Hadiah Dari Kasih
PAGI-PAGI Monas sudah berada di basecamp bersama Bram dan Takahasi.
“Em Jocker, motor peganganmu sudah aku rubah settingannya kemarin. Nanti kamu coba lagi!” ucap Bram.
“Oke, nanti aku coba. Eh Takahasi, kamu mau kemana? Rapi sekali hari ini.”
“Jocker, aku mau ke Japan dulu. Ada bisnis yang lain. Kamu harus sering latihan kalau pingin jadi hebat. Oke?”
“Oke, terimakasih Takahasi. Aku akan selalu
belajar. Hati-hati!”
“Oke, Bro”
“Oya motormu
boleh sesekali aku bawa?” ucapnya sambil melihat sebuah motor tak jauh darinya.
“Oh Boleh. Bawa saja kalau
kamu mau. Malah kamu harus latihan motor seperti itu.”
“Terima kasih, Takahasi.”
“Oya, kamu tidak masuk kuliah hari ini?” tanya Bram.
“Aku kuliah agak siang.”
Monas berada di tempat itu cukup lama, sampai Takahasi sudah pergi meninggalkan basecamp. Monas berdiri dari
duduk dan mendekati Bram lagi.
“Bram, aku bawa motornya ya? Udah siap kan?”
“Boleh, udah siap kok. Em yang penting kendalikan
dulu motor itu. Kamu tahu
sendiri kan batas kemampuanmu? Tetap hati-hati jocker! Kamu
sudah hebat, tinggal sering
latihan saja.
“Makasih banget Bram. Em aku harus kuliah sekarang. Aku
duluan ya?”
“Ya, hati-hati!”
Monas kemudian
menaiki motor yang sudah diperbaiki. “Aku cabut ya?”
“Iya Bro.’
Rhung … rhung … Rhuung ...!
Suara knalpot
motor mulai terdengar menderu-deru. Saat Monas menarik gasnya. Monas
pun meninggalkan temannya
menuju tempat kuliah. Baru saja beberapa meter dari basecamp.
“Wow, motor ini enak dibawanya. Ternyata Bram berpengalaman benar tentang
motor. Sama seperti Agung. Walaupun Agung masih kalah, tapi mereka tetap hebat.
Ah, nanti sore aku akan coba
motor ini. Sampai di mana kencangya dan sampai batas mana aku bisa mengendalikannya.
Habis ini aku akan coba motor Takahasi. Aku harus bisa,” ucap Monas.
Rhung …!!
Tak berapa lama
Monas sampai kampus dan memarkirkan motornya. Baru saja duduk sebentar hp-nya berbunyi.
“Oh bos Baron telepon, ada apa ya?” ucapnya
pelan. “Ya, siang Bos. Ada apa Bos?”
“Maaf ya, tadi aku telepon Bram, katanya
kamu sudah ambil motor?”
“Iya, udah Bos. Ini aku bawa.”
“Gini Nas, malam minggu ada balapan dan kita
turunin kamu. Oke?”
“Siap Bos, di mana turunnya?”
“Masih di sini kok, Oke ya? Kamu harus siap ya? Thank’s, nanti dikabari lagi.”
“Oke Bos.”
Monas duduk di
dalam kelas dan masih menggenggam hp-nya. “Ah, malam minggu udah mulai turun. Aku harus persiapan
cepat-cepat. Tapi untung masih
ada empat hari. Yach, aku rasa cukup. Aku harus
menang,” gumamnya.
Dari pintu Ian
masuk dan menghampiri.
“Hai Nas, kirain belum datang. Eh taunya udah ada di sini.”
Ian menyalami Monas. “Eh tau ndak? Aku tadi ketemu sama si cakep
Aira. Tadi kamu di tanyain
lho sama dia. Dia
nanya-nyanya tentang kamu.”
“Kowe kasih tahu semuanya
tentangku, Bro?”
Ian duduk. “Ya endaklah, kalau yang itu endak bakal aku buka. Tenang aja Bro. Aku cuma bilang ke Aira, aku kurang tahu tentang kamu. Gitu aja Bro. Em ... tapi aku heran lho kenapa dia
selalu nanya tentang kamu ya? Jangan jangan …
aku curiga nih,” ucapnya ambil memicingkan mata kepada
Monas.
“Curiga apa? Kan, kowe sama Raffi yang deket sama dia? Kowe yang aneh Ian, curiga yang enggak enggak.”
“Iya ya.”
“Oya Ian, nanti habis
kuliah kamu temani aku ya? Kita test motor lagi, soalnya malam minggu kita turun.”
“Apa? Kita turun?” Ian bersuara agak keras.
“Aduh, jangan kenceng-kenceng ngomongnya.”
“Hehehe ... sorry.
Kita mulai turun, Bro?”
“Iya.”
“Yes. Aku pingin lihat kowe menang Bro. Kowe yang paling kenceng. Pokoknya
aku temani, tenang aja. Bereslah.” Ian terkekeh.
“Makasih Ian. Dah kita belajar dulu ya?”
“Iya. Tapi kok bu dosen belum dateng ya?”
“Ah paling bentar lagi.”
“Eh Nas, bu Wati itu selain pinter, ngajarnya enak ya? Endak ngebosenin.
Makanya aku rajin kalau dia
yang ngajar.” Ian cengar cengir nggak jelas.
“Halah … bisaan kowe. Paling juga karena bu Wati yang ….” Monas tak melanjutkan ucapannya. Dia hanya
tersenyum saja.
“Nah itu maksudku,” sahut Ian, “itu yang
bikin aku rajin Bro.” Ian
tertawa.
“Dasar kowe, Bro.”
Dan tak berapa
lama dosen pun masuk. Dengan
senyum manisnya dia menyapa.
“Pagi semua?”
“Pagi Buu,” ucap Ian yang baling keras
diantara teman lainya.
“Wah, pada semangat semua ini
sepertinya. Em semua dah siap
belajar hari ini ya? Baiklah, Ibu harap
mata kuliah kemarin tidak
lupa, dan selalu dipahami. Nah sekarang
kita akan membahas bab baru, Ibu akan terangkan terlebih dahulu. Jika
ada yang belum paham, silakan tanya ke ibu! Nanti kita bahas bersama ya?”
Suasana jadi berubah hening dalam sesaat. Dosen pun mulai menerangkan dengan bantuan
proyektor. Monas sesekali melihat ke arah Ian yang duduk dan terus memandangi
bu dosen. Monas hanya tersenyum. Namun setelah selesai ada seorang mahasiswi mengangkat tanganya.
“Bu, maaf … em saya kurang paham tentang permukiman yang Ibu terangkan. Tolong bisa diterangkan lagi Bu!” ucap Widi.
“Em bener Bu, tadinya aku juga mau nanya tentang itu tadi.
Eh tahunya si cantik Widi udah
duluan. Mohon diulang lagi ya bu?”
“Huu …
modus itu ....”
Terdengar teriakan teriakan teman mahasiswa yang lain. Sedang Widi hanya senyum-senyum
kecil karena hal seperti itu sering kali berulang. Jika yang bertanya Widi pasti Ian akan ikut bertanya juga. Sementara Ibu dosen pun ikut tersenyum.
“Oke, tenang semuanya.
Baiklah Ibu akan terangkan
sekali lagi. Tapi tolong diperhatikan lho yaa!”
***
Seiring
bergesernya arah sang surya, hari itu semua mata kuliah pun berakhir. Semua
beranjak keluar ruangan dan mulai pulang. Namun ada pula yang masih asik berbincang di halaman
kampus. Sedangkan Monas dan Ian langsung pergi melesat dengan motornya ke suatu
tempat yang agak sepi. Kondisi jalannya pun cukup bagus. Ada yang lurus serta berkelok. Mereka berhenti. Monas meminta Ian untuk mencatat waktunya
saat latihan. Dan hingga beberapa kali dia melakukannya di jalan yang lurus.
Ian nampak gembira karena waktu yang didapat Monas hari itu lebih bagus dari
kemarin.
Mereka pun pergi ke atas lagi di tempat
yang jalannya berkelok-kelok. Monas langsung mencoba
jalan yang berkelok itu. Dia
ingin merasakan ketika menikung. Tujuannya, sampai dimana dia berbelok dengan kecepatan agak
kencang. Dan hal itu dilakukannya sampai berulang-ulang. Sementara Ian hanya duduk di atas motornya sambil mengamati. Namun, dalam
hatinya mengakui kehebatan Monas dalam membawa motor besar itu. Hingga tak
terasa hari pun semakin sore. Matahari semakin ke bawah di arah barat.
Ian menghampiri
Monas. “Nas, hari ini udah
cukup. Ayo kita pulang! Kita lanjutkan besok lagi ya? Udah sore.”
“Oke Ian,
kita pulang sekarang. Tapi santai saja, nggak usah ngebut ya?”
“Iyo, buat apa ngebut? Jalanan juga rame.”
“Ayo Bro! Tapi besok kita pindah tempat ya?”
“Iya, aku temenin pokoknya.”
“Oya, aku minta tolong ambilkan tanaman strawberry
di rumah Kasih yo, Bro?”
“Ehm ehm … abis
jalan berdua ya, Nas? Pantes endak ngajak-ngajak.”
“Pokoknya tolong ambilin!”
“Beres sobatku. Ehm ehm.”
Keduanya kembali menyusuri di pinggiran jalanan
kota Solo dan kemudian mengambil
arah ke selatan menuju Sukoharjo.
Sementara itu
Kasih dan Putri juga baru pulang dari
mall. Mereka sedang mengendarai motor maticnya. Mereka terlihat membawa sesuatu
di motor.
“Ehm Kasih,
baju lengan panjang ini kamu beli buat siapa? Buat mas Monas ya?”
“Em iya, Put.
Aku pingin beri sesuatu buat
dia. Biar dipakai.”
“Wuihh sepertinya kamu sayang banget yo sama dia?”
Kasih tersenyum.
“Em jujur, iya Put. Aku sayang banget. Dan dia juga sayang
sama aku, Put. Jadi endak ada salahnya
to kalau aku ngasih sesuatu
buat masku itu?”
“Iya Kasih, itu bagus. Malah aku iri sama kamu. Aku belum punya pacar
yang sayang dan perhatian sama aku. Kamu sudah punya, malah sempurna banget.”
“Ah kamu bisa aja Put. Nanti kamu juga dapet
seperti yang kamu inginkan.”
“Aamiin.”
Dan tak
disengaja tiba-tiba…
Rhuung!!
Suara knalpot motor
yang cukup keras dari belakang dan melewati mereka dengan
kencang. Kasih & Putri sontak kaget.
“Aduh sialan! Siapa sih yang naik motor tadi? Ngagetin wae,” ucap Putri kesal.
“Eh, udah biarin aja Put.”
“Ah, gimana to? Coba kalau nyerempet kita. Kita bisa
masuk rumah sakit, Kasih. Biarin
gimana?”
“Udah, yang sabar Put. Kamu juga ambil jalannya jangan ke tengah-tengah
gitu!”
Putri
benar-benar kesal oleh ulah pengendara yang mengagetkannya tadi. “Mentang-mentang motornya kenceng,
terus seenaknya saja makai
jalan. Ini kan jalan umum tahu.”
“Uwislah, endak usah ngedumel
nanti kowe cepet tua lho, Put.” Kasih mencoba meredakannya.
“Biarin.” Putri terlihat manyun.
Kasih tertawa. “Put, kamu kalau lagi kesal lucu, hahaha ....”
Sepanjang
perjalanan Putri masih kesal atas kejadian tadi yang mengagetkan jantungnya. Kepada
pengendara yang melewatinya dengan kencang. Sementara Kasih malah senyum-senyum melihat temannya yang lagi kesal itu. Sesampainya di rumah, Putri langsung
pamitan pulang ke rumah kepada bu Harto
Sanjoyo, ibu Kasih.
Setelah malam tiba, tepatnya jam delapan, Ian datang ke rumah Kasih. Ian bertamu
karena diminta tolong oleh Monas. Keluarga pak Harto Sanjoyo masih kerabat
dari orang tua Ian. Di depan pintu Ian memencet bel.
Tett ... teeeettt ...!
“Assalamualaikum
….”
“Wa alaikum salam ….” Terdengar suara seorang lelaki dari balik pintu. “Eh
mas Ian, monggo silakan masuk
Mas!”
“Em ada, lagi di kamar. Belajar kayaknya.
Ada perlu yo Mas Ian?”
“Inggih Paklik. Gadah perlu sakedap[2]sama
Kasih.”
“Inggih Paklik.”
Kemudian pak Harto meninggalkan
Ian di ruang tamu. Dia ke dalam memanggilkan Kasih di kamar.
Ibu Harto mendatangi Ian yang sedang duduk. “Oo …
ada Mas Ian. Kadingaren kok baru kelihatan Mas, sibuk kuliah yo?”
“Inggih Bulik, sampai nggak sempet main sini.”
“Lha iyo sering-sering main sini to Mas Ian!”
Tak berapa lama Kasih pun datang menghampiri.
“Eh Mas Ian, dah lama nunggunya, Mas?”
“Endak Kasih. Baru aja kok. Wah tambah cakep wae kowe sekarang.”
Kasih tersenyum.
“Ah, Mas bisa wae sama adiknya juga.” Sementara
bu Harto juga iut tersenyum.
“Inggih Bulik, monggo-monggo .…”
Kemudian bu Harto ke ruang tengah menemani
suaminya yang sedang asik menonton tv.
“Em Mas Ian minumnya apa? Yang panas apa yang dingin?”
“Mas, kopi wae Kasih. Tapi yang hangat wae, biar cepat
diminum.”
“Bentar yo aku ambil dulu.”
Kasih melangkah
ke dapur. Sementara Ian
melihat ke arah Kasih dan dalam hatinya berkata, oh Kasih, kini kamu jadi gadis yang cantik sekali. Beruntung lelaki
yang menjadi teman hidupmu kelak. Dan, Monaslah yang beruntung menjadi
kekasihmu. Benar-benar beruntung.
Ian mengagumi
Kasih karena menjadi seorang gadis nan menawan. Kemudian membuka satu majalah di bawah meja.
Tak berapa lama
Kasih datang. Dia meletakkan segelas kopi itu di hadapan Ian. “Ini kopinya Mas, silakan diminum!”
“Iya makasih. Oh ya, aku ke sini disuruh Monas, katanya suruh ambil tanaman strawberry.”
“Em Nanti sekalian aku juga nitip barang buat dia juga yo, Mas?” Kasih tersenyum.
“Ehm ehm … main endak ajak-ajak aku yo sekarang? Nanti
aku bilangin ke bapakmu
lho,” ucap Ian sambil meminum kopi hangat yang disuguhkan. Dia mencoba
menjahili Kasih.
Wajah Kasih langsung berubah panik. “Eh ya jangan to Mas!
Nanti aku ajak deh kapan-kapan. Tapi jangan kasih tahu
bapak yo? Mas Ian kan ngerti aku?” ucapnya mengiba.
Ian tersenyum. “Iyo Kasih, Mas cuma becanda. Eh emangnya kowe main ke mana?” sambil bicara pelan.
“Anu Mas, main ke daerah Gunung
Lawu. Ya nyari tanaman strawberry itu. Kan, aku seneng strawberry, Mas.
Em sama main ke candi.”
Ian
mengangguk-angguk. Dia menyeruput lagi kopinya. “O ya udah, endak apa-apa. Aku
simpen rahasia kalian.” Kasih tersenyum lega. “Lha, mana titipannya? Aku masih ada
perlu yang lain.”
“Buru-buru amat Mas, endak nyantai dulu di sini?”
“Besok-besok aja lagi mas ke sini. Mana
titipannya?”
“Aku ambil dulu ya, Mas? Dihabiskan dulu kopinya!”
Kasih kemudian mengambil
bungkusan di kamarnya dan mengambil tanaman strawberry yang di pot di taman belakang rumah.
Beberapa saat kemudian kembali menemui Ian yang sedang meghabiskan kopinya.
“Ini Mas, tolong kasihin ke mas Monas ya?
Suruh ngerawat! Gitu pesennya.”
Kasih tersenyum manis.
“Endak ada pesen yang lain? Cuma itu, hemm?”
“Endak ada. Kalau
pesen lainnya lewat hp aja
nanti. Hehe.”
Ian tertawa
pelan. “Em dah pinter
sekarang …, yowis nanti aku langsung kasihkan ke dia.”
“Matur nuwun ya, Mas Ian?”
“Iya. Aku langsung pamit ya? Bapak sama ibu, mana Kasih? Aku pamitan dulu.”
“Bentar ya, aku panggilin dulu.”
Kasih melangkah
menghampiri kedua orangtuanya di ruang tengah lalu melangkah ke ruang tamu lagi
bersama kedua orangtuanya.
“Lho, kok cepet amat Mas Ian. Yang lama kenapa?”
“Anu ini masih ada perlu yang lain.”
“Oo … yo wis kalau gitu. Monggo, silakan Mas .…”
“Inggih Paklik. Kasih, makasih pesananku ini yo?” Ian
berbohong terhadap barang yang dibawanya.
“Iya Mas, endak apa-apa kok.” Kasih tersenyum melihat Ian berbohong.
“Ya udah, kapan-kapan aku pesen lagi yo? Yang buanyak.” Ian tersenyum.
“Iyo Mas, beres. Nanti aku beli sekeranjang gede sekalian, hehe.”
“Assalamu’alaikum ....”
“Wa’alaikum salam .…”
Ian melangkah ke luar rumah. Sementara Kasih mengantarnya ke depan. Dia
lantas menaiki motornya dan menuju ke jalan yang
mengarah ke rumah Monas. Kasih tersenyum kembali saat ingat Ian berbohong di
depan kedua orangtuanya tadi. Kemudian dia pun masuk ke dalam lagi.
Tak berapa lama Ian
sampai di rumah Monas dan langsung masuk. Dia mencium
tangan mbah Putri lalu melangkah ke kamar Monas
sedang membaca buku.
“Assalamualaikum …,” sapanya
“Waalaikum salam Ian. Ayo masuk aja seperti biasanya wae!”
“Nih aku bawa pesananmu dari Kasih, Bro. Strawberry sama bungkusan yang
indah ini dari sang putri.” Ian memberikan bungkusan itu sambil kemudian duduk.
“Makasih banget yo Ian. Tapi yang dibungkus ini apa?” Monas sedikit heran.
“Ya endak tahu aku. Em dibuka aja ya Nas?”
“Yowis buka aja.
Aku taruh ke belakang dulu tanaman strawberrynya yo?” Monas
melangkah ke belakang sambil mengamati pot yang dibawanya. Dia
tersenyum. “Segar banget
pohon ini, Kasih benar-benar
merawatnya,” gumamnya.
“Isinya apa ya?”
Ian penasaran. Dia lalu membuka bungkusan rapi itu. “Wah, Kaos lengan panjang.
Bagus banget. Wah yang satu
lagi juga lengan panjang, tapi yang ini
ada kerahnya. Ternyata Kasih
bener-bener perhatian sama
Monas.” Ian
tersenyum.
Monas kembali ke
kamarnya sambil membawa segelas kopi
kesukaan Ian. “Ian, apa isinya?”
“Kowe dapat dua kaos
lengan panjang. Nih, bagus banget lagi. Kasih bener-bener sayang sama kamu, Nas.”
Monas meletakkan
segelas kopi di meja komputer. “Ah
bisa aja kamu, Ian. Kamu malah sering dapet dari banyak cewek. Aku cuma Kasih yang
ngasih. Kamu yang beruntung. Oya kopimu aku taruh
sini ya.”
“Makasih Nas. Oya ada pesen tuan putri. Katanya suruh ngerawat tanaman strawberrynya. Terus pesen yang lain nanti lewat hp
aja. Gitu kata kekasihmu,” ucapnya sambil nyengir.
Monas tersenyum.
“Baik Ian, aku makasih banget
lho atas semua ini. Oh iya,
besok kita ngetes motor lagi ya?”
“Gampang Bro, tenang aja. Eh tapi aku malam ini
tidur sini ya?”
“Boleh. Dari dulu juga nggak ada yang
ngelarang.”
“Em tapi perutku laper ini. Ada makanan apa
di rumahmu?”
“Nah, mantap. Pas banget. Pasti
enak masakannya mbah Putri.” Ian bersemangat. “Cihuy,
aku makan dulu ya Nas?”
“Iya makan sana. Habiskan aja sekalian! Aku sama mbah Putri udah
tadi.”
“Beres, tenang aja kalau masalah ngabisin makanan. Serahin ke aku, hehehe.”
Ian melangkah ke
ruang makan. Perutnya yang
sudah lapar tak bisa ditahan lagi. Dan Ian bukanlah orang
asing bagi keluarga Monas. Dia sudah menjadi
sahabat bahkan seperti saudara di keluarga itu. Rumah itu seperti dianggap rumahnya sendiri. Sementara Monas
melanjutkan membaca buku di kamarnya. Tak berapa lama hp-nya pun berbunyi. Ada
pesan yang
masuk. Dia membukanya.
“Mas, strawberrynya dirwt yah, trus bajunya dipakai biar tambah ganteng!
slm syg slalu dariku. ”
Monas membalas
sms itu.
“InsyaAllah, Kasih. Aku akan merwtnya. Makasih utk kaosnya,
aku jg akan
memakainya. Slm syg jg dariku”
“Oh makasih ya Allah, Engkau telah memberikan
kebahagiaan lewat gadis yang aku cintai. Gadis yang baik yang
Engkau dekatkan
kepadaku. Gadis yang indah dalam pandanganku. Semoga ini akan kekal selamanya,” ucapnya pelan.
“Eh Nas, enak tenan garang asemnya. Aku sampai nambah,” ucap Ian yang tiba-tiba datang dan masuk kamar. “Nasimu abis tadi. Jangan
nyalahin aku yo pokoknya?” Ian
terkekeh.
Monas meletakkan kembali hp-nya di atas meja dekat laptop.“Iya nggak apa-apa, Ian. Makanan kan emang harus dimakan.”
“Nah sekarang baru waktunya ngopi.” Ian
menyeruput kopinya. “Emm mantaap ....”
Monas hanya tersenyum. “Sekarang tiduran
ahh,” ucap Ian yang kemudian merebahkan
badannya di kasur.”
“Eh, kowe nggak belajar dulu buat besok?”
“Endak Nas, kan ada kowe hehe.”
“Ah kebiasaan kowe. Kapan kowe bisa pinter?”
“Ah yang penting bisa lulus aja Nas, bener to?”
“Iya. Tapi gimana bisa jawab soal kalau nggak pinter?”
“Nas, aku mau bobok. Jangan diganggu yo! Enak tenan kasurmu,
wangi lagi. Kayaknya aku bangun siang besuk.”
“Ah dasar, kowe kan nggak
pernah bangun pagi,” ucap Monas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak berapa lama kemudian mata Ian sudah terpejam karena kekenyangan. Rasa kenyang membuatnya
cepat tertidur pulas. Namun Monas masih menbaca bukunya sampai tengah malam. Barulah matanya
juga sudah terasa berat untuk terbuka. Dia pun menyusul Ian, merebahkan tubuh di karpet
dekatnya. [ ]
[1] ada
[2]Punya perlu sebentar
[3]duduk
[4]kupanggilkan
[5] Ini juga sudah main kesini.
[6]Menunggu dengan perasaan
santai,tanpa sungkan,tanpa malu.
[7]Mau pulang.
[8]Nama masakan yang isinya daging ayam yang bumbunya memakai
santan dan belimbing wuluh, dibungkus daun pisang kemudian dikukus.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar