Acara Syukuran
SAAT DOSEN meninggalkan kelas, Ian terlihat tak bersemangat. Jenuh
melanda pikirannya.
“Heuh belajar lagi, belajar lagi. tiap hari begini terus. Bosen aku, Nas.”
“Eh nggak boleh gitu. Kita kan udah mau ujian Bro, ini semua juga buat masa depan kita.”
“Halah, masa depan apa? Paling juga nyari kerja pada rebutan. Lowongan kerja sedikit, yang nyari kerjanya seabrek. Bener, endak?”
“Emang bener Ian. Makanya kita harus
belajar supaya kreatif. Karena orang yang kuliah itu harus menciptakan pekerjaan baru. Bukan
hanya menjadi pekerja saja. Kasihan yang pendidikannya di bawah kita nanti.
Kasihan juga sama bangsa ini nggak maju-maju kalau sarjananya hanya bercita-cita sebagai pekerja saja.”
“Halah ngimpi Nas. Emang modal dari mana
coba? Terus siapa yang mau dukung semua itu? Pejabat kita juga banyak yang endak
peduli. Ah paling juga endak bisa. Apalagi aku wong bodho, Nas.”
“Heh Ian, enggak boleh gitu! Semua orang itu nggak bodho kalau memang mereka mau belajar. Karena masing-masing orang punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.”
“Eh Nas, buktinya udah banyak tuh. Banyak sarjana yang nganggur.”
“Nah, makanya kamu yang ngasih lowongan kerja buat mereka. Orang tuamu kan punya modal to?” Monas terkekeh “Gimana?”
“Ah bisa wae kowe ngebalikin omongan.” Ian jadi malu sendiri.
“Inget! Kita mau ujian bentar lagi. Jangan lupa belajar yo?”
“Iyo Nas, iyo yo ...,” ucapnya sambil ngedumel.
Mereka keluar dari ruang kelas. Ian ke kantin, sedang Monas ke
perpustakaan seperti biasa. Di dalam perpus dia berkeliling rak-rak buku. Setelah mendapatkan buku yang di cari, dia berjalan ke
penjaga perpus dan menyodorkan buku yang akan dipinjamnya. Sambil tersenyum gadis penjaga perpustakaan mencatatnya. Monas bergegas keluar menuju kantin menemui ketiga temannya yang sudah
menunggu.
“Sorry Bro, aku telat. Sekarang mau ke mana?”
“Kita ngerti Nas, kamu dari perpus. Sekarang kita ke rumahnya Raffi aja. Katanya mau ada acara syukuran. Bapaknya dapat tender bisnis. Jadi kita bantu-bantu dikit Nas,” ucap Agung.
Monas menoleh. “Bener Fi?”
“Ya gitulah. Makanya aku minta
bantuannya sekarang, endak
berat ini,” jawab Raffi.
“Asal perut kenyang aja, ya endak Nas, Gung?” celetuk
Ian.
“Tenang, kalau itu sudah pasti, Kucrut.”
“Oke, ayo kita cabut! Nunggu apa lagi? Aku sudah lapar. Di sini cuma ngopi, kembung perutku, ayo!”
Ian sudah tak sabar. Dia lebih dulu keluar
dari kantin. Sementara ketiga temannya mengikuti dari belakang. Sesekali mereka bercanda sambil melakukan aksi motornya. Namun Monas tetap seperti biasa, hanya sedikit menarik gas jika dia tertinggal jauh. Dia tak pernah melakukan aksi-aksi
berbahaya di jalanan. Sesampainya di rumah Raffi, mereka sudah tak asing lagi dengan penghuni rumah karena orang tua Raffi sudah mengenal baik mereka. Mereka langsung
disuruh makan terlebih dulu oleh ibu Raffi. Ian terlihat
paling bersemangat sebab dia
tak suka basa-basi dalam urusan makan.
“Em Agung, Ian, sama kamu, Monas, tolong nanti bantu kami supaya acara ini
lancar, ya? Hari ini Om minta bantuan
kalian,” ucap pak Hardi.
“Iya Om. Jam berapa mulainya, Om?” tanya Monas.
“Habis isya’ Nas, sampai kelar. Baju kalian sudah disiapkan di kamar Raffi. Oh ya sampai kelar lho ya?”
“Siap Om. Kita bantu kok,”
sahut Agung.
“Ya udah kalau gitu om tinggal dulu ya? Om masih ada urusan. Nanti kalau kurang sesuatu ngomong aja sama Raffi ya?”
“Iya Om. Beres,” ucap Ian.
Mereka hanya membantu beberapa persiapan acara itu.
Semua sudah ada yang mengerjakan. Raffi dan yang lain mengatur tata ruang,
supaya penempatannya tak terlalu merepotkan.
Saat waktu isya
sudah lewat, acara syukuran pun dimulai. Banyak tamu undangan dari teman kantor serta kolega bisnis orangtua
Raffi pun berdatangan. Mobil
mewah dan mahal berderet di halaman. Saat Monas berdiri, dia
melihat dua orang yang sudah dikenalnya nampak akrab berbincang-bincang dengan orangtua Raffi. Mereka adalah orangtua Kasih.
Setelah beberapa saat, acara itu pun dimulai. Sambutan dari beberapa pejabat pun bergantian. Dilanjutkan dengan hiburan musik yang menemani makan para undangan. Di pojok ruangan itu
nampak tiga cowok sedang berkumpul.
“Eh Nas, Gung, tahu endak? Sebenernya aku endak seneng acara formal kayak gini ini. Aku udah pingin istirahat wae. Enakan tidur. Iyo, endak?”
“Aku juga Ian. Tapi ini juga karena Raffi, teman kita.”
“Ah udah malam gini juga belum kelar. Aku
kirain cuma bentar acaranya.
“Sudah, bentar lagi juga beres acaranya. Sabar Bro!” ucap Monas.
Setelah malam
semakin larut satu persatu tamu pun meninggalkan
acara tersebut. Satu persatu
menyalami kedua orangtua Raffi. Tak ketinggalan orangtua Raffi menyalami orangtua Kasih, sambil memperkenalkan Raffi.
“Oo … ini putranya sampeyan Mas Hardi? Gagah yo, Bu?”
“Iyo Pak. Wah, udah gagah, ganteng lagi. Mas Raffi, monggo main ke rumah!”
“Iya Pak Harto, Bu Harto. Kapan-kapan saya main ke rumah.”
“Pokoknya ditunggu lho. Nanti aku kenalin sama anak ibu, Mas Raffi. Anak ibu cakep lho.”
“Iya, nanti Raffi akan main ke rumah, Bu.”
“Ya udah Mas Hardi, kita pamit dulu
ya? Semoga bisnisnya sukses selalu,” ucap pak Harto.
“Iya makasih, semoga saja.”
Mereka keluar dan masuk ke mobil. Keduanya
meninggalkan rumah yang
sangat besar milik keluarga Raffi.
Ruangan itu pun perlahan menjadi
sepi.
Raffi mendekati ketiga temannya yang duduk di kursi
belakang. “Em Bro, makasih udah bantu acara ini. Ayo sekarang kita makan-makan dulu! Gantian yang muda-muda,” ajak Raffi.
“Fi, kita langsung cabut aja ya? Kita udah kenyang dari tadi. Oke?” ucap Agung.
“Lho, endak mau makan bareng lagi nih?”
“Ha? Aku sudah makan terus dari tadi Fi. Sudah kenyang perutku. Malah mau meledak ini. Kita langsung pulang saja. Mana bapak-ibumu? Kita mau pamitan,” ucap Ian.
“Ya sudah, makasih bantuannya. Tapi tunggu bentar aku panggil orangtuaku dulu. Tunggu bentar yo?”
“Iya, siip.”
Tak lama kemudian pak Hardi dan ibu Hardi datang dan berterimakasih kepada Agung, Ian dan
Monas. Setelah itu mereka bertiga keluar rumah yang megah itu. Rumah yang sangat megah
dari luar, namun sebenarnya rapuh di dalamnya. Meski terlihat begitu indah dipandang mata, sebenarnya
hubungan di dalam keluarga itu
kurang harmonis. Raffi sering
mengeluh dengan urusan kedua orangtuanya kepada
teman-temannya.
Sesampainya di rumah, Monas langsung masuk ke dalam. Dilihatnya mbah Putri sudah beristirahat di kamar. Tubuh yang lemah, yang tertutupi kain batik kesayangannya sudah tertidur di kasur. Dia menatap beberapa saat, berharap kondisi neneknya selalu sehat. Lalu dia masuk ke kamar dan
merebahkan tubuhnya di kasur yang ada di lantai. “Ah lumayan capek juga membantu keluarga Raffi. Kamu beruntung Fi,
mempunyai orangtua yang masih lengkap dan juga masih bertemu setiap hari. Sedangkan
aku …, aku sudah berpisah
dari orangtuaku. Raffi, kamu bisa dapatkan tiap apa saja yang
kamu inginkan. Begitu mudah mendapatkan apapun dalam hal materi. Hanya tinggal ngomong dan minta
saja. Dibandingkan aku, aku kalah jauh denganmu. Aku harus mencari sendiri untuk mendapatkan sesuatu
itu. Namun, dalam pandanganku kamu itu merugi. Padahal kamu tinggal baiknya saja dalam menjalani hidupmu. Sayang, kelakuanmu kurang pas dengan menjadi anak seorang
pejabat. Ah sudahlah, yang penting itu bukan urusanku. Aku hanyalah sebatas temanmu. Yang terpenting sebagai teman, aku tak merugikanmu,” ucapnya lirih.
Lama Monas merenung. Tiba-tiba
handphonenya berdering. Dia
mengambil hp yang diletakan di atas meja kecil.
“Hai Nas, met malem.”
“Hai Ra, met malem juga. Em, ada apa Ra?”
“Em nggak ada apa-apa kok Nas, Cuma ....”
Aira tak melanjutkan ucapannya.
“Cuma apa Ra? Ada yang bisa aku bantu?”
“Aku boleh minta tolong nggak, Nas?”
“Minta tolong
apa, Ra?”
“Em aku bosen di rumah terus. Mau enggak kamu nemenin aku jalan?”
“Egh nggak salah nih, Ra, aku yang kamu ajak?”
“Ya enggaklah Nas. Emang kenapa? Kamu nggak mau nemenin aku?”
“Egh bukan gitu Ra. Aku takut nanti ada yang cemburu Ra.”
“Ah siapa Nas yang cemburu? Enggak ada kok,” tepisnya.
Aira terdiam sebentar. “Bisa Nas?”
“Em hari apa, Ra?”
“Minggu, Nas. Temenin aku pergi ke Jogja. Aku ada perlu ke sana. Tolong ya kamu temenin aku! Tapi aku mau naik motor kamu aja.”
Monas kaget. “Naik motorku, Ra?”
“Iya. Kita naik motor
aja.”
Monas terdiam
sejenak. Dia sedikit bingung
karena takut hari minggu dia ada acara
yang lain. “Em, minggu ya?”
“Iy Nas. Tapi
bukan minggu sekarang kok, minggu depan Nas. Please …!” Aira memohon.
“Em ya udahlah, insyaallah aku temenin kamu.”
“Makasih, Nas.”
Dalam hati Monas agak sedikit khawatir. Takut waktunya akan bersamaan. Jika seandainya malam dia turun balapan terus paginya Kasih ada perlu minta ditemani juga. Dia
pun agak heran bercampur bingung kenapa dirinya yang diajak Aira, bukan orang lain.
Sementara di tempat lain. Di dalam kamar Aira senyum-senyum sendiri. Pipinya terlihat merona. Wajah ayu itu tersenyum manis.
“Monas, makasih kamu mau menemaniku. Jujur, selama ini aku belum pernah merasakan rasa yang seperti ini. Rasa suka
yang sangat kepada seorang pria. Tapi
saat kamu hadir, entah kenapa rasanya seperti berbeda. Walau harus aku tahan dan belum berani aku
ungkapkan. Ternyata aku memang
menyukaimu, Nas. Semoga kamu juga
mempunyai rasa yang sama terhadapku,” ucapnya di dalam
kamar.
Rasa cinta dan suka
membuat Aira
bersemangat dan gembira. Hati yang selama ini tertutup oleh seorang
pria karena perasaan yang terhalang oleh didikan dan aturan keluarganya. Kini dia merasa telah mendapat
secercah harapan. Secercah kebahagiaan meski baru sekedar harapan saja dari pria misterius yang menjadi
dambaannya dalam hati. [ ]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar