Senin, 22 September 2014

Harus Lebih Hati-hati



Harus Lebih Hati-hati





MONAS MEMAKAI KAOS pemberian Kasih di kamar. Dia terlihat senang. Kaos lengan panjang dengan kerah di leher, ternyata pas dengan ukuran tubuhnya. Dia beranjak dari kamar  melangkah ke aquarium, memberi makan ikan, lalu ke halaman depan menyiram beberapa tanaman serta strawberrynya. Dia melangkah masuk lagi. Secangkir teh di meja makan dibawanya ke kamar. Dia sandarkan tubuhnya.
 Monas menyeruput tehnya. “Ah santai saja hari ini. Aku mau di rumah seharian. Aku matiin aja hp-ku biar nggak ada yang ganggu. Sambil nanti menggambar lagi.” Monas menyalakan komputernya. Tak berapa lama sebuah lagu mengalun indah. Dia langsung terbayang oleh sebuah kenangan. “Oh lagu ini indah sekali. Aku jadi teringat denganmu, Kasih. Saat kita jadian, saat kita jalam, dan saat berdua di candi Cetho. Moment yang itu takkan bisa aku lupakan. Moment yang hanya kita berdua yang tahu, Kasih. Dan mudah-mudahan tak ada rintangan yang berat buat kami, ya Allah. Aamiin,” gumamnya.
Semilir angin masuk ke kamar melewati jendela. Menambah suasana yang lebih sejuk dan santai. Namun baru sejenak di kamar kemudian terdengar ada suara memanggil-manggil.
Monas, kowe wis bangun belum?”
Sampun[1] Mbah.” Monas beranjak melangkah ke pintu dan membukanya. “Ada apa Mbah?”
Kowe endak sarapan, Nas?”
“Enggak Mbah, nanti aja sekalian makan siang. Sampeyan dari mana, Mbah?”
Anu, Nas. Aku tadi dari sawah nyari wong tandur. Kan, harus dipesen dulu, sekalian dipanjeri.[2] Kalau endak dapet wong tandur nanti repot malahan. Sawah wis wanciné[3]tandur lho.”
Oh gitu  Mbah. Semoga panennya nanti bagus nggih, Mbah?
Aamiin, Nas. Lha kowe tadi malem dari mana kok pulangnya pagi banget?”
Egh, dari teman Mbah. Egh nginep.” Monas berbohong,
O yo wis, yang penting kowe endak kenapa-napa. Aku istirahat di kamar yo, Nas? Nanti kalau mau makan, semuanya sudah  ada di meja makan.
“Inggih, Mbah Putri.”
Mbah Putri masuk ke kamarnya. Monas merenung. Maaf mbah Putri. Maafin aku yang selalu berbohong ini. Karena kalau sampai mbah Putri tahu tiap malam aku balapan, pasti mbah putri enggak akan mengijinkan. Maafin cucumu ini mbah ...! batinnya.
Monas merebahkan tubuhnya.  Dia kembali mendengarkan musik yang mengalun pelan. Dia menikmati syair-syair lagu yang terdengar. Kembali dia termenung. Pikirannya teringat Aira, si kembang kampus. Makhluk sempurna itu memang cantik sekali. Begitu sempurna di mata para lelaki. Kenapa ya, dia ingin berteman denganku ini? Bahkan dia ingin dekat denganku. Oh alangkah beruntungnya lelaki yang menjadi teman hidupnya nanti. Monas tersenyum. Ah sudahlah, aku nggak mau berandai-andai karena duniaku realistis. Dan aku juga sudah ada Kasih yang menjadi pacarku sekarang. Yang pasti aku lebih menyayangi Kasih. Aku hanya ingin setia dengannya. Kasih di mataku sudah sempurna. Bahkan sempurna sekali. Kuharap suatu hari nanti tak ada masalah jika aku berteman dengan gadis lain. Dan masih tetap percaya dengan setiap ucapanku. Itu saja yang aku inginkan ke depannya. Aku sadari suatu pertemanan yang dekat dengan lawan jenis, akan bisa jadi satu kesalahpahaman yang berakibat kurang baik bagi suatu persahabatan itu sendiri. Dan hanya suatu kepercayaanlah yang bisa mempertahankan persahabatan itu. Jika rasa percaya itu dinodai atau sampai hilang, akan hancur pula persahabatan itu. Apalagi persahabatan yang begitu dekat dengan disertai hadirnya rasa sayang. Oh mudah-mudahan ini tidak terjadi padaku, ya Allah. Karena pasti akan sakit sekali rasanya dan pasti tidak sebentar untuk mengobatinya. Semoga tidak terjadi padaku, pikirnya
Di dalam kamar Monas kemudian bangun dan menghadap komputernya. Dia mematikan musik dan mulai menggambar. Dia melanjutkan kembali gambar tiga dimensi yang sudah dia buat beberapa hari lalu. Beberapa perbaikan ukuran dan warna juga mulai dipadukan. Hingga beberapa jam Monas terlihat larut dengan menggambarnya. Sejenak dia berhenti. Dia mengambil gelas teh dan meyeruputnya. Dia pandangi hasil gambarnya. Dia tersenyum. Cukup puas.
Saat melihat jam dinding, ternyata hari sudah semakin sore. Monas menyimpan hasil gambarnya terlebih dahulu sebelum mematikan komputernya.  Dia beranjak dari duduknya, melangkah  menuju kamar sang nenek. Dilihatnya mbah Putri masih tertidur.
Monas mendorong motornya ke luar rumah. Dia menyalakan motornya agak jauh agar tak mengganggu tidur mbah Putrinya. Kemudian dia keluar berjalan-jalan. Dia pergi berkendara melihat persawahan sambil mencari inspirasi. Di pinggir sawah dia duduk menghadap ke barat. Seluas mata memandang terlihat hamparan benih padi yang belum lama ditanam. Sebagian petani yang bergulat dengan lumpur, demi memenuhi kebutuhan hidup dan harapan yang lebih baik, perlahan satu persatu menyudahi kegiatannya.
“Sangat luas tanah persawahan ini menghampar, namun sayang, walau persawahan ini sudah bagus mendapatkan irigasi airnya, tetap saja nasib petani masih di bawah harapan mereka. Demi kebutuhan orang banyak yang membutuhkan makan, mereka pun harus tetap bertani. Kalau dipikir-pikir sudah menghasilkan pangan saja masih menderita, apalagi tak menghasilkan. Benar, harusnya semuanya berterima kasih pada petani yang sudah berperan penting dengan kesabaran dan keikhlasannya dalam kehidupan ini. Pasti, siapapun akan merasa berat jika menjalani peran mereka. Akan tetapi tetap harus bersyukur apa pun keadaannya. Bila suatu hari aku seperti mereka, aku pingin ada perubahan yang lebih baik. Insyaallah,” gumamnya.
Tak terasa matahari pun semakin merangkak ke bawah cakrawala. Warna langit semakin meredup. Begitu selaras dengan iring-iringan para petani yang berjalan pulang.  Monas hanya menatap sambil sesekali menyapa mereka saat melintas di depannya. Suara adzan maghrib pun terdengar menggema. Monas lalu berdiri dan bergegas pulang.
Di dalam kamar, Monas duduk dan kembali merenung.
Aku masih kepikiran tadi. Menjadi petani padi yang irigasinya bisa diandalkan saja masih berat. Apalagi ucapan Kasih yang bisa menumbuhkan strawberry di air dan ikan juga bisa hidup sealiran. Aduh, berat nian Kasih. Gimana caranya? Tapi demi harapan kamu, aku akan berusaha mewujudkannya. Kasih, mungkin suatu hari aku bisa melakukannya. Dan kamu akan bangga padaku. Bila diijinkan Allah tentunya. Semoga saja, aamiin. Semoga juga hobi balapanku masih bisa berlanjut.” Monas memegang jidatnya. Oh iya bentar lagi ada ujian. Sebaiknya aku fokus dulu sama ujian biar semua nggak berantakan. Tapi kalau ada balapan gimana ya? Ah sudahlah, mudah-mudahan berjalan lancar sajalah,” ucapnya.
 Jari tangannya kemudian menekan tombol play di komputer. Secara perlahan musik yang mengalun syahdu memenuhi kamarnya lagi. Mengalun indah masuk ke relung hati. Terdengar dari telinga hingga memenuhi jiwa. Musik adalah temannya jiwa. Temannya perasaan.
Monas membuka facebooknya. Terlihat banyak temannya yang sedang online. Ada Zian kinanti, Ati syam, Firman, Nina setyawati, Cii putri ryna dewanti, Ulvah chuute, Bakir joyondaru dan ada  permintaan pertemanan dari Putra mangu serta Anita Padondan. Dia pun mengkonfirmasinya sebagai teman. Dia tersenyum melihat status yang ditulis mereka. Status yang lucu-lucu. Apalagi status Zian kinanti yang aneh-aneh. Ada juga yang sedang bersedih. Dari Ati Syam dan Firman. Firman baru saja menulis status kehilangan bapaknya yang lebih dulu meninggalkan dunia. Bagi Monas pertemanan di dunia maya, terkadang banyak menuliskan kejadian yang benar terjadi. Terkadang juga hanya sekedar iseng semata. Dia pun lalu menyudahi berselancar di internetnya malam itu.

***

Pagi yang indah kembali datang. Suara sang ayam jantan kembali mengawali hari baru. Warna semburat merah nampak di langit sebelah timur. Sang surya pun perlahan muncul dari balik gunung Lawu. Monas memulai kegiatannya kembali sebagai mahasiswa. Dia keluar dengan kuda besinya menuju ke jalan raya. Di jalan Tawangsari-Sukoharjo yang tak terlalu lebar itu nampak begitu banyak kendaraan yang ramai berlalu lalang. Semua orang mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Dan...
Rhung ... rhung ... Rhung …!!
Sekelebat dua motor tiger yang dikendarai dua pelajar mendahuluinya dengan kencang.
“Aduh sialan, kurang ajar! Hampir saja aku keserempet. Mereka nggak tahu apa ya ini jalan lagi ramai? Malah kebut-kebutan. Kalau celaka baru tahu rasa kalian,” gerutunya.
Setelah melewati kawasan PT. Sritex, jalan menjadi macet.  Nampak dari jauh terlihat kerumunan orang di tengah jalan. Dua polisi sedang sibuk mengatur lalu lintas jalan. Bahkan dibantu oleh beberapa  warga sekitar. Sambil melaju pelan Monas melihat telah terjadi kecelakaan. Dia melihat dua motor tiger yang ringsek dan berada di bawah body bus itu. Dua pelajar itu tergeletak di pinggir jalan tak sadarkan diri. Dia langsung ingat dengan dua pelajar yang ngebut mendahuluinya tadi. Wajah Monas langsung berubah pucat. Dia hanya bisa berharap kedua pelajar itu tak meninggal dunia. Dia melanjutkan perjalanannya ke kampus namun dengan laju kendaraanya sedikit dikurangi.  
Di tempat parkir Kampus, dia berhenti sejenak. Dia merenungi kejadian kecelakaan tadi di dalam perjalanannya ke kampus.
“Oh sayang, mereka masih muda banget. Mungkin mereka hanya menuruti ambisi agar dianggap jago saja, namun tidak belajar situasi jalan. Hanya main kebut-kebutan. Semoga aku tak mengalami seperti mereka, meskipun aku juga suka balapan,” ucapnya pelan.
Monas lalu berjalan masuk ke kelasnya dan langsung duduk. Terlihat  Ian langsung mendekatinya.
Bro, sekali lagi selamat buat kemarin. Kowe hebat banget.”
“Ah biasa aja Ian,” ucap Monas.
“Ya endaklah yang ini beda Bro. Semua penonton kemarin kagum. Tahu endak kowe Nas, aku dengar banyak juga anak sini yang datang menonton. Tapi mereka endak tahu kalau yang menang itu sebenarnya kowe jokinya.”
“Baguslah, yang penting mereka nggak tahu aja ya, Bro? Sekarang kita belajar oke?
“Siiip.”
Tak berapa lama, dosen pun masuk dan proses belajar pun kembali berjalan di kelas itu. Namun, Monas nampak seperti biasanya, tampak cuek dan santai meski semalam sudah menang balapan. Justru di dalam hatinya masih teringat kecelakaan yang terjadi saat dia berangkat.
Saat jam istirahat mereka berdua ke kantin. Dan benar, ternyata di dalam kantin yang berkumpul terutama yang pria nampak membicarakan tentang balapan kemarin. Iwan Permana dan teman-temannya juga lagi ramai membicarakannya.
“Don, bener kemarin malam Adam kalah balapan?” tanya Iwan tak percaya.
“Iya Wan, Adam kalah. Padahal selama ini Adam selalu menang. Lho, kamu nggak nonton?”
“Enggak. Aku ada urusan kemarin. Terus siapa Don yang ngalahin dia?”
“Denger-denger dia anak baru dari teamnya bos Baron. Panggilannya Jocker, iya Jocker.”
“Orangnya gimana Don?”
“Nah itu dia Wan, semua belum tahu tampangnya seperti apa?”
“Maksudnya gimana?”
“Dia enggak buka helmnya. Malah langsung pergi setelah balapan, gitu.”
Wah aku jadi penasaran dan pingin lihat si Jocker itu seperti apa? Oke, malam minggu besok kita datang. Bila perlu aku juga pingin nyoba kehebatanya, Don.”
“Oke Bro, malam minggu besok. Nanti kita ngomong aja sama bos Dani.”
“Oke Wan.
Iwan yang sudah lama tidak turun balap motor karena kesibukan barunya, seperti merasa tertantang dengan kekalahan Adam. Sedangkan di pojok kantin Agung, Ian, Raffi serta Monas nampak bergembira dengan kemenangannya.

Di Basecamp.
“Oya Joker. Em gini, tentang balapan kemarin setelah kamu menang. Sekarang makin banyak orang yang ingin balapan denganmu karena kamu kemarin mengalahkan Adam. Mungkin hampir tiap minggu kita akan ada balapan. Teman lamaku sudah konfirmasi ke aku. Tapi  aku akan lihat situasi dulu nanti. Gimana Jocker?”
“Em, terserah Bos aja. Tapi bentar lagi aku ada ujian Bos. Kalau boleh waktu itu aku istirahat dulu?
“Oke, nanti aku atur waktunya. Tapi selain itu kamu siap?”
“Siap Bos.”
“Ya sudah hari ini itu aja. Oya lupa, mungkin lain waktu kamu turun pakai motor ini. Sebab aku pingin motor ini ada yang pakai dan turun balapan lagi. Aku percaya kamu bisa?” sambil menunjuk motorsport ber-cc paling besar di sampingnya.
“Ha? Ini Bos ?”
“Iya, ini. Aku pingin kamu menang memakai motor ini. Dan dengan menaikkan cc motor serta taruhan tentunya. Gimana? Siap?”
Monas memegang stang motor. “Siap Bos. Akan aku coba.
“Bagus. Dan kalau ada waktu, motor ini kamu bawa latihan, oke?”
“Oke Bos.
“Kamu masih mau di sini, Nas?”
“Egh aku nggak ada acara hari ini Bos.”
“Ya sudah kamu ikut aku aja sekarang. Gimana? Mau?”
“Em tapi kita mau ke mana Bos?”
“Sudah ikut saja, ayo!”
“Baik.”
Bos Baron dan Monas meninggalkan basecamp. Mereka berdua berkendara menuju ke salah satu Mall di jalan Slamet Riyadi. Mereka masuk ke salah satu kafe. Kemudian mereka duduk sambil memesan makanan.
“Bos, kita ngapain di sini? tanya Monas.
Bos Baron tersenyum. Nunggu teman. Dia minta ketemuan di sini. Dia adalah teman bisnisku di Jakarta,” jawab bos Baron.
Monas mengangguk-angguk. “Baiklah. Dia cowok apa cewek, Bos?
“Dia cowok, namanya Arga. Dia ingin buka kafe di sini. Dulu, dia juga anak motor. Sekarang dia lebih suka bisnis kafe. Tapi meski sekarang udah jadi orang sukses, dia  nggak lupa tentang dunianya yang dulu. Mungkin suatu hari nanti kamu juga akan berubah, seperti aku atau temanku itu. Dan aku menyadari itu. Makanya aku ngasih tahu ke kamu untuk selalu hati-hati! Jangan sampai terjadi hal-hal yang fatal.”
“Em baik. Makasih Bos nasehatnya.”
Tak lama datanglah seorang pria dengan berpenampilan formal menghampiri keduanya. Namun, jalannya agak cacat. Cacat kaki di sebelah kiri. Mereka bersalaman dan berbincang sampai satu jam lamanya. Sesekali Monas juga ikut dalam obrolan itu. Setelah dirasa urusannya selesai, pria cacat kaki itu beranjak pergi meninggalkan mereka. Monas yang dari awal penasaran dengan pria itu kemudian bertanya kepada bos Baron.
“Em Bos, boleh tahu nggak kaki teman Bos tadi kenapa?”
Oh, dulu dia juga sama sepertimu. Sewaktu masih sama-sama denganku, suka balapan liar.” Bos Baron tersenyum. Dulu, dia adalah lawanku. Karena ada razia polisi, dia kecelakaan dan kaki kirinya cacat. Aku yang menolongnya. Hingga akhirnya kami berteman baik sampai sekarang. Begitu ceritanya, Nas. Makanya kamu harus tetap hati-hati dalam balapan agar tidak fatal nantinya. Kamu masih muda dan punya potensi.”
“O gitu ya Bos. Baik Bos, makasih nasehatnya.”
Sekarang kamu kembali ke basecamp, atau ada acara lain?”
“Ehg aku pulang saja Bos. Temen yang lain tadi sms juga udah pulang duluan.”
“Oke kalau gitu, lain waktu kita ngobrol lagi ya? Dan makasih kamu nemenin aku.”
“Ehg sama-sama Bos.”
Mereka ke tempat parkir dan kemudian keluar dari mall tersebut. Mereka pun berpisah jalan.
Waktu hampir menginjak sore. Sepanjang jalan pulang pikiran Monas teringat kejadian kecelakaan pagi hari. Dan, baru saja ditambah teman bos Baron yang kakinya harus cacat akibat kecelakaan balapan, membuat mentalnya turun. Laju motornya sedikit pelan, lebih lambat dari biasanya.
.

***



Jam Sembilan malam Monas masuk kamar setelah menonton tv. Dia menyalakan komputer.  Kemudian membuka aplikasi gambar tiga dimensi yang disimpannya. Sebuah gambar sebuah sirkuit balap yang dicoba ditambahkan ide-idenya sendiri. Berharap suatu hari nanti di Solo ada sirkuit balap sendiri. Dengan harapan suatu hari nanti balapan liar bisa berkurang. Namun, tak berapa lama suara motor terdengar dari teras.
“Assalamuallaikum ...,sapa Ian.
Monas berjalan ke depan dan membuka pintu.
“Waallaikum salam Bro. Masuk aja!” jawab Monas. “Ada apa Ian, kok kadingaren malem-malem ke sini?
Ian melangkah masuk.Em bukan apa-apa. Anu Nas, ini tentang pacarku. Ternyata bener gosip pacarku selama ini. Aku tadi habis dari basecamp langsung ke pacarku. Beberapa hari ini kan aku coba selidiki gossip itu, dan ternyata bener dia jalan sama cowok lain.”
“Terus gimana?”
“Aku tadi minta penjelasannya. Terus kita tadi ribut bentar. Yach, akhirnya kita putus, Nas. Dia yang mutusin. Katanya aku endak punya waktu buat dia. Padahal selama ini aku udah bela-belain buat dia, Nas. Kamu tahu sendiri kan Nas, waktu dia sakit dulu, aku yang nungguin sampai sembuhnya di rumah sakit. Eh, ternyata itu semua juga masih kurang percaya denganku.”
Keduanya pun duduk di dalam kamar.
“Iya, terus kamu terima apa nggak kata putusnya?”
“Ya, aku terima kata putusnya Nas. Dia kan yang mutusin aku? Dan dia lebih memilih cowok itu karena cowok itu sudah kerja Nas. Dia tadi mengaku salah. Dan dia juga minta maaf.
“Ya sudahlah Ian, kalau dia pinginnya gitu. Kamu terima aja yo Bro? Bukan kamu yang salah ini. Suatu saat dia pasti nyesel mutusin kamu.” Monas tersenyum. “Hati kamu sakit nggak?”
“Sakit tapi dikit, Nas. Aku tidur sini yo?”
“Iyo Ian. Yang penting ikhlasin aja? Nanti kamu juga dapat cewek lagi yang lebih cocok buatmu. Oke?”
Kamu memang sobat yang bisa ngertiin aku. Di saat enak dan endak enak. Suatu saat kalau kamu ngalami seperti ini, aku akan bantu kamu.”
“Ya sudah, kamu udah makan belum? Mending kamu makan sana! Biar enak buat mikirnya dan nggak emosian. Terus tidur  duluan situ!”
“Iya Nas. Bener, mending makan daripada emosi terus. Suatu saat kalau ada yang bikin sakit hati lagi, aku hajar sampai mawut,” ucap Ian kesal. Monas hanya terseyum melihat sahabatnya itu. Ian menoleh ke Komputer. “Eh Nas, kamu bikin apa? Ini seperti sirkuit balap? Wah hebat tenan kamu, Nas.  Bagus bener sirkuit buatanmu.”
“Ah cepet makan sana!” Monas sambil mendorong Ian, yang tadi duduk dan masih emosi karena putus dengan ceweknya.[ ]


[1] sudah
[2]Dikasih uang muka
[3]Sudah waktunya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar