebenernya
kalau kamu suka sama si Monas, aku malah dukung kamu. Aku seneng kalau kamu sama dia.”
“Aku juga setuju
Hes, kalau Aira sama Monas. Kalian cocok banget malahan. Dan aku juga tahu
Monas itu orangnya gimana, Ra.”
“Sudahlah aku
pulang aja.” Aira hendak berdiri namun langsung dicegah Hesti.
“Eh jangan
ngambek Ra! Gitu aja ngambek.”
“Abis kalian
ini, itu aja yang dibahas.”
“Oke, kita bahas
yang lain deh. Toh suatu hari nanti juga ada yang jujur ya, Wi?”
“Tuh mulai lagi
kan?” Pipi Aira pun memerah.
***
Keesokan
harinya, tepatnya hari sabtu, Monas bersiap ke kampus. Setelah berpamitan
dengan mbah Putri, seperti biasa dia meluncur dengan motornya. Tiap pagi jalanan kota Solo penuh dengan
kendaraan. Apalagi sepeda motor, ibarat semut yang sangat banyak sedang berjalan
beriringan. Bahkan
berjubel di tiap perempatan. Sesampai di kampus dia melepas helm dan hendak berjalan,
Namun tiba-tiba ada motor yang datang dan berhenti di sampingnya.
Rhung … Rhung …!
“Ehm, tumben kok
baru nyampe Ian? Dari mana kowe?
Biasanya dah duluan di sini.”
“Dari tempat
pacarku, Atik. Kemarin kan aku endak jemput dia. Eh dia ngambek, Nas. Tapi denger-denger juga katanya ada cowok lain
yang naksir sama dia. Makanya aku nanti pingin selidiki dulu.”
“Em gitu. Terus
kemarin ngobrol sama Widi, gimana?”
“Wah iyo, kemarin
seru. Enak ngobrol sama dia. Tapi … dianya nanya soal kowe terus.”
Monas tersenyum.
“Nanya apa Ian?” sambil duduk di kursi.
“Dia nanya, apa
kowe dah punya pacar belum?”
“Terus kowe
jawab apa?”
“Ya aku jawab
sepertinya udah. Malah banyak yang kecewa karena berharap kowe. Aku jawab gitu.”
Monas tertawa. “Kowe
bisa wae.”
“Kowe endak marah
Nas, aku bilang gitu?”
“Ngapain marah,
kowe kan sahabatku Ian. Kalau kowe mau sama Widi, silakan saja!”
“Iya Nas. Dia
lebih enak dan dewasa lho daripada Atik. Dan sekarang aku kan lagi ada masalah
sama Atik. Widi malah jadi penenang hatiku.”
Bahasamu Ian.”
Monas tertawa terbahak-bahak. “Nanti beres dari sini langsung ke basecamp yo?”
“Sip Bro, itu
pasti.”
Siang hari mereka
berdua berjalan ke tempat parkir dan langsung menuju ke gerbang depan. Agung dan Raffi sudah menunggu. Mereka langsung
ke basecamp di tempat bos Baron. Saat di basecamp semua berkumpul membicarakan
rencana bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara Bram dan Agung
nampak sedikit sibuk memeriksa serta mengetest motor Monas yang akan turun
nanti malam.
“Oke, semua
sudah mengerti bagian masing-masing, Bro?” tanya bos Baron.
“Sudah Bos,” ucap semua kompak.
“Clear, ya?”
“Clear ….”
“Oke, aku pingin
nanti jam delapan malem kalian kumpul di sini semua. Terus cabut ke tempat
balapan. Kita standby di sana seperti biasanya. Nah, kalian boleh break dulu
sampai jam delapan ya? Ingat!! Jam delapan malam kita briefing lagi, Oke Bro?”
“Oke Bos.”
Terlihat ada yang kembali mencoba motor dan ada yang
meninggalkan tempat itu lebih dulu dengan keperluan masing-masing. Sementara
Monas, Black, Beng-Beng dan Ian meninggalkan basecamp untuk mensurvei tempat untuk
turun nanti malam.
“Nas, kita sudah
putar-putar area ini beberapa kali. Ini tempat turun nanti malam. Kamu sudah
hafal kan area ini sama sekitarnya?” tanya Black.
“Sudah, Black.”
“Kalau gitu
sudah tahu kan untuk rencana yang kedua?”
“Iya Black.”
Black
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus, sekarang sudah clear semua. Nah
terserah mau balik ke basecamp atau kalian mau ke mana? Yang penting kumpul jam
delapan.”
“Em, aku ada
perlu dulu. Enggak apa-apa kan, Bro?” ucap Monas.
“Ya nggak
apa-apa yang penting kumpul di basecamp jam
delapan.”
“Siap”
“Ya sudah kalau
gitu kita berpisah di sini saja. Sampai ketemu nanti malam.” Black dan
Beng-Beng pergi meninggalkan Monas dan Ian.
“Kita mau ke mana
dulu, Nas?” tanya Ian.
“Aku mau pulang
dulu, Ian. Aku belum ngasih makan ikan sama nyiram tanaman strawberry. Gimana?”
“Ya udah kita
pulang dulu istirahat bentar. Toh masih
longgar waktunya.”
“Oke Ian, kita
cabut.”
“Oke Bro.”
Tak lama
kemudian mereka meninggalkan tempat itu yang sudah mereka pelajari.
***
Jam di dinding
menunjuk pukul 19.30 terlihat Monas sudah siap dengan jacket kesayangan dan
helmnya. Tak lama kemudian terdengar suara knalpot yang menderu di depan
rumahnya. Monas bergegas keluar.
Mereka berangkat ke arah alun-alun. Agung dan
Raffi sudah menunggu. Hanya butuh waktu lima belas menit Monas dan Ian sudah
sampai. Kemudian mereka
berempat melanjutkan lagi berkendara ke basecamp. Keempatanya melaju kencang di jalan yang lurus dan lebar. Sesekali mereka beriringan layaknya sang
pemilik jalan. Gambaran gelora anak muda yang sedang meledak-ledak. Seperti ingin menunjukkan bahwa merekalah yang menjadi jagoan di jalanan. Di basecamp, semua anggota team satu
persatu pun berdatangan.
Bos Baron langsung
menemui Monas. “Oke Jocker, motor kamu di sana sudah siap. Beri kami kemenangan, oke?”
“Siap Bos, aku usahakan.”
Monas kemudian menghampiri motor yang akan digunakan balapan. Dia mengelus
tangki motor itu. Dia merasa sudah siap untuk balapan malam itu. Dia juga sudah
siap untuk menang.
“Baik semuanya, kita berangkat setelah ada kabar dari sana. Jadi kalian santai
saja dulu, Oke?”
“Oke Bos.”
Mereka kembali bersantai sambil duduk-duduk di dalam. Sementar Monas memilih keluar
ke halaman luar. Dia duduk di
luar memandang langit. “Hemm cerah sekali malam ini. Bintang-bintang terlihat jelas bertebaran di langit. Angin malam tak terlalu kencang. Dinginnya juga tak menusuk ke tulang.” gumamnya. Sesekali dia berdiri dan berjalan. Cukup lama Monas berada di luar. Kemudian Ian datang menghampiri.
“Bro, kata bos Baron, kita berangkat sekarang.”
“Sekarang Ian?”
“Iya, kata bos,
sekarang.”
“Baik, Ian, ayo!” Keduanya kemudian melangkah masuk ke basecamp.
Terlihat semua anggota team, termasuk bos Baron sudah mulai bersiap di atas motor masing-masing. Monas menaiki motor dan menstarternya. Jam menunjukkan pukul 10:10. Mereka keluar beriringan menuju tempat
balapan. Nampak dua puluh motor beriringan dengan suara knalpot yang
menderu memecah suasana malam. Setiap orang yang melihat nampak takjup
dengan iring-iringan tersebut. Tak berapa lama mereka pun sampai di tempat
balapan. Di pinggir area balap semua motor terparkir
rapih. Berbaris memanjang seperti ular. Dan terlihat sudah ada yang sedang balapan. Sementara team bos Baron masih melihat dan menikmati balapan itu.
“Wow, rame banget, Bro,” ucap Raffi.
“Iya Kunyang.” Ian melihat sekeliling. “Banyak cewek-ceweknya juga. Endak nyangka aku.”
“Iyo, bener. Ceweknya cakep-cakep, Kucrut. Wah endak rugi kita.”
“Bener Fi, endak rugi.” Ian
tersenyum.
Sementara Monas yang duduk di dekat bos Baron hanya terdiam. Namun dia membatin, gila,
nggak nyangka tempat ini yang tadi sore sepi, malamnya
penuh dengan lautan manusia. Begitu banyak anak muda yang
ada di sini.
Salah seorang dari sisi jalan menghampiri bos Baron. Kemudian mereka berjabat tangan.
“Hohoho … Bro Baron, gimana kabarnya? Udah lama lho kamu sama teammu absent di sini.”
“Baik, Bro Dani.”
“Sudah siap turun malam ini?”
“Aku siap
sekarang.”
“Bagus, udah dapet joki baru sepertinya?”
“Iya, jokiku baru sekarang, mau coba?”
“Boleh. Siapa, Bro?”
“Jocker.”
“Hoho, Jocker. Kita test sekarang, oke?”
“Boleh”
“Dua putaran?”
“Oke.”
“Em kalau gitu aku langsung turunin Adam malam ini. Aku pingin lihat
kehebatannya”
“Oke, deal.”
Keduanya pun sepakat. Dani lalu kembali ke barisan teamnya. Dia mendatangi anggotanya yang memakai motor merah. Dia menepuk pundak seorang cowok
yang memakai jacket merah yang membonceng cewek seksi. Sementara bos Baron membisik
ke sampingnya.
“Jocker, pria yang naik motor merah itu lawanmu malam ini. Kalahkan dia, oke?”
“Oke, Bos.”
“Nanti Black yang jadi bayanganmu, oke?”
“Oke, Bos.”
“Malam ini lawanmu Adam. Hanya dua putaran.”
“Aku paham Bos.”
Sementara itu Adam dengan motor merahnya mendekat dan berhenti di depan Monas.
Dia berteriak, “Hai anak baru, ayo kita mulai! Jangan berharap bisa menang dariku! Ha?” Kemudian dia langsung ke garis
start.
“Ayo Jocker! Santai saja, yang penting kalahkan dia, biar nggak sombong dia,” ucap Black.
“Iya, Black. Aku santai aja kok.” Keduanya
kemudian mereka ke garis start. Monas di sebelah kanan. Sedang Adam di sebelah kiri. Terlihat ada
dua orang di belakang mereka. Salah satunya adalah Black.
Rhung ... rhuuuungg ...!
Deru kenalpot
terdengar menggelegar.
Adam menoleh “Hai
anak baru, hati-hati ya? Motormu sudah pasti kalah,” ucap
Adam.
Kesombongan Adam
keluar. Namun Monas seperti biasa. Dia tampak diam dan cuek. Hanya tersenyum kecil
dibalik helmnya. Dari pinggir
salah seorang cewek berjalan ke depan
dan tepat di tengah-tengah
mereka. Kemudian dia mengangkat tangan kanannya.
“Kalian siap?”
Rhung Rhung ...!
Bunyi knalpot menandakan mereka sudah siap.
Kedua pembalap terlihat fokus dengan menatap tangan cewek itu.
“Oke, Tiga ... dua ... Satu. Go!” Tangannya ke bawah dan menunjuk arah depan.
Setelah mendengar ‘Go’, mereka menarik tali gas semaksimal mungkin. Keduanya melesat kencang diikuti dua motor di belakangnya. Riuh suara dan tepuk tangan penonton yang ada di tempat itu turut menyemangati. Monas dan Adam meliuk-liuk
indah di setiap tikungan. Kemudian melesat kencang lagi saat jalan yang lurus. Hanya dua putaran
saja. Saat putaran pertama Adam lebih awal namun saat putaran kedua Monas mampu
mendahului Adam di tikungan. Akhirnya Monas sampai di garis finish terlebih dulu. Adam pun akhirnya kalah.
“Wow, kamu hebat kuda
besiku, kita menang,” ucap Monas senang.
Tepuk tangan serta riuhnya suara penonton mengiringi
kemenangan Monas. Adam pun menghampiri Monas dengan wajah murung. Dia tak menyangka bisa kalah dengan sang joki baru
yang diremehkannya.
“Hai Jocker, motormu hebat. Aku nggak nyangka bisa kalah malam ini dengan joki
baru. Lain waktu kita balapan lagi. Tunggu tantanganku berikutnya! Oke?”
Monas tersenyum.
“Oke. Aku tunggu.”
Adam kembali ke barisan teamnya. Dia nampak kecewa berat. Sementara Monas kembali ke kelompoknya dan langsung disambut ucapan selamat untuknya. Terutama bos Baron.
“Bagus Jocker, kita menang malam ini.”
“Ya Bos.”
Tak berapa lama Dani menghampiri bos Baron.
“Oke, Baron. Jokimu si Jocker, sama motornya malam ini hebat. Lain waktu kita race lagi.” Bos Baron tersenyum bangga. “Nanti bayarannya aku kasih ke tempatmu.
“Oke, thank’s Bro.”
Dani meninggalkan bos Baron dengan wajah kecewa juga. Karena sebelumnya tadi dia yakin pasti menang. Akan tetapi malah kalah
taruhan yang cukup besar
malam itu.
“Bos, Polisi lagi arah ke sini,” ucap Beng-Beng
yang menghampiri.
“Oke, Kita cabut sekarang!”
Tak berapa lama mereka pun pergi karena ada polisi yang akan
datang merazia. Sambil membunyikan klackson ke lawan. Satu persatu meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan mereka melesat dengan
kencang. Mengambil rencana B.
Di kafe.
“Selamat, kamu hebat Jocker. Kamu
menang. Kita semua menang.” Ucap Ian bangga.
Raffi tertawa.
“Brarti sekarang waktunya untuk
senang-senang.”
Monas tersenyum.
“Trim’s sobatku.”
“Selamat Bro, you memang hebat,”
ucap Takahasi yang menepuk pundak Monas.
“Makasih Takahasi, ini juga berkat kamu sama Agung.” Sementara Agung tampak
sangat senang sekali.
“Oke Jocker, thank’s. Kita menang malam ini.”
“Makasih juga Bos.”
Boas Baron
tersenyum dan mengangguk. “Semuanya boleh minum sepuasnya malam ini.”
Sontak seisi kafe langsung berteriak girang. [ ]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar