Senin, 15 September 2014

Hadiah dari Kasih




Hadiah Dari Kasih






PAGI-PAGI Monas sudah berada di basecamp bersama Bram dan Takahasi.
Em Jocker, motor peganganmu sudah aku rubah settingannya kemarin. Nanti kamu coba lagi!” ucap Bram.
“Oke, nanti aku coba. Eh Takahasi, kamu mau kemana? Rapi sekali hari ini.
“Jocker, aku mau ke Japan dulu. Ada bisnis yang lain. Kamu harus sering latihan kalau pingin jadi hebat. Oke?”
“Oke, terimakasih Takahasi. Aku akan selalu belajar. Hati-hati!”
Oke, Bro”
“Oya motormu boleh sesekali aku bawa?” ucapnya sambil melihat sebuah motor tak jauh darinya.
Oh Boleh. Bawa saja kalau kamu mau. Malah kamu harus latihan motor seperti itu.
“Terima kasih, Takahasi.”
Oya, kamu tidak masuk kuliah hari ini?” tanya Bram.
Aku kuliah agak siang.
Monas berada di tempat itu cukup lama, sampai Takahasi sudah pergi meninggalkan basecamp. Monas berdiri dari duduk dan mendekati Bram lagi.
“Bram, aku bawa motornya ya? Udah siap kan?”
Boleh, udah siap kok. Em yang penting kendalikan dulu motor itu. Kamu tahu sendiri kan batas kemampuanmu? Tetap hati-hati jocker! Kamu sudah hebat, tinggal sering latihan saja.
Makasih banget Bram. Em aku harus kuliah sekarang. Aku duluan ya?”
Ya, hati-hati!”
Monas kemudian menaiki motor yang sudah diperbaiki. “Aku cabut ya?”
Iya Bro.
Rhung   rhung Rhuung ...!
Suara knalpot motor mulai terdengar menderu-deru. Saat  Monas menarik gasnya. Monas pun meninggalkan temannya menuju tempat kuliah. Baru saja beberapa meter dari basecamp.
“Wow, motor ini enak dibawanya. Ternyata Bram berpengalaman benar tentang motor. Sama seperti Agung. Walaupun Agung masih kalah, tapi mereka tetap hebat. Ah, nanti sore aku akan coba motor ini. Sampai di mana kencangya dan sampai batas mana aku bisa mengendalikannya. Habis ini aku akan coba motor Takahasi. Aku harus bisa,” ucap Monas.
Rhung …!!
Tak berapa lama Monas sampai kampus dan memarkirkan motornya. Baru saja duduk sebentar hp-nya berbunyi.
Oh bos Baron telepon, ada apa ya?” ucapnya pelan. Ya, siang Bos. Ada apa Bos?”
Maaf ya, tadi aku telepon Bram, katanya kamu sudah ambil motor?”
Iya, udah Bos. Ini aku bawa.
Gini Nas, malam minggu ada balapan dan kita turunin kamu. Oke?
Siap Bos, di mana turunnya?”
Masih di sini kok, Oke ya? Kamu harus siap ya? Thank’s, nanti dikabari lagi.”
Oke Bos.”     
Monas duduk di dalam kelas dan masih menggenggam hp-nya. Ah, malam minggu udah mulai turun. Aku harus persiapan cepat-cepat. Tapi untung masih ada  empat hari. Yach, aku rasa cukup. Aku harus  menang,gumamnya.
Dari pintu Ian masuk dan menghampiri.
Hai Nas, kirain belum datang. Eh taunya udah ada di sini.” Ian menyalami Monas. Eh tau ndak? Aku tadi ketemu sama si cakep Aira. Tadi kamu di tanyain lho sama dia. Dia nanya-nyanya tentang kamu.”
Kowe kasih tahu semuanya tentangku, Bro?”
Ian duduk. “Ya endaklah, kalau yang itu endak bakal aku buka. Tenang aja Bro. Aku cuma bilang ke Aira, aku kurang tahu tentang kamu. Gitu aja Bro. Em ... tapi aku heran lho kenapa dia selalu nanya tentang kamu ya? Jangan jangan … aku curiga nih, ucapnya ambil memicingkan mata kepada Monas.
Curiga apa? Kan, kowe sama Raffi yang deket sama dia? Kowe yang aneh Ian, curiga yang enggak enggak.”
Iya ya.
Oya Ian, nanti habis kuliah kamu temani aku ya? Kita test motor lagi, soalnya malam minggu kita turun.
Apa? Kita turun?” Ian bersuara agak keras.
Aduh, jangan kenceng-kenceng ngomongnya.”
Hehehe ... sorry. Kita mulai turun, Bro?
Iya.
Yes. Aku pingin lihat kowe menang Bro. Kowe yang paling kenceng. Pokoknya aku temani, tenang aja. Bereslah.” Ian terkekeh.
Makasih Ian. Dah kita belajar dulu ya?”
Iya. Tapi kok bu dosen belum dateng ya?”
Ah paling bentar lagi.”
Eh Nas, bu Wati itu selain pinter, ngajarnya enak ya? Endak ngebosenin. Makanya aku rajin kalau dia yang ngajar.” Ian cengar cengir nggak jelas.
“Halah … bisaan kowe. Paling juga karena bu Wati yang ….” Monas tak melanjutkan ucapannya. Dia hanya tersenyum saja.
Nah itu maksudku,” sahut Ian, “itu yang bikin aku rajin Bro.” Ian tertawa.
Dasar kowe, Bro.”
Dan tak berapa lama dosen pun masuk. Dengan senyum manisnya dia menyapa.
“Pagi semua?”
“Pagi Buu,” ucap Ian yang baling keras diantara teman lainya.
“Wah, pada semangat semua ini sepertinya. Em semua dah siap belajar hari ini ya? Baiklah, Ibu harap mata kuliah kemarin tidak lupa, dan selalu dipahami. Nah sekarang kita akan membahas bab baru, Ibu akan terangkan terlebih dahulu. Jika ada yang belum paham, silakan tanya ke ibu! Nanti kita bahas bersama ya?
Suasana jadi berubah hening dalam sesaat. Dosen pun mulai menerangkan dengan bantuan proyektor. Monas sesekali melihat ke arah Ian yang duduk dan terus memandangi bu dosen. Monas hanya tersenyum. Namun setelah selesai ada seorang mahasiswi mengangkat tanganya.
Bu, maaf … em saya kurang paham tentang permukiman yang Ibu terangkan. Tolong bisa diterangkan lagi Bu!” ucap Widi.
Em bener Bu, tadinya aku juga mau nanya tentang itu tadi. Eh tahunya si cantik Widi udah  duluan. Mohon diulang lagi ya bu?”
Huu modus itu ....”
Terdengar teriakan teriakan teman mahasiswa yang lain. Sedang Widi hanya senyum-senyum kecil karena hal seperti itu sering kali berulang. Jika yang bertanya Widi pasti Ian akan ikut bertanya juga. Sementara Ibu dosen pun ikut tersenyum.
Oke, tenang semuanya. Baiklah Ibu akan terangkan sekali  lagi. Tapi tolong diperhatikan lho yaa!”


***

Seiring bergesernya arah sang surya, hari itu semua mata kuliah pun berakhir. Semua beranjak keluar ruangan dan mulai pulang. Namun ada pula yang masih asik berbincang di halaman kampus. Sedangkan Monas dan Ian langsung pergi melesat dengan motornya ke suatu tempat yang agak sepi. Kondisi jalannya pun cukup bagus. Ada yang lurus serta berkelok. Mereka berhenti. Monas meminta Ian untuk mencatat waktunya saat latihan. Dan hingga beberapa kali dia melakukannya di jalan yang lurus. Ian nampak gembira karena waktu yang didapat Monas hari itu lebih bagus dari kemarin.
Mereka pun pergi ke atas lagi di tempat yang jalannya berkelok-kelok. Monas langsung mencoba jalan yang berkelok itu. Dia ingin merasakan ketika menikung. Tujuannya, sampai dimana dia berbelok dengan kecepatan agak kencang. Dan hal itu dilakukannya sampai berulang-ulang. Sementara Ian hanya duduk di atas motornya sambil mengamati. Namun, dalam hatinya mengakui kehebatan Monas dalam membawa motor besar itu. Hingga tak terasa hari pun semakin sore. Matahari semakin ke bawah di arah barat.
Ian menghampiri Monas. “Nas, hari ini udah cukup. Ayo kita pulang! Kita lanjutkan besok lagi ya? Udah sore.”
Oke Ian, kita pulang sekarang. Tapi santai saja, nggak usah ngebut ya?”
Iyo, buat apa ngebut? Jalanan juga rame.”
Ayo Bro! Tapi besok kita pindah tempat ya?”
Iya, aku temenin pokoknya.”
Oya, aku minta tolong ambilkan tanaman strawberry di rumah Kasih yo, Bro?”
Ehm ehm abis jalan berdua ya, Nas? Pantes endak ngajak-ngajak.”
Pokoknya tolong ambilin!
Beres sobatku. Ehm ehm.”
Keduanya kembali menyusuri di pinggiran jalanan kota Solo dan kemudian mengambil arah ke selatan menuju Sukoharjo.
Sementara itu Kasih dan Putri juga baru pulang dari mall. Mereka sedang mengendarai motor maticnya. Mereka terlihat membawa sesuatu di motor.
Ehm Kasih, baju lengan panjang ini kamu beli buat siapa? Buat mas Monas ya?”
Em iya, Put. Aku pingin beri sesuatu buat dia. Biar dipakai.”
Wuihh sepertinya kamu sayang banget yo sama dia?
Kasih tersenyum. “Em jujur, iya Put. Aku sayang banget. Dan dia juga sayang sama aku, Put. Jadi endak ada salahnya to kalau aku ngasih sesuatu buat masku itu?”
Iya Kasih, itu bagus. Malah aku iri sama kamu. Aku belum punya pacar yang sayang dan perhatian sama aku. Kamu sudah punya, malah sempurna banget.”
Ah kamu bisa aja Put. Nanti kamu juga dapet seperti yang kamu inginkan.”
Aamiin.”
Dan tak disengaja tiba-tiba…
Rhuung!!
Suara knalpot motor yang cukup keras dari belakang dan melewati mereka dengan kencang. Kasih & Putri sontak kaget.
Aduh sialan! Siapa sih yang naik motor tadi? Ngagetin wae,” ucap Putri kesal.
Eh, udah biarin aja Put.”
Ah, gimana to? Coba kalau nyerempet kita. Kita bisa masuk rumah sakit, Kasih. Biarin gimana?
Udah, yang sabar Put. Kamu juga ambil jalannya jangan ke tengah-tengah gitu!”
Putri benar-benar kesal oleh ulah pengendara yang mengagetkannya tadi. “Mentang-mentang motornya kenceng, terus seenaknya saja makai jalan. Ini kan jalan umum tahu.”
Uwislah, endak usah ngedumel nanti kowe cepet tua lho, Put.” Kasih mencoba meredakannya.
Biarin.” Putri terlihat manyun.
Kasih tertawa. “Put, kamu kalau lagi kesal lucu, hahaha ....




Sepanjang perjalanan Putri masih kesal atas kejadian tadi yang mengagetkan jantungnya. Kepada pengendara yang melewatinya dengan kencang. Sementara Kasih malah senyum-senyum melihat temannya yang lagi kesal itu. Sesampainya di rumah, Putri langsung pamitan pulang ke rumah kepada bu Harto Sanjoyo, ibu Kasih.
Setelah malam tiba, tepatnya jam delapan, Ian datang ke rumah Kasih. Ian bertamu karena diminta tolong oleh Monas. Keluarga pak Harto Sanjoyo masih kerabat dari orang tua Ian. Di depan pintu Ian memencet bel.
Tett ... teeeettt ...!
“Assalamualaikum ….”
Wa alaikum salam ….” Terdengar suara seorang lelaki dari balik pintu. “Eh mas Ian, monggo silakan masuk Mas!”
Inggih Paklik. Em Kasih wonten [1]Paklik?”
Em ada, lagi di kamar. Belajar kayaknya. Ada perlu yo Mas Ian?”
“Inggih Paklik. Gadah perlu sakedap[2]sama Kasih.”
Yo wis lenggah[3] dulu di ruang tamu sana! Kasih takceluké[4].”
“Inggih Paklik.”
Kemudian pak Harto meninggalkan Ian di ruang tamu. Dia ke dalam memanggilkan Kasih di kamar.
Ibu Harto mendatangi Ian yang sedang duduk. “Oo … ada Mas Ian.  Kadingaren kok baru kelihatan Mas, sibuk kuliah yo?”
Inggih Bulik, sampai nggak sempet main sini.”
Lha iyo sering-sering main sini to Mas Ian!”
“Inggih Bulik, niki nggih pun dolan mriki.[5]
Tak berapa lama Kasih pun datang menghampiri.
Eh Mas Ian, dah lama nunggunya, Mas?”
Endak Kasih. Baru aja kok. Wah tambah cakep wae kowe sekarang.”
Kasih tersenyum. “Ah, Mas bisa wae sama adiknya juga.” Sementara bu Harto juga iut tersenyum.
Yo wis Mas Ian, Ibu di ruang tengah wae yo? dipenaké[6].Mas.”
Inggih Bulik, monggo-monggo .…”
Kemudian bu Harto ke ruang tengah menemani suaminya yang sedang asik menonton tv.
Em Mas Ian minumnya apa? Yang panas apa yang dingin?”
Mas, kopi wae Kasih. Tapi yang hangat wae, biar cepat diminum.”
Bentar yo aku ambil dulu.”
Kasih melangkah ke dapur. Sementara Ian melihat ke arah Kasih dan dalam hatinya berkata, oh Kasih, kini kamu jadi gadis yang cantik sekali. Beruntung lelaki yang menjadi teman hidupmu kelak. Dan, Monaslah yang beruntung menjadi kekasihmu. Benar-benar beruntung.
Ian mengagumi Kasih karena menjadi seorang gadis nan menawan. Kemudian membuka satu majalah di bawah meja.
Tak berapa lama Kasih datang. Dia meletakkan segelas kopi itu di hadapan Ian. “Ini kopinya Mas, silakan diminum!
“Iya makasih. Oh ya, aku ke sini disuruh Monas, katanya suruh ambil tanaman strawberry.”
Em Nanti sekalian aku juga nitip barang buat dia juga yo, Mas?” Kasih tersenyum.
Ehm ehm … main endak  ajak-ajak aku yo sekarang? Nanti aku bilangin ke bapakmu lho,” ucap Ian sambil meminum kopi hangat yang disuguhkan. Dia mencoba menjahili Kasih.
Wajah Kasih langsung berubah panik. “Eh ya jangan to Mas! Nanti aku ajak deh kapan-kapan. Tapi jangan kasih tahu bapak yo? Mas Ian kan ngerti aku?” ucapnya mengiba.
 Ian tersenyum. “Iyo Kasih, Mas cuma becanda. Eh emangnya kowe main ke mana?” sambil bicara pelan.
Anu Mas, main ke daerah Gunung Lawu. Ya nyari  tanaman strawberry itu. Kan, aku seneng strawberry, Mas. Em sama main ke candi.”
Ian mengangguk-angguk. Dia menyeruput lagi kopinya. “O ya udah, endak apa-apa. Aku simpen rahasia kalian.” Kasih tersenyum lega. “Lha, mana titipannya? Aku masih ada perlu yang lain.”
Buru-buru amat Mas, endak nyantai dulu di sini?”
Besok-besok aja lagi mas ke sini. Mana titipannya?
Aku ambil dulu ya, Mas? Dihabiskan dulu kopinya!”  
Kasih kemudian mengambil bungkusan di kamarnya dan mengambil tanaman strawberry yang di pot di taman belakang rumah. Beberapa saat kemudian kembali menemui Ian yang sedang meghabiskan kopinya.
“Ini Mas, tolong kasihin ke mas Monas ya? Suruh ngerawat! Gitu pesennya.” Kasih tersenyum manis.
“Endak ada pesen yang lain? Cuma itu, hemm?”
Endak ada. Kalau pesen lainnya lewat hp aja nanti. Hehe.”
Ian tertawa pelan. “Em dah pinter sekarang …,  yowis nanti aku langsung kasihkan ke dia.”
Matur nuwun ya, Mas Ian?”
Iya. Aku langsung pamit ya? Bapak sama ibu, mana Kasih? Aku pamitan dulu.”
Bentar ya, aku panggilin dulu.”
Kasih melangkah menghampiri kedua orangtuanya di ruang tengah lalu melangkah ke ruang tamu lagi bersama kedua orangtuanya.
Paklik, Bulik pamit dulu, badhé wangsul.[7]” Ian  menyalami ke dua orang tua Kasih.
Lho, kok cepet amat Mas Ian. Yang lama kenapa?”
Anu ini masih ada perlu yang lain.”
Oo … yo wis kalau gitu. Monggo, silakan Mas .…”
“Inggih Paklik. Kasih, makasih pesananku ini yo?” Ian berbohong terhadap barang yang dibawanya.
Iya Mas, endak apa-apa kok.” Kasih tersenyum melihat Ian berbohong.
Ya udah, kapan-kapan aku pesen lagi yo? Yang buanyak.” Ian tersenyum.
Iyo Mas, beres. Nanti aku beli sekeranjang gede sekalian, hehe.”
Assalamu’alaikum ....”
Wa’alaikum salam .…”
Ian melangkah ke luar rumah. Sementara Kasih mengantarnya ke depan. Dia lantas menaiki motornya dan menuju ke jalan yang mengarah ke rumah Monas. Kasih tersenyum kembali saat ingat Ian berbohong di depan kedua orangtuanya tadi. Kemudian dia pun masuk ke dalam lagi.
Tak berapa lama Ian sampai di rumah Monas dan langsung masuk. Dia mencium tangan mbah Putri lalu melangkah ke kamar Monas sedang membaca buku.
Assalamualaikum ,” sapanya
Waalaikum salam Ian. Ayo masuk aja seperti biasanya wae!”
Nih aku bawa pesananmu dari Kasih, Bro. Strawberry sama bungkusan yang indah ini dari sang putri.” Ian memberikan bungkusan itu sambil kemudian duduk.
Makasih banget yo Ian. Tapi yang dibungkus ini apa?” Monas sedikit heran.
Ya endak tahu aku. Em dibuka aja ya Nas?”
“Yowis buka aja. Aku taruh ke belakang dulu tanaman strawberrynya yo?” Monas melangkah ke belakang sambil mengamati pot yang dibawanya. Dia tersenyum. Segar banget pohon ini, Kasih benar-benar merawatnya,” gumamnya.
“Isinya apa ya?” Ian penasaran. Dia lalu membuka bungkusan rapi itu. “Wah, Kaos lengan panjang. Bagus banget. Wah yang satu lagi juga lengan panjang, tapi yang ini ada kerahnya. Ternyata Kasih bener-bener perhatian sama Monas. Ian tersenyum.   
Monas kembali ke kamarnya sambil membawa segelas kopi kesukaan Ian. “Ian, apa isinya?
Kowe dapat dua kaos lengan panjang. Nih, bagus banget lagi. Kasih bener-bener sayang sama kamu, Nas.”
Monas meletakkan segelas kopi di meja komputer. “Ah bisa aja kamu, Ian. Kamu malah sering dapet dari banyak cewek. Aku cuma Kasih yang ngasih. Kamu yang beruntung. Oya kopimu aku taruh sini ya.
Makasih Nas. Oya ada pesen tuan putri. Katanya suruh ngerawat tanaman strawberrynya. Terus pesen yang lain nanti lewat hp aja. Gitu kata kekasihmu,” ucapnya sambil nyengir.
Monas tersenyum. “Baik Ian, aku makasih banget lho atas semua ini. Oh iya, besok kita ngetes motor lagi ya?”
Gampang Bro, tenang aja. Eh tapi aku malam ini tidur sini ya?”
Boleh. Dari dulu juga nggak ada yang ngelarang.”
Em tapi perutku laper ini. Ada makanan apa di rumahmu?
Em kebetulan ada garang asem,[8]tadi mbah Putri yang bikin.”
Nah, mantap. Pas banget. Pasti enak masakannya mbah Putri.” Ian bersemangat. “Cihuy, aku makan dulu ya Nas?”
Iya makan sana. Habiskan aja sekalian! Aku sama mbah Putri udah tadi.”
Beres, tenang aja kalau masalah ngabisin makanan. Serahin ke aku, hehehe.
Ian melangkah ke ruang makan. Perutnya yang sudah lapar tak bisa ditahan lagi. Dan Ian bukanlah orang asing bagi keluarga Monas. Dia sudah menjadi sahabat bahkan seperti saudara di keluarga itu. Rumah itu seperti dianggap rumahnya sendiri. Sementara Monas melanjutkan membaca buku di kamarnya. Tak berapa lama hp-nya pun berbunyi. Ada pesan yang masuk. Dia membukanya.
Mas, strawberrynya dirwt yah, trus bajunya dipakai biar tambah ganteng!
slm syg slalu dariku.
Monas membalas sms itu.
“InsyaAllah, Kasih. Aku akan merwtnya. Makasih utk kaosnya, aku jg akan
memakainya. Slm syg jg dariku
Oh makasih ya Allah, Engkau telah memberikan kebahagiaan lewat gadis yang aku cintai. Gadis yang baik yang Engkau dekatkan kepadaku. Gadis yang indah dalam pandanganku. Semoga ini akan kekal selamanya,” ucapnya pelan.
Eh Nas, enak tenan garang asemnya. Aku sampai nambah,” ucap Ian yang tiba-tiba datang dan masuk kamar.  “Nasimu abis tadi. Jangan nyalahin aku yo pokoknya?” Ian terkekeh.
Monas meletakkan kembali hp-nya di atas meja dekat laptop.“Iya nggak apa-apa, Ian. Makanan kan emang harus dimakan.
 “Nah sekarang baru waktunya ngopi.” Ian menyeruput kopinya. “Emm mantaap ....” Monas hanya tersenyum. “Sekarang tiduran ahh,” ucap Ian yang kemudian merebahkan badannya di kasur.”
Eh, kowe nggak belajar dulu buat besok?”
“Endak Nas, kan ada kowe hehe.”
Ah kebiasaan kowe. Kapan kowe bisa pinter?
Ah yang penting bisa lulus aja Nas, bener to?
Iya. Tapi gimana bisa jawab soal kalau nggak pinter?
Nas, aku mau bobok. Jangan diganggu yo! Enak tenan kasurmu, wangi lagi. Kayaknya aku bangun siang besuk.”
“Ah dasar, kowe kan nggak pernah bangun pagi,”  ucap Monas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak berapa lama kemudian mata Ian sudah terpejam karena kekenyangan. Rasa kenyang membuatnya cepat tertidur pulas. Namun Monas masih menbaca bukunya sampai tengah malam. Barulah matanya juga sudah terasa berat untuk terbuka. Dia pun menyusul Ian, merebahkan tubuh di karpet dekatnya. [ ]


[1] ada
[2]Punya perlu sebentar
[3]duduk
[4]kupanggilkan
[5] Ini juga sudah main kesini.
[6]Menunggu dengan perasaan santai,tanpa sungkan,tanpa malu.
[7]Mau pulang.
[8]Nama masakan yang isinya daging ayam yang bumbunya memakai santan dan belimbing wuluh, dibungkus daun pisang kemudian dikukus.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar