Senin, 22 September 2014

Acara Syukuran



Acara Syukuran





SAAT DOSEN meninggalkan kelas, Ian terlihat tak bersemangat. Jenuh melanda pikirannya.
Heuh belajar lagi, belajar lagi. tiap hari begini terus. Bosen aku, Nas.”
Eh nggak boleh gitu. Kita kan udah mau ujian Bro, ini semua juga buat masa depan kita.”
Halah, masa depan apa? Paling juga nyari kerja pada rebutan. Lowongan kerja sedikit, yang nyari kerjanya seabrek. Bener, endak?”
Emang bener Ian. Makanya kita harus belajar supaya kreatif. Karena orang yang kuliah itu harus menciptakan pekerjaan baru. Bukan hanya menjadi pekerja saja. Kasihan yang pendidikannya di bawah kita nanti. Kasihan juga sama bangsa ini nggak maju-maju kalau sarjananya hanya bercita-cita sebagai pekerja saja.”
Halah ngimpi Nas. Emang modal dari mana coba? Terus siapa yang mau dukung semua itu? Pejabat kita juga banyak yang endak peduli. Ah paling juga endak bisa. Apalagi aku wong bodho, Nas.”
Heh Ian, enggak boleh gitu! Semua orang itu nggak bodho kalau memang mereka mau belajar. Karena masing-masing orang punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.”
Eh Nas, buktinya udah banyak tuh. Banyak sarjana yang nganggur.”
Nah, makanya kamu yang ngasih lowongan kerja buat mereka. Orang tuamu kan punya modal to?” Monas terkekeh  “Gimana?”
Ah bisa wae kowe ngebalikin omongan.” Ian jadi malu sendiri.
“Inget! Kita mau ujian bentar lagi. Jangan lupa belajar yo?
Iyo Nas, iyo yo ...,ucapnya sambil ngedumel.
Mereka keluar dari ruang kelas. Ian ke kantin, sedang Monas ke perpustakaan seperti biasa. Di dalam perpus dia berkeliling rak-rak buku. Setelah mendapatkan buku yang di cari, dia berjalan ke penjaga perpus dan menyodorkan buku yang akan dipinjamnya. Sambil tersenyum gadis penjaga perpustakaan mencatatnya. Monas bergegas keluar menuju kantin menemui ketiga temannya yang sudah menunggu.
Sorry Bro, aku telat. Sekarang mau ke mana?”
Kita ngerti Nas, kamu dari perpus. Sekarang kita ke rumahnya Raffi aja. Katanya mau ada acara syukuran. Bapaknya dapat tender bisnis. Jadi kita bantu-bantu dikit Nas,” ucap Agung.
Monas menoleh. “Bener Fi?”
Ya gitulah. Makanya aku minta bantuannya sekarang, endak berat ini,” jawab Raffi.
Asal perut kenyang aja, ya endak Nas, Gung?” celetuk Ian.
Tenang, kalau itu sudah pasti, Kucrut.”
Oke, ayo kita cabut! Nunggu apa lagi? Aku sudah lapar. Di sini cuma ngopi, kembung perutku, ayo!
Ian sudah tak sabar. Dia lebih dulu keluar dari kantin. Sementara ketiga temannya mengikuti dari belakang. Sesekali mereka bercanda sambil melakukan aksi motornya. Namun Monas tetap seperti biasa, hanya sedikit menarik gas jika dia tertinggal jauh. Dia tak pernah melakukan aksi-aksi berbahaya di jalanan. Sesampainya di rumah Raffi, mereka sudah tak asing lagi dengan penghuni rumah karena orang tua Raffi sudah mengenal baik mereka. Mereka langsung disuruh makan terlebih dulu oleh ibu Raffi. Ian terlihat paling bersemangat sebab dia tak suka basa-basi dalam urusan makan.
Em Agung, Ian, sama kamu, Monas, tolong nanti bantu kami supaya acara ini lancar, ya? Hari ini Om minta bantuan kalian,” ucap pak Hardi.
“Iya Om. Jam berapa mulainya, Om?” tanya Monas.
Habis isya Nas, sampai kelar. Baju kalian sudah disiapkan di kamar Raffi. Oh ya sampai kelar lho ya?
Siap Om. Kita bantu kok, sahut Agung.
Ya udah kalau gitu om tinggal dulu ya? Om masih ada urusan. Nanti kalau kurang sesuatu ngomong aja sama Raffi ya?
Iya Om. Beres,” ucap Ian.
Mereka hanya membantu beberapa persiapan acara itu. Semua sudah ada yang mengerjakan. Raffi dan yang lain mengatur tata ruang, supaya penempatannya tak terlalu merepotkan.
Saat waktu isya sudah lewat, acara syukuran pun dimulai. Banyak tamu undangan dari teman kantor serta kolega bisnis orangtua Raffi pun berdatangan. Mobil mewah dan mahal berderet di halaman. Saat Monas berdiri, dia melihat dua orang yang sudah dikenalnya nampak akrab berbincang-bincang dengan orangtua Raffi. Mereka adalah orangtua Kasih.
Setelah beberapa saat, acara itu pun dimulai. Sambutan dari beberapa pejabat pun bergantian. Dilanjutkan  dengan hiburan musik yang menemani makan para undangan. Di pojok ruangan itu nampak tiga cowok sedang berkumpul.
Eh Nas, Gung, tahu endak? Sebenernya aku endak seneng acara formal kayak gini ini. Aku udah pingin istirahat wae. Enakan tidur. Iyo, endak?”
Aku juga Ian. Tapi ini juga karena Raffi, teman kita.”
Ah udah malam gini juga belum kelar. Aku kirain cuma bentar acaranya.
Sudah, bentar lagi juga beres acaranya. Sabar Bro! ucap Monas.
Setelah malam semakin larut satu persatu tamu pun meninggalkan acara tersebut. Satu persatu menyalami kedua orangtua Raffi. Tak ketinggalan  orangtua Raffi menyalami orangtua Kasih, sambil memperkenalkan Raffi.
Oo … ini putranya sampeyan Mas Hardi? Gagah yo, Bu?”
Iyo Pak. Wah, udah gagah, ganteng lagi. Mas Raffi, monggo main ke rumah!
Iya Pak Harto, Bu Harto. Kapan-kapan saya main ke rumah.”
Pokoknya ditunggu lho. Nanti aku kenalin sama anak ibu, Mas Raffi. Anak ibu cakep lho.”
“Iya, nanti Raffi akan main ke rumah, Bu.
Ya udah Mas Hardi, kita pamit dulu ya? Semoga bisnisnya sukses selalu,” ucap pak Harto.
“Iya makasih, semoga saja.”
Mereka keluar dan masuk ke mobil. Keduanya meninggalkan rumah yang sangat besar milik keluarga Raffi. Ruangan itu pun perlahan menjadi sepi.
Raffi mendekati ketiga temannya yang duduk di kursi belakang. Em Bro, makasih udah bantu acara ini. Ayo sekarang kita makan-makan dulu! Gantian yang muda-muda,” ajak Raffi.
Fi, kita langsung cabut aja ya? Kita udah kenyang dari tadi. Oke?” ucap Agung.
Lho, endak mau makan bareng lagi nih?
Ha? Aku sudah makan terus dari tadi Fi. Sudah kenyang perutku. Malah mau meledak ini. Kita langsung pulang saja. Mana bapak-ibumu? Kita mau pamitan,” ucap Ian.
Ya sudah, makasih bantuannya. Tapi tunggu bentar aku panggil orangtuaku dulu. Tunggu bentar yo?
Iya, siip.”
Tak lama kemudian pak Hardi dan ibu Hardi datang dan berterimakasih kepada Agung, Ian dan Monas. Setelah itu mereka bertiga keluar rumah yang megah itu. Rumah yang sangat megah dari luar, namun sebenarnya rapuh di dalamnya. Meski terlihat begitu indah dipandang mata, sebenarnya hubungan di dalam keluarga itu kurang harmonis. Raffi sering mengeluh dengan urusan kedua orangtuanya kepada teman-temannya.
Sesampainya di rumah, Monas langsung masuk ke dalam. Dilihatnya mbah Putri sudah beristirahat di kamar. Tubuh yang lemah, yang tertutupi kain batik kesayangannya sudah tertidur di kasur. Dia menatap beberapa saat, berharap kondisi neneknya selalu sehat. Lalu dia masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur yang ada di lantai. “Ah lumayan capek juga membantu keluarga Raffi. Kamu beruntung Fi, mempunyai orangtua yang masih lengkap dan juga masih bertemu setiap hari. Sedangkan aku, aku sudah berpisah dari orangtuaku. Raffi, kamu bisa dapatkan tiap apa saja yang kamu inginkan. Begitu mudah mendapatkan apapun dalam hal materi. Hanya tinggal ngomong dan minta saja. Dibandingkan aku, aku kalah jauh denganmu. Aku harus mencari sendiri untuk mendapatkan sesuatu itu. Namun, dalam pandanganku kamu itu merugi. Padahal kamu tinggal baiknya saja dalam menjalani hidupmu. Sayang, kelakuanmu kurang pas dengan menjadi anak seorang pejabat. Ah sudahlah, yang penting itu bukan urusanku. Aku hanyalah sebatas temanmu. Yang  terpenting sebagai teman, aku tak merugikanmu,” ucapnya lirih.
Lama Monas merenung. Tiba-tiba handphonenya berdering. Dia mengambil hp yang diletakan di atas meja kecil.
Hai Nas, met malem.”
Hai Ra, met malem juga. Em, ada apa Ra?”
Em nggak ada apa-apa kok Nas, Cuma ....” Aira tak melanjutkan ucapannya.
Cuma apa Ra? Ada yang bisa aku bantu?”
Aku boleh minta tolong nggak, Nas?
“Minta tolong apa, Ra?
Em aku bosen di rumah terus. Mau enggak kamu nemenin aku jalan?”
Egh nggak salah nih, Ra, aku yang kamu ajak?
Ya enggaklah Nas. Emang kenapa? Kamu nggak mau nemenin aku?”
Egh bukan gitu Ra. Aku takut nanti ada yang cemburu Ra.”
Ah siapa Nas yang cemburu? Enggak ada kok,” tepisnya. Aira terdiam sebentar. “Bisa Nas?”
Em hari apa, Ra?
Minggu, Nas. Temenin aku pergi ke Jogja. Aku ada perlu ke sana. Tolong ya kamu temenin aku! Tapi aku mau naik motor kamu aja.”
Monas kaget. “Naik motorku, Ra?”
Iya. Kita naik motor aja.
Monas terdiam sejenak. Dia sedikit bingung karena  takut hari minggu dia ada acara yang lain. Em, minggu ya?”
Iy Nas. Tapi bukan minggu sekarang kok, minggu depan Nas. Please …! Aira memohon.
Em ya udahlah, insyaallah aku temenin kamu.
Makasih, Nas.”
Dalam hati Monas agak sedikit khawatir. Takut waktunya akan bersamaan. Jika seandainya malam dia turun balapan terus paginya Kasih ada perlu minta ditemani juga. Dia pun agak heran bercampur bingung kenapa dirinya yang diajak Aira, bukan orang lain.
Sementara di tempat lain. Di dalam kamar Aira senyum-senyum sendiri. Pipinya terlihat merona. Wajah ayu itu tersenyum manis.
“Monas, makasih kamu mau menemaniku. Jujur, selama ini aku belum pernah merasakan rasa yang seperti ini. Rasa suka yang sangat kepada seorang pria. Tapi saat kamu hadir, entah kenapa rasanya seperti berbeda. Walau harus aku tahan dan belum berani aku ungkapkan. Ternyata aku memang menyukaimu, Nas. Semoga kamu juga mempunyai rasa yang sama terhadapku,ucapnya di dalam kamar.
Rasa cinta dan suka  membuat Aira bersemangat dan gembira. Hati yang selama ini tertutup oleh seorang pria karena perasaan yang terhalang oleh didikan dan aturan keluarganya. Kini dia merasa telah mendapat secercah harapan. Secercah kebahagiaan meski baru sekedar harapan saja dari pria misterius yang menjadi dambaannya dalam hati. [ ]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar