Harus Lebih Hati-hati
MONAS MEMAKAI KAOS pemberian Kasih di kamar. Dia terlihat senang. Kaos lengan panjang dengan kerah di leher, ternyata pas dengan ukuran tubuhnya.
Dia beranjak dari kamar melangkah ke aquarium, memberi makan ikan, lalu ke halaman depan menyiram beberapa tanaman serta strawberrynya. Dia melangkah masuk lagi. Secangkir teh di meja makan dibawanya ke kamar. Dia sandarkan tubuhnya.
Monas
menyeruput tehnya. “Ah santai saja
hari ini. Aku mau di rumah seharian. Aku matiin aja hp-ku biar nggak ada yang ganggu. Sambil nanti menggambar lagi.”
Monas menyalakan komputernya. Tak
berapa lama sebuah lagu mengalun indah. Dia langsung terbayang oleh sebuah
kenangan. “Oh lagu ini indah sekali. Aku jadi teringat denganmu, Kasih. Saat kita jadian, saat kita jalam, dan saat berdua di candi Cetho. Moment yang itu takkan bisa aku lupakan. Moment yang hanya kita berdua yang tahu, Kasih. Dan mudah-mudahan tak ada
rintangan yang berat buat kami, ya Allah. Aamiin,” gumamnya.
Semilir angin masuk ke kamar melewati jendela. Menambah suasana yang
lebih sejuk dan santai. Namun baru sejenak di
kamar kemudian terdengar ada suara memanggil-manggil.
“Monas, kowe wis bangun belum?”
“Kowe endak sarapan, Nas?”
“Enggak Mbah, nanti aja sekalian makan siang. Sampeyan dari mana, Mbah?”
“Anu, Nas. Aku tadi dari sawah nyari wong tandur. Kan, harus dipesen dulu, sekalian dipanjeri.[2] Kalau endak dapet wong tandur nanti repot malahan. Sawah wis wanciné[3]tandur lho.”
“Oh gitu Mbah. Semoga panennya nanti bagus nggih, Mbah?”
“Aamiin, Nas. Lha kowe tadi malem dari mana kok pulangnya pagi banget?”
“Egh, dari teman Mbah. Egh … nginep.” Monas berbohong,
“O yo wis, yang penting kowe endak kenapa-napa. Aku istirahat di kamar yo, Nas? Nanti kalau mau makan, semuanya sudah ada
di meja makan.”
“Inggih, Mbah Putri.”
Mbah Putri masuk ke kamarnya.
Monas merenung. Maaf mbah Putri. Maafin aku yang selalu berbohong ini. Karena
kalau sampai mbah Putri tahu tiap malam aku balapan, pasti
mbah putri enggak akan mengijinkan. Maafin cucumu ini mbah ...! batinnya.
Monas merebahkan tubuhnya. Dia
kembali mendengarkan musik yang mengalun
pelan. Dia menikmati syair-syair lagu
yang terdengar. Kembali dia
termenung. Pikirannya teringat
Aira, si kembang kampus. Makhluk
sempurna itu memang cantik sekali. Begitu sempurna di mata para
lelaki. Kenapa ya, dia ingin berteman
denganku ini? Bahkan dia ingin dekat denganku. Oh
alangkah beruntungnya lelaki yang menjadi teman hidupnya nanti. Monas
tersenyum. Ah sudahlah, aku nggak
mau berandai-andai karena duniaku realistis. Dan aku juga sudah ada Kasih yang
menjadi pacarku sekarang. Yang pasti aku lebih menyayangi Kasih. Aku
hanya ingin setia dengannya. Kasih di mataku sudah sempurna.
Bahkan sempurna sekali. Kuharap suatu hari nanti tak ada masalah jika aku
berteman dengan gadis lain. Dan masih tetap percaya
dengan setiap ucapanku. Itu saja yang aku inginkan ke
depannya. Aku sadari suatu pertemanan yang dekat dengan lawan jenis,
akan bisa jadi satu kesalahpahaman yang berakibat kurang baik bagi suatu
persahabatan itu sendiri. Dan hanya suatu kepercayaanlah yang bisa
mempertahankan persahabatan itu. Jika rasa percaya itu dinodai atau sampai
hilang, akan hancur pula persahabatan itu. Apalagi
persahabatan yang begitu dekat dengan disertai hadirnya rasa sayang. Oh
mudah-mudahan ini tidak terjadi padaku,
ya Allah. Karena pasti akan sakit sekali rasanya dan
pasti tidak sebentar untuk mengobatinya. Semoga tidak terjadi padaku,
pikirnya
Di dalam kamar
Monas kemudian bangun dan menghadap komputernya. Dia mematikan musik dan mulai
menggambar. Dia melanjutkan kembali gambar tiga dimensi yang sudah dia buat
beberapa hari lalu. Beberapa perbaikan
ukuran dan warna juga mulai dipadukan. Hingga beberapa jam Monas terlihat larut
dengan menggambarnya. Sejenak dia berhenti. Dia mengambil gelas teh dan
meyeruputnya. Dia pandangi hasil gambarnya. Dia tersenyum. Cukup puas.
Saat melihat jam
dinding, ternyata hari sudah semakin sore. Monas menyimpan hasil gambarnya
terlebih dahulu sebelum mematikan komputernya. Dia beranjak dari duduknya, melangkah menuju kamar sang
nenek. Dilihatnya mbah Putri masih tertidur.
Monas mendorong motornya ke luar
rumah. Dia menyalakan motornya agak jauh agar tak mengganggu tidur mbah
Putrinya. Kemudian dia keluar berjalan-jalan. Dia pergi berkendara melihat persawahan sambil mencari inspirasi. Di
pinggir sawah dia duduk menghadap ke barat. Seluas mata memandang terlihat hamparan benih padi yang belum lama ditanam. Sebagian petani yang bergulat dengan lumpur, demi memenuhi kebutuhan hidup dan harapan yang lebih baik, perlahan
satu persatu menyudahi kegiatannya.
“Sangat luas tanah persawahan ini
menghampar, namun sayang, walau persawahan ini sudah bagus mendapatkan irigasi airnya, tetap saja nasib petani masih di bawah
harapan mereka. Demi kebutuhan orang banyak yang
membutuhkan makan, mereka pun harus tetap bertani. Kalau dipikir-pikir sudah menghasilkan pangan saja masih menderita, apalagi
tak menghasilkan. Benar, harusnya
semuanya berterima kasih pada petani yang sudah berperan penting dengan
kesabaran dan keikhlasannya dalam kehidupan ini. Pasti, siapapun
akan merasa berat jika menjalani peran mereka. Akan
tetapi tetap harus bersyukur apa pun
keadaannya. Bila suatu hari aku seperti mereka, aku pingin ada perubahan yang lebih baik. Insyaallah,” gumamnya.
Tak terasa matahari pun semakin merangkak ke bawah cakrawala. Warna langit semakin meredup. Begitu selaras dengan iring-iringan para
petani yang berjalan
pulang. Monas hanya menatap sambil sesekali
menyapa mereka saat melintas di depannya. Suara adzan maghrib pun terdengar menggema. Monas lalu
berdiri dan bergegas pulang.
Di dalam kamar, Monas duduk dan kembali merenung.
“Aku masih kepikiran tadi. Menjadi petani padi yang irigasinya bisa
diandalkan saja masih berat. Apalagi ucapan Kasih yang bisa menumbuhkan
strawberry di air dan ikan juga bisa hidup sealiran. Aduh, berat nian Kasih. Gimana caranya? Tapi demi harapan kamu,
aku akan berusaha mewujudkannya. Kasih, mungkin suatu hari aku bisa melakukannya. Dan kamu akan bangga padaku. Bila diijinkan Allah tentunya. Semoga saja, aamiin. Semoga juga hobi
balapanku masih bisa berlanjut.”
Monas memegang jidatnya. “Oh iya bentar lagi ada ujian. Sebaiknya aku fokus dulu sama ujian biar semua nggak berantakan. Tapi kalau ada balapan
gimana ya? Ah sudahlah, mudah-mudahan berjalan lancar sajalah,” ucapnya.
Jari tangannya kemudian menekan
tombol play di komputer. Secara perlahan musik yang mengalun syahdu
memenuhi kamarnya lagi. Mengalun indah masuk ke relung hati. Terdengar dari telinga
hingga memenuhi jiwa. Musik
adalah temannya jiwa. Temannya perasaan.
Monas membuka facebooknya. Terlihat banyak temannya yang
sedang online. Ada
Zian kinanti, Ati syam, Firman, Nina setyawati, Cii putri ryna dewanti, Ulvah chuute, Bakir
joyondaru dan ada permintaan pertemanan
dari Putra mangu serta Anita
Padondan. Dia pun mengkonfirmasinya sebagai teman. Dia tersenyum melihat status yang
ditulis mereka. Status yang lucu-lucu. Apalagi status Zian kinanti yang aneh-aneh. Ada juga yang sedang bersedih. Dari Ati Syam dan Firman. Firman baru saja
menulis status kehilangan bapaknya yang lebih dulu meninggalkan dunia. Bagi
Monas pertemanan di dunia maya, terkadang
banyak menuliskan kejadian yang benar terjadi. Terkadang juga hanya sekedar iseng semata. Dia pun lalu
menyudahi berselancar di internetnya
malam itu.
***
Pagi yang indah kembali datang. Suara sang ayam jantan kembali mengawali hari baru. Warna semburat merah
nampak di langit sebelah timur. Sang surya pun perlahan muncul dari balik gunung
Lawu. Monas memulai
kegiatannya kembali sebagai mahasiswa. Dia keluar dengan kuda
besinya menuju ke jalan raya. Di jalan Tawangsari-Sukoharjo yang tak
terlalu lebar itu nampak begitu banyak kendaraan yang ramai berlalu lalang. Semua orang mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Dan...
Rhung ... rhung ... Rhung …!!
Sekelebat dua motor tiger yang dikendarai dua
pelajar mendahuluinya dengan kencang.
“Aduh sialan, kurang ajar! Hampir saja aku keserempet. Mereka nggak tahu apa ya ini
jalan lagi ramai? Malah kebut-kebutan. Kalau celaka baru tahu rasa kalian,” gerutunya.
Setelah melewati kawasan PT. Sritex, jalan menjadi macet. Nampak dari jauh
terlihat kerumunan orang di tengah jalan. Dua polisi sedang sibuk mengatur lalu lintas jalan. Bahkan dibantu oleh beberapa warga sekitar. Sambil melaju pelan Monas melihat telah terjadi
kecelakaan. Dia melihat dua motor tiger yang ringsek dan berada di bawah body bus itu. Dua pelajar itu tergeletak di pinggir jalan tak sadarkan diri. Dia langsung ingat dengan dua
pelajar yang ngebut mendahuluinya tadi. Wajah Monas langsung
berubah pucat. Dia hanya bisa
berharap kedua pelajar itu tak
meninggal dunia. Dia melanjutkan
perjalanannya ke kampus namun dengan laju kendaraanya sedikit dikurangi.
Di tempat parkir Kampus, dia berhenti sejenak. Dia merenungi kejadian kecelakaan tadi di dalam perjalanannya ke kampus.
“Oh sayang, mereka masih muda banget. Mungkin mereka hanya menuruti ambisi agar dianggap jago saja, namun tidak belajar situasi jalan. Hanya main kebut-kebutan. Semoga aku tak mengalami seperti mereka, meskipun aku juga suka balapan,” ucapnya pelan.
Monas lalu berjalan masuk ke kelasnya dan langsung
duduk. Terlihat Ian
langsung mendekatinya.
“Bro, sekali lagi selamat buat kemarin. Kowe hebat banget.”
“Ah biasa aja Ian,” ucap Monas.
“Ya endaklah yang ini beda Bro. Semua penonton kemarin kagum. Tahu endak kowe Nas, aku dengar banyak juga anak sini yang datang menonton. Tapi mereka endak tahu kalau yang menang itu sebenarnya kowe jokinya.”
“Baguslah, yang penting mereka nggak tahu aja ya, Bro? Sekarang kita belajar oke?”
“Siiip.”
Tak berapa lama, dosen pun masuk dan proses
belajar pun kembali berjalan di kelas itu. Namun, Monas nampak seperti biasanya, tampak cuek dan santai meski semalam sudah menang balapan. Justru di dalam hatinya masih teringat
kecelakaan yang terjadi saat dia berangkat.
Saat jam istirahat mereka berdua ke kantin. Dan benar, ternyata di
dalam kantin yang berkumpul terutama yang pria nampak membicarakan tentang balapan
kemarin. Iwan Permana dan
teman-temannya juga lagi ramai membicarakannya.
“Don, bener kemarin malam Adam kalah balapan?” tanya
Iwan tak percaya.
“Iya Wan, Adam kalah. Padahal selama ini Adam selalu menang. Lho, kamu nggak nonton?”
“Enggak. Aku ada urusan kemarin. Terus siapa Don yang ngalahin dia?”
“Denger-denger dia anak baru dari teamnya bos Baron. Panggilannya … Jocker, iya Jocker.”
“Orangnya gimana Don?”
“Nah itu dia Wan, semua belum tahu tampangnya seperti apa?”
“Maksudnya gimana?”
“Dia enggak buka helmnya. Malah langsung pergi setelah balapan, gitu.”
“Wah aku jadi penasaran dan pingin lihat si Jocker itu seperti apa? Oke, malam minggu besok kita datang. Bila perlu aku juga pingin nyoba kehebatanya, Don.”
“Oke Bro, malam minggu besok. Nanti kita ngomong aja sama bos Dani.”
“Oke Wan.”
Iwan yang sudah lama tidak turun balap motor
karena kesibukan barunya, seperti merasa tertantang
dengan kekalahan Adam. Sedangkan di pojok
kantin Agung, Ian, Raffi serta Monas nampak bergembira dengan kemenangannya.
Di Basecamp.
“Oya Joker. Em gini, tentang balapan kemarin setelah kamu menang. Sekarang makin banyak orang yang ingin balapan denganmu karena kamu kemarin mengalahkan Adam. Mungkin hampir tiap minggu kita akan ada balapan. Teman lamaku sudah konfirmasi ke aku. Tapi aku akan lihat situasi dulu nanti. Gimana Jocker?”
“Em, terserah Bos aja. Tapi bentar lagi aku ada ujian Bos. Kalau boleh waktu itu aku istirahat dulu?”
“Oke, nanti aku atur waktunya. Tapi selain itu kamu siap?”
“Siap Bos.”
“Ya sudah hari ini itu aja. Oya lupa, mungkin lain
waktu kamu turun pakai motor ini. Sebab aku pingin motor ini ada yang pakai dan
turun balapan lagi. Aku percaya kamu bisa?” sambil menunjuk motorsport ber-cc paling besar di sampingnya.
“Ha? Ini Bos ?”
“Iya, ini. Aku pingin kamu menang memakai motor ini. Dan dengan menaikkan cc motor serta taruhan tentunya. Gimana? Siap?”
Monas memegang
stang motor. “Siap Bos. Akan aku coba.”
“Bagus. Dan kalau ada waktu, motor ini kamu bawa latihan, oke?”
“Oke Bos.”
“Kamu masih mau di sini, Nas?”
“Egh aku nggak ada acara
hari ini Bos.”
“Ya sudah kamu ikut aku aja sekarang. Gimana? Mau?”
“Em tapi kita mau ke mana Bos?”
“Sudah ikut saja, ayo!”
“Baik.”
Bos Baron dan Monas meninggalkan basecamp. Mereka berdua berkendara
menuju ke salah satu Mall di jalan Slamet Riyadi. Mereka masuk ke salah satu kafe. Kemudian mereka duduk sambil memesan makanan.
“Bos, kita ngapain di sini?” tanya Monas.
Bos Baron
tersenyum. “Nunggu teman. Dia minta ketemuan di sini. Dia adalah teman bisnisku
di Jakarta,” jawab bos Baron.
Monas
mengangguk-angguk. “Baiklah. Dia cowok apa cewek, Bos?”
“Dia cowok, namanya Arga. Dia ingin buka kafe di sini. Dulu, dia juga anak motor. Sekarang dia lebih suka bisnis kafe. Tapi meski sekarang udah
jadi orang sukses, dia nggak lupa tentang dunianya yang dulu. Mungkin suatu hari nanti kamu juga
akan berubah, seperti
aku atau temanku itu. Dan aku menyadari itu. Makanya aku ngasih tahu ke kamu untuk selalu hati-hati! Jangan sampai terjadi hal-hal yang fatal.”
“Em baik. Makasih Bos nasehatnya.”
Tak lama datanglah seorang pria dengan
berpenampilan formal menghampiri keduanya. Namun, jalannya agak cacat. Cacat kaki di sebelah kiri. Mereka bersalaman dan berbincang sampai satu jam lamanya. Sesekali Monas juga ikut dalam obrolan itu. Setelah dirasa
urusannya selesai, pria cacat kaki itu beranjak pergi meninggalkan mereka. Monas yang dari awal penasaran
dengan pria itu kemudian bertanya kepada bos Baron.
“Em Bos, boleh tahu nggak kaki
teman Bos tadi kenapa?”
“Oh, dulu dia juga sama sepertimu. Sewaktu masih sama-sama denganku, suka balapan liar.” Bos Baron tersenyum. “Dulu, dia adalah lawanku. Karena ada razia polisi, dia kecelakaan dan kaki kirinya cacat. Aku yang menolongnya. Hingga akhirnya kami berteman baik sampai
sekarang. Begitu ceritanya, Nas. Makanya kamu harus tetap
hati-hati dalam balapan agar
tidak fatal nantinya. Kamu masih muda dan punya potensi.”
“O gitu ya Bos. Baik Bos, makasih nasehatnya.”
“Sekarang kamu kembali ke basecamp, atau ada acara lain?”
“Ehg aku pulang saja Bos. Temen yang lain tadi sms
juga udah pulang duluan.”
“Oke kalau gitu, lain waktu kita ngobrol lagi ya? Dan makasih kamu nemenin aku.”
“Ehg sama-sama Bos.”
Mereka ke tempat parkir dan kemudian keluar dari
mall tersebut. Mereka pun berpisah
jalan.
Waktu hampir menginjak sore. Sepanjang jalan pulang pikiran
Monas teringat kejadian kecelakaan pagi hari. Dan, baru saja ditambah teman bos Baron yang kakinya harus cacat akibat kecelakaan balapan, membuat mentalnya turun. Laju motornya sedikit pelan, lebih lambat dari biasanya.
.
***
Jam Sembilan malam Monas masuk kamar setelah menonton tv. Dia menyalakan
komputer. Kemudian membuka aplikasi gambar tiga dimensi yang disimpannya. Sebuah gambar sebuah sirkuit
balap yang dicoba ditambahkan ide-idenya sendiri. Berharap suatu hari nanti di Solo ada sirkuit balap sendiri. Dengan harapan suatu
hari nanti balapan liar bisa berkurang. Namun, tak berapa lama suara motor terdengar dari teras.
“Assalamu’allaikum ...,” sapa Ian.
Monas berjalan
ke depan dan membuka pintu.
“Wa’allaikum salam Bro. Masuk aja!” jawab Monas. “Ada apa Ian, kok kadingaren malem-malem ke sini?”
Ian melangkah
masuk.“Em bukan apa-apa. Anu Nas, ini tentang pacarku. Ternyata bener gosip pacarku selama
ini. Aku tadi habis dari basecamp langsung ke pacarku. Beberapa hari ini kan aku coba selidiki gossip itu, dan ternyata bener dia jalan sama cowok lain.”
“Terus gimana?”
“Aku tadi minta penjelasannya. Terus kita tadi ribut bentar. Yach, akhirnya kita putus, Nas. Dia yang mutusin. Katanya aku endak punya
waktu buat dia. Padahal selama ini aku udah bela-belain buat dia, Nas. Kamu
tahu sendiri kan Nas, waktu dia
sakit dulu, aku yang nungguin sampai
sembuhnya di rumah sakit. Eh, ternyata
itu semua juga masih kurang percaya denganku.”
Keduanya pun
duduk di dalam kamar.
“Iya, terus kamu terima apa nggak kata putusnya?”
“Ya, aku terima kata putusnya Nas. Dia kan yang mutusin aku? Dan dia lebih memilih cowok itu karena cowok itu sudah kerja Nas. Dia tadi mengaku salah. Dan dia juga minta maaf.”
“Ya sudahlah Ian, kalau dia pinginnya gitu. Kamu terima aja yo Bro? Bukan kamu yang salah ini. Suatu saat dia pasti
nyesel mutusin kamu.” Monas tersenyum. “Hati kamu sakit nggak?”
“Sakit tapi dikit, Nas. Aku tidur sini yo?”
“Iyo Ian. Yang penting ikhlasin
aja? Nanti kamu juga dapat cewek lagi yang lebih cocok
buatmu. Oke?”
“Kamu memang sobat yang bisa ngertiin aku. Di saat enak dan endak enak. Suatu saat kalau kamu ngalami seperti ini,
aku akan bantu kamu.”
“Ya sudah, kamu udah makan belum? Mending kamu makan sana! Biar enak buat mikirnya dan nggak emosian. Terus tidur duluan situ!”
“Iya Nas. Bener, mending makan
daripada emosi terus. Suatu
saat kalau ada yang bikin sakit hati lagi, aku hajar sampai mawut,” ucap Ian kesal. Monas
hanya terseyum melihat sahabatnya itu. Ian menoleh ke Komputer. “Eh Nas, kamu bikin apa? Ini seperti sirkuit balap? Wah hebat tenan kamu, Nas. Bagus bener sirkuit buatanmu.”
“Ah cepet makan sana!” Monas sambil mendorong Ian, yang tadi duduk dan
masih emosi karena putus dengan ceweknya.[ ]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar